Google

Kamis, 27 November 2008

MENYEMANGATI DIRI SENDIRI (2)

Belajar dari orang-orang yang telah lebih dulu berhasil daripada kita, adalah cara lain untuk menyemangati diri sendiri.

Bukan kebetulan jika belakangan ini entrepreneurship gencar diusulkan sebagai langkah alternatif untuk mengatasi berbagai beban kehidupan yang makin menekan. Sampai-sampai Menristek RI Kusmayanto Kadiman, dalam Pesta Blogger 2008 di Gedung BPPT Jakarta, Sabtu 22 November 2008 yang lalu, menganggap perlu dimunculkannya blog-preneur alias blogger yang berjiwa wirausaha (Kompas, 24/11/2008).

Hal senada juga diungkapkan oleh Bob Sadino, seorang entrepreneur kawakan Indonesia, dan Dr.Ir. Wahyu Saidi, MSc - Doktor yang juga pengusaha mie yang sukses dalam forum diskusi "Entrepreneurship Experiencing 2008" di Universitas Indonesia beberapa pekan lalu. Bahkan Bob Sadino memberikan tantangan yang provokatif kepada hadirin bahwa "Siapa saja yang ingin menjadi entrepreneur, keluarlah dari kampus setelah acara ini dan jangan kembali ke sini lagi!". (Kompas, 13/11/2008).

Apa maksudnya? Apakah kita semua tidak perlu bersekolah tinggi untuk dapat menjadi entrepreneur?
Tentu maksudnya bukan itu. Tapi bahwa gelar kesarjanaan tertentu di negeri ini, seringkali bisa menghalangi semangat kita untuk berwirausaha. Saya sendiri sempat mengalaminya, seperti yang diungkapkan Bapak Wahyu Saidi,
"Untuk memulai entrepreneurship, gelar kesarjanaan benar-benar tak berguna, justru sering negatif. Begitu mau menyebar brosur atau nggoreng makanan, ngerasa diri sarjana. Itu bisa jadi awal kegagalan", demikian ujar beliau.

Lagi, menurut pak Wahyu yang telah membuka 410 gerai makanan di 30 kota dan 4 negara ini, ilmu yang didapat di bangku kuliah baru berguna jika bisnis sudah berkembang. Misalnya terkait tuntutan penguasaan manajemen, mekanisme kontrol dan distribusi. Namun, tidak bersekolah juga bukan berarti tidak bisa belajar menguasai ilmu-ilmu ini.

"Kalau mau jadi entrepreneur, mulailah dari sekarang. Jangan berencana mulai setelah lulus kuliah. Apalagi kalau Anda berusaha lulus dengan indeks prestasi tinggi, besar kemungkinan muncul harapan dan iming-iming untuk jadi pegawai", ujar pak Wahyu .

Wah, kata-kata penuh semangat dari 2 pengusaha sukses ini sungguh menyemangati saya. Sejak muda, saya memang tidak berhasrat jadi pegawai. Itu sebabnya, bekerja pada orang lain saya niatkan hanya untuk sementara saja. Untuk mencari pengalaman, mengamalkan ilmu yang saya peroleh di kuliah dan untuk mengumpulkan modal. Dan setelah merasa cukup, saya harus berani memutuskan untuk keluar dari comfort zone tersebut, apapun resikonya.

Berwirausaha melatih kita menjadi berani. Dan itu adalah modal utama dalam hidup ini. Kita juga dilatih sabar, tegar dan tabah dengan adanya berbagai ketidakpastian yang harus kita hadapi setiap kali. Kita dilatih mengalahkan rasa malas, dilatih berpikir dan bertindak taktis dan strategik, serta berjiwa mandiri, tidak selalu mengharap bahkan menuntut pertolongan orang lain melulu. Wirausaha mengajarkan kita hidup dalam arti yang sebenar-benarnya. Kita hidup di alam nyata, ada kerja ada hasilnya. Ada usaha ada pahalanya. Berwirausaha juga membuat hubungan kita dengan Sang Pencipta menjadi lebih dekat. Kita bisa melihat pertolonganNya begitu nyata dalam setiap saat. Kita menjadi lebih mudah bersyukur, serta lebih mudah nrimo jika ada kegagalan menimpa. Tidak cengeng lagi seperti sebelumnya.

Saya bersyukur tengah menjalani sebuah proses yang menghidupkan. Yang mengembalikan jati diri saya sebagai manusia yang terus bergerak dan berubah. Dinamis dan tidak statis. Saya tidak sedang tinggal di air tenang melulu, tapi juga di air yang beriak. Saya menikmati setiap sensasinya sekalipun kadang mendebarkan bahkan mengerikan.

Mudah-mudahan tulisan kali ini bisa menyemangati Anda semua yang tengah berada di titik semangat yang paling rendah. Tuhan menguatkan kita semua. Sampai jumpa pada postingan berikutnya.

Salam,

Jumat, 21 November 2008

MENYEMANGATI DIRI SENDIRI (1)













Waow! Judul postingan hari ini lumayan provokatif ya?

Sebenarnya itu saya tujukan untuk menyemangati diri sendiri.
Pada postingan sebelumnya telah saya tuliskan bahwa saat ini saya sedang menjalani masa-masa awal dalam berwirausaha. Saya akui, beberapa kali nyaris ingin kembali saja ke masa-masa jaya dulu sebagai pegawai... :-), karena hati terasa ciut memikirkan apakah mungkin usaha yang tengah saya jalani ini bisa bertahan bahkan berkembang.

Menyemangati diri sendiri adalah sebuah aktivitas yang sangat dibutuhkan saat kita sedang merasa kecil, tak berdaya dan kehilangan harapan. Kita semua tahu bahwa ketika kita sedang berada di lingkaran yang nyaman (comfort zone), kita lebih mudah membangun mimpi-mimpi. Tapi mimpi-mimpi tersebut bisa runtuh seketika ketika kita harus berhadapan langsung dengan kenyataan. Bak fatamorgana, ia tidak nyata. Semu. Tipuan mata semata. Dan ini bisa sangat menggelisahkan kita.

Bagaimana mengatasi kegamangan ketika kita tak lagi bisa berkelit terhadap kenyataan? Ketika kita tak bisa lagi sembunyi di balik mimpi-mimpi yang menaburkan banyak harapan?

Jawabannya: HADAPI SAJA!

Tidak ada jalan lain, tidak ada jalan pintas!
Anda dan saya sama-sama manusia yang harus melalui jalan yang sama yaitu kenyataan!
Apakah Anda seorang pegawai atau wirausahawan, bawahan atau atasan, petani atau presiden, apapun embel-embel yang menempel pada diri kita, kita akan tetap diperhadapkan pada kenyataan. Siap atau tidak siap, sedang percaya diri atau sedang kecil nyali, sedang berani atau sedang takut, semua itu harus dilalui.

Kenapa kita stress? kenapa kita depresi?
Bisa jadi karena kita kurang percaya diri, takut gagal dan tidak berani menghadapi kenyataan.
Kenapa takut gagal? Kenapa tak berani menghadapi kenyataan? Padahal kita tahu di seluruh dunia, semua manusia pernah gagal dan pernah merasa takut menghadapi kenyataan? Kita tak sendirian, kawan.

Masalahnya mungkin terletak pada standar yang kita terapkan bagi diri sendiri. Jangan-jangan standar itu terlalu tinggi, sehingga membuat kita merasa kesulitan mencapainya. Kita jadi tegang jika tak tercapai. Kita merasa gagal, lantas patah arang. Lalu berlanjut menjadi penyakit jiwa nomor satu di dunia: tidak percaya diri.

Kalau begitu, bagaimana jika kita mencoba membebaskan diri dari lingkaran setan tersebut? Bagaimana caranya?

Ada satu cara yang cukup ampuh dan efektif yang tanpa sengaja saya temukan dari pengalaman beberapa waktu belakangan ini. Mungkin bisa berguna bagi Anda juga. Semoga.

Sebelum ini, saya adalah penganut berat paham worksmart bukan workhard. Saya paling alergi dengan istilah "kerja keras", karena bagi saya itu identik dengan kaum workaholic yang cenderung menelantarkan keluarga demi sebuah pekerjaan atau prestasi di pekerjaan. Kerja keras menurut saya juga identik dengan kerja otot dan bukan kerja otak, dan ini membuat kita seolah tak pernah mencatat kemajuan dalam sejarah peradaban manusia jika masih saja terus menerus mengandalkan otot dan bukan otak. Itu anggapan saya dulu lho... yang mungkin terlalu ekstrim memilah-milahkan antara otot dan otak. Padahal kalau dipikir-pikir, semestinya keduanya berjalan sinergi ya?

Nah, tapi karena paradigma berpikir saya seperti itu, jadilah saya menjauhi jenis-jenis pekerjaan yang berbau kerja tangan. Saya lebih suka mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan ide, gagasan, impian, dsb. Dan seperti Anda tahu, sikap seperti ini pun tidak mencerminkan keseimbangan. Saya hidup di alam tidak nyata dan ilusi semata. Jadi ketika harus berhadapan dengan kenyataan, saya tidak pernah siap. Saya selalu ragu dan kuatir jika suatu hari nanti di PHK dan tidak ada perusahaan yang mau menampung saya lagi, apa yang harus saya lakukan?

Langkah radikal yang saya ambil kemudian adalah melakukan kegiatan yang 180 derajat berlawanan dengan apa yang saya pahami semula. Dari yang tadinya tidak ingin menyentuh dunia kerja otot, akhirnya saya malah terjun total ke situ. Saya yang semula tidak bisa bangun pagi, sekarang bangun pukul 03.30 untuk memulai pekerjaan saya. Saya yang semula enggan menyentuh pekerjaan kasar, sekarang justru melakukannya. 99% pekerjaan saya sekarang adalah bekerja tangan, bukan pikiran. Nah, di sinilah justru perubahan mulai terjadi. Saking asyiknya tangan bekerja, pikiran kita pun tidak sempat untuk menguatirkan ini dan itu. Ketika gagal jual hari ini, kita sudah memulai yang baru untuk esok hari - yang tentunya disertai dengan harapan baru. Saya tidak sempat berlama-lama menangisi kegagalan. Saya tidak punya waktu untuk berlarut-larut tinggal dalam kekecewaan dan kekuatiran. Saya tenggelam dalam kesibukan yang memabukkan sehingga tanpa terasa telah melalui sebuah kenyataan pahit dengan ringan dan cepat.

Di sinilah saya belajar, bahwa mempunyai paradigma yang salah, bisa membuat kita berjalan salah pula. Memegang paradigma terlalu kuat, membuat kita mengabaikan keseimbangan. Bersikap lentur saja seperti pohon bambu, mungkin itu akan lebih berguna. Pohon bambu mudah digoyang angin tapi tak mudah patah. Ia menyesuaikan diri sedemikian dengan rupa-rupa godaan dan hambatan. Saya percaya, pohon bambu ada untuk mengajar kita, bagaimana menyemangati diri sendiri ketika harapan seolah tak ada.

Nah, sekian dulu sharing saya. Mungkin lain kesempatan bisa disambung lagi. Semoga bermanfaat.

Salam,

Sabtu, 15 November 2008

HIDUP CUKUP ALA KAUM FREEGAN



Minggu lalu, saya terinspirasi oleh dua tayangan pada dua stasiun TV yang berbeda. Yang pertama adalah liputan Oprah Winfrey Show tentang kaum Freegan, dan yang kedua adalah wawancara DAAI TV dengan Romo Sandyawan Sumardi.

Apa itu Freegan?

people who have decided to live outside consumer society. Freegans say our culture's emphasis on buying the newest products—and throwing away perfectly fine older things—is a waste of the world's resources. Instead, they focus on buying less and use only what they need. One of the main ways freegans do this is by salvaging food and other goods from the trash.

(selengkapnya bisa anda lihat di Oprah.Com)

Ada definisi yang lebih lengkap:

Freeganism is an anti-consumerism lifestyle whereby people employ alternative living strategies based on "limited participation in the conventional economy and minimal consumption of resources. Freegans embrace community, generosity, social concern, freedom, cooperation, and sharing in opposition to a society based on materialism, moral apathy, competition, conformity, and greed,The lifestyle involves salvaging discarded, unspoiled food from supermarket dumpsters that have passed, or in some cases haven't even passed, their sell by date, but are still edible and nutritious. They salvage the food not because they are poor or homeless, but as a political statement.

The word "freegan" is a blend of "free" and "vegan".Freeganism started in the mid 1990s, out of the antiglobalization and environmentalist movements. Groups such as Food Not Bombs served free vegetarian and vegan food that was salvaged from food market trash by dumpster diving. The movement also has elements of Diggers, an anarchist street theater group based in Haight-Ashbury in San Francisco in the 1960s, that gave away rescued food.

(Sumber:http://www.facebook.com/group.php?gid=55202305088&ref=share)


Salah satu partisipan dari kelompok freegans ini adalah Madeline seorang eksekutif di New York City dengan penghasilan jutaan dollar. Keputusannya untuk menjadi freegan boleh jadi dinilai mengejutkan karena salah satu cara hidup mereka yang gemar mengais dan memanfaatkan makanan maupun barang yang telah dibuang (sampah). Keputusan Madeline tentu bukanlah tanpa dasar. Dimulai dari kerisauannya hatinya tentang betapa besar pengeluarannya untuk apa yang ia makan dan ia kenakan. Ia lantas bertanya pada diri sendiri, apakah aku memang benar-benar membutuhkan barang ini atau barang itu? makanan atau baju dengan harga sedemikian mahal? Madeline juga membayangkan, ketika sebagian warga dunia dilanda kelaparan dan kekurangan pangan, para warga di negara-negara makmur dan berkembang justru membuang-buang makanan yang semestinya akan dijual di supermarket hanya karena sedikit penyok, atau sedikit tergores. Itu sebabnya maka Madeline akhirnya bergabung dengan komunitas freegan.

Kaum freegan adalah mereka yang prihatin dengan kenyataan bahwa telah terjadi pemborosan yang luar biasa demi sebuah gaya hidup, dan memutuskan hidup sederhana karena kesadaran mereka akan penghematan energi. Bisa jadi mungkin juga demi berbela rasa dengan mereka yang miskin dan berkekurangan. Mereka rela mengais sampah di malam hari dan mencari makanan kemasan maupun kalengan, bahkan sayuran dan buah-buahan yang masih segar untuk dikonsumsi. Bukan karena mereka pelit atau terlalu irit, tapi karena mereka menyayangkan mengapa makanan yang masih bisa dikonsumsi, belum kadaluarsa, sudah harus berakhir di pembuangan sampah. Mereka juga memilih untuk hidup "secukupnya". Meski penghasilan mereka memungkinkan untuk tinggal di apartemen mewah, belanja makanan mahal, baju dan perlengkapan busana yang highclass, tapi mereka memilih untuk tidak melakukannya. Yang paling mencengangkan bagi saya adalah mereka memutuskan hidup sederhana dengan makanan dan perabotan bekas, tapi menyumbangkan sebagian gaji jutaan dolar mereka kepada orang yang tidak mampu. Ck...ck...ck... ini sungguh mengharukan.

Di Indonesia sendiri ada Romo Sandyawan yang juga memiliki sikap yang nyaris mirip. Ketika mendengarkan wawancara DAAI TV dengan beliau, saya jadi speechless. Kok ada ya orang yang mau seperti ini? pikir saya.
Dengan kesadaran yang tinggi untuk merasakan penderitaan mereka yang miskin dan terpinggirkan, Romo Sandy rela menyamar menjadi buruh dan bahkan menjalani hidup sebagai buruh demi untuk belajar dan merasakan bagaimana hidup sebagai buruh itu. Romo Sandy juga memutuskan untuk hidup bersama-sama, berdampingan dengan mereka yang tinggal di bantaran kali Ciliwung. Susah dan senang mereka alami dan rasakan bersama, apakah itu kebanjiran atau pun penggusuran. Salah satu kalimat beliau yang melekat kuat di memori saya hingga saat ini adalah: yang kita perangi bersama adalah kemiskinan, bukan orang miskinnya!

Bagi saya, kaum freegan maupun Romo Sandy adalah orang-orang yang dengan kesadaran yang tinggi mau menyederhanakan kebutuhan hidupnya demi dirinya sendiri (agar hidup lebih bijak) maupun demi orang lain yang lebih menderita (dalam berbela rasa), sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus yang:

... telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Fil 2:7-8)

Semoga kita dapat mengikuti teladan mereka.

Salam.

Sabtu, 08 November 2008

OBAMA...OBAMA...!!!

Bukan hanya warga Amerika Serikat yang tegang dan menunggu dengan penuh debar hasil pemilihan presiden tahun ini, tapi hampir seluruh dunia tersedot perhatiannya untuk tidak melewatkan detik-detik paling bersejarah ketika untuk pertama kalinya seorang keturunan Afro-Amerika tampil sebagai orang nomor satu di negeri super power tersebut. Dan ketika akhirnya Obama memenangi pemilu, seluruh dunia seolah tenggelam dalam sukacita dan pesta pora.

Apa yang sebenarnya mereka rayakan? Sedemikian dahsyatkah kharisma dan daya tarik Obama sehingga mereka begitu merasa punya keterikatan batin dengannya, rela antre berjam-jam dengan antusiasme yang tinggi untuk memberikan suaranya? Terlebih lagi, masyarakat di luar Amerika yang mendadak demam Obama dan turut haru biru, meneteskan air mata dan bersorak-sorai bagi kemenangannya? Benarkah hanya karena orasinya yang memukau Obama sedemikian menjadi pusat perhatian dunia? Benarkah ia hanya memenangi momentum? Benarkah karena tema "perubahan" yang diusungnya membuatnya lantas digantungi harapan berjuta manusia?

Boleh jadi alasan-alasan tersebut lah yang mendasari terpilihnya Obama. Tapi boleh jadi sebenarnya bukan kemenangan Obama yang kita rayakan atau bukan sosok Obama yang kita sanjung dan idolakan, melainkan kita semua sedang merayakan kemenangan dari sebuah "kemustahilan". Kita merayakan kemenangan diri sendiri, ketika tiba-tiba kita tersadar bahwa harapan itu nyata ada, bahwa bukan hanya Obama yang bisa menang, tapi kita semua pun memiliki kesempatan yang sama!

Obama bukan sekedar menjadi ikon warga kulit hitam atau warga Amerika pada umumnya. Ia adalah sosok yang mewakili kita semua dalam mewujudkan mimpi dan harapan, membuat yang mustahil menjadi mungkin! Obama adalah spirit dan inspirasi bagi kita semua yang rindu akan kemenangan, terutama menang atas kelemahan diri sendiri.

Ya, Obama mewakili mereka yang minoritas dan terpinggirkan. Ia mewakili mereka yang broken home. Ia mewakili Barat dan Timur karena darah dan sejarah hidupnya yang multikultural. Ia pun mewakili mereka yang putus asa terhadap hidupnya karena ia pun pernah memiliki masa lalu yang suram dalam cengkeraman narkoba. Obama mewakili kita semua, memberikan harapan bahwa kita pun mungkin bertransformasi dari yang semula bukan siapa-siapa menjadi orang yang lebih bermakna daripada sebelumnya. Kemenangan Obama adalah pertama-tama menang atas dirinya sendiri. Sesungguhnya ia sudah menang jauh-jauh hari sebelum terpilih menjadi presiden Amerika Serikat yang baru.

Bagaimana dengan kita?

Apakah detik ini kita juga sudah menang atas diri sendiri? Sanggup menerima kelemahan diri dengan besar hati, dan sanggup berbangga tanpa arogansi terhadap kelebihan diri?

Apakah kita masih sering bersikap reaktif, marah dan sakit hati ketika dikritik?

Apakah kita masih sanggup berjalan meskipun terpaksa sendirian tanpa dukungan?

Apakah kita masih suka menyalahkan pihak lain sebagai penyebab kegagalan kita?

Apakah kita masih larut dan sulit beranjak dari kegagalan masa lalu?

Apakah kita masih sulit mempercayai adanya harapan di masa depan?

Apakah kita masih sulit mengampuni diri sendiri?

Berbagai peristiwa datang dan pergi dalam kehidupan kita seperti air yang mengalir. Orang bijak mengatakan, biarkan air mengalir, jangan dibendung pun jangan dibelokkan. Karena air yang mengalir membawa serta berkah maupun musibah. Dan keduanya sama baiknya bagi kita. Tak hanya berkah yang membawa kebaikan. Namun musibah juga memberikan banyak pengajaran yang pada akhirnya juga memberikan manfaat kepada kita.

Mari kita berjuang bersama sejak saat ini, sebagaimana Obama yang menyerukan: ”YES, WE CAN!”.


Jumat, 17 Oktober 2008

Menjadi "LASKAR KREATIF"

Istilah ”Laskar Kreatif” diangkat oleh Ninok Leksono dalam tulisannya di Kompas tanggal 15 Oktober 2008 yang lalu, mencermati fenomena film Laskar Pelangi yang dikatakannya sebagai meneguhkan kebangkitan industri kreatif di tanah air.

Apa itu Industri Kreatif?

Kira-kira begini definisinya:

“Industries which have their origin in individual creativity, skill & talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property”.

Rasanya kita harus berterimakasih kepada Ibu Mari Elka Pangestu (Menteri Perdagangan RI saat ini) yang telah mengangkat isu mengenai industri kreatif ini ke permukaan, bukan semata-mata karena berkaitan dengan tugas beliau, tetapi menurut saya hal ini merupakan satu bentuk upaya penggalian identitas bangsa.

Mengenal identitas bangsa – sebagaimana kita secara individu perlu mengenal diri sendiri – adalah satu pijakan penting sebelum memasuki arena yang lebih besar dan global yakni komunitas internasional. Generasi sekarang punya istilah “siapa lo?”,yang mengindikasikan bahwa identitas diri penting untuk menjelaskan keberadaan kita di tengah dunia. Kita harus mampu menjelaskan siapa diri kita, apa kelebihan kita, apa keunikan kita, apa sumbangsih yang bisa kita berikan bagi dunia.

Isu Ekonomi dan Industri Kreatif setidaknya telah membantu kita mengenali dan kemudian bangga menjadi anak bangsa ini. Jangan selalu berharap menjadi orang lain, menginginkan rumput tetangga yang lebih hijau. Kita sendiri pun punya intan dan permata yang tak kalah berkilau seandainya kita tahu bagaimana mengelola dan mengembangkannya, yaitu keragaman budaya yang tinggi dan manusianya yang secara alamiah kreatif, yang sekali lagi menurut bu Menteri merupakan potensi dan daya saing kita. Dan saya seratus persen setuju. Itulah sebabnya mengapa para founding fathers kita dulu telah merampatkannya dalam satu istilah yang sangat pas: Bhinneka Tunggal Ika. Tak dapat dipungkiri lagi, memang itulah kekayaan kita sebagai bangsa sekaligus ciri dan identitas kita di dalam komunitas global.

Nah, masalahnya sekarang adalah bagaimana mengembangkan potensi dan identitas ini agar semakin bersinar di mata dunia? Setidaknya ada 14 bidang industri yang bisa kita tekuni dan eksplorasi bersama untuk meningkatkan nilai jual kita di abad 21 ini, yaitu:
  1. Arsitektur,
  2. Desain,
  3. Kerajinan,
  4. Layanan Komputer dan Peranti Lunak,
  5. Mode,
  6. Musik,
  7. Pasar Seni dan Barang Antik,
  8. Penerbitan dan Percetakan,
  9. Periklanan,
  10. Permainan Interaktif,
  11. Riset dan Pengembangan,
  12. Seni Pertunjukan,
  13. Televisi dan Radio,
  14. Video, Film dan Fotografi.
Wow, menarik dan dahsyat sekali bukan?
Dan bagusnya lagi, kita tidak perlu susah-susah membentuk dan mengubah diri sendiri agar bisa berkontribusi dalam bidang-bidang tersebut. Maksud saya, bukannya dalam hal ini kita tidak perlu bekerja keras, melainkan bahwa secara alami potensi itu sudah mendarah daging pada diri anak bangsa ini.
Salah satu contohnya adalah, sudah bukan rahasia lagi bahwa rata-rata manusia Indonesia gemar menyanyi dan menikmati musik. Setiap acara musik selalu ramai dibanjiri peminat. Mereka bahkan hafal luar kepala syair-syair lagu ciptaan lokal. Bisa dibilang mereka punya bakat dan kecerdasan musikal yang tinggi. Dengan demikian, apabila kita hendak mengeksploitasi potensi musikal ini rasanya akan jauh lebih mudah dibanding untuk bidang-bidang yang secara alami memang kurang kita kuasai.

Contoh lainnya adalah sebagaimana yang sering ditampilkan di media televisi akhir-akhir ini. Para pendekar pengubah sampah menjadi emas. Kemasan-kemasan plastik dari sabun cuci, pewangi pakaian dsb, yang semula hanya menjadi timbunan sampah tak terhancurkan mampu mereka sulap menjadi tas-tas plastik yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Bahkan kertas koran bekas dalam bentuk aslinya, juga dapat dibuat menjadi tas kertas jinjing.

Bangsa kita boleh dibilang kaya akan seniman. Yang saya sebut di atas tadi, belum termasuk mereka-mereka yang secara genetis kultural memang telah mewarisi bakat sebagai seniman dari orangtua dan leluhurnya. Para pemahat, pelukis, penari, pemain alat musik tradisional, dsb begitu mudah dijumpai di Indonesia. Sayang jika generasi muda kita tidak mau melanjutkan warisan tradisi ini dan lebih suka membanggakan apa-apa yang berbau luar negeri.

Itu sebabnya, himbauan saya sama dengan himbauan Ninok. Mari kita sama-sama berjuang sebagai Laskar Kreatif bangsa di abad ini. Jangan kita dikenal dunia dari hal-hal yang negatif saja, tetapi ayo buktikan bahwa kita juga bisa memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi dunia. Syaratnya hanya satu: Jadilah individu-individu yang berjiwa bebas, karena tanpa jiwa yang bebas, mustahil kreativitas dapat lahir dan berkembang dengan luar biasa. Hanya orang yang berjiwa bebas yang dapat mengekspresikan dirinya (Sardono W. Kusuma). Banyak orang yang terkendala berjiwa bebas karena hanya mengejar pendapatan semata, dan itu akan membuat kreativitas kita terkekang dan terbatas. Mari berjuang mengalahkan motivasi-motivasi sempit dan membelenggu seperti ini.

Hidup Industri Kreatif!

















Keterangan gambar:

Salah satu karya anak bangsa yang termasuk dalam Industri Kreatif :
Memanfaatkan kain batik sisa menjadi karya seni kerajinan Patchwork.

(dari Pameran Kerajinan Inacraft di JHCC Senayan, April 2008 yang lalu)

Selasa, 14 Oktober 2008

MERASA CUKUP

Ada satu petikan ayat favorit saya yang bunyinya demikian:

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."(Mat 6:34)

Dan satu lagi yang merupakan bagian dari Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus:

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Mat 6:11)

Kata "cukup" di sini tentulah bukan sekedar tempelan pemanis atau bunga-bunga kata semata. Jika direnungkan lebih dalam dan lebih cermat, maknanya sungguh dahsyat. Karena di dalam kata "cukup" itulah terletak kebahagiaan sejati, yang dicari manusia sepanjang segala abad.
Setiap manusia yang sudah menemukan rasa cukup, ia sudah bahagia dengan kecukupannya. Tak perlu mencari-cari ke seluruh penjuru dunia, demi menemukan apa yang dianggapnya akan memberinya kebahagiaan. Harta terbesar yang kita miliki adalah ketika kita merasa cukup di dalam diri, karena itu tak akan pernah dicuri oleh siapapun.

Liburan Idul Fitri yang lalu, saya dan keluarga yang kebetulan tidak mudik, menyempatkan diri berekreasi ke sebuah lokasi pemancingan, tak jauh dari rumah. Saya - yang cenderung serakah :-) - sejak awal memang sudah berangan-angan bisa membawa ikan sebanyak-banyaknya ke rumah. Mana adik saya yang enggan ikutan sudah pesan ingin "matangnya" saja. Semakin terpaculah semangat untuk berjuang memperoleh yang terbaik...., hehehe... :)
Ternyata, semangat tinggallah semangat. Akibat terlalu berharap biasanya memang berakhir sebaliknya (wah, pembelaan diri nih). Suami dan anak saya yang iseng-iseng berhadiah malah dapat 3 ikan, sementara saya gigit jari dan bolak-balik kebagian tugas mengurai tali pancing yang melilit. Sebetulnya ada 2 kali kesempatan lagi bisa memperoleh ikan yang sudah kena umpan kami, tapi kemudian lepas. Lagi-lagi hanya saya yang berteriak, yaaahhh.... sayang.

Belakangan baru saya tahu maksud Tuhan. 3 ikan yang kami tangkap itu sudah lebih dari cukup untuk disantap kami berempat. Bahkan karena lumayan besar (3 ikan hampir 2 kilogram beratnya), akhirnya tak habis dimakan dalam sehari, dan harus diinapkan semalam sebelum disapu bersih adik saya keesokkan harinya. Bayangkan, kalau saja jadi 5 ekor yang kami tangkap, mau habis dalam berapa hari tuh ikan dimakan? Saya jadi belajar, makanya jangan rakus, jangan serakah. Semua sudah di atur, tinggal berserah.

Bangsa Israel di padang gurun juga pernah diajar hal yang sama. Ketika Tuhan memerintahkan untuk mengambil roti manna cukup untuk kebutuhan hari itu saja. Jangan menyimpan cadangan, karena esok harinya Tuhan pasti akan berikan yang baru. Tapi ada di antara mereka yang kuatir jika Tuhan tak menepati janji, terlalu kuatir jika-jika mereka terlantar dan kelaparan, dan yang lebih parah lagi, sebenarnya mereka tak mempercayai Tuhan yang Maha Peduli dan Maha Pemelihara. Jadilah mereka menyimpan dengan diam-diam manna yang turun pada hari itu untuk kebutuhan esok harinya. Dan mereka menjadi sangat terkejut manakala esok harinya manna tersebut telah menjadi ulat (belatung).

Saya jadi introspeksi diri. Benar juga, betapa sering saya terlalu memikirkan hari esok padahal hari ini Tuhan sudah cukupi saya dan keluarga untuk bisa tetap hidup. Definisi "CUKUP" antara saya dan Tuhan ternyata berbeda. Jangan-jangan itu sebabnya kita jarang sukses untuk mengucap syukur, karena kita baru ingin bersyukur setelah merasa cukup.

Apa batasan CUKUP buat kita? Apakah kita sudah merasa cukup jika kita masih bisa makan dan minum sewajarnya pada hari ini? Atau sebaliknya, sementara kita sedang makan (menikmati berkat Tuhan pada hari ini) pikiran kita melayang-layang tentang tabungan pendidikan untuk anak, asuransi jiwa dan kesehatan kita di masa pensiun nanti, cadangan dana tak terduga yang terus menerus ingin kita tambahi?

Sementara kita masih bisa berteduh di dalam rumah (bisa rumah sendiri, bisa yang masih ngontrak seperti saya, hehehe...) yang nyaman, kita sibuk memikirkan jauh ke depan tentang investasi apa yang perlu untuk mengamankan dan menyamankan diri lebih lagi. Kita lupa, nun jauh di sana banyak saudara-saudara kita yang tak punya tempat tinggal lagi untuk berteduh dan sekedar membaringkan diri karena digusur dan diusir pergi secara tak manusiawi.

Bagaimana rasa cukup kita bisa dibandingkan dengan Ibu Theresa yang memutuskan hanya punya 2 buah baju. Satu untuk dikenakan, satu lagi dicuci? Seperti apa sebenarnya definisi "cukup" yang kita kehendaki?

Kembali kepada ayat pembuka di atas, Yesus jelas-jelas mengajarkan kepada kita untuk membatasi diri sesuai kapasitas yang mampu kita tanggung pada hari ini. Apa yang mampu kita makan hari ini, cukuplah itu. Apa yang mampu kita kerjakan hari ini, cukuplah itu. Bahkan jika kita marah pada seseorang hari ini, cukupkanlah itu hanya sampai matahari terbenam, artinya, jangan diteruskan sampai esok hari, karena hari esok mempunyai masalahnya sendiri.

Mari kita coba pelajari lagi, selidiki lagi, sampai batas apa rasa cukup kita itu. Dan berbahagialah ketika telah mencapainya. Karena tanpa kendali itu, kita tak pernah tahu, kapan kita akan benar-benar berbahagia.

Salam,

Senin, 13 Oktober 2008

IRAMA PADANG GURUN

Salah satu episode yang paling menarik dari buku Sang Alkemis-nya Paulo Coelho adalah detik-detik yang mendebarkan ketika Santiago - tokoh sentral dalam novel sastra ini - memutuskan untuk menapaki padang gurun agar dapat tiba di Piramida Mesir, tempat harta dalam mimpinya berada. Menarik, karena para penjelajah gurun adalah orang-orang yang mau tak mau harus siap mati, siap tak bisa kembali lagi ke daerahnya semula. Sekali menginjakkan kaki di padang gurun tak ada jalan untuk undur dan memanjakan keragu-raguan.

Padang gurun adalah sebuah arena untuk melatih keteguhan hati. Bahwa kita semua punya mimpi, itu pasti. Tapi orang-orang yang berhasil, adalah mereka yang berani menindaklanjuti mimpi-mimpinya dengan sebuah TINDAKAN. Dan setelah bertindak, pantang untuk menoleh kembali ke belakang.

Peristiwa eksodus bangsa Israel dari tanah Mesir adalah salah satu peristiwa "padang gurun" juga. Tuhan memang menyediakan padang gurun untuk menempa yang dikasihiNya agar beranjak dewasa. Tidak cuma bisa mimpi. Tapi berani mewujudkan mimpi. Jika di pewayangan ada kawah Candradimuka sebagai media pengujian, padang gurun memiliki fungsi yang kurang lebih sama. Di padang gurun, kita tak lagi punya kemewahan untuk memilih. Terus maju atau mati! Itu tantangannya. Kita tak bisa berdebat tentang suka atau tidak suka. Mau atau tidak mau. Dan nasib kita berjalan sesuai irama padang gurun tersebut. Maksudnya jika kita mampu menyesuaikan diri, kita selamat. Jika tidak ya mati. Itu saja.

Saya pernah membaca sebuah cerpen Ayu Utami di Harian Kompas. Di situ dituliskan bahwa sejak seseorang memutuskan naik pesawat, sejak itu pulalah nyawanya diserahkan kepada sebuah kotak yang disebut black box. Ya, penumpang pesawat mirip dengan penjelajah padang gurun. Ia harus terus di sana sampai tiba di tempat yang dituju. Akan mendarat dengan selamat atau tidaknya, itu benar-benar misteri.

Kadangkala dalam hidup ini kita pun diperhadapkan pada misteri "padang gurun". Kembali ke belakang tak lagi memungkinkan, tapi berjalan terus maju pun terasa amat menggentarkan. Kita tahu tak mungkin kembali menjadi anak-anak yang banyak dibantu, dimanja dan dipermudah jalannya. Tapi menapaki kedewasaan pun kita merasa belum siap dan enggan. Dulu semasa kecil kita berangan-angan segera menjadi dewasa. Setelah dewasa, kita baru tahu bahwa pencapaian itu tidak mudah. Semua butuh perjuangan.

Kondisi yang saya alami saat ini juga tidak jauh dari efek padang gurun. Penuh misteri, mendebarkan dan menegangkan. Saya baru bisa merasakan apa yang dirasakan bangsa Israel sewaktu keluar dari tanah Mesir yang penuh kemapanan, diganti dengan kebergantungan total pada Tuhan yang tak kelihatan. Ada kalanya saya tergoda untuk bereaksi seperti mereka. Ingin kembali ke kehidupan yang lama, tak tahan dengan penundaan yang sebentar saja. Tak tahan berada dalam ketidakpastian. Kadang mengeluh, kadang bersungut-sungut, mengomel, penuh ketidakpercayaan pada Tuhan.

Kadang saya berpikir, alangkah panjang sabarnya Tuhan kita itu. Beribu-ribu tahun sudah Ia menghadapi manusia yang sama jenisnya seperti saya ini. Tidak tahu berterimakasih dan berjiwa kerdil (tak mau tumbuh dewasa dan berkembang, karena berkembang itu sakit). Tapi Tuhan memiliki mata yang tak kita miliki. Ia yang tahu persis bagaimana kita seharusnya menjadi. Untuk itulah manusia-manusia manja semacam saya ini diberiNya pelatihan. Agar kita berkembang sebagaimana mestinya.

Salah satu rahasia sukses menempuh padang gurun adalah mengikuti iramanya. Jangan melawan arah angin. Jangan menolak apa yang harus terjadi. Hadapi saja. Terima saja, apapun yang baik dan buruk yang terjadi pada kita. Karena hanya melalui kedua cara itu sajalah kita bisa tiba di seberang dengan selamat.

Siapa berani mencoba?

Sabtu, 04 Oktober 2008

MENGUBAH SAMPAH MENJADI EMAS

  • Sampah dapur (jumlahnya 30-40% dari sampah yang dihasilkan masyarakat) dipisahkan antara yang belum dimasak dan yang sudah dimasak.
  • Sampah dapur dari makanan yang telah dimasak kemudian dimasak ulang sebanyak dua kali dengan temperatur tinggi, lalu dijadikan makanan babi.
  • Sampah dapur dari makanan yang belum dimasak, termasuk tulang, akan dihancurkan dan dicampur dengan bubuk kayu lalu difermentasi. Setelah 9-10 hari makanan ini akan menjadi pupuk organik yang sangat baik untuk pertanian.
  • Sampah plastik akan diubah menjadi bahan isian untuk bantal, boneka, kasur dan mantel.
  • Gabus dan plastik tebal dijadikan rak baju, pot bunga dan material bangunan.
  • Botol kaca dan beling dihancurkan menjadi bahan untuk batu bata, aspal, kursi dan meja.
  • Kertas bekas akan diolah menjadi kertas baru. 1 ton kertas bekas bisa menghasilkan 800 kilogram kertas baru. Bandingkan jika membuat kertas baru dari batang pohon diperlukan 20 batang pohon berusia 20-40 tahun.
  • Barang-barang elektronik bekas, sepeda bekas dan furniture rusak dikumpulkan di satu tempat dan diperbaiki oleh tukang-tukang yang sangat terampil. Setelah dicat ulang kemudian dijual lagi dengan harga yang sangat murah. Cara ini sangat membantu bagi masyarakat kalangan bawah untuk mendapatkan barang yang baik dengan harga terjangkau.
  • Sementara itu debu dan endapan pembakaran dari insinerator dapat digunakan sebagai penutup galian infrastruktur kota dan urukan lahan pembangunan. Bahkan saat ini Pemerintah Kota Taipei sedang meneliti kemungkinan bahan-bahan sisa tersebut dapat diolah menjadi semen.

    Nah semoga gerakan Pemerintah Kota Taipei ini dapat ditiru oleh masyarakat bangsa kita, sehingga kerusakan alam yang lebih parah dapat dicegah.

Sumber: Kompas, 3 Oktober 2008

SAVE OUR EARTH

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Matius 9:36)

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. (Matius 14:14)

Kata “tergeraklah hati” disebutkan sebanyak 11 kali di Alkitab Perjanjian Baru, yang kemudian selalu diiringi dengan kejadian atau peristiwa yang luar biasa. Apakah itu kesembuhan, atau pun pengampunan dan pemulihan, dan juga mujizat-mujizat.

Kapan dan mengapa biasanya hati kita tergerak? Apakah itu karena belas kasihan, atau karena terinspirasi oleh sesuatu hal, atau karena baru tersadarkan dari yang sebelumnya kita abaikan?

Ada dua hal yang belakangan membuat saya merasa tergerak untuk mulai lebih peduli terhadap bumi kita.

