Google

Sabtu, 18 Februari 2023

IMAN & KEBAHAGIAAN

Pagi ini saat hendak ke luar rumah untuk berolahraga jalan pagi, saya melihat ada seekor kucing sedang duduk di depan pagar rumah saya. Lalu saya mendecak-decakkan lidah untuk memanggil dia. Eh, kucing itu merespons. Dia menerobos pagar rumah saya untuk mendekat dan menjumpai saya.

Kucing itu terus mengikuti saya saat saya sudah berjalan menjauhi rumah. Bahkan mencoba menjalin kedekatan dengan saya dengan cara menggosok-gosokkan badannya ke kaki saya. Saya bukanlah tuannya, bukan pemiliknya, tapi kucing itu bertindak seolah-olah sudah lama mengenali saya.

Di gang-gang lain yang saya lalui selama jalan pagi, ada beberapa kucing yang serupa dengan yang pertama tadi. Bahkan ketika saya masih di kejauhan dan memberikan kode bahwa saya sedang mendekat, kucing-kucing itu langsung melompat dari tempatnya semula, dan mendekati saya. Padahal saya tak pernah memberi mereka makan. Paling banter mengelus-ngelusnya.

Apa yang terjadi antara saya dan kucing-kucing itu tak dapat dijelaskan dengan cara yang rasional. Tapi dugaan saya, mereka mengenali seseorang bukan dari apa yang terlihat secara fisik, melainkan melalui getaran (vibrasi) yang dipancarkan oleh orang tersebut.

Bicara tentang getaran (vibrasi) adalah bicara tentang apa yang tak terlihat secara fisik. Tentang alam rohani, yang hanya bisa dikenali oleh indera rohani.

Iman adalah salah satu indera rohani.

 "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1)

Dengan mata iman kita melihat hal-hal yang tak terlihat oleh mata jasmaniah kita. 

Dengan mata iman kita mengenali getaran Bapa kita, kita mau mendekat dan percaya kepada-Nya, walaupun Ia tak memberikan apa-apa kepada kita, sama seperti sikap si kucing itu kepada saya.

Kucing itu mendekat karena merasakan vibrasi yang memberinya rasa aman dan nyaman. Tanpa embel-embel makanan, dia tetap ingin mendekat pada kita, karena si kucing bukan hanya butuh makanan jasmaniah, tapi juga makanan rohani berupa cinta kasih dan perhatian.

Carilah TUHAN bukan hanya karena kita mengharapkan materi, atau pertolongan-Nya, tapi karena kita BUTUH energi atau makanan rohani bagi roh kita, yaitu TUHAN itu sendiri.

Dengan makanan rohani itulah baru roh kita menjadi kuat dan mampu bertumbuh dewasa. Roh yang kuat membuat iman atau rasa yakin dan percaya kita kepada TUHAN yang tak terlihat bertambah kuat. Dan dengan demikian kita menjadi orang-orang yang "berbahagia" sebagaimana yang Yesus katakan:

Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yohanes 20:29)


Tidak ada komentar: