Google

Jumat, 21 November 2008

MENYEMANGATI DIRI SENDIRI (1)













Waow! Judul postingan hari ini lumayan provokatif ya?

Sebenarnya itu saya tujukan untuk menyemangati diri sendiri.
Pada postingan sebelumnya telah saya tuliskan bahwa saat ini saya sedang menjalani masa-masa awal dalam berwirausaha. Saya akui, beberapa kali nyaris ingin kembali saja ke masa-masa jaya dulu sebagai pegawai... :-), karena hati terasa ciut memikirkan apakah mungkin usaha yang tengah saya jalani ini bisa bertahan bahkan berkembang.

Menyemangati diri sendiri adalah sebuah aktivitas yang sangat dibutuhkan saat kita sedang merasa kecil, tak berdaya dan kehilangan harapan. Kita semua tahu bahwa ketika kita sedang berada di lingkaran yang nyaman (comfort zone), kita lebih mudah membangun mimpi-mimpi. Tapi mimpi-mimpi tersebut bisa runtuh seketika ketika kita harus berhadapan langsung dengan kenyataan. Bak fatamorgana, ia tidak nyata. Semu. Tipuan mata semata. Dan ini bisa sangat menggelisahkan kita.

Bagaimana mengatasi kegamangan ketika kita tak lagi bisa berkelit terhadap kenyataan? Ketika kita tak bisa lagi sembunyi di balik mimpi-mimpi yang menaburkan banyak harapan?

Jawabannya: HADAPI SAJA!

Tidak ada jalan lain, tidak ada jalan pintas!
Anda dan saya sama-sama manusia yang harus melalui jalan yang sama yaitu kenyataan!
Apakah Anda seorang pegawai atau wirausahawan, bawahan atau atasan, petani atau presiden, apapun embel-embel yang menempel pada diri kita, kita akan tetap diperhadapkan pada kenyataan. Siap atau tidak siap, sedang percaya diri atau sedang kecil nyali, sedang berani atau sedang takut, semua itu harus dilalui.

Kenapa kita stress? kenapa kita depresi?
Bisa jadi karena kita kurang percaya diri, takut gagal dan tidak berani menghadapi kenyataan.
Kenapa takut gagal? Kenapa tak berani menghadapi kenyataan? Padahal kita tahu di seluruh dunia, semua manusia pernah gagal dan pernah merasa takut menghadapi kenyataan? Kita tak sendirian, kawan.

Masalahnya mungkin terletak pada standar yang kita terapkan bagi diri sendiri. Jangan-jangan standar itu terlalu tinggi, sehingga membuat kita merasa kesulitan mencapainya. Kita jadi tegang jika tak tercapai. Kita merasa gagal, lantas patah arang. Lalu berlanjut menjadi penyakit jiwa nomor satu di dunia: tidak percaya diri.

Kalau begitu, bagaimana jika kita mencoba membebaskan diri dari lingkaran setan tersebut? Bagaimana caranya?

Ada satu cara yang cukup ampuh dan efektif yang tanpa sengaja saya temukan dari pengalaman beberapa waktu belakangan ini. Mungkin bisa berguna bagi Anda juga. Semoga.

Sebelum ini, saya adalah penganut berat paham worksmart bukan workhard. Saya paling alergi dengan istilah "kerja keras", karena bagi saya itu identik dengan kaum workaholic yang cenderung menelantarkan keluarga demi sebuah pekerjaan atau prestasi di pekerjaan. Kerja keras menurut saya juga identik dengan kerja otot dan bukan kerja otak, dan ini membuat kita seolah tak pernah mencatat kemajuan dalam sejarah peradaban manusia jika masih saja terus menerus mengandalkan otot dan bukan otak. Itu anggapan saya dulu lho... yang mungkin terlalu ekstrim memilah-milahkan antara otot dan otak. Padahal kalau dipikir-pikir, semestinya keduanya berjalan sinergi ya?

Nah, tapi karena paradigma berpikir saya seperti itu, jadilah saya menjauhi jenis-jenis pekerjaan yang berbau kerja tangan. Saya lebih suka mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan ide, gagasan, impian, dsb. Dan seperti Anda tahu, sikap seperti ini pun tidak mencerminkan keseimbangan. Saya hidup di alam tidak nyata dan ilusi semata. Jadi ketika harus berhadapan dengan kenyataan, saya tidak pernah siap. Saya selalu ragu dan kuatir jika suatu hari nanti di PHK dan tidak ada perusahaan yang mau menampung saya lagi, apa yang harus saya lakukan?

Langkah radikal yang saya ambil kemudian adalah melakukan kegiatan yang 180 derajat berlawanan dengan apa yang saya pahami semula. Dari yang tadinya tidak ingin menyentuh dunia kerja otot, akhirnya saya malah terjun total ke situ. Saya yang semula tidak bisa bangun pagi, sekarang bangun pukul 03.30 untuk memulai pekerjaan saya. Saya yang semula enggan menyentuh pekerjaan kasar, sekarang justru melakukannya. 99% pekerjaan saya sekarang adalah bekerja tangan, bukan pikiran. Nah, di sinilah justru perubahan mulai terjadi. Saking asyiknya tangan bekerja, pikiran kita pun tidak sempat untuk menguatirkan ini dan itu. Ketika gagal jual hari ini, kita sudah memulai yang baru untuk esok hari - yang tentunya disertai dengan harapan baru. Saya tidak sempat berlama-lama menangisi kegagalan. Saya tidak punya waktu untuk berlarut-larut tinggal dalam kekecewaan dan kekuatiran. Saya tenggelam dalam kesibukan yang memabukkan sehingga tanpa terasa telah melalui sebuah kenyataan pahit dengan ringan dan cepat.

Di sinilah saya belajar, bahwa mempunyai paradigma yang salah, bisa membuat kita berjalan salah pula. Memegang paradigma terlalu kuat, membuat kita mengabaikan keseimbangan. Bersikap lentur saja seperti pohon bambu, mungkin itu akan lebih berguna. Pohon bambu mudah digoyang angin tapi tak mudah patah. Ia menyesuaikan diri sedemikian dengan rupa-rupa godaan dan hambatan. Saya percaya, pohon bambu ada untuk mengajar kita, bagaimana menyemangati diri sendiri ketika harapan seolah tak ada.

Nah, sekian dulu sharing saya. Mungkin lain kesempatan bisa disambung lagi. Semoga bermanfaat.

Salam,

Tidak ada komentar: