Google
Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Januari 2009

MAKNA KEHIDUPAN


HIDUP adalah sebuah perjalanan panjang,
untuk menemukan siapa diri kita,
dari mana kita datang,
dan kemana kita akan berpulang.

HIDUP adalah sebuah perjalanan panjang,
yang harus dijalani setapak demi setapak,
untuk menemukan makna maupun hikmah,
dari setiap peristiwa yang kita alami,
baik suka maupun duka,
baik derita maupun bahagia.

HIDUP adalah sebuah perjalanan panjang,
yang membuat kita senantiasa belajar dan sadar,
bahwa kita belum tahu apa-apa,
dan bahwa kita bukan siapa-siapa,
ketika kelak kita kembali kepada-Nya

HIDUP adalah sebuah perjalanan panjang,
yang membuat kita makin bijaksana,
atau sebaliknya,
membuat kita tergoda dan terlena,
pada apapun yang berbau fana,
yang membuat kita alpa,
bahwa ada Tuhan yang sedang memperhatikan dan menunggu kita.

HIDUP adalah sebuah perjalanan panjang,
yang indah untuk dinikmati,
jika kita sadar kita sedang menuju kemana.


Pulogebang, 13 Januari 2009
Di tengah derai hujan dan denting piano kekasihku.

Kamis, 01 Januari 2009

RESOLUSI TAHUN BARU















Sebuah iklan di surat kabar beberapa hari yang lalu menarik perhatian saya. Gambarnya menampilkan seperangkat komputer yang ditempeli kertas di sana-sini berisi berbagai resolusi tahun baru, seperti: Mulai nabung buat rumah! Stop ngantor kesiangan! Berhenti bergadang! Rajin beresin kamar! Kerja lebih teliti! Rajin baca, kurangi nonton! Stop belanja nggak perlu! Harus rajin jogging! Stop ngemil, mulai diet!. Dan di bawah gambar tersebut tertulis: Hari baru, janji baru, apa kabar janji kemarin?

Hahaha..., saya jadi merasa tersindir.
Pasalnya saya jadi sadar betapa mudahnya membuat resolusi, tapi betapa sulit mewujudkannya.
Resolusi juga menunjukkan bagian mana yang kita sadari untuk diperbaiki atau ditingkatkan, menunjukkan prioritas hidup kita ke depan, apa yang kita anggap penting untuk lebih mendapat perhatian di hari-hari mendatang.

Kata: Apa kabar janji kemarin? menunjukkan betapa tanpa kita sadari kita sering kurang fokus dan kurang disiplin pada apa yang sudah kita canangkan. Kita mudah tergoda pada hal-hal lain di sepanjang perjalanan dan melupakan janji-janji kita, nazar kita sebelumnya. Kita berdalih bahwa bukankah kita harus fleksibel terhadap perubahan? Jika dalam perjalanan, ada hal lain yang butuh diprioritaskan, bukankah kita harus cepat tanggap mengubah haluan? Dalih-dalih semacam inilah yang sering menjadi penghalang bagi kita untuk mengalami pencapaian-pencapaian yang kita inginkan.

Resolusi bukan asal resolusi dan asal janji.
Resolusi membutuhkan komitmen, dan komitmen lahir dari sebuah perjalanan panjang.
Seseorang perlu memahami dirinya sendiri dan sampai di mana perjalanan spiritualnya saat ini sebelum menetapkan sebuah resolusi.
Resolusi dan komitmen adalah sebuah bentuk ketetapan hati, bukan rencana di kepala.
Pernah saya buktikan bahwa sebuah rencana yang matang dan penuh perhitungan akurat secara logika namun tidak disertai spirit alias semangat dari dalam hati sebagai api-nya, ternyata tidak berhasil direalisasikan menjadi kenyataan. Itulah pentingnya menjaga dan memelihara hati, karena di situlah terletak sumber kehidupan.

Karena itu, mulai tahun 2009 ini saya mengarahkan prioritas resolusi saya pada unsur hati alias manusia batiniah saya, manusia roh saya. Bukannya saya tidak peduli pada materi atau unsur fisik. Bukannya saya tidak butuh rumah atau uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dsb tapi saya yakin bahwa unsur materi akan mengikuti atau memfasilitasi apa yang terjadi pada unsur roh.

Kematangan spiritual adalah tujuan hidup saya.
Itu yang menjadi dasar dan prioritas hidup saya sampai saat ini.
Karenanya, saya merasa gagal atau berhasil dalam hidup ini sangat ditentukan oleh pencapaian-pencapaian saya di sisi spiritual.
Sisi spiritual yang saya maksud ada 2 hal, yaitu hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama.
Katakanlah jika saya berhasil mengembangkan karir secara excellent, tapi karenanya harus mengorbankan hubungan-hubungan dengan rekan sekerja atau keluarga di rumah, maka dalam hal ini saya tidak bisa dikatakan sukses. Karena sejak semula tujuan saya bukanlah karir, tapi hubungan dengan sesama. Sebaliknya, jika saya miskin secara finansial, namun mampu menciptakan rekonsiliasi dengan Tuhan dan sesama sepanjang waktu, maka saya bisa dibilang sukses. Karena dalam hal ini saya berhasil memenuhi tujuan utama hidup saya, yakni menjaga hubungan-hubungan baik dengan sesama dan dengan Tuhan.

Sebuah resolusi semestinya dikaitkan dengan keberadaan diri kita sebagai mahluk roh. Resolusi yang hanya berkisar di soal fisik dan materi hanya akan bertumbuh di sektor fisik dan materi, namun mengabaikan faktor spiritual. Orang-orang semacam ini akan lebih mudah terhempas badai krisis, mudah patah ketika berhadapan dengan kenyataan. Karena pada dasarnya mereka tidak punya Tuhan sebagai sandaran. Mata mereka senantiasa tertuju pada hal-hal semu yang ditawarkan dunia. Hati mereka mudah tergoda pada nikmatnya hiburan yang fana. Namun mereka yang mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaranNya, akan memperoleh lebih daripada semua itu, yakni kebahagiaan yang sejati, sukacita dan damai sejahtera yang selalu menyala-nyala dalam diri. Entahkah kemiskinan menyerbu, atau derita menerpa, mereka tahu untuk apa semua itu harus hadir dalam dirinya. Karena dalam semua pengalaman, selalu ada Tuhan beserta. Itulah yang utama.

Maka, memasuki tahun baru 2009 ini, saya mencanangkan resolusi untuk senantiasa mawas diri, berjaga-jaga dan berusaha mendengar apa yang suara hati saya katakan. Tidak berbantah dan tidak berdalih. Berani jujur dan berbesar hati menerima jika diri berbuat salah. Banyak berdiam diri dan melakukan introspeksi. Dan sesegera mungkin memperbaiki kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, jangan menimbunnya terlalu lama sebagai sampah rohani. Jiwa yang kotor akan sulit melihat dan mendengar akan Tuhan. Dan tanpa Tuhan, hidup kehilangan tujuan dan harapan. Siapa yang sanggup hidup seperti itu?

Akhirnya, selamat beresolusi. Selamat Tahun Baru 2009. Tuhan memberkati. Amin.

Pertumbuhan spiritual kita ditentukan oleh seberapa cepat kita memperbaiki kesalahan-kesalahan kita (ESD)

Kamis, 25 Desember 2008

HADIAH NATAL YANG TERINDAH

Beberapa hari menjelang Natal tahun ini, hati saya tergerak untuk memberi sesuatu kepada orang-orang terkasih yang selama ini hanya bisa saya repoti. Heran juga saya. Tahun-tahun lalu sewaktu masih ngantor dengan gaji berlimpah, tak kepikiran untuk memberi ini dan itu kepada mereka. Tapi justru tahun ini, ketika kami sedang seret secara ekonomi, kok malah hati tergerak untuk berbagi. Itulah misteri ilahi.

Tadinya saya pikir mau memberi buku-buku renungan rohani kepada tiap keluarga kerabat yang kami kunjungi nanti. Tapi sampai hari H-nya, belum sempat juga membelinya ke toko buku. Akhirnya saya tahu, bahwa rencana Tuhan bukan itu. Yang baik belum tentu benar. Tuhan sedang mengajar saya, memberi dalam kesederhanaan. Memberi dalam keterbatasan. Memberi dari apa yang kita punyai, bukan memaksa diri dari apa yang tak kita punyai.

Ternyata yang lebih indah dari semua hadiah Natal yang saya rencanakan adalah HATI saya. NIAT BAIK saya. Kepedulian saya. Perhatian saya. Kesediaan memberi saya. Kesediaan mendengarkan saya. Kesediaan melayani saya. Kesediaan rekonsiliasi saya. Kerendahan hati saya. Tuhan tidak ingin saya memberi buku, melainkan memberi maaf kepada orang-orang yang selama ini belum ingin saya maafkan. Itu adalah hadiah Natal terindah bagi mereka dan juga bagi saya. Kelegaan di hati mereka dan terangkatnya beban di hati saya. Tuhan sudah merancangkan itu semua jauh sebelum saya merancangkan apa-apa sebagai kado Natal bagi mereka.

Tuhan menggerakkan hati saya untuk memberi sekalipun hanya hal-hal kecil. Memberi senyum dan salam Natal kepada anggota keluarga yang sering saya sakiti hatinya adalah permulaan yang baik di pagi ini. Bersyukur bahwa pagi ini bisa ibadah Natal di gereja bersama-sama mama, suami dan anak yang saya cintai adalah keindahan berikutnya. Kemudian membantu mama menjamu tamu yang datang, melayani mereka dengan hati yang ringan dan tawa gembira. O, sungguh menyenangkan. Ada yang berbeda pada diri saya. Saya merasakan lahir dan tumbuhnya manusia baru di dalam diri saya. Manusia baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Ini juga adalah hadiah yang terindah dalam Natal tahun ini.

Setelah itu saya mulai membalas sms yang masuk sejak semalam. Meskipun tahun ini jumlahnya jauh lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya, saya tidak kecil hati. Itu artinya, saya yang harus mulai mengirimkan, bukan hanya mau menerima. Saya melihat daftar nama-nama orang yang ingin saya kirimi ucapan selamat. Ada beberapa di antaranya yang selama ini saya hindari, karena pernah ada konflik di antara kami. Meski mulanya berat dan ingin sekali lagi menghindar untuk tidak menyalami, akhirnya saya putuskan untuk melakukan rekonsiliasi. Beberapa lainnya yang sudah lama tidak saling sapa, atau yang jarang saya sapa, kini saya coba memulainya. Dan Tuhan menjawab niat baik saya. Mereka pun membalas dengan sama antusiasnya. Saya jadi gembira bukan kepalang. Natal telah membantu saya menciptakan momentum rekonsiliasi. Alangkah jauh lebih ringannya hati ini sekarang.

Hal-hal sederhana lainnya yang saya coba berikan adalah memberikan waktu dan perhatian untuk menyapa dan mendengarkan. Saya menelepon para orangtua, memberikan waktu untuk mendengarkan mereka (tidak seperti biasanya, hanya menelepon jika butuh bantuan saja). Dan dengan cara ini ternyata lebih mengena dibandingkan jika saya datang hanya untuk menyodorkan buku. Karena kebutuhan para orang tua ini adalah perhatian, waktu dan telinga kita, juga hati kita untuk mereka. Mereka kedengaran begitu gembira mendengar sapaan saya, membuat saya belajar bahwa uang dan materi bukanlah segala-galanya, juga bukan hadiah yang lebih baik daripada diri kita sendiri.

Dan malam ini, selagi nulis postingan ini, sahabat yang sudah 12 tahun tak jumpa, tiba-tiba menelepon. Pasangan suami istri ini keduanya adalah sahabat saya. Kami ngobrol hampir 1 jam lamanya melepas kangen. Nah, ini adalah bentuk lain dari kado Natal yang saya terima hari ini.

Pendek kata, ternyata hadiah atau kado tidak selalu harus berbentuk barang. Hadiah yang terindah adalah kebahagiaan karena kita memberi, dan akibatnya kita jadi diberi (menerima). Luarbiasa sekali makna Natal yang saya peroleh hari ini. Kita memberi karena kita sudah terlebih dahulu diberi. Berilah maka kamu akan diberi.

Semoga damai Natal senantiasa menyertai kita semua.

Selamat Hari Natal. Tuhan memberkati.

Sukacita yang sejati diperoleh bukan ketika keinginan-keinginan kita terpenuhi, melainkan ketika kita bersedia melaksanakan panggilan Tuhan apapun resikonya. (Pdt. Linna Gunawan, 25-12-2008)

Rabu, 24 Desember 2008

RENUNGAN NATAL 2008








Entah kenapa beberapa tahun belakangan ini saya merasa sulit merayakan Natal seperti sebelum- sebelumnya, yang identik dengan semarak pesta, kerlap-kerlip lampu di pohon Natal, makanan dan kue-kue yang berlimpah, ucapan selamat yang mengalir melalui email dan sms, dan bentuk-bentuk perayaan Natal "fisik" lainnya.

Saya merasa ada yang kosong di dalam. Terutama ketika di negeri ini Natal mulai sering dirayakan berbarengan dengan berbagai bencana alam. Sulit bagi saya untuk menyanyikan lagu-lagu Natal dengan gembira, sementara saya tahu di belahan dunia yang lain sedang prihatin akibat tertimpa musibah.

Apa sebenarnya Natal dan kenapa jadi identik dengan perayaan penuh gempita seperti ini?

Yang saya ketahui, pesan Natal bagi saya pribadi ada 2, yaitu:
1. JANGAN TAKUT! dan
2. TELAH DATANG BAGIMU SEORANG JURUSELAMAT.

Jangan takut! adalah pesan Natal yang paling menggugah bagi saya, bukan hanya karena pada dasarnya saya penakut, tapi pesan ini benar-benar disampaikan Tuhan kepada setiap manusia yang mau mendengarNya. Apa pun yang sedang kita alami, apakah itu musibah bencana alam, sakit penyakit, keretakan keluarga, kegagalan bisnis, kegagalan pendidikan, kehilangan harapan, dsb, dsb.... pesan Tuhan bagi kita hanya satu JANGAN TAKUT. Dengan kata lain: BERANILAH! Karena apa? Karena kita tidak sendiri lagi. Itu pesan yang kedua. Karena TELAH LAHIR BAGIMU SEORANG JURUSELAMAT.

Juruselamat tak lain dan tak bukan adalah Tuhan sendiri yang telah berjanji tak akan meninggalkan kita. Itu adalah janji Tuhan yang sungguh menguatkan. Tuhan berjanji akan senantiasa hadir di dalam kita, di antara kita, menyertai kita, apapun yang terjadi. Dan itu lebih dari cukup untuk memompa keberanian kita dalam mengarungi arus kehidupan ini.

Dan setelah itu apa?

Setelah kita mengetahui dan mempercayai janji-janjiNya tersebut, lantas apa?
Kita tak boleh berdiam diri dan berhenti hanya sampai di sini saja, karena pesan Natal tersebut harus disampaikan. Disampaikan kepada siapa? Kepada yang membutuhkannya. Yaitu orang-orang yang merasa kosong di dalam seperti saya, orang-orang yang sedang cemas, kuatir, depresi, patah semangat, takut menghadapi hidup ini, kehilangan harapan, kehilangan makna hidup, dsb. Itu sebabnya saya merasa kurang "pas", jika Natal hanya dirayakan sebagaimana saya sebutkan di atas tadi. Natal semestinya kita hadirkan sebagai penyemangat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, terutama mereka yang lebih menderita dari kita.

Saya ingat bahwa Yesus yang kita rayakan pun tak lahir di tengah kemegahan dan gemerlap cahaya. Ia lahir dalam suasana prihatin dan ketegangan. Namun justru di situlah Ia membawa cahaya bagi orang-orang di sekitarnya.

Apakah kita yang merayakan Natal saat ini juga telah membawa cahaya bagi orang-orang di sekitar kita? Apakah kita juga turut berbela rasa dengan mereka yang menderita, yang saat ini berada di pengungsian akibat longsor dan kebanjiran? kehilangan rumah dan harta benda karena kebakaran dan penggusuran? kehilangan sanak saudara dan anggota tubuh karena peperangan dan penganiayaan? Sudahkah kita menyampaikan kabar baik tentang JANGAN TAKUT karena TELAH LAHIR BAGIMU JURUSELAMAT kepada mereka?

Natal adalah kelahiran Tuhan dalam hidup kita. Jika Ia telah lahir di dalam kita, bagaimana mungkin kita tidak menunjukkan tanda-tanda kehadiranNya dalam hidup kita? Setidaknya, biarkanlah sesama kita melihat dan merasakan bahwa Tuhan ada, melalui sikap dan teladan hidup kita.

SELAMAT NATAL 2008. TUHAN MEMBERKATI KITA SEMUA.

Salam,

Minggu, 20 Juli 2008

Keindahan Ciptaan Tuhan

Sudah lama gak update blog. Baru-baru ini mudik lagi ke Wonosobo, nemenin si kecil yang lagi liburan sekolah. Iseng-iseng saya motret tanaman mama yang tumbuh dengan indahnya di sekeliling rumah. Setelah bertahun-tahun, kenapa baru sekarang ya perhatian saya seolah tersedot untuk mengagumi ciptaan Tuhan yang bernama tanaman ini? Padahal biasanya pemandangan yang sama hanya mampu membuat saya berlalu begitu saja. Adakah hati yang berubah membuat cara pandang berubah?





Selasa, 11 Maret 2008

God Loves Story

Hidup adalah serangkaian cerita. Sejarah panjang peradaban manusia ditorehkan dalam berbagai kisah yang menawan. Mulai dari kisah-kisah heroik yang menimbulkan inspirasi hingga yang saking sepelenya nyaris tak mampu diingat lagi.

Setiap manusia mempunyai kisah hidupnya sendiri. Pendek kata, bukan hanya kisah para pahlawan dan tokoh dunia saja yang perlu diabadikan dalam biografi, namun setiap kita mempunyai peluang yang sama untuk mengukirkan kisah kita di prasasti kehidupan ini.

Karena hidup itu bergerak, penuh dinamika, maka ia bisa menjadi cerita. Bayangkan hidup yang sepenuhnya statis dan itu-itu saja, betapa amat membosankan.

Namun perubahan dan dinamika selain menimbulkan gairah dan antusiasme juga menuntut pengorbanan dan penderitaan. Keseimbangan di antara keduanya itulah tujuan kita, dan memaknai keduanya itulah keindahannya.

Banyak orang berontak saat menderita. Mereka tidak siap, dan tidak mau menghadapinya. Jika boleh memilih, inginnya menghindari saja yang namanya penderitaan itu. Di sisi lain, para bijaksana justru seolah mencari penderitaan. Mereka menyepi di gunung dan hutan, menjauh dari keramaian. Mereka menghindari makanan enak dan memabukkan. Mereka sanggup menahan diri dari kantuk dan letih untuk terus melantunkan doa-doa di gelap malam. Semua ini menunjukkan betapa penderitaan bisa menjadi lawan tapi bisa juga menjadi teman. Bisa dijauhi tapi bisa pula dicari. Intinya, bukan penderitaan itu yang menjadi sebab maupun akibat. Tapi bagaimana kita memainkannya. Bagaimana kita menjadikannya sebagai sebuah cerita.

Pertanyaan klise yang nyaris abadi, apakah Tuhan benar-benar ada? Dan jika Ia ada mengapakah masih juga ada penderitaan? Mengapa Tuhan mengizinkan terjadinya penyakit, peperangan, bencana alam di mana-mana yang menelan banyak korban?

Saya bukan Tuhan dan tidak dalam kapasitas menjawab pertanyaan tersebut. Saya hanya seorang pengamat yang mencoba menelisik ke balik layar, di mana sang Dalang sedang memainkan tokoh-tokoh wayang di tanganNya. Sang Dalang, penyuka cerita, dan yang mampu membuat tontonan menjadi menarik, sekalipun harus berakhir tragis dan dramatis.

Hidup kita adalah sebuah cerita. Kita-lah pemainnya. Saat-saat yang paling indah dalam sebuah cerita adalah puncak klimaksnya. Di situlah biasanya menjadi puncak pertemuan manusia dengan Tuhan. Yaitu ketika kita mempertanyakan, kita menggumulkan, kita bergelut, kita menangis dan meratap hingga akhirnya menemukan titik kesepakatan denganNya.

Kita dan Tuhan ada dalam cerita. Kita dan Tuhan menentukan jalan cerita. Kita dan Tuhan bekerjasama menyelesaikan cerita. Tugas kita adalah memainkan peran kita sebaik mungkin selama berada di panggung kehidupan ini.

Rabu, 19 Desember 2007

Selamat Natal & Tahun Baru!

Selamat Natal 2007 bagi yang merayakannya.

Selamat Tahun Baru 2008.

Apa pun yang akan terjadi pada hari-hari mendatang, percayalah bahwa semua itu boleh terjadi atas seizin Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Ialah yang memberikan hari-hari baik kepada kita, namun juga mendidik kita dengan berbagai pengalaman yang mungkin sulit kita pahami, tapi besar hikmahnya bagi mereka yang rela menerimanya.

Yang jelas dan pasti, Ia tak pernah meninggalkan kita sendiri.
Ia selalu bersama kita, dalam segala suka dan duka.

Diberkatilah mereka yang mau mendengar dan melakukan apa yang difirmankanNya.

Tuhan beserta kita sekalian. Amin.

Kamis, 20 September 2007

Ulang Tahun ke 40 (2)

Bagaimana saya merayakan ulang tahun ke 40?

Pagi-pagi saya dibangunkan Latu dan Ayahnya dengan nyanyian mereka... Happy Birthday Mama.... Happy Birthday Mama....
Dan dengan wajah cerah ceria mereka membawa hadiah kejutan buat saya. Sebuah kotak berbungkus hijau yang mereka ingin segera saya buka.

Dengan mata masih terkantuk-kantuk - karena malamnya saya tidur agak larut sepulang dari rumah sakit - saya membuka bungkusan itu.
Sebuah mug yang bergambar kami bertiga dan bertuliskan "Dari Ayah dan Latu, 10 September 2007".

Waow terharu saya jadinya. Saya pun memeluk dan mencium mereka berdua. Terima kasih ya?
Bukan bentuk barang atau harganya yang menjadi penilaian saya. Namun besarnya perhatian, waktu yang mereka curahkan serta cinta yang mereka taburkan untuk mempersiapkan kado itulah yang tak terhingga nilainya. Tak mungkin terbalas dengan kata-kata atau apapun juga.

Ayah and Latu, I love you so much... :-))

Setelah membantu Latu mempersiapkan diri untuk ke sekolah, saya sendiri pun berkemas untuk ke rumah sakit. Ya, sudah 4 hari saya tidak ke kantor dan menghabiskan waktu di RS untuk menemani mama yang opname di sana. Ada gangguan pencernaan yang menyebabkan setiap makanan yang masuk ke tubuh mama akan keluar lagi baik melalui atas maupun bawah. Ini hari kelima yang akan menentukan apakah mama akan diizinkan pulang atau belum. Dan doa saya adalah semoga di hari yang berbahagia ini, saya boleh membawa mama pulang ke rumah dalam keadaan sehat wal'afiat.

Telpon dan sms ucapan selamat ulang tahun datang silih berganti ke ponsel saya. Dari Om dan Tante di Wonosobo, om dan tante yang di Jakarta, kakak adik, saudara-saudara sepupu, ipar dan mertua, teman-teman sekantor bahkan sahabat semasa kuliah, sahabat di Bali... wah, besarnya perhatian mereka pada saya... sungguh saya patut mengucap syukur pada Tuhan atas limpah rahmatNya di usia saya yang ke 40 tahun ini.

Akhirnya doa saya terjawab. Setelah menjalani proses anuscopy, mama diperbolehkan pulang. Kakak dan salah seorang adik menyelesaikan urusan adminitrasi RS, sementara saya dan seorang adik lagi membereskan kamar. Mama pun dibawa keluar kamar dengan kursi roda. Pukul setengah empat sore rombongan kami tiba di rumah.

Petang hari, setelah bangun dari istirahat sejenak, saya membuatkan bubur, sayur bening dan tempe becek untuk makan malam mama. Saya senang melihat mama menyantap makanan buatan saya dengan lahap. Tiba-tiba adik saya menginstruksikan agar saya dan keluarga (Latu dan ayahnya) berkumpul setelah makan malam karena mama ingin mengajak berdoa bersama. Saya pun mengiyakan saja, karena mungkin mama ingin mengucap syukur pada Tuhan atas kepulangannya dari rumah sakit.

Sungguh surprise karena ternyata mama mengajak berdoa bersama dalam rangka ulang tahun saya! Mama membacakan sedikit ayat kitab suci, kemudian berdoa. Dalam doanya mengalirlah permohonan dari lubuk hati yang terdalam akan datangnya berkah dan kebaikan bagi saya dan keluarga pada tahun-tahun mendatang. Saya sangat terharu dengan doa mama. Sungguh inilah kado terindah dan penuh makna yang boleh saya terima dari mama yang tercinta dalam keadaannya yang berbeda dengan saya. Ia yang masih sakit, dan saya yang sedang berbahagia. Hanya cinta kasihlah yang mampu menyatukan dua keadaan yang berbeda itu.

Belum selesai keterharuan saya, begitu kata "Amin" diucapkan mama, Latu dan adik-adik saya menyerbu kulkas dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Astaga, kejutan lagi. Ada kue-kue kecil dari ice cream yang sudah disiapkan mereka entah sejak kapan. Sungguh, malam itu saya sangat berbahagia. Rasanya semua orang mengingat saya, memberikan cinta dan perhatiannya yang terbesar kepada saya. Terimakasih mama, terimakasih adik-adikku Kenti dan Kunye, terimakasih Ayah suamiku yang tercinta, terima kasih anakku Lelatu... kalian semua adalah mata hatiku. Cintaku yang abadi.

Saya tak pandai berkata-kata. Saya juga tak pandai merangkai kata. Tapi apa yang saya alami di hari ulangtahun saya yang ke 40 tahun ini sungguh patut dikenang dalam bentuk tulisan semampu saya bisa, untuk menunjukkan betapa indahnya jika cinta di antara kita...

Semoga cinta ini bisa menular kepada siapapun yang membaca tulisan ini.
Selamat saling mencintai. Tuhan ada di antara kita yang saling mencinta.

Salam penuh cinta,

Selasa, 11 September 2007

Ulang Tahun ke 40 (1)

Tanggal 10 September kemarin, akhirnya tiba juga momen yang saya tunggu-tunggu dalam hidup ini, yakni ketika usia saya memasuki kepala 4 alias sudah 40 tahun lamanya saya hadir di dunia ini.

Ada beberapa hal yang telah saya persiapkan jauh-jauh hari demi menyambut momen penting ini. Namun semuanya bermuara pada satu inti, yakni menjadikan momen ini sebagai titik pijak kesadaran saya dalam menghargai hidup, memaknai hidup, menjadikan hidup lebih berarti baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Lho memangnya sebelum kepala 4 belum menemukan kesadaran itu?
Tentu saja ada dan progress juga ada. Saya juga tak bermaksud menganggap 39 tahun sebelumnya tak berarti, tapi yang saya inginkan adalah semacam memancangkan tugu peringatan dalam memori saya bahwa kepala 4 adalah tahun lahirnya diri saya yang baru, dengan komitmen baru, mindset yang baru, disertai catatan perubahan yang jelas, dan rinci menuju pribadi yang lebih baik.

Lantas persiapan apa yang saya lakukan dalam menyambut hari besar saya tersebut?

Terinspirasi oleh email Bp Djodi Ismanto tentang transformasi yang dialami burung Elang pada usianya yang ke 40, saya pun merancang program transformasi yang ingin saya jalani menjelang dan setelah usia 40 tahun. Berikut artikel yang dikirim Bp Djodi:

Kehidupan Sang Elang

Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia.
Umurnya dapat mencapai 70 tahun.
Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40.
Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga sangat menyulitkan waktu terbang. Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan:
(1) Menunggu kematian, atau
(2) Mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan
--- suatu proses transformasi yang panjang selama 150 hari.
Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung
untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di sana selama proses transformasi berlangsung.
Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru.
Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu.
Suatu proses yang panjang dan menyakitkan.

Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali.
Dengan paruh dan cakar baru, elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi!
Dalam kehidupan kita ini, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yang sangat berat untuk memulai sesuatu proses pembaharuan. Kita harus berani dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun kebiasaan lama itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan melenakan. Kita harus rela untuk meninggalkan perilaku lama kita agar kita dapat mulai terbang lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan.
Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar hal-hal yang baru, kita baru mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita yang terpendam, mengasah keahlian baru dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan. Halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam diri sendiri dan andalah sang penguasa atas diri anda.

Jangan biarkan masa lalu menumpulkan asa dan melayukan semangat kita.
Anda adalah elang-elang itu.
Perubahan pasti terjadi.
Maka itu, kita harus berubah!

God Bless You !

Nah, artikel inilah yang mendorong saya untuk melakukan perubahan yang berarti di usia 40. Dahsyat bukan?

Apakah Anda tertarik untuk mengetahui program transformasi yang saya rancang untuk diri sendiri? Nantikan di postingan berikutnya.

(Mohon maaf, karena postingan hari ini harus berakhir di sini dulu).

Salam,

Senin, 13 Agustus 2007

Makna Penderitaan

Bagaimana cara kita sebagai mahluk spiritual bisa mencapai pencapaian tertinggi kita, yakni menjadi pribadi yang matang, bijaksana, tidak egosentris dan memiliki orientasi yang global universal?

Jalan satu-satunya untuk menuju ke sana adalah jalan PENDERITAAN.

Gambar pohon dengan batang dan akarnya yang kuat di samping ini menunjukkan betapa tanaman ini telah mengalami berbagai "ujian" dari alam untuk bisa bertahan hidup. Pohon yang bisa tumbuh sekokoh ini pasti sudah mengalami deraan angin kencang, hujan badai, kekeringan, dan berbagai peristiwa alam lainnya.

Kita sebagai manusia juga begitu. Kadang kita tak mengerti kenapa kita harus mengalami itu dan ini. Tapi suatu ketika nanti baru kita sadari, bahwa kita bukanlah yang dulu lagi. Ketika suatu ujian berhasil kita lalui, kita menjadi manusia yang lebih kuat, lebih tegar dan lebih bijaksana dalam menyikapi hidup.

M. Scott Peck, dalam bukunya yang sangat terkenal The Road Less Travelled menuliskan demikian:

Hidup itu sulit.
Hidup memang merupakan rentetan masalah.

Sebenarnya yang membuat hidup kita menjadi lebih sulit adalah bahwa proses menghadapi dan mengatasi masalah-masalah itu merupakan penderitaan tersendiri...
Ini sebenarnya karena rasa sakit yang ditimbulkan oleh kejadian atau pertentangan yang ada di dalam diri kita sendiri. Inilah yang kita sebut masalah.

Justru dalam proses menghadapi dan mengatasi masalah itulah hidup kita mempunyai makna. Masalah adalah garis pemisah antara keberhasilan dan kegagalan....

Sebenarnya dapat kita katakan bahwa masalah itulah yang menciptakan keberanian dan kebijaksanaan kita. Hanya karena adanya masalah itulah kita bisa bertumbuh dewasa secara mental dan spiritual...

Seperti yang dikatakan Benyamin Franklin, "Hal-hal yang menyakitkan itu memberi pelajaran tertentu".
Inilah alasannya mengapa orang-orang bijaksana selalu belajar untuk tidak takut akan masalah, tetapi justru mau menghadapinya dan mau menerima penderitaan dari masalah tersebut.

Sungguh kata-kata yang sangat menggugah. Terutama bagi saya yang sejak kecil sangat takut terhadap penderitaan. Sungguh, jika boleh saya selalu ingin lari dari penderitaan. Dan itulah yang selalu saya lakukan sampai usia saya yang ke-30. Itulah yang menyebabkan saya tak kunjung beranjak dewasa, secara mental dan spiritual :-) hahaha...
Tapi dari usia 30 hingga sekarang, saya tak bisa lari dan lari lagi setiap waktu. Yaitu sejak saya menikah. Nah, lo... menikah ternyata membawa saya ke "jurang penderitaan" tetapi sekaligus membentuk karakter saya menjadi lebih kokoh dan tegar.

(Bagi yang belum menikah, jangan takut... karena surga atau neraka dalam kehidupan pernikahan kita, kita sendirilah yang menentukan dan menciptakannya... :))

Selanjutnya dari Dr. Peck, ada alat yang paling hakiki yang kita butuhkan untuk mengatasi masalah hidup yakni dengan DISIPLIN.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan sarana, teknik, cara menderita yang konstruktif yang biasa disebut dengan DISPILIN itu? Dr. Peck menyebutkan ada 4 unsur yaitu:

  1. Menunda kepuasan
  2. Menerima tanggung jawab
  3. Menjunjung tinggi kebenaran dan
  4. Menyeimbangkan
Kemauan untuk mempergunakan sarana itu adalah CINTA.
Bila kita mencintai sesuatu, itu artinya hal itu ada maknanya bagi kita. Dan bila sesuatu itu bermakna bagi kita, kita akan menyediakan waktu untuknya, mengaguminya dan memeliharanya.

Saya jadi ingat, apa yang saya anggap bermakna bagi saya saat ini adalah anak saya Lelatu Di Hening. Meskipun statusnya adalah anak, tetapi bagi saya dia adalah guru saya dalam kehidupan ini. Karena cinta saya yang begitu besar kepadanya, saya sampai mau melakukan hal-hal yang tadinya sangat saya takuti. Atau membuang kebiasaan buruk yang semula saya enggan mengubahnya.
Contoh, saya tidak suka matematika sejak kecil. Tapi karena Latu sudah sekolah sekarang dan mau tak mau saya harus membimbingnya belajar matematika, maka saya harus mau berhadapan dengan pelajaran yang tak saya sukai tersebut. Dengan sedikit memaksakan diri saya belajar sempoa. Kemudian kami bermain sempoa bersama. Tanpa terasa, tiba-tiba saya sudah menikmati cara berhitung dengan sempoa.
Memasuki kelas 2 SD, Latu akan belajar perkalian. Jauh-jauh hari saya sudah mempersiapkan diri. Kebetulan ada buku baru dari Bapak Adi W. Gunawan: Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian. Langsung saya beli buku itu dan saya terapkan belajar bersama dengan Latu. Ternyata pembelajaran berlangsung dengan mudah dan menyenangkan. Yang lebih spektakuler lagi, saya berhasil mencari cara menghitung sendiri yang tidak disebutkan dalam buku itu. Waow, senangnya....., sudah berhasil mengalahkan ketakutan, dapat bonus pula menemukan cara baru dalam menghitung perkalian. Terimakasih pak Adi...
Padahal kalau dulu setiap menghadapi hal yang menakutkan begini, saya pasti lari... (Itu yang membuat saya benci matematika sampai tua... hahaha...)

Yah, itulah kekuatan CINTA yang katanya: Beareth all things, believeth all things, hopeth all things, endureth all things. CINTA itu menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Mudah-mudahan kita semua diberkahi untuk mempunyai cinta yang sejati seperti ini.

Salam,

Jumat, 10 Agustus 2007

Karakter Yang Matang

Kita sudah bicara tentang diri kita sebagai mahluk spiritual. Kita juga sudah bicara tentang tujuan akhir dari keberadaan kita di alam semesta ini, yakni pertumbuhan karakter kita. Pertanyaan selanjutnya adalah, bertumbuh sampai menjadi apa?

Kita semua tahu hukum pertumbuhan di bumi ini. Saat benih tanaman ditaburkan dan berkolaborasi dengan unsur hara di dalam tanah, ia pun mulai bertumbuh. Mula-mula akarnya, kemudian batang, daun dan bunga. Puncak pertumbuhan suatu tanaman adalah ketika ia menghasilkan buah, dan buah itu pun masih terus bertumbuh, dari kecil dan muda menjadi besar dan matang. Keadaan buah yang matang ini siap dinikmati (baca: memberikan dirinya) untuk pihak lain. Buah yang matang pun ada bermacam-macam kualitasnya. Kualitas unggul tentu lebih diincar oleh penikmatnya. Jadi, pencapaian tertinggi dari suatu tanaman adalah menghasilkan buah yang matang dan berkualitas unggul.

Demikian juga kita sebagai mahluk spiritual, pencapaian tertinggi kita adalah mempunyai karakter yang matang dan unggul. Seperti digambarkan oleh Dr. Michael Newton dalam Journey of Souls, kelompok roh juga terdiri dari kelas-kelas tertentu sesuai tingkat kematangannya. Ada roh yang belum matang; roh menuju matang dan roh yang matang. Roh yang belum matang mempunyai sasaran transformasi terdekat menjadi roh menuju matang. Roh menuju matang selanjutnya akan terus memperbaiki diri agar menjadi roh yang matang, dst.

Newton dalam buku versi Indonesianya, hal 242 menuliskan:

Beberapa indikasi dari roh yang matang adalah memiliki kesabaran terhadap masyarakat dan menunjukkan kemampuan menangani sesuatu dengan luar biasa. Yang paling menakjubkan adalah wawasan mereka yang begitu mendalam..... Mereka bisa dijumpai dalam semua jalan kehidupan, tetapi seringnya dalam profesi pelayanan atau menentang ketidakadilan dalam masyarakat dengan gayanya sendiri-sendiri. Tanpa dimotivasi oleh mencari keuntungan pribadi, mereka mungkin mengabaikan kebutuhan fisik mereka sendiri dan menjalani hidup yang tarafnya di bawah rata-rata...

Newton memberi contoh roh yang matang ini salah satunya adalah Mother Teresa, yang...
tanpa memperlihatkan kelebihan diri, pencapaian mereka bersumber pada upaya memperbaiki kehidupan orang lain. Mereka tidak begitu berfokus pada masalah institusional, namun lebih pada peningkatan nilai-nilai individu.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana menjadi roh yang matang?
Menurut Newton (hal 354) : Kita tidak perlu mengubah siapa diri kita dalam kaitannya dengan pengalaman hidup, namun kita perlu mengubah reaksi negatif kita terhadap peristiwa negatif yang ada.

Wah, kata-kata terakhir ini sungguh powerful. Saya jadi teringat postingan Jennie S. Bev tentang A Message of Gratitude tanggal 3 Agustus 2007 yang lalu:

Setiap hari pasti ada yang saya syukuri, walaupun kadang-kadang terasa “tidak ada apa-apa yang bisa disyukuri,” jika sedang bete habis. Tapi kalau dipikir-pikir, pasti ada. Hal-hal kecil yang kelihatannya biasa-biasa saja, sering kali merupakan sesuatu yang istimewa. Just think and feel it, you’ll find it.

Ini salah satu contoh bagaimana bereaksi positif terhadap peristiwa negatif yang sedang dialami (Thanks Jen).

Saya ingin menutup postingan hari ini dengan sekali lagi mengutip tulisan Newton hal 181:

Jika kita menjadi marah, benci dan bingung oleh berbagai situasi kehidupan, hal itu tidak lantas berarti bahwa kita memiliki roh yang belum berkembang. Perkembangan roh adalah persoalan rumit di mana kita semua maju setingkat demi setingkat di bidang dan pendekatan yang berbeda-beda. Yang penting bagi kita adalah: mengenali kesalahan, menghindari penyangkalan diri dan memiliki keberanian serta kemampuan untuk melakukan penyesuaian yang terus menerus dalam hidup.

Semoga kita semua terus bergerak dan bertumbuh menjadi pribadi yang matang dan unggul sehingga keberadaan kita dapat menjadi manfaat bagi orang lain dan lingkungan di sekitar kita.

Salam,

Kamis, 09 Agustus 2007

Kita Mahluk Spiritual

Dalam usaha menemukan takdir saya, satu hal yang menjadi titik berangkat saya adalah: We are not a human being and having a spiritual experience. But we are a spiritual being and having a human experience).

Itu berarti jangan pusing dengan "kemasan" kita saat ini, tetapi berjuanglah untuk sesuatu yang lebih abadi, yakni tujuan hidup yang berkaitan dengan keberadaan kita sebagai mahluk "roh". Kenali dulu sifat dan karakteristik diri kita sebagai mahluk roh, niscaya kita bisa lebih mudah menemukan arti dan tujuan hidup kita di dunia saat ini.

Saya sangat tertolong dengan buku Journey of Souls dari Dr. Michael Newton, yang memaparkan hasil risetnya tentang kehidupan alam roh melalui cara Past Life Regression. Buku ini mungkin akan memicu kontroversi tentang ada atau tidaknya reinkarnasi. Tetapi bukan itu tujuan saya mengulasnya di sini, melainkan informasi mengenai kehidupan sebelum kita diwujudkan menjadi manusia di bumi ini.

Di buku ini dipaparkan bahwa ketika sesosok mahluk roh katakanlah beridentitas X hendak "diturunkan" ke bumi, ia diminta untuk menganalisa dan menentukan sendiri ia ingin turun menjadi siapa dan apa yang ingin ditujunya. Biasanya tujuan ini berkaitan dengan pertumbuhan karakternya.

Contoh, si X ini ingin mencapai karakter yang sabar dan tahan menderita. Maka ia dan anggota kelompoknya mengajukan usulan ini ke dewan Tua-tua. Jika disetujui, maka dibuatlah semacam skenario, misalnya ia akan lahir sebagai perempuan bernama Ester. Sementara anggota kelompok yang lain ada yang ditentukan menjadi Ayah, Ibu, suami, maupun anak si Ester. Semuanya bersatu dan berkomitmen untuk mewujudkan tujuan Ester menjadi lebih sabar dan tahan menderita. Dalam perannya nanti, mungkin saja Ibu dari Ester jadi tokoh antagonis. Ayah jadi tokoh protagonis. Tapi sekali lagi, semuanya mempunyai satu tujuan yang sama yang sejak awal sudah direncanakan. Pokoknya mirip dengan ketika kita ingin mengadakan pertunjukan drama. Ada yang berperan sebagai X, ada yang sebagai Y, dst, dengan satu tujuan mementaskan drama dengan lakon tersebut.
Mirip kan dengan lagunya Ahmad Albar, dunia ini panggung sandiwara....? :-)

Itu sebabnya di awal tulisan ini saya sarankan untuk tidak terlalu pusing dengan kemasan atau label. Karena kemasan atau label itu semudah kita mengganti baju peran kita di panggung drama. Saya bernama Ester atau bernama Ani, itu tak ada hubungannya dengan pertumbuhan karakter kita. Saya bekerja sebagai manager atau sebagai penyapu jalan, selama itu tak ada kaitannya dengan pertumbuhan karakter saya, itu tak ada gunanya. Tapi jika sebagai manager saya jadi punya kesempatan untuk ikut pelatihan yang mencerahkan dan membuat kebiasaan marah dan suka menggerutu saya menjadi berkurang bahkan hilang, maka peran manager itu cukup besar nilainya dalam perjalanan hidup saya.

Jadi yang paling penting menurut saya, kita harus mencari tahu, ketika kita dilahirkan ke bumi itu untuk belajar apa.

Rick Warren, penulis buku best seller Purpose Driven Life Dalam sebuah wawancara dengan Paul Bradshaw, mengatakan:

Orang-orang bertanya kepada saya, apa tujuan dari hidup? Dan jawab saya: hidup adalah persiapan untuk kekekalan. Suatu hari jantung saya akan berhenti, dan itu akan menjadi akhir dari tubuh saya tapi bukan akhir dari saya. Allah menginginkan kita melatih di dunia apa yang akan kita lakukan selamanya dalam kekekalan.

Hidup adalah sebuah seri dari masalah-masalah. Alasan untuk ini adalah: Tuhan lebih tertarik kepada karaktermu daripada kesenangan / kenyamanan hidupmu. Tuhan lebih tertarik untuk membuat hidupmu suci daripada membuat hidupmu senang. Kita bisa cukup senang di dunia, tapi itu bukanlah tujuan dari hidup. Tujuannya adalah pertumbuhan karakter.

Dengan demikian, siapa orangtua kita, kakak, adik, suami/istri, anak-anak kita; seperti apa keadaan dan karakter mereka; apa pekerjaan dan jabatan kita saat ini; mengapa saya harus bekerja di perusahaan A dengan atasan si X, dll, sebenarnya tak perlu dipersoalkan. Mereka ada dan dipertemukan dengan kita mungkin justru sebagai fasilitas untuk membantu kita mencapai pertumbuhan karakter kita yang tertinggi. Jadi, jangan pernah marah atau kecewa jika mereka tidak sesuai dengan harapan kita. Cobalah berpikir terbalik, jika seseorang mengecewakan kita, mungkin tujuan akhirnya adalah supaya kita menjadi lebih sabar, tidak mudah marah dan tidak gampang kecewa. So, seperti kata Jennie S. Bev.... syukuri saja...!!!

Sedikit cuplikan dari tulisan Newton versi Indonesia (hal 353):

Memahami diri sendiri secara spiritual berarti memahami alasan kita memasuki kehidupan bersama roh orangtua, saudara, pasangan dan sahabat... Ingatlah bahwa selain menerima pelajaran, kita juga hadir di bumi untuk turut berperan dalam drama pelajaran orang lain.

Salam,

Selasa, 31 Juli 2007

Sang Alkemis

Dalam perjalanan hidup saya yang akan memasuki usia kepala 4 bulan September nanti, saya masih terus bertanya apa sebenarnya tujuan saya berada di bumi ini?
Kisah pencarian takdir atau "legenda pribadi" sebagaimana yang saya gelisahkan di atas sedikit terjawab melalui karya indah Paulo Coelho, penulis asal Brazil dalam bukunya Sang Alkemis (The Alchemist). Itu sebabnya, novel ini menjadi salah satu buku favorit saya, yang meneguhkan dan menguatkan saya untuk terus mencari dan menemukan takdir saya.
Sang Alkemis menuturkan kisah perjalanan seorang anak gembala asal Andalusia bernama Santiago yang ingin mencari harta karun sesuai mimpinya.
Beberapa hal menarik yang saya catat dari kisah ini adalah:
Karakter Santiago
Meskipun figur Santiago di sini disebut sebagai "bocah", sebenarnya ia sudah berusia lebih dari 16 tahun. Hingga usianya yang ke 16, ia hidup dan belajar di seminari untuk menjadi pastor - sesuai keinginan ayahnya. Namun dari buku-buku yang dibacanya di seminari, tumbuhlah minat dan impiannya yang tidak sejalan dengan keinginan ayahnya. Ia ingin berkelana dan ingin tahu tentang dunia. Ia pun memberanikan diri menyatakan hasratnya kepada sang Ayah yang akhirnya dengan berat hati menyetujui niat anaknya. Maka Santiago pun beralih profesi dari seorang calon pastor menjadi seorang gembala domba.
Dalam menggembalakan dombanya, Santiago tak berhenti belajar. Ia rajin mengamati segala hal, mulai dari sifat dan gerak-gerik domba-dombanya, membaca tanda-tanda alam, juga meneruskan kebiasannya membaca buku. Satu hal lagi, jika ia mengingini sesuatu, ia akan ngotot mencari tahu hingga mendapatkan apa yang ia inginkan. Kemauannya keras. Juga berani. Karakter itulah yang membawanya menyusuri perjalanan dari kampungnya di Andalusia (Spanyol) menyeberangi selat (Gibraltar) menuju Tangier, dan dari sana ia mengarungi gurun (Sahara) sampai ke piramida (Mesir).
Mimpi Santiago
Dalam bahasa NLP dan Hypnoteraphy yang sedang marak saat ini, mimpi Santiago yang membawanya kepada petualangan menemukan harta karunnya adalah lambang dari pikiran bawah sadar kita (subconscious mind). Kita semua pasti pernah bermimpi, atau berimajinasi. Dan ketika impian atau imajinasi kita bersentuhan dengan emosi tertentu yang melahirkan sebuah kegairahan, saat itulah pikiran bawah sadar kita merekamnya sebagai sesuatu yang kita minati atau kita dambakan. Selama apa yang kita dambakan tersebut belum kita peroleh, kita akan terus mencari dan berjuang mencari sampai ketemu. Karena dorongan intrinsik manusia memang mencari tahu (eksplorasi) apa yang ingin dia ketahui.
The Power of Focus
Santiago seorang pengembara yang sangat fokus. Meskipun dalam perjalanannya ia banyak bertemu orang dan peristiwa, ia tetap fokus pada piramida, tempat harta karun yang diimpikannya. Fokus artinya tahan godaan, juga tahan bantingan, tahan penderitaan.
Contoh kedahsyatan fokus bisa dicontohkan dengan ilustrasi ini.
Kita semua tahu pipa (slang air) untuk menyiram kebun, bukan?
Nah, jika slang yang kita gunakan bocor di sana-sini, apa jadinya?
Maka air yang tiba di ujung pipa hanya tinggal sedikit bahkan tak mampu untuk menyiram kebun bukan?
Tapi ketika slang yang kita gunakan rapat dan mulus, maka air dari kran dengan deras mengalir dan menyembur dari mulut pipa dengan kuat dan dahsyat.
Slang yang tidak bocor adalah ibarat energi yang fokus dan tidak tersebar kemana-mana.
Sama halnya dengan meditasi. Saat meditasi kita juga dilatih untuk fokus dan fokus. Itu sebabnya jika kita telah terlatih bermeditasi dengan benar, pikiran kita cenderung fokus, dan penggunaan energi kita efektif.
Fokus juga berarti "putus" yang merupakan akar kata dari keputusan, artinya ketika seseorang mengambil sebuah keputusan (pilihan), otomatis ia putus terhadap yang lain. Keberanian mengambil keputusan adalah salah satu syarat untuk menemukan apa yang kita ingini. Jika kita tak kunjung berani mengambil keputusan, arah kita tak akan pernah menjadi lebih jelas.
Para Penolong
Dalam perjalanan menemukan takdir, kita senantiasa dikelilingi oleh para penolong. Fungsi dari para penolong ini adalah membuat kita terus bertahan dan menjaga semangat kita dalam menjalani panggilan kita. Mengenai para penolong ini akan saya bahas lebih detail dalam buku berikutnya Journey of Souls. Sementara dalam Sang Alkemis ini, kita bisa melihat para penolong Santiago antara lain:
Ayahnya. Karena keinginan sang Ayah agar Santiago belajar di seminari, maka ia bisa bertemu dengan buku-buku yang menumbuhkan hasratnya untuk berkeliling dunia. Jadi sesuatu yang nampaknya keliru pun jika sudah takdirnya akan diluruskan kembali.
Domba-dombanya. Sekalipun nampaknya hanya hewan peliharaan, namun dari domba-dombanyalah Santiago memperoleh nafkahnya sehingga ia bisa berkelana ke berbagai tempat yang diingininya.
Raja Salem. Seorang bijaksana yang hadir untuk membimbing saat Santiago berada di persimpangan jalan.
Pedagang Kristal. Seseorang yang memberikan tumpangan di saat Santiago sedang dalam kemalangan. Biasanya dihadirkan kepada kita untuk beberapa saat lamanya hingga kita menemukan pencerahan dan keberanian untuk berjalan kembali.
Lelaki Inggris. Seseorang yang membukakan cakrawala berpikir kita atau memberikan informasi baru ke arah jalan takdir yang hendak kita tuju. Di sini saya catat, perjumpaan Santiago dengan lelaki Inggris telah mengubah arah minatnya dari mencari harta karun menjadi ingin bertemu dengan (ingin menjadi seperti) Sang Alkemis. Santiago mengalami pergeseran tujuan dari yang duniawi ke arah yang lebih abadi yakni perubahan karakter.
Penunggang Onta. Perjalanan di gurun yang tak memungkinkan seseorang balik kembali membutuhkan seorang penolong yang berpengalaman seperti ini। Ini adalah lambang perjalanan hidup kita sendiri, manakala kita semakin matang dan dewasa dan tak mungkin kembali menjadi anak-anak lagi, kita memerlukan penolong yang lebih tinggi lagi jam terbangnya.
Fatima. Ada saatnya seorang seperti Fatima bisa menjadi penolong, tapi bisa juga menjadi penghambat. Sebagai penolong, inilah penolong yang sejati karena hanya di dalam diri Fatima, Santiago merasakan cinta. Kita bisa mencapai takdir kita dengan lebih dahsyat karena pertolongan cinta. Tapi cinta juga memungkinkan kita bertahan di comfort zone saking nyamannya.
Sang Alkemis. Akhirnya, melalui penolong yang terakhir inilah Santiago menemukan kunci kehidupan yang sesungguhnya. Harta karun yang dincarnya di piramida, ternyata hanyalah ilusi, bukan harta yang abadi. Tapi harta yang sejati ternyata ada di kampungnya sendiri, alias di dalam dirinya sendiri. Harta Santiago yang sejati adalah kemampuannya sebagai Alkemis. Ya, Sang Alkemis yang mampu mengubah logam menjadi emas. Mengubah sesuatu yang tak berharga menjadi bernilai. Mengubah mimpi menjadi kenyataan. Dan terutama memiliki kebijaksanaan sejati yang terus melekat dalam dirinya.
Lebih lanjut mengenai bagaimana menemukan takdir kita, saya sambung di postingan berikut.
Salam.