Google
Tampilkan postingan dengan label Bina Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bina Diri. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Desember 2008

MENJADI IBU RUMAH TANGGA, DERITA ATAU BAHAGIA?

Ada sebuah karikatur yang menggelitik tentang peran dan status ibu rumah tangga yang diangkat oleh Elizabeth B.Hurlock dalam bukunya Psikologi Perkembangan, 1994 sebagaimana gambar berikut ini:





















Bisa jadi gambar ini mewakili pendapat sebagian besar perempuan tentang peran dan status ibu rumah tangga yang mereka anggap kurang adil dan kurang memberdayakan bagi kaum mereka. Para ibu ini merasa begitu dibebani oleh sedemikian banyak pekerjaan dan terjebak dalam rutinitas yang membuatnya frustrasi dan kelelahan. Belum lagi kurangnya apresiasi yang layak atas apa yang telah mereka lakukan, membuat mereka jadi menganggap diri tak berharga jika hanya menyandang status ibu rumah tangga semata.

Selanjutnya demikian menurut Hurlock:

Sikap yang tidak positif ini diperkuat oleh ”sindrom suami yang malas”. Sang istri marah melihat suaminya menganggap pekerjaan rumah tangga itu gampang dan dapat dikerjakan dengan bersantai-santai dan bersenang-senang, sedangkan ia bekerja dari pagi hingga malam, selama tujuh hari dalam satu minggu, terus menerus.

Sindrom suami yang malas digambarkan sebagai berikut:

Suami pada akhir suatu hari yang ”panjang” di kantor yang ber-AC, ketika pulang tinggal minta minum, merebahkan dirinya dengan letih di kursi dengan koran di tangan atau di hadapan televisi. Sejam kemudian ia bangun untuk makan malam, mengeluh bahwa daging kurang matang, mencium pipi istri dan kemudian keluar rumah dengan tim bowlingnya, minum bir, pulang menonton televisi lagi, kemudian merebahkan dirinya di tempat tidur. Sementara itu istrinya, yang telah bekerja sepanjang hari, mempersiapkan makanan, mencoba mengatur anak-anak supaya suami dapat beristirahat, menyuap bayi, menghidangkan makanan, mencuci piring, memberi makan anjing, memandikan anak-anak, meninabobokan mereka, memasukkan cucian ke mesin cuci, menyeterika, menonton televisi selama satu jam sambil menisik. Ini berlangsung hari demi hari. Suami merasa bahagia, tetapi istrinya lambat laun merasa kurang bahagia, tegang dan letih. (hal 272).


Berseberangan dengan apa yang dituliskan Hurlock, kaum Ibu di Jepang justru merasa bahagia, tersanjung dan dimuliakan dengan jabatan dan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Istilah Ryosai Kentro (istri yang baik dan ibu yang arif) menggambarkan suatu kebijakan yang memposisikan kaum wanita sebagai ‘penguasa rumah’, yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di rumah. Dari mulai pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, masalah keuangan, dan pendidikan anak.

Bahkan mereka tak segan-segan mengundurkan diri dari karir mereka demi mengasuh dan mendidik sendiri anak-anak mereka di rumah. Rilis Kementerian Kesehatan-Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang tanggal 17 Maret 2004 mengungkapkan bahwa 61% ibu muda Jepang meninggalkan pekerjaannya diluar rumah setelah melahirkan anak pertama. Hal ini mungkin juga karena pandangan tentang peran ganda perempuan – yaitu sebagai ibu sekaligus wanita pekerja –dianggap sebagai chuto hanpa- alias peran tanggung, tidak populer di Jepang. Menjadi ibu manusia Jepang atau tidak sama sekali, itu pilihannya. Menjadi ibu rumah tangga dianggap sama profesionalnya dengan wanita pekerja Jepang-wanita tidak menikah/menikah tidak melahirkan anak yang bisa mencapai jabatan yang setinggi-tingginya apabila dia sanggup dan mampu. Astronout wanita Asia pertama, bahkan mungkin yang pertama pula di dunia, terbang dua kali dengan NASA, space-shuttle Columbia-Juli 1994 dan Discovery-Nov 98, adalah wanita Jepang, Dr. Chiaki Mukai. Menlu sekaligus Deputi Perdana Menteri dari negara super economic power sekaligus bangsa tersejahtera di dunia serta memiliki harapan hidup terlama, dan sedang berjuang meningkatkan peranan Jepang di Dewan Keamanan PBB, adalah seorang wanita, Yoriko Kawaguchi.

Motivasi utama para wanita Jepang yang memilih karirnya sebagai ibu rumah tangga profesional (senggyo syuhu) maupun sebagai ibu pendidikan (kyoiku mama) adalah untuk melaksanakan ikuji-meletakkan dasar pendidikan berperilaku sejak dini kepada anak-anaknya, terutama di masa-masa emas, yaitu pada usia tiga tahun pertama masa perkembangan pesat otak seorang anak.

Kyoiku Mama
adalah istilah yang mengacu pada Ibu-ibu Jepang yang terus menerus mengembangkan bakat anak-anak mereka dan menyekolahkan mereka di Universitas terbaik. Seorang pengamat Jepang, Reingold, mendefinisikan Kyoiku Mama sebagai berikut : She becomes directly involved in and identified with the child’s succes or failure. Terjemahan bebasnya : Para ibu pendidikan itu secara langsung terlibat dalam kesuksesan atau kegagalan anak-anaknya. Dan mereka juga dinilai berdasarkan kesuksesan atau kegagalan mereka. Ibu-ibu pendidikan Jepang, Kyoiku Mama, mengajarkan disiplin, pengorbanan, kerja sama dan kesederhanaan di rumah. Sekolah, yang mengajarkan hal-hal akademis, tidak direpotkan lagi dengan masalah-masalah perilaku anak didik karena nilai-nilai luhur telah melebur dalam karakter setiap siswa sejak dari rumah.

Para ibu di Jepang memiliki gelar kesarjanaan yang mentereng, walaupun mereka ‘hanya’ bertugas mengurusi rumah. Mereka beranggapan bahwa pendidikan yang mereka tempuh selama ini tidak sia-sia yakni untuk memperjuangkan pendidikan anak-anak mereka ketimbang mengejar karir dan cita-cita. Jika mereka ditanya, "Mengapa berhenti bekerja. Apakah tidak sayang pendidikannya yang tinggi tidak dipakai?" gantian mereka bertanya, "Apakah di rumah itu tidak memerlukan pendidikan yang tinggi?". Mereka lebih suka banyak tinggal di rumah untuk membuat makan siang, mencuci dan menyetrika seragam sekolah dan terus menerus memotivasi anak-anaknya untuk bekerja keras meningkatkan prestasi akademis mereka. Dan mereka lebih senang disebut sebagai wanita yang sukses dalam mencetak anak-anaknya yang berhasil, dan bukan karier mereka. Terbukti sistem ini sungguh berhasil dalam meningkatkan laju kemakmuran Jepang.

Tak heran jika anak-anak di Jepang , pria dan wanita, sangat sayang dan mengagumi ibu-ibunya. Sebagai jelmaan Dewi Amaterasu yang dipuja oleh bangsa Jepang. Kikunatara okasan ni naritai (kalau besar ingin menjadi ibu) adalah cita-cita anak perempuan Jepang yang mungkin langka dimiliki oleh anak-anak perempuan di Indonesia.

Di Indonesia, kebanyakan para perempuannya merasa sayang jika pendidikan tinggi mereka hanya berakhir di pekerjaan rumah tangga. Akibatnya anak Indonesia dari golongan ibu berpendidikan malah berada dalam haribaan para pembantu rumah tangga dan baby sitter. Karena kedua orang tuanya bekerja, anak-anak mereka diasuh dan dididik oleh pembantunya. Memang anak-anak itu bisa menyelesaikan pendidikan yang setinggi-tingginya dan mendapat dukungan finansial yang kuat. Tetapi ada satu hal yang berbeda yaitu: pola pikir dan jiwa mereka bukan duplikasi dari orang tuanya mereka - tetapi duplikasi dari pembantunya.

Padahal R.A.Kartini dalam salah satu suratnya juga berpendapat bahwa anak-anak perempuan perlu mendapat pendidikan adalah agar perempuan itu lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh Alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu-pendidik manusia yang pertama-tama. (4 Oktober 1902 Kepada Tn Anton dan Nyonya. Habis Gelap Terbitlah Terang terjemahan Armijn Pane. PN Balai Pustaka 1985)

Simaklah pengalaman Mulia Kuruseng (www.Hidayatullah.com) yang meskipun tak memiliki gelar akademis tinggi, namun mampu mengantar 15 anaknya meraih gelar kesarjanaan, hanya dengan modal: IKHLAS.

Saya ingin mengajak para Ibu untuk berintrospeksi, melakukan flashback ke zaman para ibu kita dahulu. Bandingkan betapa banyak bedanya kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan generasi kita dan sebelumnya. Para Ibu kita dahulu mungkin jauh kurang berpendidikan dibanding kita sekarang, namun mampukah kita menghasilkan generasi penerus yang lebih baik daripada yang dihasilkan oleh ibu-ibu kita? Perhatikanlah, bahwa orangtua kita telah menjadikan kita seperti sekarang ini karena sikap hidup mereka yang PRIHATIN, DISIPLIN dan TANPA PAMRIH. Mereka mengajarkan nilai- nilai budi pekerti bukan melalui omongan tetapi tindakan. Melalui contoh dan teladan dalam sikap hidup sehari-hari. Dan itu lebih efektif bagi anak-anak untuk menyerapnya. Bukankah: orangtua berbuat, anak melihat. Orangtua melakukan, anak meneladan. Bagaimana dengan kita, para ibu generasi sekarang?

Jangan takut menjadi ibu rumah tangga. Jangan merasa rendah diri dan tak berharga karenanya. Semua itu tergantung dari paradigmanya, apakah kita menganggap peran dan status ibu rumah tangga sebagai kutukan atau sebagai berkat. Sebagai berkat, paling tidak sudah ada satu modalnya. Sebuah studi yang dilakukan Pusat Kanker Nasional Jepang di Tokyo membuktikan orang dewasa yang beraktivitas secara rutin, baik melalui olahraga maupun bekerja, berisiko lebih rendah mengalami kanker tipe apa pun. Aktivitas fisik yang dimaksud antara lain adalah olahraga rekreasi, berjalan, pekerjaan buruh, dan pekerjaan rumah tangga.

Breast Cancer Research, sebagaimana dilansir dalam situs BBC mengatakan bahwa latihan fisik secara teratur, seperti lari, aerobik, atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang berat seperti berkebun, membersihkan perabot rumah dari debu, mengepel lantai dan membersihkan karpet dengan vacuum cleaner atau memasak, membersihkan rumah dan mencuci yang menghabiskan waktu rata-rata 16 hingga 17 jam setiap minggunya lebih baik ketimbang melakukan pekerjaan lain yang menguras fisik dalam menurunkan tingkat risiko terkena kanker payudara hingga 30 persen. Hal ini merupakan hasil studi selama 11 tahun terhadap 32.000 perempuan. Para peneliti lainnya yang telah melakukan riset ini terhadap 200 ribu wanita dari 9 negara bagian Eropa membuktikan bahwa mereka yang rajin beres-beres rumah lebih terlindung dari bahaya kanker ketimbang wanita yang hanya berolahraga.

Aktif di rumah dan mengerjakan segala kegiatan rumah tangga bagi wanita pra menopause dapat mengurangi risiko kanker sebanyak 29% dibandingkan dengan mereka yang tidak aktif membersihkan rumah. Sedangkan bagi wanita yang telah menopause, kegiatan ini bermanfaat hingga 19%.

Jadi, apalagi?

Selamat Hari Ibu. Selamat Berbahagia Menjadi (Hanya) Ibu Rumah Tangga “Saja”.

Salam dan sampai jumpa.

Sumber: Dari berbagai sumber.

Senin, 15 Desember 2008

BELAJAR MENDENGARKAN

Baru saya sadari bahwa ternyata kegiatan "mendengarkan" itu tidak mudah.

Sudah lama saya diberitahu bahwa antara "mendengar" dan "mendengarkan" itu ada beda yang cukup signifikan. Dan hari ini saya belajar, bahwa proses mendengarkan pun ada bermacam-macam.

Ada orang yang setelah mendengarkan langsung menimpali, menganggap si pencerita sedang butuh solusi.
Ada juga yang bahkan malah menghakimi. Mengoreksi sana sini yang mungkin perlu dibenahi.
Ada yang mendengarkan dengan empati, tapi setelah itu malah terhanyut sendiri.
Ada yang mendengarkan sambil sibuk menganalisa dan mengamati, pelajaran apa yang kira-kira bisa diambil dari topik yang barusan didengarnya tadi.
Semua itu adalah jenis-jenis mendengarkan dari kacamata sendiri alias dari sudut pandang si pendengar, mengambil manfaatnya untuk kepentingan pendengar, atau bahkan untuk memuaskan ego si pendengar.

Saya akui, saya jarang bisa mendengarkan orang lain dengan tepat. Tepat cara, tepat persepsi, maupun tepat respon. Meski wajah dan telinga saya ada di situ, tapi mungkin pikiran dan hati saya tidak sedang berada di posisi di pencerita, melainkan pada diri saya sendiri. Yang paling sering saya lakukan adalah mencoba berempati, meletakkan posisi saya pada posisinya dan mencoba merasakan apa yang dia rasakan. Tapi mungkin karena saya tipe orang yang selalu ingin menarik sebuah pelajaran dari sebuah peristiwa, selama mendengarkan saya sibuk mencari benang merah dari apa yang disampaikan si pencerita, dan bukan benar-benar hanya mendengarkan saja. Padahal mungkin orang lain justru membutuhkan yang terakhir, seorang pendengar yang benar-benar hanya mendengarkan saja. Titik.

Mirip dengan kegiatan mengamati yang pernah saya tuliskan pada postingan sebelumnya, kita perlu belajar (hanya) mengamati saja, tanpa apriori, tanpa prasangka, tanpa menganalisa. Mungkin hal serupa perlu kita terapkan dalam hal mendengarkan ini.

Kenapa mendengarkan jadi penting untuk dibahas?
Yang pertama, untuk mengurangi kemungkinan konflik.
Yang kedua, untuk menolong memberi kelegaan kepada si pencerita.
Yang ketiga dan seterusnya, tolong cari sendiri, hehehe...

Untuk yang pertama, seringkali ketidakmampuan kita untuk mendengarkan orang lain menjadi sumber pemicu konflik. Ketika menyaksikan acara debat yang ditayangkan di TV, saya lebih suka tidak mendengarkannya, karena acara tersebut saya anggap lebih banyak mengeksploitasi adu kata-kata dan pendapat yang seringkali bukannya membantu mencerdaskan pendengar, malah sibuk memperluas ego peserta masing-masing. Nggak asyik ahh... Tapi jika forum memang dihadirkan untuk saling menginspirasi, biasanya setelah acara tersebut berakhir, ada tersisa suatu kesan yang bisa dipetik oleh pendengar. Dan itu lebih bermanfaat saya kira.

Mendengarkan yang dapat mengurangi kemungkinan konflik adalah ketika kita bersedia meluangkan waktu dan energi kita benar-benar untuk orang yang kita dengarkan. Terlibat secara aktif dalam bahasa tubuh maupun kata-kata dukungan (sekalipun belum tentu si pencerita ada pada posisi yang benar dalam kasusnya. Itu bukan tujuan kita untuk menganalisanya). Kita tidak menyerang dan menghakimi kesalahannya, melainkan kita benar-benar memposisikan diri sebagai si pencerita, yang notabene pasti menganggap dirinya benar. Dengan cara seperti ini kita bisa mengurangi konflik di awal.
Dengarkan saja dulu, berikan dukungan sebesar-besarnya apapun yang dilakukan oleh si pencerita dalam kasusnya, baru boleh berkomentar (itu pun kalau dirasa perlu).
Kesalahan yang selama ini saya lakukan adalah tidak sabar untuk menegur jika saya merasa ada kekeliruan yang perlu diluruskan dalam kasus si pencerita. Padahal tujuan mendengarkan adalah justru untuk mengajar kita sabar menerima kesalahan orang lain apa pun dan sebesar apapun masalahnya.

Yang kedua, untuk menolong memberi kelegaan kepada si pencerita.
Apapun masalahnya, terlepas dari benar atau salah, ketika kita mendengarkan orang lain, kita telah berbuat baik. Setiap kita adalah pribadi yang butuh didengarkan, butuh didukung, butuh dibesarkan hatinya. Ketika kita mau memberi diri untuk menutupi kebutuhan orang lain, kita sudah berbuat baik. Bukan hanya si pencerita yang memperoleh kelegaan, kita pun memperoleh berkah dan manfaat tersendiri. Karena setiap proses mendengarkan, sekali pun menuntut kesediaan kita untuk menyisihkan waktu kita, akan memperoleh imbalannya dalam bentuk lain. Jadi, jangan pernah segan mendengarkan orang lain. Jangan pernah merasa membuang waktu dengan sia-sia ketika mendengarkan orang lain, karena Tuhan senantiasa melihat dan memperhitungkan setiap perbuatan baik yang kita lakukan.

Semoga bermanfaat. Selamat belajar mendengarkan.

Salam,

Sabtu, 06 Desember 2008

MENYEMANGATI DIRI SENDIRI (5)

Apa tujuan akhir dari menyemangati diri?

Jika tujuannya sekedar membuat perasaan menjadi lebih nyaman atau sekedar menghibur-hibur diri, maka bisa-bisa proses menyemangati diri hanya akan menjadi sebuah aktivitas yang diulang-ulang tanpa mengandung satu nilai pembelajaran dan segera akan mengalami titik jenuh.

Menyemangati diri haruslah lebih dari sekedar mengipas-ngipas kekecewaan agar lekas pergi. Akan lebih baik dan bermanfaat jika menyemangati diri selalu ditujukan pada peningkatan kualitas. Bermuara pada kualitas.

Apa maksudnya?
Menyemangati diri biasanya kita lakukan akibat timbulnya rasa kecewa. Dan rasa kecewa muncul karena adanya kegagalan (atau yang kita anggap gagal). Nah, jangan sampai, menyemangati diri yang kita lakukan hanya sekedar menyembuhkan rasa kecewa, tapi tidak memperbaiki sumber kegagalannya. Kita harus selalu belajar dan berusaha mencari tahu, mengapa kita gagal di waktu yang lalu. Dari kegagalan itulah kita belajar meningkatkan kualitas dan profesionalitas.

Sebagai contoh, saya saat ini sedang mencoba berbisnis kue basah. Resikonya adalah, kue-kue tidak laku dan dikembalikan. Pada saat menerima kembali kue yang tidak laku, tentu saja ada rasa kecewa, merasa gagal. Kemudian saya tentunya akan berusaha menyemangati diri agar perasaan menjadi lebih nyaman. Nah, jika saya hanya berhenti hanya sampai perasaan menjadi lebih nyaman, maka bisa jadi esoknya saya akan melakukan kesalahan yang sama yang menyebabkan kue-kue saya kembali dipulangkan. Tapi jika saya melanjutkannya dengan proses introspeksi, maka saya akan tahu di mana kira-kira saya perlu memperbaiki diri. Dengan demikian proses menyemangati diri menjadi lebih bermakna.

Menyemangati diri adalah sebuah proses mental. Tapi sumber masalah sebenarnya bisa jadi bukan terletak pada faktor mental. Bisa jadi terletak pada faktor keterampilan (skill) atau profesionalitas kita. Kue-kue saya dikembalikan bukan untuk menguji seberapa besar ketegaran saya menghadapi kegagalan, tapi mungkin karena cita rasa yang buruk atau penampilan yang kurang mengundang minat, sehingga butuh perbaikan pada kesempatan berikutnya. Jadi solusinya di sini adalah, saya harus meningkatkan kualitas dan keterampilan saya dalam membuat kue, bukan sekedar menghibur-hibur diri dari rasa kecewa.

Memang ada faktor lain yang menyebabkan kegagalan atau keberhasilan. Yaitu faktor luck. Ini tak bisa dipungkiri dan kita harus bisa menerimanya dengan besar hati. Kadang produk yang kita anggap masterpiece tidak laku di pasaran, tetapi sebaliknya yang kita anggap biasa-biasa saja, malah disenangi pasar. Kita harus benar-benar jeli mengamati dan belajar tentang keadaan pasar. Dan selebihnya mengelola kekecewaan agar tak terlalu berlebihan.

Belajar, belajar dan terus belajar, itu adalah langkah menyemangati diri yang paling membebaskan, karena pembelajaran tidak pernah mengecewakan, selalu ada hikmah yang kita petik, selalu ada ilmu yang kita peroleh, berapa pun kecilnya.

Yakinlah, bahwa tidak ada yang sia-sia dari apa yang pernah kita alami ketika kita selalu mau terbuka untuk belajar dan memperbaiki diri.

Salam,

Kamis, 04 Desember 2008

MENYEMANGATI DIRI SENDIRI (4)

Jika kita sedang merasa patah, kehilangan bahkan kehabisan semangat, pernahkah bertanya pada diri sendiri, apa sumber semangat yang tak pernah ada habisnya?

Jawabnya adalah: NIAT BAIK.

Setiap niat baik yang muncul dalam diri kita adalah sumber semangat terbesar. Sifatnya internal dan tidak bisa habis atau lenyap, kecuali kita yang mengizinkannya.

Perhatikanlah, ketika kita mempunyai niat baik untuk membahagiakan orang yang kita cintai, ingin memberi hadiah untuk orang yang kita anggap berjasa, ingin menolong orang yang sedang kesusahan, kita seolah mempunyai energi baru untuk mewujudkannya. Semua rasa capek dan lelah seolah lenyap tak berbekas digantikan dengan hal-hal indah yang kita bayangkan ketika niat baik itu terwujud nantinya.

Niat baik juga memperlancar arus bantuan dan pertolongan dari Tuhan. Entah itu berupa dana atau fasilitas atau orang-orang yang tiba-tiba saja tersedia untuk mendukung kita. Niat baik merupakan energi positif yang luar biasa besar, sehingga tak heran daya pancarnya begitu kuat, begitu jauh menembus barikade halangan dan setiap aral yang melintang.

Tetapkan sebuah niat baik yang ingin kita lakukan setiap hari, maka hal tersebut akan menjadi sumber semangat kita pada hari itu. Jangan berpikir bahwa niat baik itu harus berupa hal-hal yang spektakuler. Kita bisa memulainya dengan hal-hal sederhana. Misalnya, hari ini saya ingin bersikap mesra pada pasangan saya. Hari ini saya tak hendak mengomeli anak saya. Hari ini saya akan bekerja dengan lebih serius dan sepenuh hati, cermat dan hati-hati. Hari ini saya ingin menyempatkan diri untuk mendengarkan sahabat yang hendak curhat. Hari ini saya ingin memberi sedikit uang bagi mereka yang membutuhkannya, dsb.

Niat baik bukan saja indah dan menggelorakan semangat, namun juga membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dan lebih disayangi. Mari berlomba-lomba mewujudnyatakan sebuah niat baik, dan yakinlah bahwa hidup Anda akan menjadi lebih berenergi.

Selain mengetahui sumber semangat terbesar kita, kita juga perlu mengenali berbagai jenis pelemah semangat kita. Ada yang bersifat internal (dari dalam diri sendiri) ada yang eksternal.

Pelemah semangat internal antara lain: adanya dendam yang tak kunjung diselesaikan, rasa benci, trauma, kuatir dan cemas yang berlebihan, ketakutan, iri hati, rasa bersalah, kesombongan, dsb.

