Google

Rabu, 24 September 2008

START FROM ZERO

Adalah sebuah pengalaman yang indah ketika saya harus mengundurkan diri dari perusahaan tempat saya bernaung selama 5 tahun belakangan ini. Indah, karena sejak itu (tepatnya bulan Mei 2008 yang lalu), saya tidak lagi berstatus karyawati yang terikat dengan jam kerja 8 to 5, melainkan menjadi manusia bebas sepenuhnya.
Indah, karena sejak itu mau tak mau saya menyandarkan hidup saya ke dalam pemeliharaan Tuhan sepenuhnya, menggantungkan diri pada belas kasihan dan anugerahNya semata-mata dan bukan lagi mengandalkan kekuatan diri sendiri lagi, karena saya tidak lagi memiliki penghasilan tetap yang biasanya saya andalkan dan saya banggakan.

Sebetulnya bisa saja saya mencari pekerjaan lainnya sebagai pengganti. Tapi usia yang sudah kepala 4 ini ingin saya syukuri dalam bentuk menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri. Sudah lama saya memiliki mimpi untuk bekerja di rumah sambil bisa menemani anak setiap harinya. Dan ini adalah kesempatan yang sudah lama saya tunggu-tunggu. Memang, sungguh tidak mudah memasuki masa transformasi dari seorang pekerja menjadi wiraswasta. Dari orang yang biasa menerima gaji tetap menjadi berpenghasilan tak menentu. Dari yang semula berhubungan dengan banyak orang harus bekerja sendirian. Tapi bagaimana pun, dalam hidup ini tentu tak melulu duka dan derita. Di balik semua peristiwa, selalu ada suka dan hikmahnya. Begitu pun yang saya alami.

Saya mengawali babak baru dalam kehidupan saya ini dengan berjualan kue. Dari yang semula ”nol” di dunia dapur dan masak memasak, dalam tempo 2 bulan saya sudah bisa membuat dan menjual hasil produksi perdana saya, (hehehe... tidak percuma berguru pada mama). Saya menitipkan kue-kue buatan saya di kantor adik-adik saya. Meskipun skalanya masih sangat, sangat kecil, tapi saya bangga bahwa akhirnya saya bisa mengalahkan kegentaran dan rasa tidak percaya diri ketika harus terjun ke ”dunia” ini. Ada kalanya timbul rasa ingin menyerah saja ketika gagal melulu sewaktu membuat kue-kue percobaan. Atau rasa gagal yang menyerang kala kue-kue kurang laku dan terpaksa ”dipulangkan”. Mana masih dikejar-kejar perasaan kuatir apakah hidup saya di hari esok masih bisa berlangsung mengingat penghasilan kini tak seberapa dan tak menentu pula?

Tapi di sinilah justru karya Tuhan terjadi atas hidupku. Dulu sewaktu masih bekerja, dan ingin memutuskan berhenti untuk usaha sendiri, tak juga muncul rasa berani. Takut ini, kuatir itu. Herannya, justru setelah dijalani, nyata betul pemeliharaan Tuhan dari hari ke hari. Setiap kali ketika saya mulai bertanya-tanya, dari manakah akan datang pertolonganku? (Mazmur 121:1), berkali-kali pula Tuhan langsung memberi jawab tepat pada waktunya. Sungguh luar biasa! Tak terlukiskan dengan kata-kata. Penghiburan, semangat, kesempatan, dukungan bahkan mujizat, Ia berikan kepada saya hanya untuk membuat saya percaya, bahwa hidup saya terjamin di tanganNya. Karena itulah pada kesempatan ini, mudah-mudahan tulisan ini mampu menguatkan para pembaca yang punya pengalaman mirip dengan saya, yang sering meragukan kasih dan pemeliharaan Tuhan.

Rejeki bukan dicari tapi diberikan (=dianugerahkan).
Hidup kita bukan untuk mencari uang, tetapi melakukan yang terbaik dalam segala pekerjaan yang menjadi bagian kita, sedangkan urusan upah adalah bagian Tuhan.
Jika kita bekerja dengan niat baik dan sungguh-sungguh serta selalu mensyukuri berkat Tuhan yang paling kecil sekali pun, percayalah bahwa Tuhan tidak akan menelantarkan kita. Tuhan sudah menciptakan kita, Tuhan pula yang akan bertanggungjawab memenuhi segala keperluan kita. Jangan kita dipenuhi rasa kuatir yang membuat kita jadi menganggap sepi dan meniadakan bagianNya. Jangan kita mengambil bagian yang bukan bagian kita, dan menjadikan diri sendiri menjadi penanggungjawab sepenuhnya atas hidup kita. Jika itu kita lakukan, maka tak heran kita senantiasa merasa letih dan stress. Tuhan ingin kita menikmati hidup. Merasa cukup. Dan mengembangkan bakat dan talenta kita sebaik-baiknya. Tuhan akan memfasilitasi segala keperluan kita, jika kita memang serius dan bersungguh-sungguh menjalaninya.

Semoga Anda diberkati.

Salam

Minggu, 20 Juli 2008

Keindahan Ciptaan Tuhan

Sudah lama gak update blog. Baru-baru ini mudik lagi ke Wonosobo, nemenin si kecil yang lagi liburan sekolah. Iseng-iseng saya motret tanaman mama yang tumbuh dengan indahnya di sekeliling rumah. Setelah bertahun-tahun, kenapa baru sekarang ya perhatian saya seolah tersedot untuk mengagumi ciptaan Tuhan yang bernama tanaman ini? Padahal biasanya pemandangan yang sama hanya mampu membuat saya berlalu begitu saja. Adakah hati yang berubah membuat cara pandang berubah?





Rabu, 26 Maret 2008

Christian Indonesian Blogger Festival 2008 (CIBfest 2008) !

Pagi ini saya dapat kejutan. Ada kiriman e-mail dari panitia Christian Indonesian Blogger Festival (CIBfest) 2008 yang mengundang saya untuk turut meramaikan Festival Blogger Kristiani tersebut. Entah dari mana panitia bisa memperoleh identitas saya, yang jelas saya langsung memutuskan untuk bergabung, karena saya rasa ide ini unik dan menarik sehingga patut didukung.

Sebetulnya blog saya ini bisa dikatakan tidak terlalu kristiani, meski saya memang penganut agama Kristen. Blog ini lebih bersifat perjalanan spiritual, yang berarti lepas dari embel-embel agama apapun. Bagi saya, hubungan dengan Tuhan sangat personal, tidak bisa dikotak-kotakkan dalam label agama. Pengalaman saya bersama Tuhan selama ini tak lepas dari pengalaman bersama agama-agama dan kepercayaan yang lain. Kedekatan saya dengan Tuhan bahkan seringkali dijembatani oleh orang-orang yang menganut keyakinan berbeda. Dan bagi saya, hal itu justru membuat kehidupan beragama saya menjadi lebih indah dan berwarna. Kekristenan saya tumbuh dan berkembang bersama dengan saudara-saudara tak seiman. Aneh, tapi nyata.

Meski demikian, sudah lama ada kerinduan saya untuk menelurkan 1 blog lagi khusus renungan kristiani, yang sayangnya hingga kini belum sempat tertangani dengan serius. Adanya CIBFest jadi mendorong saya untuk segera mewujudkan ide tersebut lebih cepat lagi. Terimakasih ya, panitia CIBFest, Anda menjadi wakil Tuhan untuk mengingatkan saya tentang hal ini, hehehe...

Akhir kata, selamat berfestival... semoga semua kegiatan ini memuliakan Tuhan jua adanya....

Salam sejahtera,

Selasa, 11 Maret 2008

Malas = Masalah

Seorang sahabat terbujur di rumah sakit sejak seminggu belakangan ini. Ia terserang stroke. Sebelah tubuhnya sulit digerakkan. Dan sebagai penunjang tubuhnya untuk sementara waktu, ia harus menggunakan kursi roda.

Untungnya sahabat saya ini masih bisa menyemangati diri sendiri. Setahu saya pasien penderita stroke biasanya memiliki emosi yang kurang stabil, dan perasaannya bisa menjadi sangat sensitif. Mereka seringkali merasa masygul pada diri sendiri dan butuh waktu cukup lama untuk bisa menerima keadaannya yang tak berdaya dan harus bergantung pada orang lain. Sangat menyedihkan.

Hampir sebulan yang lalu, tante saya yang juga pernah terserang stroke akhirnya meninggal dunia setelah lebih dari 3 tahun menjalani masa-masa sulit pasca stroke. Mama yang selama ini merawatnya, juga mengalami masa-masa sulit dan nyaris angkat tangan, karena besarnya beban fisik dan mental yang harus ditanggungnya. Stroke memang bukan hanya membuat si penderita tersiksa, tapi juga orang-orang di sekitarnya yang merawat dan menemani mereka. Penderitaan berkepanjangan, itulah yang seringkali membuat penderita putus asa, kehilangan harga diri dan harapan. Merasa hidup tak ada guna lagi.

Saya rajin menelpon dan mengirimkan sms pada sahabat saya ini untuk membesarkan hatinya. Saya membelikannya An Kung, obat Cina yang sangat bagus untuk pemulihan kondisi penderita stroke. Saya juga berniat menemaninya terapi akupunktur sepulang dia dari rumah sakit nanti. Selain itu ada program meditasi Sen Qi yang mungkin akan dijalaninya juga selain physioterapi di rumah.

Memang ada kecerobohan yang dilakukan sahabat saya ini sebelum dia terserang stroke. Pola makan dan kebiasaan hidupnya tak sehat, merokok dan jadwal tidur tak teratur serta malas berolahraga, membuat fisiknya rentan terhadap stroke. Belakangan, ketika ia juga terjun dalam penerbitan majalah yang menjadikannya sering stress akibat dikejar deadline, makin lengkaplah persyaratan untuk stroke bisa menyerangnya.

Meski demikian saya tak ingin mundur lagi ke belakang, mengungkit-ungkit kesalahannya. Setiap manusia mempunyai shadow-nya sendiri. Pada diri sahabat saya, mungkin ketidakdisplinan hidup sehat yang menjadi shadow-nya. Tahu yang benar, tapi tak mau menjalani. Tahu yang seharusnya, tapi malas melakukan. Apa yang dialaminya adalah akumulasi dari penundaan-penundaan akibat kemalasannya.

Saya pun demikian juga. Dalam 2 bulan terakhir ini saya harus 4 kali bolak-balik ke rumah sakit karena IUD yang salah pasang 8 tahun yang lalu. Keengganan saya untuk kontrol selama ini membuat saya harus menanggung akibatnya. Proses penanganan akhirnya menjadi lebih mahal dan lebih sulit daripada semestinya.

Ketakutan dan kemalasan melahirkan penundaan-penundaan. Penundaan menyebabkan masalah terus mengejar, bahkan dengan efek bola salju, menggelinding makin tebal dan makin besar. Ketika dalam diri mulai tumbuh rasa enggan dalam menghadapi sesuatu, ingatlah bahwa jika tak segera dituntaskan, kelak akan timbul dampak yang lebih merugikan. Karena itu, janganlah menunda. Segera selesaikan masalah sedini mungkin agar tak menjadi batu sandungan pada waktu yang tak diharapkan.

Sahabatku, semoga engkau lekas pulih. Terimakasih untuk pembelajaran yang sangat berharga ini. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari semua pengalaman ini.

Salam,

God Loves Story

Hidup adalah serangkaian cerita. Sejarah panjang peradaban manusia ditorehkan dalam berbagai kisah yang menawan. Mulai dari kisah-kisah heroik yang menimbulkan inspirasi hingga yang saking sepelenya nyaris tak mampu diingat lagi.

Setiap manusia mempunyai kisah hidupnya sendiri. Pendek kata, bukan hanya kisah para pahlawan dan tokoh dunia saja yang perlu diabadikan dalam biografi, namun setiap kita mempunyai peluang yang sama untuk mengukirkan kisah kita di prasasti kehidupan ini.

Karena hidup itu bergerak, penuh dinamika, maka ia bisa menjadi cerita. Bayangkan hidup yang sepenuhnya statis dan itu-itu saja, betapa amat membosankan.

Namun perubahan dan dinamika selain menimbulkan gairah dan antusiasme juga menuntut pengorbanan dan penderitaan. Keseimbangan di antara keduanya itulah tujuan kita, dan memaknai keduanya itulah keindahannya.

Banyak orang berontak saat menderita. Mereka tidak siap, dan tidak mau menghadapinya. Jika boleh memilih, inginnya menghindari saja yang namanya penderitaan itu. Di sisi lain, para bijaksana justru seolah mencari penderitaan. Mereka menyepi di gunung dan hutan, menjauh dari keramaian. Mereka menghindari makanan enak dan memabukkan. Mereka sanggup menahan diri dari kantuk dan letih untuk terus melantunkan doa-doa di gelap malam. Semua ini menunjukkan betapa penderitaan bisa menjadi lawan tapi bisa juga menjadi teman. Bisa dijauhi tapi bisa pula dicari. Intinya, bukan penderitaan itu yang menjadi sebab maupun akibat. Tapi bagaimana kita memainkannya. Bagaimana kita menjadikannya sebagai sebuah cerita.

