Kamis, 04 Juni 2009
Pameran Handycraft Recycle di JCC
Berikut kisah rekan Denok Marty Astuti ketika mengikuti pameran Handycraft Recycle di JCC tanggal 28-31 Mei yang baru lalu. Semoga dapat menginspirasi kita sekalian.
Salam,
************************************************************************************
Salam KPDUS,
Sekedar berbagi cerita. Setelah 4 hari kami bertiga terjun langsung di area pameran JCC (cuti kantor dong..hehe), kami merasakan beratnya menjual produk kepada masyarakat yang masih belum banyak mengenal produk daur ulang plastik.
Dengan mengusung bendera KPDUS (bukan perorangan), kami mengkampanyekan "Jangan Buang Sampah Plastik terlalu Banyak - Dengan Daur Ulang Sampah Plastik bikin kita Ga Mati Gaya"....Jadi, hasilnya selain menjual produk, kami juga menjual suara ( tenggorokan sakit ni..).
Antusias masyarakat dalam dan luar negeri sangat bagus. Karena KPDUS satu-satunya stand yang menjual produk daur ulang sampah plastik di area Recycle Center, stand KPDUS selalu padat dengan pengunjung. Seperti yang sudah saya katakan, tidak semua pengunjung yang memadati stand kami selalu membeli, tetapi juga hanya memegang, berbisik, bertanya bahkan terdapat penolakan terhadap produk kami.. Tidak masalah, namanya juga negara demokrasi ya.. Beberapa media nasional & internasional tertarik dengan apa yang kami lakukan sehingga kami dengan senang hati menjawab berbagai pertanyaan dari mereka. ( ini yang membuat kami tidak meminta orang lain untuk menjaga stand ).
Pameran dimulai pukul 10:00 - 19:00..tujuh jam sehari cukup bagi kami untuk mengobral informasi mengenai KPDUS sampai cara produksi. ( Bu Ester, blog ibu bakal semakin banyak dikunjungi,...maaf ).
Stand KPDUS berada tepat di tengah area pameran, di Handycraft Recycle Center. Peserta pameran adalah instansi dari seluruh pelosok Indonesia, termasuk komunitas peduli lingkungan.
Pengunjung dari anak SD sampai para pensiunan..lagi-lagi..kami harus mengumbar senyum dan suara untuk mereka. Berbagai pose kami lakukan, duduk-berdiri, sampai jongkok untuk menerangkan berbagai informasi untuk anak-anak pun kami lakukan..(ini bukan keluhan lho, tapi rasa keikhlasan ) supaya anak-anak ini pun semakin peduli lingkungan.
Demikian sekedar berbagi cerita, semoga apa yang kita lakukan bersama akan mendapat tanggapan positif dari masyarakat, swasta dan pemerintah dan menjadikan lingkungan kita menjadi semakin layak untuk ditinggali bagi generasi mendatang.
Terimakasih buat Bu Ester yang telah memberikan kami kesempatan, Mami Astrid atas kunjungan, informasi, saran, bagi kami anak-anakmu. Terimakasih buat Destry dan Erih yang bekerja keras bersamaku mempersiapkan barang, jual suara, angkut-angkut, nyasar. Terimakasih buat Bu Vanda yang mengirimkan produknya.
Salam..
Denok
Senin, 18 Mei 2009
FROM TRASH TO TRASHION
Ada beberapa info dan pengalaman yang ingin saya bagikan, salah satu di antaranya adalah telah terbitnya sebuah buku yang saya rasa cukup informatif bagi para pecinta daur ulang sampah, khususnya yang gemar berkreasi dengan limbah plastik. Berikut detailnya:
Judul buku:
Pengarang : Herianti
Ringkasan Buku:
Limbah selalu menjadi masalah pelik bagi masyarakat di perkotaan. Apalagi jika limbah itu adalah limbah kemasan plastik, karena sifatnya sulit terurai sehingga menjadi momok bagi lingkungan hidup. Tapi kini, ada cara unik dan kreatif untuk mengolah sampah plastik (trash) menjadi barang yang berguna bahkan untuk produk untuk gaya (fashion). Siapa sangka, plastik kemasan pembungkus sabun cair, sabun cuci, cairan pewangi, dan lainnya dapat "disulap" menjadi aneka macam tas, dompet, bahkan payung?
Buku ini memuat 25 kreasi barang serbaguna dengan bahan dasar plastik kemasan tersebut, seperti:
+ Tas laptop
+ Jas hujan anak
+ Lunch box
+ Dompet, dan lainnya.
Jika Anda memiliki keterampilan menjahit, ditambah dengan ketekunan, pasti dapat membuatnya juga karena buku ini dileng kapi dengan foto step by step dan pola. Jadi, mulailah berperan dalam menaikkan nilai limbah kemasan plastik. Dengan kreasi ini, Anda tidak hanya memperbaiki lingkungan, juga bisa menambah penghasilan keluarga maupun anggota kelompok.
Semoga bermanfaat...
Salam,
Senin, 30 Maret 2009
Produk Cantik XS Project
Selasa, 17 Maret 2009
Kasmi, Eksportir Tas dari Limbah Plastik
IBU KASMI memang makhluk yang amat langka. Betapa tidak? Limbah sampah dari bekas bungkus kemasan kopi bubuk, bekas pasta gigi (odol) dan bekas tas plastik (tas kresek) bisa dia ’sulap’ menjadi produk kerajinan tas berkualitas ekspor!


Dari limbah bekas bungkusan itu, wanita sederhana yang tinggal di kawasan Pisangan Barat Ciputat itu bisa menembus pasar ekspor hingga Amerika, Dubai (Uni Emirat Arab), Australia dan Singapura. Nilai ekspornya pun nggak main-main.
Omzet penjualan perbulan dari ekspor tas berbahan bungkusan bekas itu ke Singapura dan Dubai saja mencapai sekitar Rp 30 jutaan perbulan. Itu baru ke Singapura dan Dubai. Lantas berapa omzet ke Amerika dan Australia?
“Untuk omzet ke Amerika dan Australia, nggak usah disebutin angkanya deh. Malu!” kata Ibu Kasmi, seperti dilansir buku “10 Pengusaha UKM Penggugah Inspirasi” karya Agung Budi Santoso, dkk. Selain ke luar negeri, omzet jutaan rupiah juga tercetak dari penjualan di dalam negeri. Ibu Kasmi tak menjual tas-tas produknya di sembarang tempat.
Di dalam negeri, tas-tasnya ‘mejeng’ di etalase-etalase bergengsi antara lain Hero Supermarket, etalase kerajinan tangan di Hotel Kristal Jakarta, serta 15 toko-toko dan supermarket terkemuka lainnya di Jakarta dan sekitarnya.
Suksesnya menjadi wirausahawan unik dengan memanfaatkan limbah bekas bungkusan itu sampai menarik perhatian Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Para istri dubes dan staf-stafnya sampai penasaran, hingga bertandang ke rumahnya yang berlokasi tak jauh dari gedung Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat, Tangerang. Entah sudah berapa penghargaan dia terima dari berbagai departemen dan instansi pemerintahan lantaran usahanya yang mendatangkan inspirasi namun juga ramah lingkungan.
“Sayang banget kan, kalau bungkus kopi, bungkus minyak goreng dan tas kresek yang kondisinya masih bagus itu cuma jadi tumpukan sampah? Padahal kalau dimanfaatkan bisa jadi tas-tas bagus seperti ini,” ujar Ibu Kasmi memamerkan tas-tas bikinan dia dengan label The Happy Trash Bag.
Yang menarik, usaha kerajinan tas berbahan limbah yang dikelola Ibu Kasmi tidak semata-mata berorientasi bisnis. Itu terbukti dari kalangan karyawan yang dipekerjakan, semuanya adalah siswa-siswa Sekolah Luar Biasa (SLB). Ada yang tuna rungu, ada pula yang tuna wicara, sebagian lainnya adalah karyawan dari kalangan ibu-ibu rumah tangga kurang mampu yang tinggal di sekitar rumahnya. “Misi usaha saya semenjak awal memang membuat mereka (siswa-siswa SLB) itu punya jiwa mandiri dengan ketrampilan yang mereka miliki,” tuturnya.
Entah sudah berapa kali, Ibu Kasmi dihubungi oleh perusahaan-perusahaan produsen bubuk kopi, pasta gigi dan minyak goreng yang menawarinya kerjasama, namun ditolaknya. Wanita gigih ini ditawari pasokan bungkus-bungkus produk-produk mereka yang benar-benar masih baru dan jelas-jelas kondisinya bersih, tapi semua itu tak membuatnya tergoda. “Bagaimana kalau Ibu Kasmi kami pasok kemasan bungkus yang masih baru dengan harga lebih murah dibanding harga pemulung?” kata Kasmi, menirukan tawaran dari perusahaan terkait.
Namun Kasmi selalu menolak secara tegas. “Saya selalu memilih membeli bungkus-bungkus bekas kemasan dari para pemulung. Biar kondisi bungkusnya agak kotor, dan harus dibersihkan dulu, nggak masalah. Ya, itu tadi, ini bukan semata-mata bisnis, tapi juga sosial,” tuturnya.
Pendek kata, usaha Kasmi memang punya misi untuk memberdayakan pemulung, anak-anak pelajar SLB dan wanita dari keluarga miskin.
Bahannya Murah Meriah, Menjelma Jadi Barang Mahal
KARYA tangan dingin Ibu Kasmi memang menakjubkan. Sebuah produk tas cantik berbahan bekas bungkus kopi bubuk bisa menembus pasar Amerika, Dubai, Singapura dan Australia dengan harga bervariasi, sesuai ukuran. Untuk tas berukuran M misalnya, dibanderol dengan harga Rp 75 ribu. Sementara yang ukuran S dijualnya seharga Rp 55 ribu. Adapun yang ukuran L diekspornya seharga Rp 85 ribu.
Tentu harga tas-tas itu lebih miring untuk pasaran dalam negeri. Produk yang sama dijualnya seharga Rp 20 ribu (ukuran S), Rp 40 ribu (M) dan Rp 50 ribu (L). Tentu tas-tas mungil itu cukup mendatangkan keuntungan menarik bila ditilik dari biaya produksinya yang murah meriah. Coba bayangkan! Ibu Kasmi membeli bahan baku dari pemulung seharga Rp 5 ribu untuk perkilogram bekas bungkus kopi.
Sementara dari tiap kilogram bahan baku dari pemulung itu bisa dijadikan 4 buah tas mungil. Itu artinya, biaya bahan baku untuk tiap tas hanya sebesar Rp 1.250. Namun masih ada biaya kecil-kecil lain sebesar Rp 5 ribu guna membeli pita dan kain tipis untuk pelapis bagian dalam, yang masing-masing tasnya berbiaya sekitar Rp 5 ribu. Singkat cerita, total biaya untuk tiap tasnya hanya Rp 6.250. Di luar biaya itu, masih ada biaya ongkos produksi, yakni gaji bulanan para karyawannya yang berjumlah enam orang. “Biaya makan siang anak-anak tentu nggak terlalu saya hitung. Wong mereka itu anak-anak (asuh) saya sendiri,” ujarnya. Biaya lainnya, tentu komponen ongkos pengiriman. Luar biasa bukan? Dari sebuah produk tas berbiaya murah meriah itu bisa menjelma menjadi produk tas kualitas ekspor seharga Rp 55 ribu - 85 ribu.
Tas Kresek Pun Ikut Mendunia!
SELAIN tas berbahan bekas bungkus kopi, Ibu Kasmi juga mengolah bekas tas plastik (ibu-ibu rumah tangga biasa menyebutnya ‘tas kresek’) menjadi produk tas mempesona. Anda tentu tak asing lagi kan, dengan tas plastik yang diberikan cuma-cuma saat berbelanja di swalayan, minimarket atau supermarket?
Barangkali tas plastik bekas berbelanja begitu menumpuk di rumah hingga terbuang-buang percuma. Namun di tangan Kasmi, lagi-lagi bisa disulap menjadi produk spektakuler! Sebuah tas berbahan bekas tas plastik dieskpornya ke luar negeri dengan banderol Rp 50 ribu pertas. Sementara untuk pasaran dalam negeri bisa terjual Rp 30 ribu per tas. “Bahan bakunya ya dari tas plastik bekas berbelanja. Artinya, saya kumpulin sendiri tas-tas plastik yang saya dapat sehabis berbelanja di mal atau swalayan. Jadi enggak beli bahan bakunya. Kalaulah beli, belinya di mana? Mana ada orang jual bekas tas plastik,” ujarnya, setengah bertanya. .
Wanita yang pernah menjadi juru masak (koki) di Kedubes Australia itu mengerjakan kerajinan tas berbahan bekas tas plastik itu dengan gaya santai. “Ngerjainnya sambil nonton teve, atau ngobrol ngalor-ngidul sama ibu-ibu tetangga,” katanya. Untuk produk tasnya yang satu ini nyaris tak berbiaya bahan baku, kecuali ikatan dari serat bambu untuk memperkuat bodi tas. “Kalau bambu, paling cuma berapa harganya. Di sekitar rumah juga banyak,” katanya. Kasmi memang tak bisa mengkalkulasi persis berapa biaya tenaga kerja. “Habis, niat saya kan justru memberdayakan tenaga kerja anak-anak (SLB) dan ibu-ibu kurang mampu,” timpalnya.
Selain berbahan limbah plastik, Kasmi juga membuat tas berbahan bekas kemasan pasta gigi (odol). Dari pemulung, dia belanja bahan baku bekas pasta gigi itu seharga Rp 5 ribu perkilogramnya. Tiap kilogram bekas kemasan odol bisa dijadikan dua tas cantik dengan permukaannya yang putih mengkilap. Memang tampak mengkilap, karena yang ditonjolkan di bagian luar adalah kemasan odol di bagian dalam yang berwarna putih perak mengkilap itu. Biaya produksi lainnya adalah pita dan kain pelapis bagian dalam tas senilai sekitar Rp 5 ribu untuk tiap tas. Dengan bahan murah meriah itu, produk tasnya yang satu ini terjual laris manis dengan banderol Rp 150 ribu.
Wanita kelahiran Solo itu memulai debut usaha uniknya itu dari iseng-iseng. Wanita berusia setengah abad itu awalnya cuma mengisi waktu ketika dia mengantarkan putrinya ke sekolah pada 1987 silam. Sembari menunggu jam pulang sekolah putrinya, Kasmi iseng-iseng merajut, eh ternyata bagus juga!
Nyaris tak ada limbah plastik yang sia-sia di tangannya, mulai dari bekas bungkus mie instan, deterjen, snack, kopi bubuk, minyak goreng, dll. Praktis, usaha sebenarnya sangat ramah lingkungan karena membantu mengurangi tingkat pencemaran, terutama polusi sampah plastik yang sulit membusuk. Kini, usaha kerajinannya yang dia namai Group of Deaf People (karena karyawannya anak-anak SLB tuna rungu) bisa memproduksi 3.000-an buah tas dan 500 boneka dalam sebulan dengan omzet puluhan juta rupiah.
Tawaran Gaji Rp 10 Juta Ditolak
ANEHNYA, semua kepintaran Kasmi memanfaatkan sampah plastik menjadi produk kerajinan cantik dan mahal itu dipelajarinya secara otodidak. Belakangan, ketrampilannya itu menarik perhatian sebuah kantor kedutaan asing di Jakarta yang beritikad merekrut dia sebagai tenaga ahli dengan gaji Rp 10 juta perbulan. Dengan gaji menggiurkan itu, Kasmi mendapat tugas untuk menularkan ilmunya itu dengan menjadi pengajar di sebuah lembaga yang dikelola kedutaan tersebut di Pondok Indah.
“Tapi tawaran itu saya tolak dengan halus. Gajinya memang sangat menggoda sih, tapi gimana dengan usaha saya, kalau saya jadi orang kantoran? Bagaimana pula nasib anak-anak SLB yang menggantungkan hidup dari usaha ini?” tanyanya. Kasmi malah membuka kursus kerajinan. Diilhami putrinya, lembaga itu memberikan prioritas kepada siswa tunarungu. Kini ratusan siswa telah menimba ilmunya tanpa ia pungut biaya satu sen pun. “Saya ingin mereka tidak dikucilkan,” kata ibu tiga anak ini.
Untuk mempromosikan produknya, Kasmi rajin mengikuti pameran, antara lain pameran di Hotel Soultan (dulu Hotel Hilton) Jakarta. Beberapa pameran eksklusif kerap diikutinya, seperti di Australian Woman Association. Selain produk tas, dia juga membuat boneka. Bahkan inovasinya sampai berbentuk dompet dan tas berbahan koran. Melihat animo pasar yang besar, ia kemudian mengganti bahan bakunya dengan kertas yang dilaminating. “Setelah itu, saya berpikir kenapa tidak dari sampah?” Belakangan, dia lantas memanfaatkan bekas bungkus mie instan. Itulah kisah wanita inovatif sekaligus penyelamat lingkungan dari pencemaran. (agung budi santoso)
Alamat kontak:
Ibu Kasmi
The Happy Trash Bag (Group of The Deaf People)
UKM pembuatan tas dan boneka berbahan bekas seperti sachet sabun, bekas kopi bubuk, kantong plastik bekas (shopping bag), bekas kemasan minyak goreng, dll oleh pelajar Sekolah Luar Biasa (SLB).
Jl. SD Inpres No 79 RT 02 RW 09 Pisangan Barat Ciputat Telp (021) 749. 6784
Sumber: http://agungbudi.com/2009/02/bekas-bungkus-kopi-tembus-amerika/
Sabtu, 14 Maret 2009
Kreasi Kemasan Plastik Bekas
Maka dari itu, patutlah kita mendaur ulang bekas bungkus jajanan ataupun bungkus kopi (yang berbahan plastik) menjadi sesuatu barang yang berguna dan dapat dimanfaatkan.
Kenyataannya, banyak sekali cara untuk mendaur ulang plastik, terutama bekas bungkus berbahan plastik contohnya bungkus jajanan ataupun bungkus kopi. Tapi, di sini kami akan menyajikan salah satu daur ulang plastik yang berbahan dasarkan bekas bungkus jajanan, menjadi barang yang sangat berguna bagi kesaharian kita, yaitu tas. Mau tahu bagaimana cara membuatnya?
- siapkan bekas bungkus jajanan ataupun bungkus kopi sebanyak 200 buah (untuk penerapan, disesuaikan dengan keinginan ukuran tas) ; gunting ; benang kasur ; jarum.
- Gunting bagian- bagian plastik menjadi rata (tidak ada yang mengkerut), semua plastik yang dipakai, digunting sama besarnya.
- Setelah semua selesai dirapihkan, tentukan ujung plastik yang akan ditampakkan di depan.
- Kemudian
lipat 4 bagian, seperti gambar di bawah ini.Lipat kembali dengan menentukan ujung plastik lebih rendah dari lawannya, (ujung plastik yang akan jadi icon/ tampak
dep
annya, diletakan di dalam). - Siapkan 2 plastik yang sudah dilipat kemudian masukkan ujung yang pendek ke dalam selipan plastik yang dihi mpit. dan begitu pula sebaliknya untuk ujung yang panjang.
- Lakukan secara zigzag, berulang kali. Untuk 200 buah bungkus jajanan/ bungkus kopi, buat rangkaian sampai 20 zigzag-an. Lakukan 3 kali. (tergantung keinginan panjang tas). (40×3=120)
- Untuk bagian bawah, buat rangkain sampai 10 zigzag-an. Lakukan 3 kali. (tergantung keinginan besar lebar
nya). (20×3=60) - untuk sisanya, yakni 20 bungkus kopi, dapat dirangkai menjadi tali tas ataupun penutup tas, tergantung kreativitas.
- (lebih jelasnya dalam teknik pelipatan dan perangkaian, lihat video “Daur Ulang Bungkus Berbahan Plastik”)
11. hasilnya, dapat di lihat pada gambar di bawah ini.
(perlu waktu lebih dari 2 minggu untuk menyelesaikannya, tergantung banyaknya orang mengerjakan. maka kami menampilkan contoh yang berbeda dengan bahan dasar yang kami peragakan.)
selesai !
Silakan anda praktekan. Agar tumpukan sampah dari plastik berkurang, dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari- hari.
Sumber: http://sman13bandung.school-press.com/2009/01/13/daur-ulang-bungkus-berbahan-plastik-2/BERKREASI DENGAN KALENG BEKAS
Salam,


Note:
Untuk cat pakai cat kayu atau cat besi. Di sini rekan Andri menggunakan cat merek kuda terbang, yang harganya berkisar Rp 6500 satu kaleng kecil, ada dijual di toko bangunan. Warna putih cat dasar dari cat yang sama. Mudah dan murah.
Semua warna termasuk putih pakai merk yang sama. Gak usah dicampur apa2 catnya, kuas langsung celup langsung oleskan, tapi hati2 saat mencelup jangan kebanyakan nanti bleberan kemana2. Jangan lupa beli tiner (ditoko bangunan juga) gunanya untuk mencuci kuas dan membersihkan cat yang berceceran. Di alasin koran atau plastik, supaya gak belepotan di lantai atau meja.
Selasa, 10 Maret 2009
XS Project - Tas Yang Menyelamatkan Lingkungan
XSProject adalah sebuah group yang dibentuk di Jakarta oleh Ann Wizer, seorang visual artist dan aktivis lingkungan (environmental activist).
Sebagai seorang pekerja seni, Ann Wizer mengekspresikan keprihatinannya dan tindakannya dalam melawan perusakan alam akibat limbah industri dan sikap konsumerisme yang berlebihan, dengan menggunakan sampah sebagai bahan dasar dalam setiap instalasi seni dan kostum yang ia ciptakan.
Sampah tersebut dapat berupa sampah plastik, sampah kertas, dan lainnya. Baik instalasi seni, instalasi fashion, hingga bahkan tote bag pertama dibuatnya dari bahan sampah, melengkapi kostum nya juga yang digunakan dalam sebuah pertunjukan.
Pada tahun 2002, Ann Wizer mendirikan XSProject di Jakarta yang ditujukan untuk menciptakan solusi bagi pencemaran lingkungan yang berlebihan dengan sampah industri tersebut. Selain mendaur ulang sampah menjadi produk yang berguna dan mengurangi pencemaran lingkungan, proyek ini juga turut mengikutsertakan komunitas pemulung dan pemungut sampah di Jakarta.

Mereka membeli harga sampah mereka dengan bayaran yang lebih tinggi guna meningkatkan taraf hidup mereka, para anak - anak pemulung juga diberikan kesempatan untuk belajar bersama dengan murid - murid Bristish International School, kemudian para pemulung dan kaum miskin lainnya juga diajarkan dan dipekerjakan untuk memproduksi produk - produk daur ulang tersebut.

Penggunaan material - material sampah tersebut menunjukkan betapa cara - cara kreatif dapat digunakan untuk mendaur ulang produk agar dapat digunakan kembali, sekaligus mengurangi pencemaran dan menciptakan sebuah kehidupan yang lebih baik.
Pada tahun 2004, project yayasan non-profit, XSProject Foundation, didirikan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan pada masyarakat, sekaligus secara langsung membantu komunitas pemulung dan pengambil sampah agar mendapatkan akses dan bantuan dalam pemenuhan kebutuhan harian mereka, pendidikan bagi anak - anaknya, kesehatan, perlindungan, dan tentunya untuk mengangkat harkat hidup mereka dari kemiskinan.

Anda dapat turut membantu yayasan ini baik dengan cara membeli produk - produk mereka yang tersedia di berbagai tempat maupun langsung menghubungi contact yang ada di situs resmi mereka. Anda juga dapat membantu dalam berbagai kegiatan mereka dan bekerja sama untuk meningkatkan keperdulian terhadap lingkungan pada masyarakat kita.
Sebagaimana bisa anda lihat pada foto - foto yang ada di sini, produk tas, tempat pencil, kantong penyimpanan mainan, hingga pouch - pouch cantik, semuanya terbuat dari plastik limbah baik deterjen, obat nyamuk, minuman, dan lainnya yang kita gunakan dan kita buang sehari - hari.
Meskipun terbuat dari sampah, tidak berarti produk mereka berkualitas buruk, malahan berkualitas sangat baik. Semua hasil jahitan rapih, bahkan bahan bagian dalam pun dilapis lagi, menjadikan semua produk - produk yang mereka jual menjadi lebih kuat dan dapat digunakan lama.