Sementara yang eksternal contohnya adalah kritik yang tidak membangun, fitnah, gosip, penghakiman sepihak, kesalahpahaman, dll.

Diam dan amati ketika tiba-tiba ada orang yang sibuk mendera kita dengan berbagai kritik yang bersifat menghukum dan menghakimi. Jangan bereaksi. Dengarkan saja. Biarkan berlalu jika memang bukan itu kebenarannya. Karena kritik yang tidak membangun, hanya membuat luka tapi tak membalutnya. Hanya membuat kita merasa bersalah, tapi tak memberi solusinya. Jika kita berlama-lama menanggapinya, jangan heran jika semakin lama semangat kita semakin menipis dikikisnya.

Tetapi kritik yang membangun, yang didasarkan pada niat baik dan cinta kasih, akan selalu menginspirasi kita untuk memperbaiki diri. Kritik yang membangun bukan hanya melempar kata-kata tanpa tanggung jawab, tapi juga menyiapkan diri untuk menerima kekurangan kita dan menolong kita membangun citra yang lebih baik. Kritik yang membangun tidak hanya menghakimi dan menyalahkan, tetapi memompakan semangat di balik kelemahan kita.

Semoga kita dapat menjadi pribadi-pribadi yang menyemangati setiap orang di sekitar kita.

Salam,

MENYEMANGATI DIRI SENDIRI (3)

Masih seputar menyemangati diri sendiri.

Jika sebelumnya kita perlu belajar dari orang-orang yang "lebih" dari kita - entah itu lebih berhasil, lebih berpengalaman, lebih cerdik, lebih berani dsb - untuk menyemangati kita, ternyata orang-orang yang "kurang" dari kita pun bisa menjadi penyemangat yang tak kalah hebatnya. Bahkan melalui mereka lah kita jadi sadar, bahwa penderitaan yang kita alami saat ini belum apa-apa. Belum melampaui kekuatan kita.














Dari mereka yang hidup berkekurangan, kita belajar bagaimana tetap survive dalam keterbatasan. Dan inilah hidup yang sejati menurut saya, karena hidup dalam keterbatasan memaksa kita menetapkan prioritas, mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang lebih bersifat keinginan. Kadangkala uang yang berlebih, materi yang berlebih, membutakan mata kita untuk melihat batas-batas kebutuhan kita secara apa adanya. Tapi begitu keterbatasan dana, keterbatasan fasilitas, keterbatasan kesempatan menghimpit kita, kita baru berpikir, mana yang lebih urgent, mana yang perlu didahulukan. Kita jadi lebih aktif memilah, mengesampingkan keperluan-keperluan yang kurang efektif dan efisien, kita jadi lebih terampil dan taktis menggeser idaman-idaman dan lebih memilih hidup berpijak pada kenyataan.

Orang yang biasa hidup berkekurangan tahu apa artinya perjuangan tak kenal lelah. Belum lagi kebutuhan hari ini terpenuhi, mereka sudah harus siap menghadapi esok hari yang masih penuh tanda tanya. Padahal kita semua sama-sama punya keterbatasan fisik, keterbatasan waktu. Waktu 24 jam diberikan sama kepada orang yang kaya maupun yang miskin. Tapi tetap saja ada yang mengeluh kurang waktu sebaliknya ada yang kebingungan bagaimana menghabiskan waktu. Dari mereka yang hidup bersahaja, kita belajar bahwa kebutuhan yang sederhana membuat kita lebih kaya akan waktu. Bukannya menghabiskan waktu berjam-jam memelototi televisi, atau berjalan-jalan di mal membelanjakan sebagian besar dana kita untuk barang-barang yang tak sepenuhnya kita butuhkan.













Orang yang hidup bersahaja, berjuang di garis batas hidup dan mati. Dan ini perlu kita homati, karena memerlukan keberanian yang tinggi untuk bisa hidup seperti itu. Anda dan saya, belum tentu berani tinggal dan hidup di pinggir kali. Makan sekali sehari atau tidak sama sekali. Mengais sampah, mengumpulkan pulungan untuk mendapat nafkah duapuluh ribu sehari. Belum lagi jika musibah mendera. Apakah itu yang alami seperti banjir, atau yang non alami seperti penggusuran oleh petugas tramtib. Belum lagi anak-anak yang seolah hidup tanpa masa depan. Tak ada perlindungan rasa aman, atau mendapat pengobatan dan pendidikan yang layak.

Jadi, dengan kata lain, kita belum layak mengeluh dengan penderitaan yang menimpa dan mengecilkan hati kita saat ini. Keterbatasan, kekecewaan, halangan, cobaan, ujian atau apapun lah namanya untuk menggambarkan penderitaan kita, belum seberapa jika dibandingkan apa yang tengah dialami sebagian besar saudara-saudara kita. Dari pengalaman mereka lah kita belajar untuk terus berjuang, terus tegar, berbesar hati, bersyukur atas apapun yang sempat kita alami, karena semua itu membantu kita membentuk karakter berani, ulet, pantang menyerah dan percaya diri.

Semoga kita semua menjadi pribadi yang semakin berkualitas tinggi.

Salam,

Kamis, 27 November 2008

MENYEMANGATI DIRI SENDIRI (2)

Belajar dari orang-orang yang telah lebih dulu berhasil daripada kita, adalah cara lain untuk menyemangati diri sendiri.

Bukan kebetulan jika belakangan ini entrepreneurship gencar diusulkan sebagai langkah alternatif untuk mengatasi berbagai beban kehidupan yang makin menekan. Sampai-sampai Menristek RI Kusmayanto Kadiman, dalam Pesta Blogger 2008 di Gedung BPPT Jakarta, Sabtu 22 November 2008 yang lalu, menganggap perlu dimunculkannya blog-preneur alias blogger yang berjiwa wirausaha (Kompas, 24/11/2008).

Hal senada juga diungkapkan oleh Bob Sadino, seorang entrepreneur kawakan Indonesia, dan Dr.Ir. Wahyu Saidi, MSc - Doktor yang juga pengusaha mie yang sukses dalam forum diskusi "Entrepreneurship Experiencing 2008" di Universitas Indonesia beberapa pekan lalu. Bahkan Bob Sadino memberikan tantangan yang provokatif kepada hadirin bahwa "Siapa saja yang ingin menjadi entrepreneur, keluarlah dari kampus setelah acara ini dan jangan kembali ke sini lagi!". (Kompas, 13/11/2008).

Apa maksudnya? Apakah kita semua tidak perlu bersekolah tinggi untuk dapat menjadi entrepreneur?
Tentu maksudnya bukan itu. Tapi bahwa gelar kesarjanaan tertentu di negeri ini, seringkali bisa menghalangi semangat kita untuk berwirausaha. Saya sendiri sempat mengalaminya, seperti yang diungkapkan Bapak Wahyu Saidi,
"Untuk memulai entrepreneurship, gelar kesarjanaan benar-benar tak berguna, justru sering negatif. Begitu mau menyebar brosur atau nggoreng makanan, ngerasa diri sarjana. Itu bisa jadi awal kegagalan", demikian ujar beliau.

Lagi, menurut pak Wahyu yang telah membuka 410 gerai makanan di 30 kota dan 4 negara ini, ilmu yang didapat di bangku kuliah baru berguna jika bisnis sudah berkembang. Misalnya terkait tuntutan penguasaan manajemen, mekanisme kontrol dan distribusi. Namun, tidak bersekolah juga bukan berarti tidak bisa belajar menguasai ilmu-ilmu ini.

"Kalau mau jadi entrepreneur, mulailah dari sekarang. Jangan berencana mulai setelah lulus kuliah. Apalagi kalau Anda berusaha lulus dengan indeks prestasi tinggi, besar kemungkinan muncul harapan dan iming-iming untuk jadi pegawai", ujar pak Wahyu .

Wah, kata-kata penuh semangat dari 2 pengusaha sukses ini sungguh menyemangati saya. Sejak muda, saya memang tidak berhasrat jadi pegawai. Itu sebabnya, bekerja pada orang lain saya niatkan hanya untuk sementara saja. Untuk mencari pengalaman, mengamalkan ilmu yang saya peroleh di kuliah dan untuk mengumpulkan modal. Dan setelah merasa cukup, saya harus berani memutuskan untuk keluar dari comfort zone tersebut, apapun resikonya.

Berwirausaha melatih kita menjadi berani. Dan itu adalah modal utama dalam hidup ini. Kita juga dilatih sabar, tegar dan tabah dengan adanya berbagai ketidakpastian yang harus kita hadapi setiap kali. Kita dilatih mengalahkan rasa malas, dilatih berpikir dan bertindak taktis dan strategik, serta berjiwa mandiri, tidak selalu mengharap bahkan menuntut pertolongan orang lain melulu. Wirausaha mengajarkan kita hidup dalam arti yang sebenar-benarnya. Kita hidup di alam nyata, ada kerja ada hasilnya. Ada usaha ada pahalanya. Berwirausaha juga membuat hubungan kita dengan Sang Pencipta menjadi lebih dekat. Kita bisa melihat pertolonganNya begitu nyata dalam setiap saat. Kita menjadi lebih mudah bersyukur, serta lebih mudah nrimo jika ada kegagalan menimpa. Tidak cengeng lagi seperti sebelumnya.

Saya bersyukur tengah menjalani sebuah proses yang menghidupkan. Yang mengembalikan jati diri saya sebagai manusia yang terus bergerak dan berubah. Dinamis dan tidak statis. Saya tidak sedang tinggal di air tenang melulu, tapi juga di air yang beriak. Saya menikmati setiap sensasinya sekalipun kadang mendebarkan bahkan mengerikan.

Mudah-mudahan tulisan kali ini bisa menyemangati Anda semua yang tengah berada di titik semangat yang paling rendah. Tuhan menguatkan kita semua. Sampai jumpa pada postingan berikutnya.

Salam,

Jumat, 21 November 2008

MENYEMANGATI DIRI SENDIRI (1)













Waow! Judul postingan hari ini lumayan provokatif ya?

Sebenarnya itu saya tujukan untuk menyemangati diri sendiri.
Pada postingan sebelumnya telah saya tuliskan bahwa saat ini saya sedang menjalani masa-masa awal dalam berwirausaha. Saya akui, beberapa kali nyaris ingin kembali saja ke masa-masa jaya dulu sebagai pegawai... :-), karena hati terasa ciut memikirkan apakah mungkin usaha yang tengah saya jalani ini bisa bertahan bahkan berkembang.

Menyemangati diri sendiri adalah sebuah aktivitas yang sangat dibutuhkan saat kita sedang merasa kecil, tak berdaya dan kehilangan harapan. Kita semua tahu bahwa ketika kita sedang berada di lingkaran yang nyaman (comfort zone), kita lebih mudah membangun mimpi-mimpi. Tapi mimpi-mimpi tersebut bisa runtuh seketika ketika kita harus berhadapan langsung dengan kenyataan. Bak fatamorgana, ia tidak nyata. Semu. Tipuan mata semata. Dan ini bisa sangat menggelisahkan kita.

Bagaimana mengatasi kegamangan ketika kita tak lagi bisa berkelit terhadap kenyataan? Ketika kita tak bisa lagi sembunyi di balik mimpi-mimpi yang menaburkan banyak harapan?

Jawabannya: HADAPI SAJA!

Tidak ada jalan lain, tidak ada jalan pintas!
Anda dan saya sama-sama manusia yang harus melalui jalan yang sama yaitu kenyataan!
Apakah Anda seorang pegawai atau wirausahawan, bawahan atau atasan, petani atau presiden, apapun embel-embel yang menempel pada diri kita, kita akan tetap diperhadapkan pada kenyataan. Siap atau tidak siap, sedang percaya diri atau sedang kecil nyali, sedang berani atau sedang takut, semua itu harus dilalui.

Kenapa kita stress? kenapa kita depresi?
Bisa jadi karena kita kurang percaya diri, takut gagal dan tidak berani menghadapi kenyataan.
Kenapa takut gagal? Kenapa tak berani menghadapi kenyataan? Padahal kita tahu di seluruh dunia, semua manusia pernah gagal dan pernah merasa takut menghadapi kenyataan? Kita tak sendirian, kawan.