Yang pertama, mengenai issue Global Warming. Acara Kick Andy di Metro TV, Jumat 3 Oktober 2008 kemarin menayangkan tentang bagaimana saudara-saudara kita di Flores yang menderita kekeringan luar biasa sejak 10 tahun yang lalu. Padi yang ditanam selalu gagal karena ketiadaan sumber daya air. Sementara saudara-saudara kita di wilayah lain justru mengalami banjir besar yang menenggelamkan sawah, ladang dan pemukiman mereka. Semua ini bisa terjadi sebagai efek Global Warming. Dijelaskan pula bagaimana bongkahan es di kedua kutub bumi sejak beberapa tahun belakangan telah mulai berguguran dan mencair, sehingga banyak wilayah di negara-negara tertentu mulai tenggelam oleh naiknya permukaan air laut. Sungguh ngeri jika kita tak segera waspada dan mengusahakan pengendalian terhadap penyebab Global Warming ini sejak sekarang.

Yang kedua, masih seputar Global Warming, namun lebih fokus ke persoalan SAMPAH. Harian Kompas, Jumat 3 Oktober 2008 mengangkat isu sampah yang bisa diubah menjadi emas sebagaimana sukses dilakukan oleh Pemerintah Kota Taipei. Sebagaimana kita ketahui, sampah ada berbagai jenis. Ada yang bisa hancur (organik), ada yang tidak bisa hancur (anorganik). Jenis sampah yang kedua inilah yang memiliki potensi merusak bumi jika tak segera dialihfungsikan. Pembakaran sampah, selain menimbulkan pencemaran udara, juga menambah resiko global warming. Untuk itulah Pemerintah Kota Taipei kemudian memikirkan solusi untuk menanganinya dengan tepat agar bermanfaat. Selengkapnya baca di postingan saya berikut.

Memang sulit untuk hati kita tergerak, jika kita tak pernah belajar menempatkan diri di posisi mereka yang menderita dan mengalami secara langsung.
Bagaimana kita bisa berbela rasa pada mereka yang kelaparan jika kita sendiri tak pernah kelaparan?
Bagaimana kita bisa merasakan derita mereka yang tak punya rumah karena digusur, kebakaran atau bencana alam jika kita selalu tidur dengan lelap dalam lindungan rumah yang nyaman dan hangat?
Bagaimana kita bisa merasakan kedinginan akibat banjir jika tak pernah kebanjiran?
Bagaimana kita bisa merasakan hausnya tenggorokan, lengketnya badan oleh keringat dan debu akibat kekeringan dan ketiadaan air?

Sungguh berbela rasa itu tidak mudah, karena dibutuhkan kepekaan hati untuk merasakan sentuhan jemariNya. Kepekaan hanya bisa datang dari hati yang tenang dan bening. Hati yang hening bukan yang riuh oleh semarak duniawi. Hati yang peka adalah hati yang senantiasa terbuka untuk mendengarkan suaraNya dan menanggapi panggilanNya sebagaimana dituliskan tentang nabi Yesaya

Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" (Yesaya 6:8)

Jumat, 03 Oktober 2008

Film "LASKAR PELANGI"

Libur lebaran kali ini saya sempatkan untuk nonton film Laskar Pelangi bersama keluarga. Film yang diangkat dari novel laris karya Andrea Hirata ini mengisahkan tentang perjuangan sepuluh anak Belitong untuk tetap bersekolah di tengah berbagai aral dan hambatan yang menghadang seperti kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan.

Ada rasa haru dan getir yang menyeruak ketika menyaksikan tokoh Lintang, anak pesisir yang cerdas, harus mengayuh sepedanya puluhan kilometer setiap harinya hanya untuk belajar di sebuah gedung sekolah yang renta dan nyaris ambruk, atapnya bocor di sana-sini sehingga seringkali harus berteduh bersama kambing ketika hujan datang menerpa. Sayang Lintang yang menjadi penyelamat sekolahnya dalam acara Cerdas Cermat SD di kotanya, ternyata tak dapat menyelamatkan dirinya sendiri untuk tetap bersekolah karena harus menggantikan posisi ayahnya yang meninggal dunia sebagai pencari nafkah keluarga. Perpisahan Lintang dengan Ibu Muslimah dan kawan-kawannya di sekolah adalah salah satu adegan dramatis yang mau tak mau membuat saya menitikkan air mata. Sungguh amat mengiris hati membayangkan betapa masa depan seorang anak manusia yang begitu cerdas secara alami, harus pupus dalam sekejap karena masalah ekonomi.

Sayang, mengingat begitu banyak hal lainnya yang ingin diangkat dalam film ini, penyajiannya terkesan terpotong-potong. Bagi yang belum membaca bukunya mungkin akan sedikit bingung dan kurang dapat menangkap apa yang ingin disampaikan lewat bahasa gambar. Tetapi bagi Laskar Pelangi mania, tentu saja adegan demi adegan sangat ditunggu-tunggu karena mereka ingin melihat visualisasi dari apa yang pernah mereka baca.

Banyak komentar dan resensi telah ditulis mengenai film ini, tentu saja dengan kelebihan dan kekurangannya. Jujur saja, saya sendiri juga sedikit kecewa dengan film yang tak seindah bukunya. Meski demikian, saya tetap sangat menghargai akting para pemainnya yang telah berusaha dengan maksimal memberi roh pada film ini sehingga layak ditonton. Demikian juga gambar-gambar yang ditampilkan tentang alam Belitong yang indah, sangat artistik dan romantis. Setidaknya mengajarkan kepada bangsa ini untuk menghargai satu sudut wilayah negara kita yang selama ini kurang diperhatikan.

Bagaimanapun, saya acungi jempol bagi semua seniman pendukungnya untuk sebuah karya sastra dan film yang luar biasa inspiratif ini. Semestinya anak bangsa kita, generasi abad ini belajar memaknai setiap kesempatan yang datang, karena tidak banyak orang yang beruntung untuk bisa mendapatkan dan menikmatinya. Bravo Laskar Pelangi!

Rabu, 24 September 2008

START FROM ZERO

Adalah sebuah pengalaman yang indah ketika saya harus mengundurkan diri dari perusahaan tempat saya bernaung selama 5 tahun belakangan ini. Indah, karena sejak itu (tepatnya bulan Mei 2008 yang lalu), saya tidak lagi berstatus karyawati yang terikat dengan jam kerja 8 to 5, melainkan menjadi manusia bebas sepenuhnya.
Indah, karena sejak itu mau tak mau saya menyandarkan hidup saya ke dalam pemeliharaan Tuhan sepenuhnya, menggantungkan diri pada belas kasihan dan anugerahNya semata-mata dan bukan lagi mengandalkan kekuatan diri sendiri lagi, karena saya tidak lagi memiliki penghasilan tetap yang biasanya saya andalkan dan saya banggakan.

Sebetulnya bisa saja saya mencari pekerjaan lainnya sebagai pengganti. Tapi usia yang sudah kepala 4 ini ingin saya syukuri dalam bentuk menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri. Sudah lama saya memiliki mimpi untuk bekerja di rumah sambil bisa menemani anak setiap harinya. Dan ini adalah kesempatan yang sudah lama saya tunggu-tunggu. Memang, sungguh tidak mudah memasuki masa transformasi dari seorang pekerja menjadi wiraswasta. Dari orang yang biasa menerima gaji tetap menjadi berpenghasilan tak menentu. Dari yang semula berhubungan dengan banyak orang harus bekerja sendirian. Tapi bagaimana pun, dalam hidup ini tentu tak melulu duka dan derita. Di balik semua peristiwa, selalu ada suka dan hikmahnya. Begitu pun yang saya alami.

Saya mengawali babak baru dalam kehidupan saya ini dengan berjualan kue. Dari yang semula ”nol” di dunia dapur dan masak memasak, dalam tempo 2 bulan saya sudah bisa membuat dan menjual hasil produksi perdana saya, (hehehe... tidak percuma berguru pada mama). Saya menitipkan kue-kue buatan saya di kantor adik-adik saya. Meskipun skalanya masih sangat, sangat kecil, tapi saya bangga bahwa akhirnya saya bisa mengalahkan kegentaran dan rasa tidak percaya diri ketika harus terjun ke ”dunia” ini. Ada kalanya timbul rasa ingin menyerah saja ketika gagal melulu sewaktu membuat kue-kue percobaan. Atau rasa gagal yang menyerang kala kue-kue kurang laku dan terpaksa ”dipulangkan”. Mana masih dikejar-kejar perasaan kuatir apakah hidup saya di hari esok masih bisa berlangsung mengingat penghasilan kini tak seberapa dan tak menentu pula?

Tapi di sinilah justru karya Tuhan terjadi atas hidupku. Dulu sewaktu masih bekerja, dan ingin memutuskan berhenti untuk usaha sendiri, tak juga muncul rasa berani. Takut ini, kuatir itu. Herannya, justru setelah dijalani, nyata betul pemeliharaan Tuhan dari hari ke hari. Setiap kali ketika saya mulai bertanya-tanya, dari manakah akan datang pertolonganku? (Mazmur 121:1), berkali-kali pula Tuhan langsung memberi jawab tepat pada waktunya. Sungguh luar biasa! Tak terlukiskan dengan kata-kata. Penghiburan, semangat, kesempatan, dukungan bahkan mujizat, Ia berikan kepada saya hanya untuk membuat saya percaya, bahwa hidup saya terjamin di tanganNya. Karena itulah pada kesempatan ini, mudah-mudahan tulisan ini mampu menguatkan para pembaca yang punya pengalaman mirip dengan saya, yang sering meragukan kasih dan pemeliharaan Tuhan.

Rejeki bukan dicari tapi diberikan (=dianugerahkan).
Hidup kita bukan untuk mencari uang, tetapi melakukan yang terbaik dalam segala pekerjaan yang menjadi bagian kita, sedangkan urusan upah adalah bagian Tuhan.
Jika kita bekerja dengan niat baik dan sungguh-sungguh serta selalu mensyukuri berkat Tuhan yang paling kecil sekali pun, percayalah bahwa Tuhan tidak akan menelantarkan kita. Tuhan sudah menciptakan kita, Tuhan pula yang akan bertanggungjawab memenuhi segala keperluan kita. Jangan kita dipenuhi rasa kuatir yang membuat kita jadi menganggap sepi dan meniadakan bagianNya. Jangan kita mengambil bagian yang bukan bagian kita, dan menjadikan diri sendiri menjadi penanggungjawab sepenuhnya atas hidup kita. Jika itu kita lakukan, maka tak heran kita senantiasa merasa letih dan stress. Tuhan ingin kita menikmati hidup. Merasa cukup. Dan mengembangkan bakat dan talenta kita sebaik-baiknya. Tuhan akan memfasilitasi segala keperluan kita, jika kita memang serius dan bersungguh-sungguh menjalaninya.