Pertanyaan klise yang nyaris abadi, apakah Tuhan benar-benar ada? Dan jika Ia ada mengapakah masih juga ada penderitaan? Mengapa Tuhan mengizinkan terjadinya penyakit, peperangan, bencana alam di mana-mana yang menelan banyak korban?

Saya bukan Tuhan dan tidak dalam kapasitas menjawab pertanyaan tersebut. Saya hanya seorang pengamat yang mencoba menelisik ke balik layar, di mana sang Dalang sedang memainkan tokoh-tokoh wayang di tanganNya. Sang Dalang, penyuka cerita, dan yang mampu membuat tontonan menjadi menarik, sekalipun harus berakhir tragis dan dramatis.

Hidup kita adalah sebuah cerita. Kita-lah pemainnya. Saat-saat yang paling indah dalam sebuah cerita adalah puncak klimaksnya. Di situlah biasanya menjadi puncak pertemuan manusia dengan Tuhan. Yaitu ketika kita mempertanyakan, kita menggumulkan, kita bergelut, kita menangis dan meratap hingga akhirnya menemukan titik kesepakatan denganNya.

Kita dan Tuhan ada dalam cerita. Kita dan Tuhan menentukan jalan cerita. Kita dan Tuhan bekerjasama menyelesaikan cerita. Tugas kita adalah memainkan peran kita sebaik mungkin selama berada di panggung kehidupan ini.

Selasa, 22 Januari 2008

Yogyakarta - Desember 2007, tanah kelahiranku 40 tahun yang lalu...

Kompleks istana raja-raja Mataram tempo dulu.... Taman Sari







Lorong di bawah tanah....








Tempat pemandian pangeran dan para selir raja....







Pembatik tulis di perkampungan Taman Sari

Keheningan Rawaseneng

Biara Trappist Santa Maria di desa Rawaseneng, Temanggung, Jawa Tengah


Duapuluh tahun yang lalu di sini, untuk pertama kalinya aku merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupku ...








Ruang tamu




Ruang Ibadah Para Trappist







Kamar penginapan para tamu












Kolam ikan

Keagungan Borobudur, Desember 2007

Welcome to Borobudur,

Puncak stupa utama dari kejauhan dan dari dekat...




Potret Keluarga Cemara (Cerewet, Manja dan ceria..... ;-) )




Pemandangan di salah satu sudut museum dengan nuansa spiritualnya yang sedemikian kental.

Mudik ke Wonosobo, Desember 2007

Saya, adik, Latu dan keponakan-keponakan naik delman di depan rumah.







Wisata kuliner di kampuang.....
Mie ongklok, sate sapi dan tempe kemul.... hmmm, sluuurp....sluurp...




Waduk Wadas Lintang di Banjarnegara, asik juga buat mancing....










Siapa mau ikutan....?

Rabu, 19 Desember 2007

Selamat Natal & Tahun Baru!

Selamat Natal 2007 bagi yang merayakannya.

Selamat Tahun Baru 2008.

Apa pun yang akan terjadi pada hari-hari mendatang, percayalah bahwa semua itu boleh terjadi atas seizin Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Ialah yang memberikan hari-hari baik kepada kita, namun juga mendidik kita dengan berbagai pengalaman yang mungkin sulit kita pahami, tapi besar hikmahnya bagi mereka yang rela menerimanya.

Yang jelas dan pasti, Ia tak pernah meninggalkan kita sendiri.
Ia selalu bersama kita, dalam segala suka dan duka.

Diberkatilah mereka yang mau mendengar dan melakukan apa yang difirmankanNya.

Tuhan beserta kita sekalian. Amin.

Jumat, 09 November 2007

Ke mana Energi Kita Disalurkan = Itukah ”Niche” Kita?

Beberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan adik dan suami saya. Kami menganalisa mengapa ada anak-anak yang tidak bisa diam dan duduk manis ketika belajar di sekolah, sementara yang lainnya lebih penurut dan tidak pernah menimbulkan masalah di kelas, meskipun belum tentu si penurut ini lebih cerdas dan berprestasi dibandingkan si”trouble maker”?