Tidak ada yang lebih baik daripada mendapatkan produk bagus yang kita tahu mampu membantu mengubah lingkungan dan kehidupan manusia yang berkaitan di dalamnya. Berbelanja, berbuat baik, dan mengubah tatanan dunia menjadi lebih baik. Saya yakin banyak member dan reader di Fasity ini yang punya keyakinan yang sama. For a better world and a better fashion world!
Situs resmi XSProject Internasional: http://xsprojectgroup.com/
News & Stuff XSProject: http://www.xsproject.blogspot.com/
XSProject Europe: http://www.xsproject.eu
E-mail: info@xsprojectgroup.com
Sabtu, 07 Maret 2009
KERAJINAN ANYAMAN DARI KEMASAN PLASTIK BEKAS
Menyulap sampah plastik menjadi benda berguna di rumah, ternyata tidak sulit. Asal punya niat kuat, tekun, dan sedikit bumbu kreatif, kemasan mi instan, kopi instan, atau kantong keresek bisa dianyam menjadi dompet, tempat pensil, tas, dan sajadah yang tidak kalah indah dengan buatan para perajin.Berikut kiat dari Ny. Iyom Rochaeni, sang perajin limbah plastik, bagi Anda yang ingin segera melakukan sesuatu untuk mengurangi sampah plastik di rumah. Jika Anda kesulitan mengikuti langkah-langkahpembuatan kerajinan dari sampah plastik ini, Anda dapat menghubungi Ny. Iyom di Cihampelas Bongkaran No. 302/25 RW 15 Kelurahan Tamansari Kecamatan Bandung Wetan, Bandung 40116, telefon 08172362436.
- Cuci kemasan plastik dengan menggunakan air, lalu lap hingga kering. Setiap kemasan memuat banyak gambar dan tulisan yang masing-masing dapat menjadi corak. Setelah menentukan corak yang akan ditonjolkan, gunting kedua ujung serta bagian tengah (atau samping, tergantung corak yang dipilih).
- Lipat kemasan secara horizontal menjadi tiga lipatan, serut dengan gunting untuk mematikan lipatan, lalu jepit. Lakukan hal yang sama dengan kemasan plastik sejenis.
- Lipat kemasan yang sudah dijepit ke arah vertikal, dengan pembagian 1/3 di bagian depan dan 2/3 di bagian belakang, lalu tautkan dengan kemasan lain yang sudah sama-sama dilipat.
- Gunting bagian kemasan yang berlebih, lalu selipkan masing-masing ujung kemasan ke bagian belakang. Lanjutkan anyaman dengan menautkan kemasan lain yang sudah dilipat di bawah anyaman pertama dan lakukan hal yang sama. Ingat, panjang anyaman harus genap. Panjang anyaman disesuaikan dengan jenis barang yang akan dibuat. Untuk tempat pensil, panjang anyaman cukup 8 kotak, untuk tas, panjang anyaman antara 24 sampai 30 kotak, sedangkan untuk dompet cukup 20 kotak saja.
- Jahit anyaman menggunakan jarum dan benang karung sesuai dengan bentuk yang diinginkan.
- Tahap berikutnya adalah membuat alas anyaman. Bentuk anyaman menjadi balok dengan menjahit empat kotak di kanan dan kiri. Setelah itu, isi bagian alas yang kosong dengan kotak anyaman lain dengan cara menjahitnya. Dasar yang telah dibentuk dapat langsung disatukan dengan hasil anyaman bagian atas tadi. Tambahkan aksesori sesuai selera, seperti resleting, payet, atau kain lapis di bagian dalam. (Lia Marlia) ***
Artikel: http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=36643
Gambar: karya Khazinah, siswi XI IPS SMA 3 Annuqayah (http://madaris3annuqayah.blogspot.com/2007/06/perjalanan-sampah-plastik.html)
KERAJINAN DARI TAS KRESEK
Bagi yang ingin memanfaatkan tas kresek yang sudah tak terpakai lagi menjadi barang kerajinan yang memiliki nilai jual tinggi, berikut langkah-langkah pembuatannya.- Tas plastik bekas yang sudah tidak terpakai dikumpulkan lalu dicuci bersih.
- Kelompokkan plastik-plastik tersebut menurut warnanya, biasanya ada hitam, putih, merah, biru, dsb. (Bisa juga dipisahkan menurut ukuran serta ketebalannya, sehingga bisa lebih seragam).
- Potong melintang dengan ukuran 15 cm x 40 cm. Ukuran ini bisa diatur sesuai jenis produk yang ingin dihasilkan.
- Tentukan warna motif yang akan dibuat. Jika menginginkan tas motif merah hitam, maka plastik warna itu saja yang digunakan.
- Kaitkan potongan-potongan tersebut sehingga membentuk anyaman. Setelah saling terikat lalu disimpulkan membentuk segi empat. Begitu seterusnya sampai membentuk lembaran.
- Setelah membentuk lembaran, barulah dipotong/dibentuk lagi sesuai keinginan.
Demikian, semoga bermanfaat.
Salam,
Sumber: http://onlinebuku.com/2008/11/02/tas-plastik-menjadi-tas-rajut/
Rabu, 25 Februari 2009
KEDAI DAUR ULANG
Sebelumnya saya sudah tulis soal “Jangan Asal Buang Kertas. Pakai Dulu Kedua Sisi, Baru deh dibuang.” Sekarang masalahnya kalau kedua sisi sudah dipakai, kertasnya mau diapakan? Sempat saya coba kertas tersebut di shredder dan dimasukkan ke tong Composter. Ternyata kertas tersebut tidak bisa terurai dengan baik. Kadang ada juga orang yang membakar kertas tersebut, menjual ke tukang loak, atau ada juga yang diberikan pada pemulung kertas. Tadi saya juga sempat mencari solusi untuk mencari cara mendaur ulang kertas-kertas yang ada di kantor. Akhirnya saya mendapatkan seorang pendaur ulang independen bernama Bapak Salam di “Kedai Daur Ulang.” Kedai Daur Ulang menerima sampah-sampah kertas kita untuk dibuat barang dari hasil daur ulang kertas tersebut seperti kertas daur ulang lokal, kerajinan tangan, boks-boks, frame foto, dsb. Yang menarik adalah Kedai Daur Ulang sudah mempunyai langganan perusahaan-perusahaan yang ingin membuang sampah kertasnya untuk menjadi sesuatu yang lebih berguna. Oleh karena pembicaraan dengan Bapak Salam saya pun tertarik untuk mengantar kertas-kertas bekas ke Kedai Daur Ulang. Tidak semua kertas bisa cocok untuk didaur ulang. Lihat tabel dibawah ini:| Yang diterima | Yang Tidak diterima |
| Kertas putih | Kertas Karbon |
| Kertas HVS | Staples |
| Kertas koran | Klip kertas |
| Buku | Kertas lilin |
| Majalah | Kertas label |
| Kertas/map manila | |
| Kertas komputer | |
| Kertas NCR | |
| Amplop | |
| Kertas buram | |
| Kertas blueprint | |
Kalau anda tertarik untuk menyumbangkan kertas-kertas anda, apakah anda perorangan atau perusahaan, kirimkan ke:
“Kedai Daur Ulang”
Kontak: Pak Salam
Jalan Mampang Prapatan XI no. 3A Rt 07/01
Jakarta Selatan 12790
021 - 790 0742
0856 1515 692
Daripada sampah kertas, majalah bekas dan koran bekas hanya menjadi sampah dirumah yang akhirnya memenuhi Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) atau malah terbuang ke jalan, sungai dan laut, maka Kedai Daur Ulang akan menjadi alternatif terbaik untuk membuang sampah kertas kita. Ayo kita dukung bersama-sama. Buat kardus sumbangan untuk buku dan majalah di kantor anda, sosialisasikan hal ini kepada semua karyawan, dan beri contoh kepada teman kantor lainnya.
Kontak lainnya:
Edi Effendi:
Kalo ada yang mau buang kertas bekas ke saya aja, malah untuk HVS saya beli Rp 1500/Kg, cuma saya tinggal di daerah Cilegon / Banten, Kalo menyangkut Kertas file (Rahasia Perusahaan) yang mau di musnahklan tampa di bakar (Kan pencemaran), saya siap menghancurkan document dengan Mesin “Document Shredder” Gratis, asal limbah kertasnya buat saya, malah masih berani saya hargai. Ada yang berminat, atau info lebih jelasnya Hub saya di Hp 0818808680 / Rumah 0254 310218
T. Wijaya
Aq ngbutuhin banyak sekali kertas jenis Hvs…bagi yg punya banyak kertas, bs hubungin sy di ( T. Wijaya = 08997892903/081910501535)(ade = 085624076926)….di beli dengan hrga tinggi n dijemput.(lokasi di daerah bandung)…untuk yg di luar kota bs juga….aq butuh banyak sekali (minimal 100 kg/hari) mohon bantuannya…..maksih
Posko Daur Ulang Tzu Chi:
Hasil untuk disumbangkan ke yayasan Tzu Chi. Kertas dan plastik bekas tsb akan didaur ulang dan dijual mereka. Hasilnya digunakan utk membiayai RS & sekolah bagi yg tak mampu.
Telpon Posko Kelapa Gading: (021) 46825844 atau Bp Karja (sopir yang akan menjemput barang daur ulang Anda) : 0852 80640346.
Terimakasih & salam,
Sabtu, 21 Februari 2009
Membuat Tas Mungil dari Kemasan Plastik
Kita semua tahu bahwa sampah plastik adalah jenis sampah yang paling sulit diuraikan oleh tanah. Jika Anda membuang sampah plastik hari ini, hingga 80 tahun mendatang pun sampah plastik ini pun belum bisa teruraikan. Padahal, hampir semua produk kebutuhan rumah tangga menggunakan pembungkus plastik. Jadi, terbayang kan berapa banyak sampah plastik terbuang setiap harinya?
Untuk mencegah penumpukan sampah plastik, kita sebenarnya bisa mencoba mengurangi dampak buruknya. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkannya kembali. Sampah plastik bisa diolah menjadi barang-barang bermanfaat, seperti tas atau dompet. Hasilnya tak kalah cantik dengan tas-tas berbahan kain.
Dengan membuat tas berbahan kemasan plastik ini, Anda bisa mendapat dua manfaat. Selain mendapat tas cantik, Anda pun sudah turut berpartisipasi menyelamatkan lingkungan dari ancaman sampah plastik.
Kali ini kita coba dulu membuat tas yang ukurannya mungil. Ingin tahu cara membuatnya? Kami sajikan untuk Anda.
Alat dan bahan:
- 4 kemasan plastik 450 ml dengan corak dan warna yang senada (2 buah untuk sisi depan dan belakang, 2 buah lagi untuk sisi kiri dan kanan).50cm bisban dengan ukuran lebar 3cm untuk tali tas.
- 1m bisban dengan ukuran lebar 2cm.
- 4cm perekat
- 30cm renda katun sebagai pemanis.
- Jarum (ukuran 16) dan benang jahit berwarna senada.
Cara membuat:
- Bersihkan kemasan plastik dari segala noda dan kotoran. Untuk membersihkannya Anda bisa menggunakan kertas tisu. Jika noda sulit dibersihkan, Anda bisa merendam plastik di dalam air hangat. Jangan menggunakan air yang terlalu panas, karena akan merusak tekstur plastik.
- Gunting dua buah kemasan dengan ukuran yang diinginkan. Usahakan potongan kedua kemasan plastik memiliki ukuran yang sama.
- Gunting dua kemasan lain (untuk sisi kiri dan kanan) menjadi dua bagian lebarnya (7cm). Jahit bisban pada sisi lebar masing-masing kemasan yang sudah dipotong.
- Pasang dan jahit perekat, dengan menggunakan mesin jahit, pada bagian dalam masing sisi depan dan belakang.
- Pasang dan jahit bisban lebar 3cm pada bagian permukaan plastik (sisi depan dan belakang), sebagai tali tas.
- Kemudian pasang dan jahit renda katun sekaligus bisban pada sisi atas lembar kemasan plastik. Lakukan langkah ini pada kemasan plastik untuk sisi depan dan belakang.
- Sambungkan kedua kemasan plastik yang sudah dipotong berukuran 7cm (untuk sisi kiri dan kanan tas). Sehingga membentuk lembaran panjang.
- Hubungkan dan sambung dengan jahitan mesin, bagian tadi (no.7) dengan lembaran plastik untuk sisi depan dan belakang.
- Lalu pasang bisban pada seluruh tepinya. Jadilah sebuah tas mungil nan cantik, berbahan kemasan plastik. Cara yang sama juga bisa Anda lakukan untuk tas yang berukuran lebih besar, lho. Tinggal ganti ukurannya saja. Selamat berkreasi!
Jumat, 20 Februari 2009
Sampah Plastik Disulap Jadi Tas Cantik
Apa yang dikaryakan ibu-ibu PKK dan Karangtaruna itu sangat luar biasa. Mereka kreatif bisa membuat tas cantik, dompet, cover meja, cover tempat tisu dan tirai dari bahan sampah plastik. Sampah platik itu dari bungkus pop ice, coffemix, marimas, nescafe dan berbagai plastik yang berbahan dari alumunium foil lainnya.
Misalnya, Wahyuni (29), istri kepala dusun setempat, di rumahnya itu disulap seperti bengkel kerajinan. Berbagai bungkus minuman cepat saji dari berbagai merek berserakan di depan rumah. Di depan rumahnya ada beberapa gundukan sampah plastik, ternyata gundukan sampah itu merupakan bahan baku kerajinan yang dibuatnya.
Dengan dibantu beberapa ibu-ibu PKK dan Karangtaruna, pembungkus makanan dan minuman itu dicuci menggunakan sabun. Setelah itu dikeringkan, plastik dibersihkan dengan lap kain. Warna-warna pembungkus itu tampak kinclong, bersih dan mengkilat. Selanjutnya, siap dipotong salah satu bagian ujungnya dan dirangkai dengan cara dijahit menggunakan benang dengan mesin jahit.
Selesai sudah Wahyuni merangkai plastik kecil itu menjadi lembaran plastik yang agak lebar. Setelah ditentukan polanya, dia mulai melapisi plastik itu dengan kain blaco. Sebuah pekerjaan yang rumit dan membutuhkan ketelitian, namun dia dengan telaten hampir menyelesaikan pembuatan tas cantik.
Konsentrasi membuat wajahnya berkeringat, namun dia tak menghiraukan itu. Setelah tas yang dibuatnya mulai terlihat sudut-sudutnya, dia tinggal memberi tali. Hasilnya luar biasa sebuah tas cantik, warna dan tulisan yang terpampang pada tas merupakan asli bawaan dari pembungkus makanan dan minuman yang dijadikan bahan dasarnya. Memang terkesan seperti sponsor, karena melekat nama mereknya.
''Tapi justru itu nilai seninya, warna dan nama merek pembungkus menjadi menarik. Misalnya, dari pembungkus pop ice warna merah, maka tas itu yang dominan warna merah dan sedap dipandang,'' kata Wahyuni.
Kelola sampah
Apa yang dilakukan ibu-ibu disana adalah bagian dari kampanye pengelolaan sampah. Kreatifitas membuat tas dan berbagai pernah-pernik lainnya itu merupakan merupakan program lanjutan dari pengelolaan sampah oleh Paguyuban Sampah Mandiri dusun setempat.
Menurut Sekretaris Paguyuban, Eko Wardiyanto, program pengelolaan sampah dimulai pada November tahun lalu yang didukung Dinas Lingkungan Hidup, kabupaten setempat. Setelah program berjalan beberapa warga dikursuskan untuk membuat kerajinan dari sampah plasik di Yogyakarta. Baru pada Februari tahun ini, paguyuban mulai berkarya membuat kerajinan.
''Bahan baku pembuatan kerajinan berasal dari sampah-sampah warga setempat. Untuk sementara memang itu tujuannya, bagaimana mengelola sampah dengan baik dan memberikan manfaat peningkatakan kesejahteraan masyarakat setempat,'' katanya.
Produksi berbagai kerajinan itu, kata dia, memang masih terbatas. Karena bahan baku berasal dari sampah masyarakat setempat saja. Padahal peluang pasar sangat bagus. Dia mencontohkan, sudah dikirim ke Jakarta dan untuk memenuhi permintaan pasar lokal.
''Kami sering mengikuti pameran dan ternyata itu sebagai ajang promisi yang efektif dan murah. Selain itu bisa kampanye cara-cara pengelolaan sampah pada pengunjung setand,'' tambahnya.
( sholahuddin al-ahmed/cn05 )Sumber:http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0705/21/dar4.htm
Rabu, 18 Februari 2009
INSPIRASI DARI LIMBAH PLASTIK
Siapa tahu ada yang berminat, semoga informasi ini bermanfaat.
Salam,
Judul :Inspirasi Dari Limbah PlastikPenulis: Ulli Hermono
Penerbit: Kawan Pustaka
Sinopsis:
Mengoleksi sampah tentu tidak pernah terbayangkan di benak kita. Namun mengumpulkan, mengolahnya menjadi benda unik, kemudian mengoleksinya tentu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Buku ini mengajarkan betapa berharganya sampah di sekitar kita. Kemasan plastik yang sebelumnya kita abaikan akan menjadi kreasi unik yang berguna. Tas, sandal, tirai kamar mandi, atau tikar dari sampah kemasan plastik menjadi barang yang tidak terbayangkan sebelumnya. Pembuatannya dibeberkan dalam buku ini, mulai dari pemisahan sampah, cara membersihkan, cara menyambung dan menjahit, sampai produk apa saja yang bisa dibuat. Semuanya unik dan bermanfaat.
Selamat mencoba!
Sabtu, 14 Februari 2009
KOLEKSI TAS DARI PLASTIK BEKAS
Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan kita.
Salam.
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 22 November 2008
Oleh: Sobirin
Beberapa waktu yang lalu Rohma, seorang tamu yang mampir ke blog ini, menanyakan tentang detail cara menjahit tas dari bahan plastik bekas deterjen atau plastik bungkus lainnya. Saya mempunyai koleksi banyak tas plastik semacam ini dari teman-teman pendaur ulang limbah.
Saya sendiri mencoba mengkhususkan mengolah limbah rumah tangga menjadi kompos. Namun tidak berarti saya lalu membuang sampah plastik atau kertas dari rumah saya. Ada teman-teman yang menekuni menjadi pendaur ulang limbah plastik dengan hasil kerajinan yang cukup menarik dan bermanfaat. Saya minta tolong kepada mereka untuk membuatkan tas-tas dari plastik bekas ini, karena saya tidak memiliki keahlian jahit-menjahit.
Pertama, sampah plastik saya cuci bersih. Tidak memakai sabun. Air cucian saya tuangkan ke dalam komposter ANAEROB, biar berproses dengan bahan-bahan kompos yang lain di dalam tanah.
Kedua, lembar-lembar plastik yang telah dicuci bersih lalu dijemur hingga kering, dan diseleksi lembar per lembar sesuai dengan besar kecilnya, dan sesuai dengan warna-warninya.
Ketiga, lembar-lembar plastik yang telah dipilih sesuai warnanya kemudian di jahit menjadi tas sesuai desain yang kita inginkan. Karena saya tidak bisa menjahit, maka saya kirim ke teman saya yang memang menekuni jahit-menjahit tas dari plastik bekas.
Di mana-mana sekarang banyak pencinta lingkungan yang berkarya dan berbisnis dalam bidang ini. Teman saya yang menekuni hal ini antara lain: Iyom Rochaeni, alamatnya Cihampelas Bongkaran 302/25, RW 15, Bandung 40116, telpon 02292481233 atau 08172362436. Ada lagi teman saya yang lain, yang kelompoknya juga membuat tas semacam ini, yaitu Soenardhi Yogantara, Ketua Warga Peduli Lingkungan (WPL) di Kampung Bojong Tanjung di tepi Sungai Citarum, dekat Jembatan Cilampeni, telpon 0225880003 atau 08122057966. Tentunya di kota-kota lain juga banyak yang telah menekuni kegiatan ini. Bahkan ada yang membuatnya menjadi payung, sandal, dan lain-lainnya lagi.
Terlihat dalam foto-foto, sebagian dari koleksi tas plastik saya. Ada yang dari bungkus deterjen, dari bungkus minyak goreng, ada yang dari bungkus makanan. Ada pula yang dari plastik keresek, yang berwarna hitam, yang selalu kita dapatkan kalau membeli sesuatu di warung.
Plastik keresek berwarna hitam ini karena mudah didapat, maka juga dengan mudahnya banyak orang yang membuang plastik keresek ini sebagai sampah tidak berharga. Padahal bisa dimanfaatkan juga untuk bahan tas belanjaan yang cukup menarik. Plastik keresek dianyam dan dijadikan tas belanjaan yang lebih elegan, lihat foto tas yang berwarna hitam dalam foto.
Selasa, 27 Januari 2009
MAJU BERSAMA SAMPAH
|
| Tas berbahan limbah plastik buatan Bu Kasmi di Ciputat, Tangerang, Banten. |
Berkat sampah, Kasmi (52) dan Ida Suwardiah (48) bisa memberdayakan orang lain di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka.
Kasmi membangun usaha kecil-kecilan sejak tahun 1988. Awalnya, dia memproduksi boneka. Dua tahun kemudian, Kasmi membuat tas berbahan sampah plastik.
Kasmi menceritakan, dia membuka usaha ini untuk anak bungsunya, Trimayningsih, yang tunarungu. ”Saya ingin anak saya bisa mandiri dan punya banyak teman,” kata Kasmi, Rabu (21/1), di rumah merangkap tempat usahanya di Pisangan Baru, Ciputat, Tangerang, Banten.
Setelah usahanya berjalan, Kasmi melatih sejumlah anak tunarungu membuat tas berbahan sampah. Sebagian di antara mereka bekerja di rumah Kasmi, sebagian lagi membuka usaha sendiri.
Belakangan Kasmi juga mempekerjakan ibu-ibu miskin di lingkungan sekitarnya. ”Saya terenyuh melihat kehidupan mereka. Setelah bekerja di sini, alhamdulillah kehidupannya membaik,” kata Kasmi yang punya usaha lain dan toko.
Kini, roda usaha Kasmi benar-benar telah berputar. Secara berkala, kelompok pemulung dari Cipayung, Legoso, Cireundeu, dan Pondok Cabe menyetor plastik bekas bungkus kopi dan pengharum pakaian. Bahan-bahan ini lantas disulap menjadi tas cantik oleh 14 remaja tunarungu dan beberapa ibu miskin yang bekerja bersama Kasmi.
Produk Kasmi dijual di sejumlah hotel berbintang di Jakarta dan toko swalayan mewah dengan harga mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Produk itu juga dicari konsumen dari Dubai, Singapura, Amerika Serikat, dan Australia. Omzet sebulan antara Rp 20 juta-Rp 40 juta.
Kasmi tidak memasang merek. Dia hanya membubuhkan kertas bertuliskan keterangan dalam bahasa Inggris bahwa produknya dibuat para tunarungu.
Ida Suwardiah, Ketua Program Kesejahteraan Keluarga (PKK) RW 04 Kelurahan Kapuk Muara, Jakarta Utara, melakukan hal serupa. Ida menggerakkan ibu-ibu di sekitar lingkungan rumahnya untuk memproduksi tas dari kemasan bekas minuman instan sejak bulan Juni tahun 2007 lalu.
Semula ada 10 ibu yang ikut dalam kegiatan produktif itu, tetapi kini tinggal lima orang yang benar-benar aktif memproduksi tas seharga Rp 20.000-Rp 40.000 itu.
Untuk mendapatkan sampah kemasan bekas, Ida bersama rekan-rekannya menggalang tetangga di sekitar rumah mereka agar mau mengumpulkan sampah bekas kopi atau minuman instan. Ida dan teman-teman membeli sampah itu Rp 2.000 per kilogram.
Kegiatan yang dilakukan para ibu ini jelas bukan sekadar mengisi waktu luang. Kegiatan ini menumbuhkan kesadaran lingkungan dan membuka wawasan tentang nilai ekonomis sampah. Dari kegiatan itu pula, para ibu PKK ini lebih mandiri dalam hal keuangan.