Semoga Anda diberkati.

Salam

Minggu, 20 Juli 2008

Keindahan Ciptaan Tuhan

Sudah lama gak update blog. Baru-baru ini mudik lagi ke Wonosobo, nemenin si kecil yang lagi liburan sekolah. Iseng-iseng saya motret tanaman mama yang tumbuh dengan indahnya di sekeliling rumah. Setelah bertahun-tahun, kenapa baru sekarang ya perhatian saya seolah tersedot untuk mengagumi ciptaan Tuhan yang bernama tanaman ini? Padahal biasanya pemandangan yang sama hanya mampu membuat saya berlalu begitu saja. Adakah hati yang berubah membuat cara pandang berubah?





Rabu, 26 Maret 2008

Christian Indonesian Blogger Festival 2008 (CIBfest 2008) !

Pagi ini saya dapat kejutan. Ada kiriman e-mail dari panitia Christian Indonesian Blogger Festival (CIBfest) 2008 yang mengundang saya untuk turut meramaikan Festival Blogger Kristiani tersebut. Entah dari mana panitia bisa memperoleh identitas saya, yang jelas saya langsung memutuskan untuk bergabung, karena saya rasa ide ini unik dan menarik sehingga patut didukung.

Sebetulnya blog saya ini bisa dikatakan tidak terlalu kristiani, meski saya memang penganut agama Kristen. Blog ini lebih bersifat perjalanan spiritual, yang berarti lepas dari embel-embel agama apapun. Bagi saya, hubungan dengan Tuhan sangat personal, tidak bisa dikotak-kotakkan dalam label agama. Pengalaman saya bersama Tuhan selama ini tak lepas dari pengalaman bersama agama-agama dan kepercayaan yang lain. Kedekatan saya dengan Tuhan bahkan seringkali dijembatani oleh orang-orang yang menganut keyakinan berbeda. Dan bagi saya, hal itu justru membuat kehidupan beragama saya menjadi lebih indah dan berwarna. Kekristenan saya tumbuh dan berkembang bersama dengan saudara-saudara tak seiman. Aneh, tapi nyata.

Meski demikian, sudah lama ada kerinduan saya untuk menelurkan 1 blog lagi khusus renungan kristiani, yang sayangnya hingga kini belum sempat tertangani dengan serius. Adanya CIBFest jadi mendorong saya untuk segera mewujudkan ide tersebut lebih cepat lagi. Terimakasih ya, panitia CIBFest, Anda menjadi wakil Tuhan untuk mengingatkan saya tentang hal ini, hehehe...

Akhir kata, selamat berfestival... semoga semua kegiatan ini memuliakan Tuhan jua adanya....

Salam sejahtera,

Selasa, 11 Maret 2008

Malas = Masalah

Seorang sahabat terbujur di rumah sakit sejak seminggu belakangan ini. Ia terserang stroke. Sebelah tubuhnya sulit digerakkan. Dan sebagai penunjang tubuhnya untuk sementara waktu, ia harus menggunakan kursi roda.

Untungnya sahabat saya ini masih bisa menyemangati diri sendiri. Setahu saya pasien penderita stroke biasanya memiliki emosi yang kurang stabil, dan perasaannya bisa menjadi sangat sensitif. Mereka seringkali merasa masygul pada diri sendiri dan butuh waktu cukup lama untuk bisa menerima keadaannya yang tak berdaya dan harus bergantung pada orang lain. Sangat menyedihkan.

Hampir sebulan yang lalu, tante saya yang juga pernah terserang stroke akhirnya meninggal dunia setelah lebih dari 3 tahun menjalani masa-masa sulit pasca stroke. Mama yang selama ini merawatnya, juga mengalami masa-masa sulit dan nyaris angkat tangan, karena besarnya beban fisik dan mental yang harus ditanggungnya. Stroke memang bukan hanya membuat si penderita tersiksa, tapi juga orang-orang di sekitarnya yang merawat dan menemani mereka. Penderitaan berkepanjangan, itulah yang seringkali membuat penderita putus asa, kehilangan harga diri dan harapan. Merasa hidup tak ada guna lagi.

Saya rajin menelpon dan mengirimkan sms pada sahabat saya ini untuk membesarkan hatinya. Saya membelikannya An Kung, obat Cina yang sangat bagus untuk pemulihan kondisi penderita stroke. Saya juga berniat menemaninya terapi akupunktur sepulang dia dari rumah sakit nanti. Selain itu ada program meditasi Sen Qi yang mungkin akan dijalaninya juga selain physioterapi di rumah.

Memang ada kecerobohan yang dilakukan sahabat saya ini sebelum dia terserang stroke. Pola makan dan kebiasaan hidupnya tak sehat, merokok dan jadwal tidur tak teratur serta malas berolahraga, membuat fisiknya rentan terhadap stroke. Belakangan, ketika ia juga terjun dalam penerbitan majalah yang menjadikannya sering stress akibat dikejar deadline, makin lengkaplah persyaratan untuk stroke bisa menyerangnya.

Meski demikian saya tak ingin mundur lagi ke belakang, mengungkit-ungkit kesalahannya. Setiap manusia mempunyai shadow-nya sendiri. Pada diri sahabat saya, mungkin ketidakdisplinan hidup sehat yang menjadi shadow-nya. Tahu yang benar, tapi tak mau menjalani. Tahu yang seharusnya, tapi malas melakukan. Apa yang dialaminya adalah akumulasi dari penundaan-penundaan akibat kemalasannya.

Saya pun demikian juga. Dalam 2 bulan terakhir ini saya harus 4 kali bolak-balik ke rumah sakit karena IUD yang salah pasang 8 tahun yang lalu. Keengganan saya untuk kontrol selama ini membuat saya harus menanggung akibatnya. Proses penanganan akhirnya menjadi lebih mahal dan lebih sulit daripada semestinya.

Ketakutan dan kemalasan melahirkan penundaan-penundaan. Penundaan menyebabkan masalah terus mengejar, bahkan dengan efek bola salju, menggelinding makin tebal dan makin besar. Ketika dalam diri mulai tumbuh rasa enggan dalam menghadapi sesuatu, ingatlah bahwa jika tak segera dituntaskan, kelak akan timbul dampak yang lebih merugikan. Karena itu, janganlah menunda. Segera selesaikan masalah sedini mungkin agar tak menjadi batu sandungan pada waktu yang tak diharapkan.

Sahabatku, semoga engkau lekas pulih. Terimakasih untuk pembelajaran yang sangat berharga ini. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari semua pengalaman ini.

Salam,

God Loves Story

Hidup adalah serangkaian cerita. Sejarah panjang peradaban manusia ditorehkan dalam berbagai kisah yang menawan. Mulai dari kisah-kisah heroik yang menimbulkan inspirasi hingga yang saking sepelenya nyaris tak mampu diingat lagi.

Setiap manusia mempunyai kisah hidupnya sendiri. Pendek kata, bukan hanya kisah para pahlawan dan tokoh dunia saja yang perlu diabadikan dalam biografi, namun setiap kita mempunyai peluang yang sama untuk mengukirkan kisah kita di prasasti kehidupan ini.

Karena hidup itu bergerak, penuh dinamika, maka ia bisa menjadi cerita. Bayangkan hidup yang sepenuhnya statis dan itu-itu saja, betapa amat membosankan.

Namun perubahan dan dinamika selain menimbulkan gairah dan antusiasme juga menuntut pengorbanan dan penderitaan. Keseimbangan di antara keduanya itulah tujuan kita, dan memaknai keduanya itulah keindahannya.

Banyak orang berontak saat menderita. Mereka tidak siap, dan tidak mau menghadapinya. Jika boleh memilih, inginnya menghindari saja yang namanya penderitaan itu. Di sisi lain, para bijaksana justru seolah mencari penderitaan. Mereka menyepi di gunung dan hutan, menjauh dari keramaian. Mereka menghindari makanan enak dan memabukkan. Mereka sanggup menahan diri dari kantuk dan letih untuk terus melantunkan doa-doa di gelap malam. Semua ini menunjukkan betapa penderitaan bisa menjadi lawan tapi bisa juga menjadi teman. Bisa dijauhi tapi bisa pula dicari. Intinya, bukan penderitaan itu yang menjadi sebab maupun akibat. Tapi bagaimana kita memainkannya. Bagaimana kita menjadikannya sebagai sebuah cerita.

Pertanyaan klise yang nyaris abadi, apakah Tuhan benar-benar ada? Dan jika Ia ada mengapakah masih juga ada penderitaan? Mengapa Tuhan mengizinkan terjadinya penyakit, peperangan, bencana alam di mana-mana yang menelan banyak korban?

Saya bukan Tuhan dan tidak dalam kapasitas menjawab pertanyaan tersebut. Saya hanya seorang pengamat yang mencoba menelisik ke balik layar, di mana sang Dalang sedang memainkan tokoh-tokoh wayang di tanganNya. Sang Dalang, penyuka cerita, dan yang mampu membuat tontonan menjadi menarik, sekalipun harus berakhir tragis dan dramatis.

Hidup kita adalah sebuah cerita. Kita-lah pemainnya. Saat-saat yang paling indah dalam sebuah cerita adalah puncak klimaksnya. Di situlah biasanya menjadi puncak pertemuan manusia dengan Tuhan. Yaitu ketika kita mempertanyakan, kita menggumulkan, kita bergelut, kita menangis dan meratap hingga akhirnya menemukan titik kesepakatan denganNya.

Kita dan Tuhan ada dalam cerita. Kita dan Tuhan menentukan jalan cerita. Kita dan Tuhan bekerjasama menyelesaikan cerita. Tugas kita adalah memainkan peran kita sebaik mungkin selama berada di panggung kehidupan ini.

Selasa, 22 Januari 2008

Yogyakarta - Desember 2007, tanah kelahiranku 40 tahun yang lalu...

Kompleks istana raja-raja Mataram tempo dulu.... Taman Sari







Lorong di bawah tanah....








Tempat pemandian pangeran dan para selir raja....







Pembatik tulis di perkampungan Taman Sari

Keheningan Rawaseneng

Biara Trappist Santa Maria di desa Rawaseneng, Temanggung, Jawa Tengah


Duapuluh tahun yang lalu di sini, untuk pertama kalinya aku merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupku ...








Ruang tamu




Ruang Ibadah Para Trappist







Kamar penginapan para tamu












Kolam ikan

Keagungan Borobudur, Desember 2007

Welcome to Borobudur,

Puncak stupa utama dari kejauhan dan dari dekat...




Potret Keluarga Cemara (Cerewet, Manja dan ceria..... ;-) )




Pemandangan di salah satu sudut museum dengan nuansa spiritualnya yang sedemikian kental.

Mudik ke Wonosobo, Desember 2007

Saya, adik, Latu dan keponakan-keponakan naik delman di depan rumah.







Wisata kuliner di kampuang.....
Mie ongklok, sate sapi dan tempe kemul.... hmmm, sluuurp....sluurp...




Waduk Wadas Lintang di Banjarnegara, asik juga buat mancing....










Siapa mau ikutan....?

Rabu, 19 Desember 2007

Selamat Natal & Tahun Baru!

Selamat Natal 2007 bagi yang merayakannya.

Selamat Tahun Baru 2008.

Apa pun yang akan terjadi pada hari-hari mendatang, percayalah bahwa semua itu boleh terjadi atas seizin Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Ialah yang memberikan hari-hari baik kepada kita, namun juga mendidik kita dengan berbagai pengalaman yang mungkin sulit kita pahami, tapi besar hikmahnya bagi mereka yang rela menerimanya.

Yang jelas dan pasti, Ia tak pernah meninggalkan kita sendiri.
Ia selalu bersama kita, dalam segala suka dan duka.

Diberkatilah mereka yang mau mendengar dan melakukan apa yang difirmankanNya.

Tuhan beserta kita sekalian. Amin.

Jumat, 09 November 2007

Ke mana Energi Kita Disalurkan = Itukah ”Niche” Kita?

Beberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan adik dan suami saya. Kami menganalisa mengapa ada anak-anak yang tidak bisa diam dan duduk manis ketika belajar di sekolah, sementara yang lainnya lebih penurut dan tidak pernah menimbulkan masalah di kelas, meskipun belum tentu si penurut ini lebih cerdas dan berprestasi dibandingkan si”trouble maker”?

Suami saya bercerita, bahwa sejak SD dia selalu juara kelas bahkan sampai mendapat beasiswa. Namun di sisi lainnya, ia pun pernah beberapa kali dihukum berdiri di depan kelas dengan mulut diplester karena kedapatan ngobrol melulu dengan temannya saat jam belajar. Suami berujar, mungkin dari peristiwa itu sudah terlihat bahwa saya punya bakat (menonjol) dalam soal bicara, ya? Saya jadi tidak heran kenapa anak kami sering dapat teguran dari gurunya karena kedapatan ngobrol melulu di kelas. Rupanya ada bakat turunan dari Ayahnya..., hehehe... :))

Dari pembicaraan tersebut saya memperoleh insight, bahwa apa yang kita lakukan secara spontan, dengan sering, tapi juga dengan senang dan tanpa kesulitan, bisa jadi merupakan petunjuk adanya bakat dan ”niche” kita di situ.

Saya jadi ingat diri saya sendiri. Sejak kecil saya suka melamun, menggambar dan menulis. Tulisan saya yang pertama (dan satu-satunya) yang pernah dimuat di media massa adalah sebuah cerpen yang saya tulis untuk Majalah Bobo saat saya kelas 6 SD. Padahal seingat saya, itu juga asal nulis dan asal ngirim. Nggak serius-serius amat. Sebenarnya pun, dimuat di majalah bukan menjadi target saya, karena tanpa disuruh pun saya bisa menulis dengan sukacita sampai berlembar-lembar banyaknya. Saya mulai menulis diary sejak SMP, dan setiap tahun punya jilidnya sendiri. Itu berlangsung sampai sekarang. Diary saya sejak 10 tahun yang lalu masih saya koleksi, dan jumlahnya sudah lebih dari 10 buah. Bukankah ini menunjukkan bahwa saya memiliki potensi menulis yang bisa dikembangkan menjadi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain? Buktinya, jika diminta mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan gagasan, ide-ide dan imajinasi, saya bisa melakukannya dengan baik dan dengan gembira. Bahkan melebihi apa yang diminta.

Bicara soal talenta yang tidak dikembangkan atau mengalami hambatan untuk berkembang ibarat tubuh yang tidak mampu menyalurkan kelebihan energinya sehingga malah menjadi penyakit.

Seperti kita ketahui, yang namanya sakit adalah kondisi ketika tubuh mengalami ketidakseimbangan energi. Apa yang menyebabkan ketidakseimbangan tersebut misalnya, orang yang marah tapi tidak bisa mengungkapkan kemarahannya; orang yang banyak pikiran tapi tak dapat me-release ketegangannya. Termasuk di antaranya ketika orang tidak mampu menyalurkan energi untuk melakukan apa yang disukainya, apa yang menjadi talentanya.

Orang yang senang berpikir, berimajinasi dan bermain-main dengan gagasan, akan mengalami kelebihan energi di otaknya, yang jika tidak disalurkan akan membuatnya mengalami kesulitan tidur (imsonia), atau otak menjadi terlalu tegang dan berat yang bisa-bisa menjadi stroke. Maka sebaiknya orang tersebut mencari tahu, apa cara terbaik untuk menyalurkan buah-buah pikiran, gagasan dan imajinasinya. Apakah dengan menulis, mengajar, ngobrol, menciptakan sesuatu, dsb?

Orang yang penuh hatinya, atau yang mengalami ketidakseimbangan emosi (perasaannya), perlu menyalurkan energinya dengan menyanyi, curhat atau berteriak, atau melukis, menari, olahraga, dsb.

Sebenarnya tubuh telah memiliki mekanisme yang spontan untuk mengontrol hal itu. Itulah yang membedakan seseorang satu dengan yang lainnya. Ada yang memerlukan media ngobrol untuk membuang kelebihan energinya. Ada yang melalui tulisan. Ada yang melalui bermain musik. Ada yang melalui melukis, dsb.

Jadi, anak yang hobinya ngobrol, bisa jadi karena ada dorongan spontan dari tubuhnya untuk menyalurkan energinya dengan cara ngobrol. Mungkin karena ia sendiri tidak tahu harus disalurkan melalui media apa.

Pilihan yang diambil seseorang untuk menyalurkan "kelebihan" energinya, bisa menjadi sinyal ke mana sebenarnya bakat dan panggilannya. Ada yang berbakat bicara seperti anak saya misalnya, yang jika dibiarkan memilih, pasti akan lebih suka menghabiskan waktunya untuk mengobrol bersama mainannya, menjadi "dalang" bagi robot-robot koleksinya. Sementara anak tetangga saya, yang mempunyai talenta fisik yang luar biasa, jago salto, beratraksi dengan sepeda, main basket, badminton, dsb akan lebih memilih untuk bergerak dan berolah fisik ketimbang berpikir dan belajar. Mungkin jika tidak demikian mereka akan sakit, sama seperti saya yang mungkin sakit jika tidak menulis.

Pertanyaannya, apa yang akan Anda pilih untuk Anda lakukan dengan energi yang Anda miliki? Menyalurkan apa yang Anda punya dan miliki tidak selalu berkaitan dengan uang dan penghasilan. Mungkin dengan serta merta Anda akan membagikannya tanpa berpikir dua kali meski Anda tak dibayar atau dihargai. Kelebihan itu spontan saja mengalir karena jika tidak Anda-lah yang akan menderita sakit karenanya.

Cobalah mengamati apa kelebihan Anda tersebut. Mungkin di situlah Tuhan ingin Anda berkarya dan menjadi sesuatu bagi dunia ini. Mungkin itulah panggilan dan takdir Anda, ungkin di situlah ”niche” Anda, di situlah porsi Anda, di situlah bagian Anda di dunia ini yang perlu dibagikan kepada orang lain, siapa tahu?

Jangan Pikirkan Bagian Tuhan

Meski saya terus belajar untuk rileks dan lebih rileks lagi, tapi kadang-kadang saya gagal memasuki tahap rileks. Pikiran terus tegang, apalagi jika belum menemukan jalan keluar. Akhirnya beberapa hari yang lalu, saya baru menemukan kuncinya.

Ternyata kondisi rileks erat kaitannya dengan keadaan berserah (pasrah).

Keadaan di mana kita dengan rela dan sadar meletakkan semua beban yang menggelayuti jauh-jauh di luar diri kita. Lebih baik lagi ketika kita percayakan beban itu kepada seseorang yang lebih kuat daripada kita, yang kita yakin dan bisa kita andalkan untuk menanggung beban itu.

Katakanlah saya baru tiba di stasiun Gambir dengan barang bawaan lebih dari 25 kg. Tentulah akan terlalu berat jika saya membawanya sendirian. Sesaat kemudian lewatlah portir yang menawarkan saya untuk menggunakan jasanya. Pilihan saya adalah, mempercayakan barang saya kepadanya dan saya bisa melangkah lebih ringan. Atau saya tetap memegang erat-erat barang-barang saya karena saya tidak mempercayai portir tersebut, dengan resiko saya akan tetap membawa beban yang sama, berdiri di tempat yang sama, dan tak bergerak ke mana pun.

Illustrasi di atas sebenarnya menggambarkan hubungan saya dengan Tuhan selama ini. Boleh saja saya mengakui taat beribadah dan hafal ayat-ayat suci, namun itu tidak menjamin bahwa saya percaya pada Tuhan, mempercayaiNya maupun mempercayakan diri saya padaNya.