Masalahnya mungkin terletak pada standar yang kita terapkan bagi diri sendiri. Jangan-jangan standar itu terlalu tinggi, sehingga membuat kita merasa kesulitan mencapainya. Kita jadi tegang jika tak tercapai. Kita merasa gagal, lantas patah arang. Lalu berlanjut menjadi penyakit jiwa nomor satu di dunia: tidak percaya diri.

Kalau begitu, bagaimana jika kita mencoba membebaskan diri dari lingkaran setan tersebut? Bagaimana caranya?

Ada satu cara yang cukup ampuh dan efektif yang tanpa sengaja saya temukan dari pengalaman beberapa waktu belakangan ini. Mungkin bisa berguna bagi Anda juga. Semoga.

Sebelum ini, saya adalah penganut berat paham worksmart bukan workhard. Saya paling alergi dengan istilah "kerja keras", karena bagi saya itu identik dengan kaum workaholic yang cenderung menelantarkan keluarga demi sebuah pekerjaan atau prestasi di pekerjaan. Kerja keras menurut saya juga identik dengan kerja otot dan bukan kerja otak, dan ini membuat kita seolah tak pernah mencatat kemajuan dalam sejarah peradaban manusia jika masih saja terus menerus mengandalkan otot dan bukan otak. Itu anggapan saya dulu lho... yang mungkin terlalu ekstrim memilah-milahkan antara otot dan otak. Padahal kalau dipikir-pikir, semestinya keduanya berjalan sinergi ya?

Nah, tapi karena paradigma berpikir saya seperti itu, jadilah saya menjauhi jenis-jenis pekerjaan yang berbau kerja tangan. Saya lebih suka mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan ide, gagasan, impian, dsb. Dan seperti Anda tahu, sikap seperti ini pun tidak mencerminkan keseimbangan. Saya hidup di alam tidak nyata dan ilusi semata. Jadi ketika harus berhadapan dengan kenyataan, saya tidak pernah siap. Saya selalu ragu dan kuatir jika suatu hari nanti di PHK dan tidak ada perusahaan yang mau menampung saya lagi, apa yang harus saya lakukan?

Langkah radikal yang saya ambil kemudian adalah melakukan kegiatan yang 180 derajat berlawanan dengan apa yang saya pahami semula. Dari yang tadinya tidak ingin menyentuh dunia kerja otot, akhirnya saya malah terjun total ke situ. Saya yang semula tidak bisa bangun pagi, sekarang bangun pukul 03.30 untuk memulai pekerjaan saya. Saya yang semula enggan menyentuh pekerjaan kasar, sekarang justru melakukannya. 99% pekerjaan saya sekarang adalah bekerja tangan, bukan pikiran. Nah, di sinilah justru perubahan mulai terjadi. Saking asyiknya tangan bekerja, pikiran kita pun tidak sempat untuk menguatirkan ini dan itu. Ketika gagal jual hari ini, kita sudah memulai yang baru untuk esok hari - yang tentunya disertai dengan harapan baru. Saya tidak sempat berlama-lama menangisi kegagalan. Saya tidak punya waktu untuk berlarut-larut tinggal dalam kekecewaan dan kekuatiran. Saya tenggelam dalam kesibukan yang memabukkan sehingga tanpa terasa telah melalui sebuah kenyataan pahit dengan ringan dan cepat.

Di sinilah saya belajar, bahwa mempunyai paradigma yang salah, bisa membuat kita berjalan salah pula. Memegang paradigma terlalu kuat, membuat kita mengabaikan keseimbangan. Bersikap lentur saja seperti pohon bambu, mungkin itu akan lebih berguna. Pohon bambu mudah digoyang angin tapi tak mudah patah. Ia menyesuaikan diri sedemikian dengan rupa-rupa godaan dan hambatan. Saya percaya, pohon bambu ada untuk mengajar kita, bagaimana menyemangati diri sendiri ketika harapan seolah tak ada.

Nah, sekian dulu sharing saya. Mungkin lain kesempatan bisa disambung lagi. Semoga bermanfaat.

Salam,

Selasa, 14 Oktober 2008

MERASA CUKUP

Ada satu petikan ayat favorit saya yang bunyinya demikian:

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."(Mat 6:34)

Dan satu lagi yang merupakan bagian dari Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus:

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Mat 6:11)

Kata "cukup" di sini tentulah bukan sekedar tempelan pemanis atau bunga-bunga kata semata. Jika direnungkan lebih dalam dan lebih cermat, maknanya sungguh dahsyat. Karena di dalam kata "cukup" itulah terletak kebahagiaan sejati, yang dicari manusia sepanjang segala abad.
Setiap manusia yang sudah menemukan rasa cukup, ia sudah bahagia dengan kecukupannya. Tak perlu mencari-cari ke seluruh penjuru dunia, demi menemukan apa yang dianggapnya akan memberinya kebahagiaan. Harta terbesar yang kita miliki adalah ketika kita merasa cukup di dalam diri, karena itu tak akan pernah dicuri oleh siapapun.

Liburan Idul Fitri yang lalu, saya dan keluarga yang kebetulan tidak mudik, menyempatkan diri berekreasi ke sebuah lokasi pemancingan, tak jauh dari rumah. Saya - yang cenderung serakah :-) - sejak awal memang sudah berangan-angan bisa membawa ikan sebanyak-banyaknya ke rumah. Mana adik saya yang enggan ikutan sudah pesan ingin "matangnya" saja. Semakin terpaculah semangat untuk berjuang memperoleh yang terbaik...., hehehe... :)
Ternyata, semangat tinggallah semangat. Akibat terlalu berharap biasanya memang berakhir sebaliknya (wah, pembelaan diri nih). Suami dan anak saya yang iseng-iseng berhadiah malah dapat 3 ikan, sementara saya gigit jari dan bolak-balik kebagian tugas mengurai tali pancing yang melilit. Sebetulnya ada 2 kali kesempatan lagi bisa memperoleh ikan yang sudah kena umpan kami, tapi kemudian lepas. Lagi-lagi hanya saya yang berteriak, yaaahhh.... sayang.

Belakangan baru saya tahu maksud Tuhan. 3 ikan yang kami tangkap itu sudah lebih dari cukup untuk disantap kami berempat. Bahkan karena lumayan besar (3 ikan hampir 2 kilogram beratnya), akhirnya tak habis dimakan dalam sehari, dan harus diinapkan semalam sebelum disapu bersih adik saya keesokkan harinya. Bayangkan, kalau saja jadi 5 ekor yang kami tangkap, mau habis dalam berapa hari tuh ikan dimakan? Saya jadi belajar, makanya jangan rakus, jangan serakah. Semua sudah di atur, tinggal berserah.

Bangsa Israel di padang gurun juga pernah diajar hal yang sama. Ketika Tuhan memerintahkan untuk mengambil roti manna cukup untuk kebutuhan hari itu saja. Jangan menyimpan cadangan, karena esok harinya Tuhan pasti akan berikan yang baru. Tapi ada di antara mereka yang kuatir jika Tuhan tak menepati janji, terlalu kuatir jika-jika mereka terlantar dan kelaparan, dan yang lebih parah lagi, sebenarnya mereka tak mempercayai Tuhan yang Maha Peduli dan Maha Pemelihara. Jadilah mereka menyimpan dengan diam-diam manna yang turun pada hari itu untuk kebutuhan esok harinya. Dan mereka menjadi sangat terkejut manakala esok harinya manna tersebut telah menjadi ulat (belatung).

Saya jadi introspeksi diri. Benar juga, betapa sering saya terlalu memikirkan hari esok padahal hari ini Tuhan sudah cukupi saya dan keluarga untuk bisa tetap hidup. Definisi "CUKUP" antara saya dan Tuhan ternyata berbeda. Jangan-jangan itu sebabnya kita jarang sukses untuk mengucap syukur, karena kita baru ingin bersyukur setelah merasa cukup.

Apa batasan CUKUP buat kita? Apakah kita sudah merasa cukup jika kita masih bisa makan dan minum sewajarnya pada hari ini? Atau sebaliknya, sementara kita sedang makan (menikmati berkat Tuhan pada hari ini) pikiran kita melayang-layang tentang tabungan pendidikan untuk anak, asuransi jiwa dan kesehatan kita di masa pensiun nanti, cadangan dana tak terduga yang terus menerus ingin kita tambahi?

Sementara kita masih bisa berteduh di dalam rumah (bisa rumah sendiri, bisa yang masih ngontrak seperti saya, hehehe...) yang nyaman, kita sibuk memikirkan jauh ke depan tentang investasi apa yang perlu untuk mengamankan dan menyamankan diri lebih lagi. Kita lupa, nun jauh di sana banyak saudara-saudara kita yang tak punya tempat tinggal lagi untuk berteduh dan sekedar membaringkan diri karena digusur dan diusir pergi secara tak manusiawi.

Bagaimana rasa cukup kita bisa dibandingkan dengan Ibu Theresa yang memutuskan hanya punya 2 buah baju. Satu untuk dikenakan, satu lagi dicuci? Seperti apa sebenarnya definisi "cukup" yang kita kehendaki?

Kembali kepada ayat pembuka di atas, Yesus jelas-jelas mengajarkan kepada kita untuk membatasi diri sesuai kapasitas yang mampu kita tanggung pada hari ini. Apa yang mampu kita makan hari ini, cukuplah itu. Apa yang mampu kita kerjakan hari ini, cukuplah itu. Bahkan jika kita marah pada seseorang hari ini, cukupkanlah itu hanya sampai matahari terbenam, artinya, jangan diteruskan sampai esok hari, karena hari esok mempunyai masalahnya sendiri.

Mari kita coba pelajari lagi, selidiki lagi, sampai batas apa rasa cukup kita itu. Dan berbahagialah ketika telah mencapainya. Karena tanpa kendali itu, kita tak pernah tahu, kapan kita akan benar-benar berbahagia.

Salam,

Senin, 13 Oktober 2008

IRAMA PADANG GURUN

Salah satu episode yang paling menarik dari buku Sang Alkemis-nya Paulo Coelho adalah detik-detik yang mendebarkan ketika Santiago - tokoh sentral dalam novel sastra ini - memutuskan untuk menapaki padang gurun agar dapat tiba di Piramida Mesir, tempat harta dalam mimpinya berada. Menarik, karena para penjelajah gurun adalah orang-orang yang mau tak mau harus siap mati, siap tak bisa kembali lagi ke daerahnya semula. Sekali menginjakkan kaki di padang gurun tak ada jalan untuk undur dan memanjakan keragu-raguan.

Padang gurun adalah sebuah arena untuk melatih keteguhan hati. Bahwa kita semua punya mimpi, itu pasti. Tapi orang-orang yang berhasil, adalah mereka yang berani menindaklanjuti mimpi-mimpinya dengan sebuah TINDAKAN. Dan setelah bertindak, pantang untuk menoleh kembali ke belakang.

Peristiwa eksodus bangsa Israel dari tanah Mesir adalah salah satu peristiwa "padang gurun" juga. Tuhan memang menyediakan padang gurun untuk menempa yang dikasihiNya agar beranjak dewasa. Tidak cuma bisa mimpi. Tapi berani mewujudkan mimpi. Jika di pewayangan ada kawah Candradimuka sebagai media pengujian, padang gurun memiliki fungsi yang kurang lebih sama. Di padang gurun, kita tak lagi punya kemewahan untuk memilih. Terus maju atau mati! Itu tantangannya. Kita tak bisa berdebat tentang suka atau tidak suka. Mau atau tidak mau. Dan nasib kita berjalan sesuai irama padang gurun tersebut. Maksudnya jika kita mampu menyesuaikan diri, kita selamat. Jika tidak ya mati. Itu saja.