Rolimah (40), yang juga anggota kelompok itu, sekarang merasa lebih merdeka untuk membelanjakan uang yang ia kumpulkan sendiri. ”Dulu, kalau mau jajan saja, saya minta suami. Kalau uang belanja habis, saya suka diomelin. Sekarang untuk membeli kebutuhan pribadi saya sudah bisa pakai uang sendiri,” tutur Rolimah. (budi suwarna/ lusiana indriasari)
Selasa, 13 Januari 2009
MAKNA KEHIDUPAN

HIDUP adalah sebuah perjalanan panjang,
untuk menemukan siapa diri kita,
dari mana kita datang,
dan kemana kita akan berpulang.
HIDUP adalah sebuah perjalanan panjang,
yang harus dijalani setapak demi setapak,
untuk menemukan makna maupun hikmah,
dari setiap peristiwa yang kita alami,
baik suka maupun duka,
baik derita maupun bahagia.
HIDUP adalah sebuah perjalanan panjang,
yang membuat kita senantiasa belajar dan sadar,
bahwa kita belum tahu apa-apa,
dan bahwa kita bukan siapa-siapa,
ketika kelak kita kembali kepada-Nya
HIDUP adalah sebuah perjalanan panjang,
yang membuat kita makin bijaksana,
atau sebaliknya,
membuat kita tergoda dan terlena,
pada apapun yang berbau fana,
yang membuat kita alpa,
bahwa ada Tuhan yang sedang memperhatikan dan menunggu kita.
HIDUP adalah sebuah perjalanan panjang,
yang indah untuk dinikmati,
jika kita sadar kita sedang menuju kemana.
Pulogebang, 13 Januari 2009
Di tengah derai hujan dan denting piano kekasihku.
Jumat, 02 Januari 2009
KERAJINAN DAUR ULANG
Kamis, 01 Januari 2009
RESOLUSI TAHUN BARU

Sebuah iklan di surat kabar beberapa hari yang lalu menarik perhatian saya. Gambarnya menampilkan seperangkat komputer yang ditempeli kertas di sana-sini berisi berbagai resolusi tahun baru, seperti: Mulai nabung buat rumah! Stop ngantor kesiangan! Berhenti bergadang! Rajin beresin kamar! Kerja lebih teliti! Rajin baca, kurangi nonton! Stop belanja nggak perlu! Harus rajin jogging! Stop ngemil, mulai diet!. Dan di bawah gambar tersebut tertulis: Hari baru, janji baru, apa kabar janji kemarin?
Hahaha..., saya jadi merasa tersindir.
Pasalnya saya jadi sadar betapa mudahnya membuat resolusi, tapi betapa sulit mewujudkannya.
Resolusi juga menunjukkan bagian mana yang kita sadari untuk diperbaiki atau ditingkatkan, menunjukkan prioritas hidup kita ke depan, apa yang kita anggap penting untuk lebih mendapat perhatian di hari-hari mendatang.
Kata: Apa kabar janji kemarin? menunjukkan betapa tanpa kita sadari kita sering kurang fokus dan kurang disiplin pada apa yang sudah kita canangkan. Kita mudah tergoda pada hal-hal lain di sepanjang perjalanan dan melupakan janji-janji kita, nazar kita sebelumnya. Kita berdalih bahwa bukankah kita harus fleksibel terhadap perubahan? Jika dalam perjalanan, ada hal lain yang butuh diprioritaskan, bukankah kita harus cepat tanggap mengubah haluan? Dalih-dalih semacam inilah yang sering menjadi penghalang bagi kita untuk mengalami pencapaian-pencapaian yang kita inginkan.
Resolusi bukan asal resolusi dan asal janji.
Resolusi membutuhkan komitmen, dan komitmen lahir dari sebuah perjalanan panjang.
Seseorang perlu memahami dirinya sendiri dan sampai di mana perjalanan spiritualnya saat ini sebelum menetapkan sebuah resolusi.
Resolusi dan komitmen adalah sebuah bentuk ketetapan hati, bukan rencana di kepala.
Pernah saya buktikan bahwa sebuah rencana yang matang dan penuh perhitungan akurat secara logika namun tidak disertai spirit alias semangat dari dalam hati sebagai api-nya, ternyata tidak berhasil direalisasikan menjadi kenyataan. Itulah pentingnya menjaga dan memelihara hati, karena di situlah terletak sumber kehidupan.
Karena itu, mulai tahun 2009 ini saya mengarahkan prioritas resolusi saya pada unsur hati alias manusia batiniah saya, manusia roh saya. Bukannya saya tidak peduli pada materi atau unsur fisik. Bukannya saya tidak butuh rumah atau uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dsb tapi saya yakin bahwa unsur materi akan mengikuti atau memfasilitasi apa yang terjadi pada unsur roh.
Kematangan spiritual adalah tujuan hidup saya.
Itu yang menjadi dasar dan prioritas hidup saya sampai saat ini.
Karenanya, saya merasa gagal atau berhasil dalam hidup ini sangat ditentukan oleh pencapaian-pencapaian saya di sisi spiritual.
Sisi spiritual yang saya maksud ada 2 hal, yaitu hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama.
Katakanlah jika saya berhasil mengembangkan karir secara excellent, tapi karenanya harus mengorbankan hubungan-hubungan dengan rekan sekerja atau keluarga di rumah, maka dalam hal ini saya tidak bisa dikatakan sukses. Karena sejak semula tujuan saya bukanlah karir, tapi hubungan dengan sesama. Sebaliknya, jika saya miskin secara finansial, namun mampu menciptakan rekonsiliasi dengan Tuhan dan sesama sepanjang waktu, maka saya bisa dibilang sukses. Karena dalam hal ini saya berhasil memenuhi tujuan utama hidup saya, yakni menjaga hubungan-hubungan baik dengan sesama dan dengan Tuhan.
Sebuah resolusi semestinya dikaitkan dengan keberadaan diri kita sebagai mahluk roh. Resolusi yang hanya berkisar di soal fisik dan materi hanya akan bertumbuh di sektor fisik dan materi, namun mengabaikan faktor spiritual. Orang-orang semacam ini akan lebih mudah terhempas badai krisis, mudah patah ketika berhadapan dengan kenyataan. Karena pada dasarnya mereka tidak punya Tuhan sebagai sandaran. Mata mereka senantiasa tertuju pada hal-hal semu yang ditawarkan dunia. Hati mereka mudah tergoda pada nikmatnya hiburan yang fana. Namun mereka yang mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaranNya, akan memperoleh lebih daripada semua itu, yakni kebahagiaan yang sejati, sukacita dan damai sejahtera yang selalu menyala-nyala dalam diri. Entahkah kemiskinan menyerbu, atau derita menerpa, mereka tahu untuk apa semua itu harus hadir dalam dirinya. Karena dalam semua pengalaman, selalu ada Tuhan beserta. Itulah yang utama.
Maka, memasuki tahun baru 2009 ini, saya mencanangkan resolusi untuk senantiasa mawas diri, berjaga-jaga dan berusaha mendengar apa yang suara hati saya katakan. Tidak berbantah dan tidak berdalih. Berani jujur dan berbesar hati menerima jika diri berbuat salah. Banyak berdiam diri dan melakukan introspeksi. Dan sesegera mungkin memperbaiki kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, jangan menimbunnya terlalu lama sebagai sampah rohani. Jiwa yang kotor akan sulit melihat dan mendengar akan Tuhan. Dan tanpa Tuhan, hidup kehilangan tujuan dan harapan. Siapa yang sanggup hidup seperti itu?
Akhirnya, selamat beresolusi. Selamat Tahun Baru 2009. Tuhan memberkati. Amin.
Pertumbuhan spiritual kita ditentukan oleh seberapa cepat kita memperbaiki kesalahan-kesalahan kita (ESD)
Kamis, 25 Desember 2008
HADIAH NATAL YANG TERINDAH
Beberapa hari menjelang Natal tahun ini, hati saya tergerak untuk memberi sesuatu kepada orang-orang terkasih yang selama ini hanya bisa saya repoti. Heran juga saya. Tahun-tahun lalu sewaktu masih ngantor dengan gaji berlimpah, tak kepikiran untuk memberi ini dan itu kepada mereka. Tapi justru tahun ini, ketika kami sedang seret secara ekonomi, kok malah hati tergerak untuk berbagi. Itulah misteri ilahi.Tadinya saya pikir mau memberi buku-buku renungan rohani kepada tiap keluarga kerabat yang kami kunjungi nanti. Tapi sampai hari H-nya, belum sempat juga membelinya ke toko buku. Akhirnya saya tahu, bahwa rencana Tuhan bukan itu. Yang baik belum tentu benar. Tuhan sedang mengajar saya, memberi dalam kesederhanaan. Memberi dalam keterbatasan. Memberi dari apa yang kita punyai, bukan memaksa diri dari apa yang tak kita punyai.
Ternyata yang lebih indah dari semua hadiah Natal yang saya rencanakan adalah HATI saya. NIAT BAIK saya. Kepedulian saya. Perhatian saya. Kesediaan memberi saya. Kesediaan mendengarkan saya. Kesediaan melayani saya. Kesediaan rekonsiliasi saya. Kerendahan hati saya. Tuhan tidak ingin saya memberi buku, melainkan memberi maaf kepada orang-orang yang selama ini belum ingin saya maafkan. Itu adalah hadiah Natal terindah bagi mereka dan juga bagi saya. Kelegaan di hati mereka dan terangkatnya beban di hati saya. Tuhan sudah merancangkan itu semua jauh sebelum saya merancangkan apa-apa sebagai kado Natal bagi mereka.
Tuhan menggerakkan hati saya untuk memberi sekalipun hanya hal-hal kecil. Memberi senyum dan salam Natal kepada anggota keluarga yang sering saya sakiti hatinya adalah permulaan yang baik di pagi ini. Bersyukur bahwa pagi ini bisa ibadah Natal di gereja bersama-sama mama, suami dan anak yang saya cintai adalah keindahan berikutnya. Kemudian membantu mama menjamu tamu yang datang, melayani mereka dengan hati yang ringan dan tawa gembira. O, sungguh menyenangkan. Ada yang berbeda pada diri saya. Saya merasakan lahir dan tumbuhnya manusia baru di dalam diri saya. Manusia baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Ini juga adalah hadiah yang terindah dalam Natal tahun ini.
Setelah itu saya mulai membalas sms yang masuk sejak semalam. Meskipun tahun ini jumlahnya jauh lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya, saya tidak kecil hati. Itu artinya, saya yang harus mulai mengirimkan, bukan hanya mau menerima. Saya melihat daftar nama-nama orang yang ingin saya kirimi ucapan selamat. Ada beberapa di antaranya yang selama ini saya hindari, karena pernah ada konflik di antara kami. Meski mulanya berat dan ingin sekali lagi menghindar untuk tidak menyalami, akhirnya saya putuskan untuk melakukan rekonsiliasi. Beberapa lainnya yang sudah lama tidak saling sapa, atau yang jarang saya sapa, kini saya coba memulainya. Dan Tuhan menjawab niat baik saya. Mereka pun membalas dengan sama antusiasnya. Saya jadi gembira bukan kepalang. Natal telah membantu saya menciptakan momentum rekonsiliasi. Alangkah jauh lebih ringannya hati ini sekarang.
Hal-hal sederhana lainnya yang saya coba berikan adalah memberikan waktu dan perhatian untuk menyapa dan mendengarkan. Saya menelepon para orangtua, memberikan waktu untuk mendengarkan mereka (tidak seperti biasanya, hanya menelepon jika butuh bantuan saja). Dan dengan cara ini ternyata lebih mengena dibandingkan jika saya datang hanya untuk menyodorkan buku. Karena kebutuhan para orang tua ini adalah perhatian, waktu dan telinga kita, juga hati kita untuk mereka. Mereka kedengaran begitu gembira mendengar sapaan saya, membuat saya belajar bahwa uang dan materi bukanlah segala-galanya, juga bukan hadiah yang lebih baik daripada diri kita sendiri.
Dan malam ini, selagi nulis postingan ini, sahabat yang sudah 12 tahun tak jumpa, tiba-tiba menelepon. Pasangan suami istri ini keduanya adalah sahabat saya. Kami ngobrol hampir 1 jam lamanya melepas kangen. Nah, ini adalah bentuk lain dari kado Natal yang saya terima hari ini.
Pendek kata, ternyata hadiah atau kado tidak selalu harus berbentuk barang. Hadiah yang terindah adalah kebahagiaan karena kita memberi, dan akibatnya kita jadi diberi (menerima). Luarbiasa sekali makna Natal yang saya peroleh hari ini. Kita memberi karena kita sudah terlebih dahulu diberi. Berilah maka kamu akan diberi.
Semoga damai Natal senantiasa menyertai kita semua.
Selamat Hari Natal. Tuhan memberkati.
Sukacita yang sejati diperoleh bukan ketika keinginan-keinginan kita terpenuhi, melainkan ketika kita bersedia melaksanakan panggilan Tuhan apapun resikonya. (Pdt. Linna Gunawan, 25-12-2008)
Rabu, 24 Desember 2008
RENUNGAN NATAL 2008

Entah kenapa beberapa tahun belakangan ini saya merasa sulit merayakan Natal seperti sebelum- sebelumnya, yang identik dengan semarak pesta, kerlap-kerlip lampu di pohon Natal, makanan dan kue-kue yang berlimpah, ucapan selamat yang mengalir melalui email dan sms, dan bentuk-bentuk perayaan Natal "fisik" lainnya.
Saya merasa ada yang kosong di dalam. Terutama ketika di negeri ini Natal mulai sering dirayakan berbarengan dengan berbagai bencana alam. Sulit bagi saya untuk menyanyikan lagu-lagu Natal dengan gembira, sementara saya tahu di belahan dunia yang lain sedang prihatin akibat tertimpa musibah.
Apa sebenarnya Natal dan kenapa jadi identik dengan perayaan penuh gempita seperti ini?
Yang saya ketahui, pesan Natal bagi saya pribadi ada 2, yaitu:
1. JANGAN TAKUT! dan
2. TELAH DATANG BAGIMU SEORANG JURUSELAMAT.
Jangan takut! adalah pesan Natal yang paling menggugah bagi saya, bukan hanya karena pada dasarnya saya penakut, tapi pesan ini benar-benar disampaikan Tuhan kepada setiap manusia yang mau mendengarNya. Apa pun yang sedang kita alami, apakah itu musibah bencana alam, sakit penyakit, keretakan keluarga, kegagalan bisnis, kegagalan pendidikan, kehilangan harapan, dsb, dsb.... pesan Tuhan bagi kita hanya satu JANGAN TAKUT. Dengan kata lain: BERANILAH! Karena apa? Karena kita tidak sendiri lagi. Itu pesan yang kedua. Karena TELAH LAHIR BAGIMU SEORANG JURUSELAMAT.
Juruselamat tak lain dan tak bukan adalah Tuhan sendiri yang telah berjanji tak akan meninggalkan kita. Itu adalah janji Tuhan yang sungguh menguatkan. Tuhan berjanji akan senantiasa hadir di dalam kita, di antara kita, menyertai kita, apapun yang terjadi. Dan itu lebih dari cukup untuk memompa keberanian kita dalam mengarungi arus kehidupan ini.
Dan setelah itu apa?
Setelah kita mengetahui dan mempercayai janji-janjiNya tersebut, lantas apa?
Kita tak boleh berdiam diri dan berhenti hanya sampai di sini saja, karena pesan Natal tersebut harus disampaikan. Disampaikan kepada siapa? Kepada yang membutuhkannya. Yaitu orang-orang yang merasa kosong di dalam seperti saya, orang-orang yang sedang cemas, kuatir, depresi, patah semangat, takut menghadapi hidup ini, kehilangan harapan, kehilangan makna hidup, dsb. Itu sebabnya saya merasa kurang "pas", jika Natal hanya dirayakan sebagaimana saya sebutkan di atas tadi. Natal semestinya kita hadirkan sebagai penyemangat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, terutama mereka yang lebih menderita dari kita.
Saya ingat bahwa Yesus yang kita rayakan pun tak lahir di tengah kemegahan dan gemerlap cahaya. Ia lahir dalam suasana prihatin dan ketegangan. Namun justru di situlah Ia membawa cahaya bagi orang-orang di sekitarnya.
Apakah kita yang merayakan Natal saat ini juga telah membawa cahaya bagi orang-orang di sekitar kita? Apakah kita juga turut berbela rasa dengan mereka yang menderita, yang saat ini berada di pengungsian akibat longsor dan kebanjiran? kehilangan rumah dan harta benda karena kebakaran dan penggusuran? kehilangan sanak saudara dan anggota tubuh karena peperangan dan penganiayaan? Sudahkah kita menyampaikan kabar baik tentang JANGAN TAKUT karena TELAH LAHIR BAGIMU JURUSELAMAT kepada mereka?
Natal adalah kelahiran Tuhan dalam hidup kita. Jika Ia telah lahir di dalam kita, bagaimana mungkin kita tidak menunjukkan tanda-tanda kehadiranNya dalam hidup kita? Setidaknya, biarkanlah sesama kita melihat dan merasakan bahwa Tuhan ada, melalui sikap dan teladan hidup kita.
SELAMAT NATAL 2008. TUHAN MEMBERKATI KITA SEMUA.
Salam,
Senin, 22 Desember 2008
MENJADI IBU RUMAH TANGGA, DERITA ATAU BAHAGIA?

Bisa jadi gambar ini mewakili pendapat sebagian besar perempuan tentang peran dan status ibu rumah tangga yang mereka anggap kurang adil dan kurang memberdayakan bagi kaum mereka. Para ibu ini merasa begitu dibebani oleh sedemikian banyak pekerjaan dan terjebak dalam rutinitas yang membuatnya frustrasi dan kelelahan. Belum lagi kurangnya apresiasi yang layak atas apa yang telah mereka lakukan, membuat mereka jadi menganggap diri tak berharga jika hanya menyandang status ibu rumah tangga semata.
Selanjutnya demikian menurut Hurlock:
Sikap yang tidak positif ini diperkuat oleh ”sindrom suami yang malas”. Sang istri marah melihat suaminya menganggap pekerjaan rumah tangga itu gampang dan dapat dikerjakan dengan bersantai-santai dan bersenang-senang, sedangkan ia bekerja dari pagi hingga malam, selama tujuh hari dalam satu minggu, terus menerus.
Sindrom suami yang malas digambarkan sebagai berikut:
Suami pada akhir suatu hari yang ”panjang” di kantor yang ber-AC, ketika pulang tinggal minta minum, merebahkan dirinya dengan letih di kursi dengan koran di tangan atau di hadapan televisi. Sejam kemudian ia bangun untuk makan malam, mengeluh bahwa daging kurang matang, mencium pipi istri dan kemudian keluar rumah dengan tim bowlingnya, minum bir, pulang menonton televisi lagi, kemudian merebahkan dirinya di tempat tidur. Sementara itu istrinya, yang telah bekerja sepanjang hari, mempersiapkan makanan, mencoba mengatur anak-anak supaya suami dapat beristirahat, menyuap bayi, menghidangkan makanan, mencuci piring, memberi makan anjing, memandikan anak-anak, meninabobokan mereka, memasukkan cucian ke mesin cuci, menyeterika, menonton televisi selama satu jam sambil menisik. Ini berlangsung hari demi hari. Suami merasa bahagia, tetapi istrinya lambat laun merasa kurang bahagia, tegang dan letih. (hal 272).
Berseberangan dengan apa yang dituliskan Hurlock, kaum Ibu di Jepang justru merasa bahagia, tersanjung dan dimuliakan dengan jabatan dan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Istilah Ryosai Kentro (istri yang baik dan ibu yang arif) menggambarkan suatu kebijakan yang memposisikan kaum wanita sebagai ‘penguasa rumah’, yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di rumah. Dari mulai pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, masalah keuangan, dan pendidikan anak.
Bahkan mereka tak segan-segan mengundurkan diri dari karir mereka demi mengasuh dan mendidik sendiri anak-anak mereka di rumah. Rilis Kementerian Kesehatan-Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang tanggal 17 Maret 2004 mengungkapkan bahwa 61% ibu muda Jepang meninggalkan pekerjaannya diluar rumah setelah melahirkan anak pertama. Hal ini mungkin juga karena pandangan tentang peran ganda perempuan – yaitu sebagai ibu sekaligus wanita pekerja –dianggap sebagai chuto hanpa- alias peran tanggung, tidak populer di Jepang. Menjadi ibu manusia Jepang atau tidak sama sekali, itu pilihannya. Menjadi ibu rumah tangga dianggap sama profesionalnya dengan wanita pekerja Jepang-wanita tidak menikah/menikah tidak melahirkan anak yang bisa mencapai jabatan yang setinggi-tingginya apabila dia sanggup dan mampu. Astronout wanita Asia pertama, bahkan mungkin yang pertama pula di dunia, terbang dua kali dengan NASA, space-shuttle Columbia-Juli 1994 dan Discovery-Nov 98, adalah wanita Jepang, Dr. Chiaki Mukai. Menlu sekaligus Deputi Perdana Menteri dari negara super economic power sekaligus bangsa tersejahtera di dunia serta memiliki harapan hidup terlama, dan sedang berjuang meningkatkan peranan Jepang di Dewan Keamanan PBB, adalah seorang wanita, Yoriko Kawaguchi.
Motivasi utama para wanita Jepang yang memilih karirnya sebagai ibu rumah tangga profesional (senggyo syuhu) maupun sebagai ibu pendidikan (kyoiku mama) adalah untuk melaksanakan ikuji-meletakkan dasar pendidikan berperilaku sejak dini kepada anak-anaknya, terutama di masa-masa emas, yaitu pada usia tiga tahun pertama masa perkembangan pesat otak seorang anak.
Kyoiku Mama adalah istilah yang mengacu pada Ibu-ibu Jepang yang terus menerus mengembangkan bakat anak-anak mereka dan menyekolahkan mereka di Universitas terbaik. Seorang pengamat Jepang, Reingold, mendefinisikan Kyoiku Mama sebagai berikut : She becomes directly involved in and identified with the child’s succes or failure. Terjemahan bebasnya : Para ibu pendidikan itu secara langsung terlibat dalam kesuksesan atau kegagalan anak-anaknya. Dan mereka juga dinilai berdasarkan kesuksesan atau kegagalan mereka. Ibu-ibu pendidikan Jepang, Kyoiku Mama, mengajarkan disiplin, pengorbanan, kerja sama dan kesederhanaan di rumah. Sekolah, yang mengajarkan hal-hal akademis, tidak direpotkan lagi dengan masalah-masalah perilaku anak didik karena nilai-nilai luhur telah melebur dalam karakter setiap siswa sejak dari rumah.
Para ibu di Jepang memiliki gelar kesarjanaan yang mentereng, walaupun mereka ‘hanya’ bertugas mengurusi rumah. Mereka beranggapan bahwa pendidikan yang mereka tempuh selama ini tidak sia-sia yakni untuk memperjuangkan pendidikan anak-anak mereka ketimbang mengejar karir dan cita-cita. Jika mereka ditanya, "Mengapa berhenti bekerja. Apakah tidak sayang pendidikannya yang tinggi tidak dipakai?" gantian mereka bertanya, "Apakah di rumah itu tidak memerlukan pendidikan yang tinggi?". Mereka lebih suka banyak tinggal di rumah untuk membuat makan siang, mencuci dan menyetrika seragam sekolah dan terus menerus memotivasi anak-anaknya untuk bekerja keras meningkatkan prestasi akademis mereka. Dan mereka lebih senang disebut sebagai wanita yang sukses dalam mencetak anak-anaknya yang berhasil, dan bukan karier mereka. Terbukti sistem ini sungguh berhasil dalam meningkatkan laju kemakmuran Jepang.
Tak heran jika anak-anak di Jepang , pria dan wanita, sangat sayang dan mengagumi ibu-ibunya. Sebagai jelmaan Dewi Amaterasu yang dipuja oleh bangsa Jepang. Kikunatara okasan ni naritai (kalau besar ingin menjadi ibu) adalah cita-cita anak perempuan Jepang yang mungkin langka dimiliki oleh anak-anak perempuan di Indonesia.
Di Indonesia, kebanyakan para perempuannya merasa sayang jika pendidikan tinggi mereka hanya berakhir di pekerjaan rumah tangga. Akibatnya anak Indonesia dari golongan ibu berpendidikan malah berada dalam haribaan para pembantu rumah tangga dan baby sitter. Karena kedua orang tuanya bekerja, anak-anak mereka diasuh dan dididik oleh pembantunya. Memang anak-anak itu bisa menyelesaikan pendidikan yang setinggi-tingginya dan mendapat dukungan finansial yang kuat. Tetapi ada satu hal yang berbeda yaitu: pola pikir dan jiwa mereka bukan duplikasi dari orang tuanya mereka - tetapi duplikasi dari pembantunya.
Padahal R.A.Kartini dalam salah satu suratnya juga berpendapat bahwa anak-anak perempuan perlu mendapat pendidikan adalah agar perempuan itu lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh Alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu-pendidik manusia yang pertama-tama. (4 Oktober 1902 Kepada Tn Anton dan Nyonya. Habis Gelap Terbitlah Terang terjemahan Armijn Pane. PN Balai Pustaka 1985)
Simaklah pengalaman Mulia Kuruseng (www.Hidayatullah.com) yang meskipun tak memiliki gelar akademis tinggi, namun mampu mengantar 15 anaknya meraih gelar kesarjanaan, hanya dengan modal: IKHLAS.
Saya ingin mengajak para Ibu untuk berintrospeksi, melakukan flashback ke zaman para ibu kita dahulu. Bandingkan betapa banyak bedanya kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan generasi kita dan sebelumnya. Para Ibu kita dahulu mungkin jauh kurang berpendidikan dibanding kita sekarang, namun mampukah kita menghasilkan generasi penerus yang lebih baik daripada yang dihasilkan oleh ibu-ibu kita? Perhatikanlah, bahwa orangtua kita telah menjadikan kita seperti sekarang ini karena sikap hidup mereka yang PRIHATIN, DISIPLIN dan TANPA PAMRIH. Mereka mengajarkan nilai- nilai budi pekerti bukan melalui omongan tetapi tindakan. Melalui contoh dan teladan dalam sikap hidup sehari-hari. Dan itu lebih efektif bagi anak-anak untuk menyerapnya. Bukankah: orangtua berbuat, anak melihat. Orangtua melakukan, anak meneladan. Bagaimana dengan kita, para ibu generasi sekarang?
Jangan takut menjadi ibu rumah tangga. Jangan merasa rendah diri dan tak berharga karenanya. Semua itu tergantung dari paradigmanya, apakah kita menganggap peran dan status ibu rumah tangga sebagai kutukan atau sebagai berkat. Sebagai berkat, paling tidak sudah ada satu modalnya. Sebuah studi yang dilakukan Pusat Kanker Nasional Jepang di Tokyo membuktikan orang dewasa yang beraktivitas secara rutin, baik melalui olahraga maupun bekerja, berisiko lebih rendah mengalami kanker tipe apa pun. Aktivitas fisik yang dimaksud antara lain adalah olahraga rekreasi, berjalan, pekerjaan buruh, dan pekerjaan rumah tangga.
Breast Cancer Research, sebagaimana dilansir dalam situs BBC mengatakan bahwa latihan fisik secara teratur, seperti lari, aerobik, atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang berat seperti berkebun, membersihkan perabot rumah dari debu, mengepel lantai dan membersihkan karpet dengan vacuum cleaner atau memasak, membersihkan rumah dan mencuci yang menghabiskan waktu rata-rata 16 hingga 17 jam setiap minggunya lebih baik ketimbang melakukan pekerjaan lain yang menguras fisik dalam menurunkan tingkat risiko terkena kanker payudara hingga 30 persen. Hal ini merupakan hasil studi selama 11 tahun terhadap 32.000 perempuan. Para peneliti lainnya yang telah melakukan riset ini terhadap 200 ribu wanita dari 9 negara bagian Eropa membuktikan bahwa mereka yang rajin beres-beres rumah lebih terlindung dari bahaya kanker ketimbang wanita yang hanya berolahraga.
Aktif di rumah dan mengerjakan segala kegiatan rumah tangga bagi wanita pra menopause dapat mengurangi risiko kanker sebanyak 29% dibandingkan dengan mereka yang tidak aktif membersihkan rumah. Sedangkan bagi wanita yang telah menopause, kegiatan ini bermanfaat hingga 19%.
Jadi, apalagi?
Selamat Hari Ibu. Selamat Berbahagia Menjadi (Hanya) Ibu Rumah Tangga “Saja”.
Salam dan sampai jumpa.
Sumber: Dari berbagai sumber.
Senin, 15 Desember 2008
BELAJAR MENDENGARKAN
Sudah lama saya diberitahu bahwa antara "mendengar" dan "mendengarkan" itu ada beda yang cukup signifikan. Dan hari ini saya belajar, bahwa proses mendengarkan pun ada bermacam-macam.
Ada orang yang setelah mendengarkan langsung menimpali, menganggap si pencerita sedang butuh solusi.
Ada juga yang bahkan malah menghakimi. Mengoreksi sana sini yang mungkin perlu dibenahi.
Ada yang mendengarkan dengan empati, tapi setelah itu malah terhanyut sendiri.
Ada yang mendengarkan sambil sibuk menganalisa dan mengamati, pelajaran apa yang kira-kira bisa diambil dari topik yang barusan didengarnya tadi.
Semua itu adalah jenis-jenis mendengarkan dari kacamata sendiri alias dari sudut pandang si pendengar, mengambil manfaatnya untuk kepentingan pendengar, atau bahkan untuk memuaskan ego si pendengar.
Saya akui, saya jarang bisa mendengarkan orang lain dengan tepat. Tepat cara, tepat persepsi, maupun tepat respon. Meski wajah dan telinga saya ada di situ, tapi mungkin pikiran dan hati saya tidak sedang berada di posisi di pencerita, melainkan pada diri saya sendiri. Yang paling sering saya lakukan adalah mencoba berempati, meletakkan posisi saya pada posisinya dan mencoba merasakan apa yang dia rasakan. Tapi mungkin karena saya tipe orang yang selalu ingin menarik sebuah pelajaran dari sebuah peristiwa, selama mendengarkan saya sibuk mencari benang merah dari apa yang disampaikan si pencerita, dan bukan benar-benar hanya mendengarkan saja. Padahal mungkin orang lain justru membutuhkan yang terakhir, seorang pendengar yang benar-benar hanya mendengarkan saja. Titik.
Mirip dengan kegiatan mengamati yang pernah saya tuliskan pada postingan sebelumnya, kita perlu belajar (hanya) mengamati saja, tanpa apriori, tanpa prasangka, tanpa menganalisa. Mungkin hal serupa perlu kita terapkan dalam hal mendengarkan ini.
Kenapa mendengarkan jadi penting untuk dibahas?
Yang pertama, untuk mengurangi kemungkinan konflik.
Yang kedua, untuk menolong memberi kelegaan kepada si pencerita.
Yang ketiga dan seterusnya, tolong cari sendiri, hehehe...
Untuk yang pertama, seringkali ketidakmampuan kita untuk mendengarkan orang lain menjadi sumber pemicu konflik. Ketika menyaksikan acara debat yang ditayangkan di TV, saya lebih suka tidak mendengarkannya, karena acara tersebut saya anggap lebih banyak mengeksploitasi adu kata-kata dan pendapat yang seringkali bukannya membantu mencerdaskan pendengar, malah sibuk memperluas ego peserta masing-masing. Nggak asyik ahh... Tapi jika forum memang dihadirkan untuk saling menginspirasi, biasanya setelah acara tersebut berakhir, ada tersisa suatu kesan yang bisa dipetik oleh pendengar. Dan itu lebih bermanfaat saya kira.
Mendengarkan yang dapat mengurangi kemungkinan konflik adalah ketika kita bersedia meluangkan waktu dan energi kita benar-benar untuk orang yang kita dengarkan. Terlibat secara aktif dalam bahasa tubuh maupun kata-kata dukungan (sekalipun belum tentu si pencerita ada pada posisi yang benar dalam kasusnya. Itu bukan tujuan kita untuk menganalisanya). Kita tidak menyerang dan menghakimi kesalahannya, melainkan kita benar-benar memposisikan diri sebagai si pencerita, yang notabene pasti menganggap dirinya benar. Dengan cara seperti ini kita bisa mengurangi konflik di awal.
Dengarkan saja dulu, berikan dukungan sebesar-besarnya apapun yang dilakukan oleh si pencerita dalam kasusnya, baru boleh berkomentar (itu pun kalau dirasa perlu).
Kesalahan yang selama ini saya lakukan adalah tidak sabar untuk menegur jika saya merasa ada kekeliruan yang perlu diluruskan dalam kasus si pencerita. Padahal tujuan mendengarkan adalah justru untuk mengajar kita sabar menerima kesalahan orang lain apa pun dan sebesar apapun masalahnya.
Yang kedua, untuk menolong memberi kelegaan kepada si pencerita.
Apapun masalahnya, terlepas dari benar atau salah, ketika kita mendengarkan orang lain, kita telah berbuat baik. Setiap kita adalah pribadi yang butuh didengarkan, butuh didukung, butuh dibesarkan hatinya. Ketika kita mau memberi diri untuk menutupi kebutuhan orang lain, kita sudah berbuat baik. Bukan hanya si pencerita yang memperoleh kelegaan, kita pun memperoleh berkah dan manfaat tersendiri. Karena setiap proses mendengarkan, sekali pun menuntut kesediaan kita untuk menyisihkan waktu kita, akan memperoleh imbalannya dalam bentuk lain. Jadi, jangan pernah segan mendengarkan orang lain. Jangan pernah merasa membuang waktu dengan sia-sia ketika mendengarkan orang lain, karena Tuhan senantiasa melihat dan memperhitungkan setiap perbuatan baik yang kita lakukan.
Semoga bermanfaat. Selamat belajar mendengarkan.
Salam,
Minggu, 07 Desember 2008
MENGUBAH SAMPAH MENJADI EMAS (3)
Multilayer atau sampah kemasan produk isi-ulang yang sudah dibersihkan dikumpulkan dan siap dijadikan bahan baku produk daur-ulang seperti tas."Trashion, from waste to style", adalah program yang dicanangkan Unilever Peduli Foundation (UPF) untuk mengurangi dampak pencemaran kemasan plastik terhadap lingkungan.
Sebagaimana kita ketahui, selain sampah organik yang kemudian umumnya dimanfaatkan sebagai kompos, ada juga sampah non organik alias sampah yang tidak dapat hancur, di antaranya limbah kemasan plastik. UPF bersama-sama dengan para kader binaannya
mencoba mereduksi limbah plastik bekas kemasan produk Unilever dengan cara mengubahnya menjadi barang-barang kerajinan daur ulang bernilai ekonomis. Di antaranya seperti tas laptop, dompet untuk telepon seluler, korden kamar mandi, tas berwarna merah dari limbah kemasan Royco, tas yang berukuran lebih kecil dari limbah kemasan plastik sabun Lux, kotak tempat sampah berwarna ungu dari limbah kemasan pewangi pakaian, tas belanja berwarna hijau, dibuat dari bekas kemasan cairan pembersih lantai, payung colorful kolase dari limbah kemasan berbagai produk, sampai dengan sandal biru muda yang catchy bertuliskan Molto!Berdasarkan riset yang dilakukan di Surabaya pada tahun 2006, mengenai sampah post-consumer, hasilnya adalah sampah plastik yang dihasilkan di Surabaya sebanyak 96.000 ton/ per tahunnya, sekitar 10% dari total penghasilan sampah secara umum. Dari hasil ini, sekitar 4.000 ton/ per tahun ( sekitar 4 persen dari total sampah plastik) adalah sampah plastik dari packaging Unilever dan 45 persennya adalah plastik berlapis. Karena itulah kemudian UPF mengadakan Program Daur Ulang Sampah Plastik ini, untuk mengurangi pengaruh sampah plastik Unilever bagi lingkungan dan mengubah sampah multilayer yang harganya sangat murah itu (sekilo Rp 500) menjadi punya nilai.
Sejauh ini, usaha industri daur ulang biasanya menerima sampah plastik dari pengepul dan menolak kemasan langsung dari pabrik-pabrik. Sampah plastik jenis ini kemudian diubah menjadi pellet plastik yang dapat diubah lagi menjadi produk plastik daur ulang lain seperti mainan anak, vas, tali tambang dsb. Namun untuk plastik berlapis (multilayered plastic) teknologi pengolahannya belum banyak dikembangkan karena lebih rumit dan tidak memiliki keuntungan ekonomi yang viable. Dalam proses mengubah limbah kemasan plastik menjadi barang kerajinan, yang cukup sulit sebenarnya proses menjahit. Sebab, multilayer tersebut licin dan juga keras. Butuh waktu sekitar tiga bulan untuk menguasai cara menjahit dan menghasilkan produk yang rapi.
Sampah plastik itu sebelumnya telah dipilah warga. Warga tidak mengirimkan sampah tersebut ke bank sampah melainkan ke rumah produ




ksi Trashion.Sebelumnya sampah-sampah ini dicuci dengan sabun dan pemutih desinfektan. Fungsi sabun adalah melepaskan kotoran-kotoran yang menempel di kemasan, sedangkan pemutih desinfektan untuk menghilangkan kuman dan bakteri selama lebih kurang 30 menit. Jadi plastik-plastik ini benar-benar steril dan hygienis.
Setelah dicuci dan dibersihkan, plastik-plastik ini kemudian dikeringkan dengan cara dijemur, yang dapat makan waktu sampai satu hari. Setelah kering, proses selanjutnya adalah pemotongan plastik. Ukuran potongan ditetapkan selebar 5 centimeter untuk memudahkan proses penjahitan. Setelahnya, potongan-potongan ini dipisahkan menurut gambar yang ada di kemasan. Tahap terakhir adalah menyatukan potongan-potongan tersebut dengan cara dijahit sesuai pola.
Animo warga terhadap produk daur ulang sampah plastik ini tinggi. Terbukti dari lakunya produk ini saat dipasarkan di pasar modern. Saat produk ini diikutkan dalam bazar yang diselenggarakan di Parkir Timur Senayan Jakarta, dalam tiga hari laku sampai mencapai omzet Rp 32 juta. Sampah ternyata tidak hanya dapat merepotkan warga. Di tangan yang tepat, sampah dapat menghasilkan uan
g.Semoga bermanfaat.
Sumber: Dari berbagai sumber
MENGUBAH SAMPAH MENJADI EMAS (2)
Judulnya: GERAKAN BANK SAMPAH DARI BANTUL.
Setiap pukul 16.00, antrean nasabah bank sampah biasanya sudah panjang. Mereka bukannya menanti giliran menyetor uang seperti di bank pada umumnya, melainkan sampah yang mereka kumpulkan selama dua hari. Meski yang disetorkan wujudnya tidak sama, pengelolaan bank sampah mirip dengan bank pada umumnya.
Setiap nasabah datang dengan tiga kantong sampah berbeda. Kantong I berisi sampah plastik, kantong II sampah kertas, dan kantong III berupa kaleng dan botol. Ketika menimbang sampah, nasabah akan mendapat bukti setoran dari petugas teller. Bukti setoran itu menjadi dasar penghitungan nilai rupiah sampah, yang kemudian dicatat dalam buku tabungan. Untuk membedakan, warna buku tabungan tiap RT dibuat berbeda.
Setelah sampah terkumpul banyak, petugas bank menghubungi tukang rosok. Tukang rosok memberi nilai ekonomi tiap kantong sampah milik nasabah. Catatan nilai rupiah itu lalu dicocokkan dengan bukti setoran dan kemudian dibukukan.
Harga sampah bervariasi bergantung pada klasifikasinya. Kertas karton dihargai Rp 2.000 per kg, kertas arsip Rp 1.500 per kg. Sedangkan plastik, botol, dan kaleng harganya menyesuaikan ukuran.
Tiap nasabah memiliki karung ukuran besar, yang tersimpan di bank untuk menyimpan seluruh sampah yang mereka tabung. Tiap karung diberi nama dan nomor rekening tiap nasabah. Tujuannya agar setiap tukang rongsok datang, petugas bank tidak kebingungan memilah tabungan sampah tiap nasabah. Karung- karung sampah itu tersimpan rapi di gudang bank.
Gemah Ripah
Bank Sampah Gemah Ripah, didirikan masyarakat Dusun Bandegan, Bantul, DI Yogyakarta, tiga bulan lalu. Kini jumlah nasabahnya 41 orang dari 12 RT di dusun tersebut. Pada tahap awal mereka masih membatasi diri untuk warga satu dusun, tetapi bila sudah memungkinkan nasabah tidak akan dibatasi asalnya.
Tidak semua sampah disetor ke tukang rosok. Sebagian di antaranya, yakni jenis plastik sachet dan gabus, diolah sendiri oleh bank sampah. ”Plastik sachet kami hargai Rp 15 per sachet, sementara gabus bergantung pada ukuran,” ujar Ismiyati, koordinator daur ulang sampah.
Plastik-plastik itu lalu diolah untuk membuat aneka aksesori rumah tangga, seperti tas, dompet, hingga rompi. Barang-barang tersebut dijual dengan harga Rp 20.000-Rp 35.000. ”Beberapa pembeli asing minta dikirim contoh barang. Kalau mereka setuju, pesanan yang kami terima akan menumpuk. Karenanya, stok bahan baku harus banyak. Kami sudah meminta warga untuk lebih aktif menabung sampah,” katanya.
Sampah jenis gabus biasanya dibuat menjadi pot bunga, tempat dudukan bendera, atau perlengkapan rumah tangga lainnya. Gabus-gabus itu dicampur dengan pasir dan semen. ”Produksi dari bahan gabus pesananannya masih lokal saja,” kata Ismiyanti
Menurut Panut Susanto, ketua pengelola bank sampah, sampah yang terkumpul tiap minggu mencapai 60-70 kg. Untuk sementara jam layanan bank dimulai pukul 16.00-21.00 tiap hari Senin-Rabu-Jumat. ”Kami baru bisa melayani pada sore hari karena sebagian besar petugas bank harus bekerja pada pagi hari,” katanya.
Belum maksimalnya kinerja petugas karena mereka mengelola bank sampah tanpa dibayar. Artinya, mereka harus tetap bekerja untuk membiayai kehidupan keseharian. ”Apa yang kami kerjakan sifatnya masih sosial. Jadi, kami memang tidak mengharapkan upah karena kondisi bank belum maksimal,” katanya.
Bank sampah memotong dana 15 persen dari nilai sampah yang disetor nasabah. Dana itu digunakan untuk membiayai kegiatan operasional, seperti fotokopi, pembuatan buku tabungan, dan biaya lainnya. ”Selama ini tidak ada nasabah yang keberatan. Kami harus melakukan pemotongan karena bank ini memang dikelola bersama-sama,” katanya.
Berbeda dengan bank tempat nasabah bisa mengambil dana setiap saat, di bank sampah nasabah hanya bisa menarik dana setiap tiga bulan sekali. Tujuannya agar dana yang terkumpul bisa lebih banyak sehingga uang tersebut dimanfaatkan sebagai modal kerja atau keperluan yang bersifat produktif.
”Kalau dibebaskan, mereka bisa konsumtif. Baru terkumpul Rp 20.000-Rp 30.000 sudah tergiur untuk mengambil. Karena hanya tiga bulan sekali, mereka bisa menarik dana sampai Rp 100.000-Rp 200.000 bergantung pada banyaknya sampah yang ditabung,” kata Bambang Suwirda, penggagas bank sampah.
Tersimpan
Menurut Bambang, dana kelolaan yang saat ini tersimpan tinggal Rp 500.000. Sebagian besar nasabah sudah mengambil saat Lebaran lalu. Untuk sementara, dana nasabah disimpan sendiri oleh pengelola bank. Ke depan, pengelola akan menjalin kerja sama dengan Bank Bantul untuk menyimpan dana nasabah.
Para pengelola bank juga bertekad memperluas operasional bank agar tidak terbatas pada penyimpanan, tetapi juga peminjaman. ”Dalam konsep bank sampah, barang jaminan mungkin berupa sampah juga,” katanya.
Fokus sampah yang dikumpulkan saat ini masih sebatas sampah anorganik. Ke depan, sampah organik juga akan diterima, yang selanjutnya diolah menjadi pupuk kompos.
Bagi para nasabah, keberadaan bank sangat membantu. Mereka bisa mendapat penghasilan tambahan sekaligus kebersihan lingkungan sekitar terjaga. ”Lumayanlah tiap bulan ada pemasukan tambahan. Hitung-hitung buat nambah dana belanja dapur,” kata Sutiyani, warga setempat.
Bila gerakan bank sampah bisa meluas ke berbagai desa, masalah sampah bisa tertangani. Tak hanya itu, perekonomian masyarakat juga ikut membaik sehingga angka kemiskinan bisa ditekan.
Di Bantul, produksi sampah per hari mencapai 614 meter kubik. Sayangnya, pemerintah daerah setempat belum berpikiran ke arah itu. (ENY PRIHTIYANI)
Sebelumnya, Kompas juga pernah memuat artikel sejenis dengan judul:MASYARAKAT BANDEKAN DIRIKAN BANK SAMPAH.
BANTUL, KAMIS - Sampah tidak lagi dilihat sebelah mata. Masyarakat Dusun Bandekan, Bantul sudah meliriknya menjadi bahan baku aneka kerajinan. Mereka bahkan mendirikan bank sampah sebagai penghasilan tambahan yang menjanjikan. Lewat bank ini, sampah-sampah dikumpulkan lalu diolah kembali menjadi barang aksesoris rumah tangga.
Bank sampah menerima sampah jenis anorganik dari seluruh warga. Tiap warga akan dibuatkan buku tabungan. "Setelah sampah disetorkan ke bank dan ditimbang, uangnya langsung dimasukan ke buku tabungan. Jadi masyarakat bisa punya simpanan dari sampah yang mereka kumpulkan sendiri," kata Siti Badriah (18), Sekretaris di Bank Sampah Bandekan, di sela-sela acara Bantul Ekspo, Kamis (7/8).
Ada beberapa jenis sampah anorganik yang diterima bank sampah yakni kertas, plastik, botol, dan kaleng. Untuk setiap 1 kilogram kertas dihargai Rp 2.000/Kg, plastik Rp 1.500/Kg, sedangkan untuk botol tergantung ukurannya.
Di RT 12 Dusun Bandekan ada 55 keluarga yang tercatat sebagai nasabah bank sampah. Mereka menabung sampah setiap hari Rabu dan Jumat. "Awalnya kami hanya melayani warga 1 Rt, tetapi dalam perkembangannya jumlah nasabah terus meluas hingga ke luar dusun," katanya.
Tidak hanya menabung, warga khusus ibu-ibu juga mengolahnya menjadi aneka timbangan. Sampah plastik misalnya dimanfaatkan untuk bahan pelapis sandal, tas, dan perabot lainnya. Plastik juga bisa dimanfaatkan untuk bahan isian bantal. Kertas bisa didaur ulang untuk membuat frame foto dan pelapis boks.
Pemanfaatan sampah juga dilakukan masyarakat Dusun Metes, Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu. Mereka mengumpulkan sampah-sampah sachet seperti bungkus kopi, detergen, dan berbagai produk pabrikan lainnya untuk bahan pelapis aneka aksesoris. Dengan ditambah pelapis, harga sandal rumah yang biasanya hanya berkisar Rp 5.000/pasang bisa naik menjadi Rp 15.000/pasang.
Gagasan ini terinspirasi dari kegiatan serupa di daerah lain. "Kami juga mendapat banyak informasi soal pemanfaatan sampah dari TV dan koran," kata Ibu Fajar Purwaningsih.
Fajar menuturkan, pada tahap awal gagasan memanfaatkan sampah tersebut sempat tidak diterima warga karena dianggap tidak lazim. Namun berkat dukungan sejumlah warga yang kemudian mendirikan kelompok usaha, kegiatan ini pun dicintai masyarakat sekitar.
(Sumber: Kompas, 7 Agustus 2008/Eny Prihtiyani)Semoga bermanfaat dan menggugah kita semua untuk lebih mencintai bumi.
Salam,

