Ya, beragama itu tidak sama dengan percaya. Kita bisa saja rajin mengikuti dan menjalani ritual keagamaan kita, tapi soal percaya itu hal yang berbeda. Percaya lahir dari hati. Ini bicara soal hubungan, bukan soal tradisi. Dalam tradisi, saya lahir dari Ayah dan Ibu saya yang sepatutnya saya hormati. Tapi apakah saya benar-benar hormat, itu harus datang melalui pengalaman saya bersama mereka dan keluar dari hati saya sendiri, bukan karena sudah seharusnya demikian.

Mengapa saya bilang jangan-jangan saya tidak percaya pada Tuhan? Karena setiap kali masalah datang, respon saya yang pertama adalah selalu berusaha mencari sendiri dulu jalan keluarnya, Tuhan belakangan. Tuhan baru saya hampiri saat keadaan sudah mentok. Saya akui, sulit sekali bagi saya mempercayai orang lain dan mempercayakan diri saya padanya, apalagi kepada Tuhan yang tak kelihatan.

Nah, ketidakmampuan mempercayakan diri inilah yang membuat seseorang menjadi tegang dan tidak bisa rileks, sampai ia benar-benar RELA menyerahkan diri kepada orang lain untuk ditolong. Rela, percaya sepenuhnya adalah kondisi pasrah yang memungkinkan orang mencapai keadaan rileks yang sejati. Mengakui keterbatasan diri, keterbatasan pikiran kita untuk kemudian dengan rendah hati meminta pertolongan kepada orang yang lebih kuat untuk menanggungkan beban kita.

Saat ini saya sedang mengalami keadaan yang sulit secara finansial. Sebagai tenaga lepas (freelance), saya tidak menerima gaji bulanan, melainkan dibayar jika mendapat proyek. Nah, dalam 3 bulan terakhir, seiring hadirnya bulan puasa, libur Idul Fitri dan berikutnya liburan Natal, mengimbas pula pada produk/jasa yang saya jual. Inilah masa kritis bagi saya yang sedang dalam masa transisi menjadi pekerja mandiri. Di saat-saat sepi order seperti ini, saya mulai kuatir dan mempertanyakan masa depan saya. Apakah saya masih bisa menghidupi keluarga di hari-hari mendatang? Apakah Tuhan masih berkenan memberikan proyek-proyek baru kepada saya?

Saya sempat menjerit, bukankah saya sudah melakukan pekerjaan saya sebaik-baiknya? Juga dengan senang hati dan gembira? Tapi mengapa tuaian dari apa yang telah saya taburkan belum terlihat wujudnya? Saya berpikir dan terus berpikir, apa lagi yang bisa saya lakukan dan usahakan. Apa lagi?

Namun pagi ini tiba-tiba terbersit sebuah jawaban.

Lakukan saja bagianmu, dan jangan pikirkan bagian Tuhan!

Ibarat bekerja dalam sebuah tim, ketika sudah dibagi tugas masing-masing, maka setiap anggota tim tidak berhak intervensi pada tugas yang menjadi bagian rekannya. Harus ada saling percaya bahwa satu sama lain akan melakukan tugas dan kewajibannya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Kecuali jika ada yang merasa butuh bantuan, rekan lain yang merasa bisa membantu silakan turun tangan. Bagi yang dibantu, harus rela jika pekerjaan yang menjadi bagiannya terpaksa mengalami penyesuaian-penyesuaian yang mungkin tidak sesuai dengan keinginannya. Namanya juga dibantu, artinya memiliki keterbatasan, jadi tidak bisa dengan semena-mena mengatur yang mereka yang sudah menyediakan diri untuk membantu, atau ngotot semaunya sendiri. Di dalam tim, ada kebersamaan, ada saling menyesuaikan, ada saling merendahkan hati.

Nah, ternyata rileks yang sejati baru bisa muncul ketika kita memiliki kerendahan hati untuk mau menerima pertolongan yang lain. Ketika kita mau meletakkan beban kita kepada tangan yang lebih kuat dan mempercayakan diri kita kepadanya. Lakukan saja apa yang mampu kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Selebihnya itu adalah bagian Tuhan yang bekerja dengan caraNya yang tak kita pahami, namun yang mestinya kita percayai akan selalu membawa kebaikan bagi kita. Amin.

Rabu, 07 November 2007

Mengampuni Diri Sendiri

Kata mengampuni erat kaitannya dengan aspek hukum. Entah itu hukum sosial masyarakat, hukum agama, atau hati nurani. Mengampuni berkaitan dengan keadaan salah yang pernah terjadi, yang mungkin bertentangan dengan norma hukum yang berlaku, yang perlu diakui, diluruskan kembali, dan kemudian diperdamaikan.

Dalam prakteknya, orang mungkin bisa mengelabui kebenaran di tingkat hukum masyarakat maupun hukum agama. Kita bisa saja bersikeras untuk tidak mengakui atau berpura-pura tidak peduli meski tahu bahwa kita bersalah. Namun berbeda halnya jika kita harus berhadapan dengan hati nurani. Kita tak dapat menghindar. Meskipun kita mencoba untuk membungkamnya, ia akan terus bersuara. Karena tujuan hati nurani adalah memberitahukan apa yang terbaik bagi kita.

Bahasa apa yang dipergunakan oleh hati nurani untuk memberitahu kita ketika kita melakukan hal yang salah? Biasanya dengan sinyal rasa tidak nyaman atau rasa bersalah di dalam hati kita.

David R.Hawkins, MD, PhD dalam penelitiannya selama 20 tahun mencoba mengukur berbagai level energi manusia dalam berbagai kondisi. Hasilnya disajikan dalam sebuah tabel yang disebut Map of Consciousness. Dalam tabel ini, ditampilkan beberapa jenis kondisi emosi manusia dengan skornya masing-masing. Dengan angka 200 sebagai baseline, Hawkins menunjukkan bahwa yang memiliki skor di atas 200 adalah kondisi emosi yang memberikan efek energi positif. Beberapa di antaranya adalah: pencerahan, kedamaian, sukacita, cinta, berpikir, penerimaan, kemauan dan netralitas.

Sebaliknya, kondisi yang memiliki skor di bawah 200 adalah emosi yang menghasilkan efek negatif. Beberapa di antaranya adalah: perasaan bangga diri, marah, keinginan, takut, kesedihan mendalam, apatis, rasa bersalah dan rasa malu. Untuk lebih detailnya Anda dapat membaca buku laris Becoming a Money Magnet yang ditulis Bapak Adi W. Gunawan.

Dari tabel tersebut nampak bahwa rasa malu dan rasa bersalah adalah dua hal yang paling merusak dan berefek paling negatif terhadap diri (skor paling rendah).

Lantas apa yang harus kita lakukan agar bisa kembali feel good dan tidak terus menerus dihantui perasaan bersalah?

Pertama, biasanya kita akan merasa lebih ringan setelah kita MENGAKUI kesalahan tersebut,. Kemudian MINTA MAAF/MINTA AMPUN kepada pihak yang menjadi korban kesalahan kita. Jika kita sulit minta maaf kepada orang yang bersangkutan, biasanya lewat mengadu kepada Tuhan sebagai perantara merupakan langkah yang efektif pula.

Tapi bagaimana jika yang kita persalahkan adalah Tuhan atau diri kita sendiri? Bagaimana kita bisa mengampuni Tuhan dan diri sendiri? Masa Tuhan diampuni….nggak salah tuh? Nggak terbalik tuh? Memangnya siapa kita dan siapa Tuhan?

Memang kedengarannya janggal dan tak masuk akal. Sedikit kurang ajar malah.
Tapi mungkin tanpa sadar kita pernah protes, berontak bahkan marah kepada Tuhan.

Kapan itu terjadi?

Umumnya ketika penderitaan sedang menghampiri kita.

”Kenapa harus aku Tuhan?”, mungkin protes semacam itu akan meluncur dari mulut kita. "Kenapa aku mengalami hal yang buruk sementara aku meyakini bahwa Tuhan itu baik?"

Mampukah kita bertahan untuk tidak menyalahkan Tuhan ketika kita mengalami penderitaan yang bertubi-tubi?
Mampukah kita menerima bahwa Tuhan adalah tetap baik adanya dengan segala rencana Nya yang tidak kita pahami?
Mampukah kita mengampuni Tuhan ketika akhirnya kita terpaksa marah dan menyalahkanNya?

Mari kita coba masuk ke dalam batin kita lebih jauh lagi.

Jangan-jangan itu semua terjadi karena kesalahan kita sendiri yang sering mengabaikan suaraNya yang berdiam di hati nurani kita. Kita lebih senang mendengarkan suara manusia dibanding mendengarkanNya. Kita lebih mengedepankan suara logika kita, ketimbang suara hati nurani. Kita sering tak menghargai perasaanNya, pendapatNya, pengajaranNya. Namun ketika kita gagal, Tuhanlah yang paling pertama kita salahkan. Bahkan lebih parah lagi, kita tak segera mendekat dan berdamai denganNya, ketika kita terlanjur mengambil keputusan yang salah.

Pengadilan, persidangan, pengakuan, penentuan bersalah atau tidak bersalah, vonis, penghukuman, perdamaian, semua itu berkonotasi hukum. Jadi, jika kita melanggar sesuatu dalam aspek hukum, ada sanksinya meski juga ada solusinya.

Demikian juga perilaku kita terhadap hati nurani sebagai pemegang kedaulatan hukum yang tertinggi, akan menentukan apa yang akan kita dapatkan. Jika kita mau mengakui kesalahan kita, kita mau berdamai dengan hati nurani kita, maka kita pun akan memperoleh kedamaian dan pembebasan dari rasa bersalah. Namun jika kita tetap keras kepala meski sudah tahu bersalah, kita menolak mendengar teguran hati nurani kita, maka rasa bersalah juga akan terus mengejar-ngejar, hati tak kunjung merasa damai, dan jiwa kita tak kunjung tenang dan bahagia.

Dalam masa tranformasi 150 hari yang lalu, itulah yang coba saya lakukan. Mengakui kesalahan saya selama ini yang telah sering menganggap angin lalu suara hati nurani. Berdamai dengan hati nurani, dan mencoba hidup baru bersamanya. Hasilnya? Saya merasa lebih bersih, lebih bebas, lebih damai dan lebih bahagia

Inikah yang dinamakan pertobatan?