Saya pernah membaca sebuah cerpen Ayu Utami di Harian Kompas. Di situ dituliskan bahwa sejak seseorang memutuskan naik pesawat, sejak itu pulalah nyawanya diserahkan kepada sebuah kotak yang disebut black box. Ya, penumpang pesawat mirip dengan penjelajah padang gurun. Ia harus terus di sana sampai tiba di tempat yang dituju. Akan mendarat dengan selamat atau tidaknya, itu benar-benar misteri.

Kadangkala dalam hidup ini kita pun diperhadapkan pada misteri "padang gurun". Kembali ke belakang tak lagi memungkinkan, tapi berjalan terus maju pun terasa amat menggentarkan. Kita tahu tak mungkin kembali menjadi anak-anak yang banyak dibantu, dimanja dan dipermudah jalannya. Tapi menapaki kedewasaan pun kita merasa belum siap dan enggan. Dulu semasa kecil kita berangan-angan segera menjadi dewasa. Setelah dewasa, kita baru tahu bahwa pencapaian itu tidak mudah. Semua butuh perjuangan.

Kondisi yang saya alami saat ini juga tidak jauh dari efek padang gurun. Penuh misteri, mendebarkan dan menegangkan. Saya baru bisa merasakan apa yang dirasakan bangsa Israel sewaktu keluar dari tanah Mesir yang penuh kemapanan, diganti dengan kebergantungan total pada Tuhan yang tak kelihatan. Ada kalanya saya tergoda untuk bereaksi seperti mereka. Ingin kembali ke kehidupan yang lama, tak tahan dengan penundaan yang sebentar saja. Tak tahan berada dalam ketidakpastian. Kadang mengeluh, kadang bersungut-sungut, mengomel, penuh ketidakpercayaan pada Tuhan.

Kadang saya berpikir, alangkah panjang sabarnya Tuhan kita itu. Beribu-ribu tahun sudah Ia menghadapi manusia yang sama jenisnya seperti saya ini. Tidak tahu berterimakasih dan berjiwa kerdil (tak mau tumbuh dewasa dan berkembang, karena berkembang itu sakit). Tapi Tuhan memiliki mata yang tak kita miliki. Ia yang tahu persis bagaimana kita seharusnya menjadi. Untuk itulah manusia-manusia manja semacam saya ini diberiNya pelatihan. Agar kita berkembang sebagaimana mestinya.

Salah satu rahasia sukses menempuh padang gurun adalah mengikuti iramanya. Jangan melawan arah angin. Jangan menolak apa yang harus terjadi. Hadapi saja. Terima saja, apapun yang baik dan buruk yang terjadi pada kita. Karena hanya melalui kedua cara itu sajalah kita bisa tiba di seberang dengan selamat.

Siapa berani mencoba?

Rabu, 24 September 2008

START FROM ZERO

Adalah sebuah pengalaman yang indah ketika saya harus mengundurkan diri dari perusahaan tempat saya bernaung selama 5 tahun belakangan ini. Indah, karena sejak itu (tepatnya bulan Mei 2008 yang lalu), saya tidak lagi berstatus karyawati yang terikat dengan jam kerja 8 to 5, melainkan menjadi manusia bebas sepenuhnya.
Indah, karena sejak itu mau tak mau saya menyandarkan hidup saya ke dalam pemeliharaan Tuhan sepenuhnya, menggantungkan diri pada belas kasihan dan anugerahNya semata-mata dan bukan lagi mengandalkan kekuatan diri sendiri lagi, karena saya tidak lagi memiliki penghasilan tetap yang biasanya saya andalkan dan saya banggakan.

Sebetulnya bisa saja saya mencari pekerjaan lainnya sebagai pengganti. Tapi usia yang sudah kepala 4 ini ingin saya syukuri dalam bentuk menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri. Sudah lama saya memiliki mimpi untuk bekerja di rumah sambil bisa menemani anak setiap harinya. Dan ini adalah kesempatan yang sudah lama saya tunggu-tunggu. Memang, sungguh tidak mudah memasuki masa transformasi dari seorang pekerja menjadi wiraswasta. Dari orang yang biasa menerima gaji tetap menjadi berpenghasilan tak menentu. Dari yang semula berhubungan dengan banyak orang harus bekerja sendirian. Tapi bagaimana pun, dalam hidup ini tentu tak melulu duka dan derita. Di balik semua peristiwa, selalu ada suka dan hikmahnya. Begitu pun yang saya alami.

Saya mengawali babak baru dalam kehidupan saya ini dengan berjualan kue. Dari yang semula ”nol” di dunia dapur dan masak memasak, dalam tempo 2 bulan saya sudah bisa membuat dan menjual hasil produksi perdana saya, (hehehe... tidak percuma berguru pada mama). Saya menitipkan kue-kue buatan saya di kantor adik-adik saya. Meskipun skalanya masih sangat, sangat kecil, tapi saya bangga bahwa akhirnya saya bisa mengalahkan kegentaran dan rasa tidak percaya diri ketika harus terjun ke ”dunia” ini. Ada kalanya timbul rasa ingin menyerah saja ketika gagal melulu sewaktu membuat kue-kue percobaan. Atau rasa gagal yang menyerang kala kue-kue kurang laku dan terpaksa ”dipulangkan”. Mana masih dikejar-kejar perasaan kuatir apakah hidup saya di hari esok masih bisa berlangsung mengingat penghasilan kini tak seberapa dan tak menentu pula?

Tapi di sinilah justru karya Tuhan terjadi atas hidupku. Dulu sewaktu masih bekerja, dan ingin memutuskan berhenti untuk usaha sendiri, tak juga muncul rasa berani. Takut ini, kuatir itu. Herannya, justru setelah dijalani, nyata betul pemeliharaan Tuhan dari hari ke hari. Setiap kali ketika saya mulai bertanya-tanya, dari manakah akan datang pertolonganku? (Mazmur 121:1), berkali-kali pula Tuhan langsung memberi jawab tepat pada waktunya. Sungguh luar biasa! Tak terlukiskan dengan kata-kata. Penghiburan, semangat, kesempatan, dukungan bahkan mujizat, Ia berikan kepada saya hanya untuk membuat saya percaya, bahwa hidup saya terjamin di tanganNya. Karena itulah pada kesempatan ini, mudah-mudahan tulisan ini mampu menguatkan para pembaca yang punya pengalaman mirip dengan saya, yang sering meragukan kasih dan pemeliharaan Tuhan.

Rejeki bukan dicari tapi diberikan (=dianugerahkan).
Hidup kita bukan untuk mencari uang, tetapi melakukan yang terbaik dalam segala pekerjaan yang menjadi bagian kita, sedangkan urusan upah adalah bagian Tuhan.
Jika kita bekerja dengan niat baik dan sungguh-sungguh serta selalu mensyukuri berkat Tuhan yang paling kecil sekali pun, percayalah bahwa Tuhan tidak akan menelantarkan kita. Tuhan sudah menciptakan kita, Tuhan pula yang akan bertanggungjawab memenuhi segala keperluan kita. Jangan kita dipenuhi rasa kuatir yang membuat kita jadi menganggap sepi dan meniadakan bagianNya. Jangan kita mengambil bagian yang bukan bagian kita, dan menjadikan diri sendiri menjadi penanggungjawab sepenuhnya atas hidup kita. Jika itu kita lakukan, maka tak heran kita senantiasa merasa letih dan stress. Tuhan ingin kita menikmati hidup. Merasa cukup. Dan mengembangkan bakat dan talenta kita sebaik-baiknya. Tuhan akan memfasilitasi segala keperluan kita, jika kita memang serius dan bersungguh-sungguh menjalaninya.

Semoga Anda diberkati.

Salam

Selasa, 11 Maret 2008

Malas = Masalah

Seorang sahabat terbujur di rumah sakit sejak seminggu belakangan ini. Ia terserang stroke. Sebelah tubuhnya sulit digerakkan. Dan sebagai penunjang tubuhnya untuk sementara waktu, ia harus menggunakan kursi roda.

Untungnya sahabat saya ini masih bisa menyemangati diri sendiri. Setahu saya pasien penderita stroke biasanya memiliki emosi yang kurang stabil, dan perasaannya bisa menjadi sangat sensitif. Mereka seringkali merasa masygul pada diri sendiri dan butuh waktu cukup lama untuk bisa menerima keadaannya yang tak berdaya dan harus bergantung pada orang lain. Sangat menyedihkan.

Hampir sebulan yang lalu, tante saya yang juga pernah terserang stroke akhirnya meninggal dunia setelah lebih dari 3 tahun menjalani masa-masa sulit pasca stroke. Mama yang selama ini merawatnya, juga mengalami masa-masa sulit dan nyaris angkat tangan, karena besarnya beban fisik dan mental yang harus ditanggungnya. Stroke memang bukan hanya membuat si penderita tersiksa, tapi juga orang-orang di sekitarnya yang merawat dan menemani mereka. Penderitaan berkepanjangan, itulah yang seringkali membuat penderita putus asa, kehilangan harga diri dan harapan. Merasa hidup tak ada guna lagi.

Saya rajin menelpon dan mengirimkan sms pada sahabat saya ini untuk membesarkan hatinya. Saya membelikannya An Kung, obat Cina yang sangat bagus untuk pemulihan kondisi penderita stroke. Saya juga berniat menemaninya terapi akupunktur sepulang dia dari rumah sakit nanti. Selain itu ada program meditasi Sen Qi yang mungkin akan dijalaninya juga selain physioterapi di rumah.

Memang ada kecerobohan yang dilakukan sahabat saya ini sebelum dia terserang stroke. Pola makan dan kebiasaan hidupnya tak sehat, merokok dan jadwal tidur tak teratur serta malas berolahraga, membuat fisiknya rentan terhadap stroke. Belakangan, ketika ia juga terjun dalam penerbitan majalah yang menjadikannya sering stress akibat dikejar deadline, makin lengkaplah persyaratan untuk stroke bisa menyerangnya.

Meski demikian saya tak ingin mundur lagi ke belakang, mengungkit-ungkit kesalahannya. Setiap manusia mempunyai shadow-nya sendiri. Pada diri sahabat saya, mungkin ketidakdisplinan hidup sehat yang menjadi shadow-nya. Tahu yang benar, tapi tak mau menjalani. Tahu yang seharusnya, tapi malas melakukan. Apa yang dialaminya adalah akumulasi dari penundaan-penundaan akibat kemalasannya.

Saya pun demikian juga. Dalam 2 bulan terakhir ini saya harus 4 kali bolak-balik ke rumah sakit karena IUD yang salah pasang 8 tahun yang lalu. Keengganan saya untuk kontrol selama ini membuat saya harus menanggung akibatnya. Proses penanganan akhirnya menjadi lebih mahal dan lebih sulit daripada semestinya.

Ketakutan dan kemalasan melahirkan penundaan-penundaan. Penundaan menyebabkan masalah terus mengejar, bahkan dengan efek bola salju, menggelinding makin tebal dan makin besar. Ketika dalam diri mulai tumbuh rasa enggan dalam menghadapi sesuatu, ingatlah bahwa jika tak segera dituntaskan, kelak akan timbul dampak yang lebih merugikan. Karena itu, janganlah menunda. Segera selesaikan masalah sedini mungkin agar tak menjadi batu sandungan pada waktu yang tak diharapkan.

Sahabatku, semoga engkau lekas pulih. Terimakasih untuk pembelajaran yang sangat berharga ini. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari semua pengalaman ini.

Salam,

Jumat, 09 November 2007

Ke mana Energi Kita Disalurkan = Itukah ”Niche” Kita?

Beberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan adik dan suami saya. Kami menganalisa mengapa ada anak-anak yang tidak bisa diam dan duduk manis ketika belajar di sekolah, sementara yang lainnya lebih penurut dan tidak pernah menimbulkan masalah di kelas, meskipun belum tentu si penurut ini lebih cerdas dan berprestasi dibandingkan si”trouble maker”?

Suami saya bercerita, bahwa sejak SD dia selalu juara kelas bahkan sampai mendapat beasiswa. Namun di sisi lainnya, ia pun pernah beberapa kali dihukum berdiri di depan kelas dengan mulut diplester karena kedapatan ngobrol melulu dengan temannya saat jam belajar. Suami berujar, mungkin dari peristiwa itu sudah terlihat bahwa saya punya bakat (menonjol) dalam soal bicara, ya? Saya jadi tidak heran kenapa anak kami sering dapat teguran dari gurunya karena kedapatan ngobrol melulu di kelas. Rupanya ada bakat turunan dari Ayahnya..., hehehe... :))

Dari pembicaraan tersebut saya memperoleh insight, bahwa apa yang kita lakukan secara spontan, dengan sering, tapi juga dengan senang dan tanpa kesulitan, bisa jadi merupakan petunjuk adanya bakat dan ”niche” kita di situ.

Saya jadi ingat diri saya sendiri. Sejak kecil saya suka melamun, menggambar dan menulis. Tulisan saya yang pertama (dan satu-satunya) yang pernah dimuat di media massa adalah sebuah cerpen yang saya tulis untuk Majalah Bobo saat saya kelas 6 SD. Padahal seingat saya, itu juga asal nulis dan asal ngirim. Nggak serius-serius amat. Sebenarnya pun, dimuat di majalah bukan menjadi target saya, karena tanpa disuruh pun saya bisa menulis dengan sukacita sampai berlembar-lembar banyaknya. Saya mulai menulis diary sejak SMP, dan setiap tahun punya jilidnya sendiri. Itu berlangsung sampai sekarang. Diary saya sejak 10 tahun yang lalu masih saya koleksi, dan jumlahnya sudah lebih dari 10 buah. Bukankah ini menunjukkan bahwa saya memiliki potensi menulis yang bisa dikembangkan menjadi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain? Buktinya, jika diminta mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan gagasan, ide-ide dan imajinasi, saya bisa melakukannya dengan baik dan dengan gembira. Bahkan melebihi apa yang diminta.

Bicara soal talenta yang tidak dikembangkan atau mengalami hambatan untuk berkembang ibarat tubuh yang tidak mampu menyalurkan kelebihan energinya sehingga malah menjadi penyakit.

Seperti kita ketahui, yang namanya sakit adalah kondisi ketika tubuh mengalami ketidakseimbangan energi. Apa yang menyebabkan ketidakseimbangan tersebut misalnya, orang yang marah tapi tidak bisa mengungkapkan kemarahannya; orang yang banyak pikiran tapi tak dapat me-release ketegangannya. Termasuk di antaranya ketika orang tidak mampu menyalurkan energi untuk melakukan apa yang disukainya, apa yang menjadi talentanya.

Orang yang senang berpikir, berimajinasi dan bermain-main dengan gagasan, akan mengalami kelebihan energi di otaknya, yang jika tidak disalurkan akan membuatnya mengalami kesulitan tidur (imsonia), atau otak menjadi terlalu tegang dan berat yang bisa-bisa menjadi stroke. Maka sebaiknya orang tersebut mencari tahu, apa cara terbaik untuk menyalurkan buah-buah pikiran, gagasan dan imajinasinya. Apakah dengan menulis, mengajar, ngobrol, menciptakan sesuatu, dsb?

Orang yang penuh hatinya, atau yang mengalami ketidakseimbangan emosi (perasaannya), perlu menyalurkan energinya dengan menyanyi, curhat atau berteriak, atau melukis, menari, olahraga, dsb.

Sebenarnya tubuh telah memiliki mekanisme yang spontan untuk mengontrol hal itu. Itulah yang membedakan seseorang satu dengan yang lainnya. Ada yang memerlukan media ngobrol untuk membuang kelebihan energinya. Ada yang melalui tulisan. Ada yang melalui bermain musik. Ada yang melalui melukis, dsb.

Jadi, anak yang hobinya ngobrol, bisa jadi karena ada dorongan spontan dari tubuhnya untuk menyalurkan energinya dengan cara ngobrol. Mungkin karena ia sendiri tidak tahu harus disalurkan melalui media apa.

Pilihan yang diambil seseorang untuk menyalurkan "kelebihan" energinya, bisa menjadi sinyal ke mana sebenarnya bakat dan panggilannya. Ada yang berbakat bicara seperti anak saya misalnya, yang jika dibiarkan memilih, pasti akan lebih suka menghabiskan waktunya untuk mengobrol bersama mainannya, menjadi "dalang" bagi robot-robot koleksinya. Sementara anak tetangga saya, yang mempunyai talenta fisik yang luar biasa, jago salto, beratraksi dengan sepeda, main basket, badminton, dsb akan lebih memilih untuk bergerak dan berolah fisik ketimbang berpikir dan belajar. Mungkin jika tidak demikian mereka akan sakit, sama seperti saya yang mungkin sakit jika tidak menulis.

Pertanyaannya, apa yang akan Anda pilih untuk Anda lakukan dengan energi yang Anda miliki? Menyalurkan apa yang Anda punya dan miliki tidak selalu berkaitan dengan uang dan penghasilan. Mungkin dengan serta merta Anda akan membagikannya tanpa berpikir dua kali meski Anda tak dibayar atau dihargai. Kelebihan itu spontan saja mengalir karena jika tidak Anda-lah yang akan menderita sakit karenanya.

Cobalah mengamati apa kelebihan Anda tersebut. Mungkin di situlah Tuhan ingin Anda berkarya dan menjadi sesuatu bagi dunia ini. Mungkin itulah panggilan dan takdir Anda, ungkin di situlah ”niche” Anda, di situlah porsi Anda, di situlah bagian Anda di dunia ini yang perlu dibagikan kepada orang lain, siapa tahu?

Jangan Pikirkan Bagian Tuhan

Meski saya terus belajar untuk rileks dan lebih rileks lagi, tapi kadang-kadang saya gagal memasuki tahap rileks. Pikiran terus tegang, apalagi jika belum menemukan jalan keluar. Akhirnya beberapa hari yang lalu, saya baru menemukan kuncinya.

Ternyata kondisi rileks erat kaitannya dengan keadaan berserah (pasrah).

Keadaan di mana kita dengan rela dan sadar meletakkan semua beban yang menggelayuti jauh-jauh di luar diri kita. Lebih baik lagi ketika kita percayakan beban itu kepada seseorang yang lebih kuat daripada kita, yang kita yakin dan bisa kita andalkan untuk menanggung beban itu.

Katakanlah saya baru tiba di stasiun Gambir dengan barang bawaan lebih dari 25 kg. Tentulah akan terlalu berat jika saya membawanya sendirian. Sesaat kemudian lewatlah portir yang menawarkan saya untuk menggunakan jasanya. Pilihan saya adalah, mempercayakan barang saya kepadanya dan saya bisa melangkah lebih ringan. Atau saya tetap memegang erat-erat barang-barang saya karena saya tidak mempercayai portir tersebut, dengan resiko saya akan tetap membawa beban yang sama, berdiri di tempat yang sama, dan tak bergerak ke mana pun.

Illustrasi di atas sebenarnya menggambarkan hubungan saya dengan Tuhan selama ini. Boleh saja saya mengakui taat beribadah dan hafal ayat-ayat suci, namun itu tidak menjamin bahwa saya percaya pada Tuhan, mempercayaiNya maupun mempercayakan diri saya padaNya.

Ya, beragama itu tidak sama dengan percaya. Kita bisa saja rajin mengikuti dan menjalani ritual keagamaan kita, tapi soal percaya itu hal yang berbeda. Percaya lahir dari hati. Ini bicara soal hubungan, bukan soal tradisi. Dalam tradisi, saya lahir dari Ayah dan Ibu saya yang sepatutnya saya hormati. Tapi apakah saya benar-benar hormat, itu harus datang melalui pengalaman saya bersama mereka dan keluar dari hati saya sendiri, bukan karena sudah seharusnya demikian.

Mengapa saya bilang jangan-jangan saya tidak percaya pada Tuhan? Karena setiap kali masalah datang, respon saya yang pertama adalah selalu berusaha mencari sendiri dulu jalan keluarnya, Tuhan belakangan. Tuhan baru saya hampiri saat keadaan sudah mentok. Saya akui, sulit sekali bagi saya mempercayai orang lain dan mempercayakan diri saya padanya, apalagi kepada Tuhan yang tak kelihatan.

Nah, ketidakmampuan mempercayakan diri inilah yang membuat seseorang menjadi tegang dan tidak bisa rileks, sampai ia benar-benar RELA menyerahkan diri kepada orang lain untuk ditolong. Rela, percaya sepenuhnya adalah kondisi pasrah yang memungkinkan orang mencapai keadaan rileks yang sejati. Mengakui keterbatasan diri, keterbatasan pikiran kita untuk kemudian dengan rendah hati meminta pertolongan kepada orang yang lebih kuat untuk menanggungkan beban kita.

Saat ini saya sedang mengalami keadaan yang sulit secara finansial. Sebagai tenaga lepas (freelance), saya tidak menerima gaji bulanan, melainkan dibayar jika mendapat proyek. Nah, dalam 3 bulan terakhir, seiring hadirnya bulan puasa, libur Idul Fitri dan berikutnya liburan Natal, mengimbas pula pada produk/jasa yang saya jual. Inilah masa kritis bagi saya yang sedang dalam masa transisi menjadi pekerja mandiri. Di saat-saat sepi order seperti ini, saya mulai kuatir dan mempertanyakan masa depan saya. Apakah saya masih bisa menghidupi keluarga di hari-hari mendatang? Apakah Tuhan masih berkenan memberikan proyek-proyek baru kepada saya?

Saya sempat menjerit, bukankah saya sudah melakukan pekerjaan saya sebaik-baiknya? Juga dengan senang hati dan gembira? Tapi mengapa tuaian dari apa yang telah saya taburkan belum terlihat wujudnya? Saya berpikir dan terus berpikir, apa lagi yang bisa saya lakukan dan usahakan. Apa lagi?

Namun pagi ini tiba-tiba terbersit sebuah jawaban.

Lakukan saja bagianmu, dan jangan pikirkan bagian Tuhan!

Ibarat bekerja dalam sebuah tim, ketika sudah dibagi tugas masing-masing, maka setiap anggota tim tidak berhak intervensi pada tugas yang menjadi bagian rekannya. Harus ada saling percaya bahwa satu sama lain akan melakukan tugas dan kewajibannya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Kecuali jika ada yang merasa butuh bantuan, rekan lain yang merasa bisa membantu silakan turun tangan. Bagi yang dibantu, harus rela jika pekerjaan yang menjadi bagiannya terpaksa mengalami penyesuaian-penyesuaian yang mungkin tidak sesuai dengan keinginannya. Namanya juga dibantu, artinya memiliki keterbatasan, jadi tidak bisa dengan semena-mena mengatur yang mereka yang sudah menyediakan diri untuk membantu, atau ngotot semaunya sendiri. Di dalam tim, ada kebersamaan, ada saling menyesuaikan, ada saling merendahkan hati.

Nah, ternyata rileks yang sejati baru bisa muncul ketika kita memiliki kerendahan hati untuk mau menerima pertolongan yang lain. Ketika kita mau meletakkan beban kita kepada tangan yang lebih kuat dan mempercayakan diri kita kepadanya. Lakukan saja apa yang mampu kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Selebihnya itu adalah bagian Tuhan yang bekerja dengan caraNya yang tak kita pahami, namun yang mestinya kita percayai akan selalu membawa kebaikan bagi kita. Amin.

Rabu, 07 November 2007

Mengampuni Diri Sendiri

Kata mengampuni erat kaitannya dengan aspek hukum. Entah itu hukum sosial masyarakat, hukum agama, atau hati nurani. Mengampuni berkaitan dengan keadaan salah yang pernah terjadi, yang mungkin bertentangan dengan norma hukum yang berlaku, yang perlu diakui, diluruskan kembali, dan kemudian diperdamaikan.

Dalam prakteknya, orang mungkin bisa mengelabui kebenaran di tingkat hukum masyarakat maupun hukum agama. Kita bisa saja bersikeras untuk tidak mengakui atau berpura-pura tidak peduli meski tahu bahwa kita bersalah. Namun berbeda halnya jika kita harus berhadapan dengan hati nurani. Kita tak dapat menghindar. Meskipun kita mencoba untuk membungkamnya, ia akan terus bersuara. Karena tujuan hati nurani adalah memberitahukan apa yang terbaik bagi kita.

Bahasa apa yang dipergunakan oleh hati nurani untuk memberitahu kita ketika kita melakukan hal yang salah? Biasanya dengan sinyal rasa tidak nyaman atau rasa bersalah di dalam hati kita.

David R.Hawkins, MD, PhD dalam penelitiannya selama 20 tahun mencoba mengukur berbagai level energi manusia dalam berbagai kondisi. Hasilnya disajikan dalam sebuah tabel yang disebut Map of Consciousness. Dalam tabel ini, ditampilkan beberapa jenis kondisi emosi manusia dengan skornya masing-masing. Dengan angka 200 sebagai baseline, Hawkins menunjukkan bahwa yang memiliki skor di atas 200 adalah kondisi emosi yang memberikan efek energi positif. Beberapa di antaranya adalah: pencerahan, kedamaian, sukacita, cinta, berpikir, penerimaan, kemauan dan netralitas.

Sebaliknya, kondisi yang memiliki skor di bawah 200 adalah emosi yang menghasilkan efek negatif. Beberapa di antaranya adalah: perasaan bangga diri, marah, keinginan, takut, kesedihan mendalam, apatis, rasa bersalah dan rasa malu. Untuk lebih detailnya Anda dapat membaca buku laris Becoming a Money Magnet yang ditulis Bapak Adi W. Gunawan.

Dari tabel tersebut nampak bahwa rasa malu dan rasa bersalah adalah dua hal yang paling merusak dan berefek paling negatif terhadap diri (skor paling rendah).

Lantas apa yang harus kita lakukan agar bisa kembali feel good dan tidak terus menerus dihantui perasaan bersalah?

Pertama, biasanya kita akan merasa lebih ringan setelah kita MENGAKUI kesalahan tersebut,. Kemudian MINTA MAAF/MINTA AMPUN kepada pihak yang menjadi korban kesalahan kita. Jika kita sulit minta maaf kepada orang yang bersangkutan, biasanya lewat mengadu kepada Tuhan sebagai perantara merupakan langkah yang efektif pula.

Tapi bagaimana jika yang kita persalahkan adalah Tuhan atau diri kita sendiri? Bagaimana kita bisa mengampuni Tuhan dan diri sendiri? Masa Tuhan diampuni….nggak salah tuh? Nggak terbalik tuh? Memangnya siapa kita dan siapa Tuhan?

Memang kedengarannya janggal dan tak masuk akal. Sedikit kurang ajar malah.
Tapi mungkin tanpa sadar kita pernah protes, berontak bahkan marah kepada Tuhan.

Kapan itu terjadi?

Umumnya ketika penderitaan sedang menghampiri kita.

”Kenapa harus aku Tuhan?”, mungkin protes semacam itu akan meluncur dari mulut kita. "Kenapa aku mengalami hal yang buruk sementara aku meyakini bahwa Tuhan itu baik?"

Mampukah kita bertahan untuk tidak menyalahkan Tuhan ketika kita mengalami penderitaan yang bertubi-tubi?
Mampukah kita menerima bahwa Tuhan adalah tetap baik adanya dengan segala rencana Nya yang tidak kita pahami?
Mampukah kita mengampuni Tuhan ketika akhirnya kita terpaksa marah dan menyalahkanNya?

Mari kita coba masuk ke dalam batin kita lebih jauh lagi.

Jangan-jangan itu semua terjadi karena kesalahan kita sendiri yang sering mengabaikan suaraNya yang berdiam di hati nurani kita. Kita lebih senang mendengarkan suara manusia dibanding mendengarkanNya. Kita lebih mengedepankan suara logika kita, ketimbang suara hati nurani. Kita sering tak menghargai perasaanNya, pendapatNya, pengajaranNya. Namun ketika kita gagal, Tuhanlah yang paling pertama kita salahkan. Bahkan lebih parah lagi, kita tak segera mendekat dan berdamai denganNya, ketika kita terlanjur mengambil keputusan yang salah.

Pengadilan, persidangan, pengakuan, penentuan bersalah atau tidak bersalah, vonis, penghukuman, perdamaian, semua itu berkonotasi hukum. Jadi, jika kita melanggar sesuatu dalam aspek hukum, ada sanksinya meski juga ada solusinya.

Demikian juga perilaku kita terhadap hati nurani sebagai pemegang kedaulatan hukum yang tertinggi, akan menentukan apa yang akan kita dapatkan. Jika kita mau mengakui kesalahan kita, kita mau berdamai dengan hati nurani kita, maka kita pun akan memperoleh kedamaian dan pembebasan dari rasa bersalah. Namun jika kita tetap keras kepala meski sudah tahu bersalah, kita menolak mendengar teguran hati nurani kita, maka rasa bersalah juga akan terus mengejar-ngejar, hati tak kunjung merasa damai, dan jiwa kita tak kunjung tenang dan bahagia.

Dalam masa tranformasi 150 hari yang lalu, itulah yang coba saya lakukan. Mengakui kesalahan saya selama ini yang telah sering menganggap angin lalu suara hati nurani. Berdamai dengan hati nurani, dan mencoba hidup baru bersamanya. Hasilnya? Saya merasa lebih bersih, lebih bebas, lebih damai dan lebih bahagia

Inikah yang dinamakan pertobatan?

Kamis, 25 Oktober 2007

MENERIMA DIRI SENDIRI

Setelah belajar mengenal diri, kita lanjut ke tahap berikutnya, yaitu menerima diri sendiri.

Sebagian orang (termasuk saya) ternyata memerlukan waktu ekstra untuk bisa menerima diri sendiri. Lho, apa sulitnya sih menerima diri sendiri? Dan kenapa jadi sulit?

Ini beberapa kasus yang sempat tercatat oleh saya:
  1. Penolakan yang dialami semasa kecil
  2. Pengalaman ditolak/dikucilkan dari kelompok yang terjadi berulang-ulang
  3. Keserakahan (menginginkan status, posisi, nasib orang lain)
  4. Kesombongan (tidak mau menerima kelemahan diri)

Jika ada mau menambahkan, silahkan. Tapi saya coba membahas 4 yang di atas dulu ya?

Jangan pernah abaikan pengalaman masa kecil, bahkan yang tanpa kita ketahui pernah terjadi semasa masih berupa janin dalam rahim ibunda.

Apakah itu mereka yang dulunya pernah akan digugurkan, yang kelahirannya tak diinginkan, atau yang diinginkan lahir dengan jenis kelamin tertentu, yang lahir dan besar dalam keluarga broken home, orangtua yang bercerai, dst hampir sebagian besar pernah mengalami "rasa tertolak" yang mungkin bisa berlanjut hingga dewasa, bahkan tanpa mereka pernah menyadari, kenapa dan darimana mereka mempunyai perasaan tersebut. Seolah-olah itu memang sudah menjadi bagian dari diri mereka. "Rasa tertolak" ini bisa sangat mengganggu kecerdasan emosional pemiliknya. Mereka menjadi peragu, pemurung, cenderung menarik diri dari pergaulan. minder, merasa ada yang kurang, tidak PD, dll.
Bahkan sekalipun mereka memiliki prestasi yang menjulang, multi talenta, namun di lubuk hati yang terdalam, prestasi tertinggi yang mereka dambakan sebenarnya adalah penerimaan tanpa syarat, pertemanan yang sejati, persaudaraan yang abadi. Kebutuhan untuk diterima dan dicintai lebih besar artinya daripada pengakuan akan prestasi mereka. Bagi yang belum menyadari, mereka bisanya justru menggunakan jalan prestasi untuk bisa diterima. Bagaimanapun, kebutuhan untuk diterimalah yang menjadi prioritas utama.

Pengalaman ditolak/dikucilkan, biasanya terjadi di lingkungan yang rasis. Dampaknya lebih terasa bagi mereka yang perasa. Sedikit kasak-kusuk, cekikikan teman yang tidak melibatkan mereka, menjadi isu penolakan yang terbawa hingga dewasa. Jika ini diizinkan untuk terekam ulang ke pikiran bawah sadar kita, maka kita akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri, terlalu sensitif dan selalu dipenuhi rasa curiga.

Keserakahan atau kemarukan adalah bentuk lain tidak bisa menerima diri. Tidak puas terhadap diri sendiri. Ingin jadi seperti orang lain. Selalu iri melihat orang lain lebih baik dan lebih beruntung. Menginginkan nasib baik orang lain jatuh kepadanya, ingin menggeser posisi orang lain yang lebih tinggi, dst.

Ketidakmampuan untuk menerima diri sendiri bisa jadi juga berasal dari sisi kesombongan kita. Kita cenderung ingin melihat yang baik-baik saja dari diri kita, tapi sulit menerima kelemahan diri. Sulit dikritik. Selalu ingin dipuji. Kita lupa bahwa setiap manusia punya kelebihan tapi juga ada kekurangannya.

Nah, beberapa hal yang saya sebutkan di atas, jika tidak segera diselesaikan tidak akan segera membawa kita kepada perubahan yang kita inginkan. Kita perlu belajar jujur pada diri sendiri. Kita perlu rendah hati mengakui kelemahan kita. Tapi kita juga harus bersyukur dengan talenta yang kita miliki dan mengembangkannya semaksimal mungkin. Jangan malahan kita lebih ngotot mengembangkan talenta orang lain yang kita inginkan bisa kita miliki. Banggalah dengan apa yang ada pada diri kita, meskipun kelihatan "berbeda" dari rekan-rekan kita. Jangan takut menjadi "berbeda" dan jangan merendah-rendahkan diri hanya agar dapat dianggap sama dan diterima oleh komunitas atau kelompok yang kita kagumi.

Nampaknya ini serupa dengan saat pencarian jati diri di masa pubertas ya? Tapi percaya nggak percaya itu terus berlanjut ke masa dewasa jika kita tak segera menyelesaikannya lho.

OK, sekian dulu postingan saya hari ini. Semoga bermanfaat.

Salam,

Rabu, 24 Oktober 2007

MENGENAL DIRI SENDIRI

Sudahkah Anda mengenal diri sendiri?
Sejauh mana Anda mengenal diri sendiri?

Bagaimana cara Anda memahami sesuatu?
Apa tipe belajar Anda?
Apakah Anda mengetahui bagaimana otak Anda bekerja?

Bagaimana hubungan otak Anda dengan cara berpikir dan bereaksi Anda?
Bagaimana proses kerja pikiran Anda?
Bagaimana proses kerja emosi Anda?
Bagaimana cara Anda memaksimalkan kerja otak Anda?

Apakah Anda mengetahui apa yang sejatinya Anda inginkan?
Dan bagaimana cara mencapai apa yang Anda inginkan itu dengan apa yang ada pada diri Anda?

Apakah Anda tahu nilai-nilai apa yang mengendalikan diri Anda selama ini, yang Anda yakini dan Anda jadikan standar ukur keputusan Anda?

Sederetan pertanyaan di atas barulah sebagian kecil dari proses mengenal diri sendiri. Masih banyak pertanyaan berikutnya yang mengantre untuk dijawab.

Benarkah kita telah sungguh-sungguh mengenal diri kita sendiri dengan baik?

Apakah kita tahu, bahwa diri kita yang sekarang adalah hasil bentukan dan pilihan kita sendiri di masa lalu?
Apakah kita bisa merancang dan memilih kita ingin jadi siapa dan bagaimana 10 tahun yang akan datang?

Buku Piece of Mind dari Sandy MacGregor banyak sekali menolong saya lebih mengenal dan memahami diri sendiri. Misalnya, saya jadi tahu bahwa tipe belajar saya adalah dengan melihat (visual) dan melakukan (kinestetik). Lihat dan praktekkan! Itulah saya. Sebaliknya saya sulit belajar sesuatu hanya dari mendengar (auditori). Saya ingat, saat sekolah dan kuliah dulu, semua pelajaran baru bisa menyerap ke otak saya ketika saya membaca ulang dan membuat coretan-coretan sendiri di buku saya, dan BUKAN karena mendengar Dosen saya mengajar.

Sandy juga menjelaskan dengan baik tentang cara kerja otak kita. Apa itu otak kiri dan otak kanan. Apa itu gelombang energi otak yang dikenal dengan alpha, beta, theta dan delta.Apa yang disebut pikiran sadar dan bawah sadar. Bagaimana cara mengefektifkan kerja pikiran bawah sadar kita. Apa manfaatnya bagi kita, dst.

Kita tahu bahwa kunci perubahan diri dimulai dari PIKIRAN, dan buku Sandy ini sangat menolong kita mengetahui lebih banyak bagaimana cara berpikir dan menggunakan otak dengan benar dan efektif.

Selain Sandy MacGregor, ada juga tulisan Bpk Ikhwan Sopa yang saya peroleh dari e-mail. Mudah-mudahan dapat menolong kita untuk makin mengenal diri sendiri. Berikut cuplikannya,


Tips 162: Mindset Sukses - Melaju di Tengah Badai

Mindset I: Balancing Your Mind

Selalulah berupaya mengenali cara dan pola berpikir Anda sendiri. Ketahuilah bahwa otak dan pikiran Anda punya dua cara kerja utama. Ada yang bekerja dengan gaya kiri, dan ada yang bekerja dengan gaya kanan.

Cara kerja otak kiri adalah demi bertahan dan survive. Demi keamanan dan keterencanaan. Demi masa depan dan demi tujuan. Ia lebih dekat pada upaya menganalisis keadaan. Ia pandai berhitung, dan pandai memilah-milah dengan ilmiah. Ia kaku dan apa adanya.

Cara kerja otak kanan adalah demi kemajuan dan progress. Demi kepuasan dan keterkendalian. Demi saat ini dan demi pencapaian. Ia lebih dekat pada upaya kreatif. Ia pandai menemukan jejak, dan pandai menyesuaikan diri. Ia fleksibel dan mampu mengadaptasi.

Setiap detik, setiap menit, dan setiap saat, Anda sudah sangat terbiasa mengaktifkan otak kiri Anda.
Sudah saatnya bagi Anda untuk juga membiasakan diri mengaktivasi sisi kanan dari otak Anda. Adalah pada tempatnya jika Anda mulai membiasakan diri berada di dalam keseimbangan pikiran.

Keseimbangan pikiran adalah bekal utama yang pertama untuk bertahan di tengah badai. Tanpa keseimbangan ini, Anda akan merasa tidak berguna, useless, dan tak tahu harus bagaimana. Dengan keseimbangan pikiran, Anda selalu bisa kembali fokus.

Kenalilah state dan kondisi otak dan pikiran Anda setiap saat, agar bisa Anda manfaatkan sehingga Anda bisa efektif dan efisien dalam mencapai tujuan.

Mindset II: Balancing Your Emotion

Otak kiri dan otak kanan Anda erat hubungannya dengan perasaan dan emosi Anda.

Otak kiri Anda berkaitan dengan rasa mampu bertahan dan rasa keselamatan. Erat hubungannya dengan rasa aman dan rasa tetap berada di jalur yang tepat. Erat hubungannya dengan rasa kejelasan tentang masa depan dan rasa mampu mencapai tujuan.

Otak kanan Anda berkaitan dengan rasa memiliki kemajuan dan rasa memiliki peningkatan dalam berbagai tahapan bisnis dan kehidupan. Erat kaitannya dengan perasaan yang datang dan pergi di setiap waktu, dan kadang tidak terkait langsung dengan kondisi yang sesungguhnya. Erat hubungannya dengan rasa "selalu punya jalan" dan "selalu punya harapan".

Keseimbangan di dalam emosi dan perasaan adalah bekal utama yang kedua untuk bertahan di tengah badai. Tanpa keseimbangan ini, Anda akan merasa tidak punya harapan, pudarnya segala impian, dan keputusasaan. Dengan keseimbangan emosi, Anda selalu bisa memperbaiki mood dan perasaan.

Belajarlah untuk mampu mentransformasi segala bentuk energi dari emosi dan perasaan, menjadi energi positif yang mendorong Anda, agar melaju tanpa hambatan di tengah perjalanan.

Mindset III: Keep Moving On

Dengan dua mindset yang terpenting di atas, Anda selalu punya peluang untuk tetap bergerak. Tanpanya, Anda akan selalu merasa berjalan di tempat dan merasa tidak kemana-mana.

Dengannya, Anda semestinya tetap bergerak dengan kreatif. Jika tidak, maka Anda sudah selayaknya menimbang-nimbang ulang keseimbangan Anda. Baik di dalam pikiran, maupun di dalam perasaan.

Dengan keep moving, Anda akan tetap berjalan. Dan dengan keseimbangannya, Anda akan tetap berjalan ke arah yang benar.

Jika ketiga mindset sukses Anda sudah terlatih dan selalu berada di dalam keseimbangannya, maka dipastikan Anda akan tetap sampai ke tujuan.

Kapan?

Anda tak akan bisa memastikan. Waktu bukanlah milik kita. Jaminan untuk Anda hanya satu, yaitu bahwa Anda memang akan terus bergerak sampai ke tujuan.

Just do your best! Dan berdoalah!
Ikhwan Sopa, Master Trainer E.D.A.N.,
http://milis-bicara.blogspot.com

Semoga bermanfaat. Selamat mengenal diri sendiri.

Selasa, 23 Oktober 2007

PIKIRAN & PERASAAN

Kita adalah apa yang kita pikirkan.

Ingin menjadi seperti apa kita, dimulai dari pikiran kita.
Dan bagaimana kita berpikir ditentukan oleh pengalaman yang kita rekam dan kita izinkan untuk mengendap di bawah sadar kita.
Dan pengalaman yang kita pilih, biasanya adalah yang memiliki nilai emosi tinggi, baik emosi negatif maupun positif.

Contohnya: saya selalu berpikir bahwa saya orang yang bodoh dalam hal matematika. Mengapa?
Karena "pengalaman" menunjukkan demikian.
Perhatikan, "pengalaman" yang saya maksudkan di sini mungkin bukan fakta yang sebenarnya, tapi telah saya izinkan untuk saya rekam dari berbagai peristiwa sebagai kenyataan bahwa saya lemah di bidang matematika. Yang saya ingat adalah bagaimana mama terpaksa harus menjelaskan berulang-ulang cara berhitung kepada saya saat saya masih SD. Bagaimana tante saya mengoreksi hitungan saya yang salah, dst, sampai wajah guru matematika saya di SMA yang membosankan, juga nilai C untuk matematika semasa kuliah.
Kebetulan karena saya bertipe visual-kinestetik, maka "pengalaman" dengan sentuhan emosi negatif tersebut terekam dengan mulusnya di otak saya. Setiap kali membayangkan matematika atau angka, maka yang terbayang adalah kegagalan. Ini terjadi berulang-ulang baik saat test masuk perguruan tinggi, saat ujian matematika, saat mengerjakan psikotes untuk melamar pekerjaan, dsb.
Tanpa saya sadari, saya telah mencipta, membentuk dan meyakini bahwa diri saya adalah orang yang tidak bisa matematika (angka) dan tidak suka angka. Saya menjadi gugup dan porak poranda ketika harus berargumentasi dengan orang lain soal angka.

Nah, jadi ketika ingin mengubah suatu karakter atau stigma negatif yang sudah terlanjur melekat pada diri kita, caranya kurang lebih sama.

Kita harus mulai dari pengalaman dengan emosi. Tapi kali ini dengan emosi positif.
Mungkin awalnya agak sulit, karena kita sudah terbiasa cepat merespon pengalaman negatif, akibatnya kurang sensitif terhadap pengalaman positif. Meski demikian, tetaplah mencoba.
Jika perlu, sediakan waktu dan lakukan persiapan khusus untuk memancing pengalaman positif tersebut.

Contohnya yang saya alami sewaktu liburan Idul Fitri baru-baru ini.
Biasanya jika tidak mudik, saya memilih di rumah saja, namun tanpa rencana apapun. Bahkan bayangan saya tentang liburan itu saja sudah negatif. Pembantu pulang, saya repot.

Tapi liburan kali ini, saya ingin mengubah persepsi itu. Jauh-jauh hari saya sudah bayangkan betapa enaknya jika tak ada pembantu. Kami sekeluarga bisa lebih santai, mau bangun siang, mau makan jam berapa, tidur jam berapa nggak jadi soal. Yang penting happy. Selain itu, saya sudah buat daftar, kira-kira apa saja yang mau saya kerjakan selama liburan. Setiap hari saya tambahkan satu dua kegiatan yang tiba-tiba terpikir untuk dilakukan.

Sampai akhirnya, tibalah liburan yang ditunggu-tunggu. Saya pun melakukan APA YANG SUDAH SAYA BAYANGKAN SEBELUMNYA. Dan saya bahagia banget. Inilah liburan yang benar-benar menyenangkan yang pernah saya alami. Yang saya jalani dengan penuh kesadaran, bukan asal lewat saja seperti biasanya.

Menurut buku Piece of Mind dan The Secret yang saya baca selama liburan, pengalaman positif seperti ini jangan dibiarkan cepat berlalu. Nikmatilah berlama-lama setiap jengkal rasanya. Kebahagiaannya, kepuasannya, kegembiraannya, dst. Resapkan ke subconscious mind kita pengalaman berharga ini. Lebih baik lagi, seperti yang saya lakukan selama 10 hari berturut-turut pengalaman positif tersebut berulang-ulang terjadi (meskipun dalam peristiwa yang berbeda).

Pengalaman positif yang mengendap di pikiran bawah sadar kita tersebut, nantinya akan memandu kita untuk berpikir positif ketika kita menggunakan pikiran sadar kita. Juga akan menyeleksi pengalaman negatif yang akan masuk setelah itu. Semakin banyak pengalaman positif yang kita rekam, semakin besar kemungkinan cara kita berpikir berubah menjadi lebih positif.

Pikiran (cara kita berpikir dan apa yang kita pikir) memang sangat menentukan perubahan yang kita rencanakan. Perubahan dimulai dari cara kita berpikir. Tapi jangan lupa bahwa bahasa perasaan atau emosi kitalah yang terbaca oleh subconscious mind kita. Jadi perbaiki dulu yang keliru di tingkat perasaan. Yang belum damai didamaikan. Yang belum release ya diikhlaskan. Jika sudah tak ada yang mengganjal lagi, baru apa yang kita tanamkan di pikiran sadar bisa masuk dan bekerja.

Mengapa saya bisa berpendapat demikian?
Karena dulu, meskipun saya rajin dan hafal ayat-ayat kitab suci, senang membaca buku-buku spiritual dan beraliran positif lainnya, tapi apa yang saya tanamkan tidak bisa bekerja maksimal karena hati saya masih penuh dendam, kebencian, kemarahan dan kepahitan. Baru ketika akhirnya saya setuju berdamai dengan diri sendiri, menerima, mengampuni diri sendiri dan orang lain, penyakit-penyakit emosional tersebut lenyap, dan apa yang pernah saya serap dari bacaan-bacaan tersebut dengan mudah menjadi mutiara dalam diri saya.

Ada 3 cara untuk mengatasi problem emosional seperti yang saya alami di atas:
1. Mengenal diri sendiri
2. Menerima diri sendiri
3. Mengampuni diri sendiri
Baru kemudian, lakukan hal yang sama untuk orang lain.

Sekian dulu postingan hari ini. Semoga bermanfaat.

Salam,