Suami saya bercerita, bahwa sejak SD dia selalu juara kelas bahkan sampai mendapat beasiswa. Namun di sisi lainnya, ia pun pernah beberapa kali dihukum berdiri di depan kelas dengan mulut diplester karena kedapatan ngobrol melulu dengan temannya saat jam belajar. Suami berujar, mungkin dari peristiwa itu sudah terlihat bahwa saya punya bakat (menonjol) dalam soal bicara, ya? Saya jadi tidak heran kenapa anak kami sering dapat teguran dari gurunya karena kedapatan ngobrol melulu di kelas. Rupanya ada bakat turunan dari Ayahnya..., hehehe... :))

Dari pembicaraan tersebut saya memperoleh insight, bahwa apa yang kita lakukan secara spontan, dengan sering, tapi juga dengan senang dan tanpa kesulitan, bisa jadi merupakan petunjuk adanya bakat dan ”niche” kita di situ.

Saya jadi ingat diri saya sendiri. Sejak kecil saya suka melamun, menggambar dan menulis. Tulisan saya yang pertama (dan satu-satunya) yang pernah dimuat di media massa adalah sebuah cerpen yang saya tulis untuk Majalah Bobo saat saya kelas 6 SD. Padahal seingat saya, itu juga asal nulis dan asal ngirim. Nggak serius-serius amat. Sebenarnya pun, dimuat di majalah bukan menjadi target saya, karena tanpa disuruh pun saya bisa menulis dengan sukacita sampai berlembar-lembar banyaknya. Saya mulai menulis diary sejak SMP, dan setiap tahun punya jilidnya sendiri. Itu berlangsung sampai sekarang. Diary saya sejak 10 tahun yang lalu masih saya koleksi, dan jumlahnya sudah lebih dari 10 buah. Bukankah ini menunjukkan bahwa saya memiliki potensi menulis yang bisa dikembangkan menjadi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain? Buktinya, jika diminta mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan gagasan, ide-ide dan imajinasi, saya bisa melakukannya dengan baik dan dengan gembira. Bahkan melebihi apa yang diminta.

Bicara soal talenta yang tidak dikembangkan atau mengalami hambatan untuk berkembang ibarat tubuh yang tidak mampu menyalurkan kelebihan energinya sehingga malah menjadi penyakit.

Seperti kita ketahui, yang namanya sakit adalah kondisi ketika tubuh mengalami ketidakseimbangan energi. Apa yang menyebabkan ketidakseimbangan tersebut misalnya, orang yang marah tapi tidak bisa mengungkapkan kemarahannya; orang yang banyak pikiran tapi tak dapat me-release ketegangannya. Termasuk di antaranya ketika orang tidak mampu menyalurkan energi untuk melakukan apa yang disukainya, apa yang menjadi talentanya.

Orang yang senang berpikir, berimajinasi dan bermain-main dengan gagasan, akan mengalami kelebihan energi di otaknya, yang jika tidak disalurkan akan membuatnya mengalami kesulitan tidur (imsonia), atau otak menjadi terlalu tegang dan berat yang bisa-bisa menjadi stroke. Maka sebaiknya orang tersebut mencari tahu, apa cara terbaik untuk menyalurkan buah-buah pikiran, gagasan dan imajinasinya. Apakah dengan menulis, mengajar, ngobrol, menciptakan sesuatu, dsb?

Orang yang penuh hatinya, atau yang mengalami ketidakseimbangan emosi (perasaannya), perlu menyalurkan energinya dengan menyanyi, curhat atau berteriak, atau melukis, menari, olahraga, dsb.

Sebenarnya tubuh telah memiliki mekanisme yang spontan untuk mengontrol hal itu. Itulah yang membedakan seseorang satu dengan yang lainnya. Ada yang memerlukan media ngobrol untuk membuang kelebihan energinya. Ada yang melalui tulisan. Ada yang melalui bermain musik. Ada yang melalui melukis, dsb.

Jadi, anak yang hobinya ngobrol, bisa jadi karena ada dorongan spontan dari tubuhnya untuk menyalurkan energinya dengan cara ngobrol. Mungkin karena ia sendiri tidak tahu harus disalurkan melalui media apa.

Pilihan yang diambil seseorang untuk menyalurkan "kelebihan" energinya, bisa menjadi sinyal ke mana sebenarnya bakat dan panggilannya. Ada yang berbakat bicara seperti anak saya misalnya, yang jika dibiarkan memilih, pasti akan lebih suka menghabiskan waktunya untuk mengobrol bersama mainannya, menjadi "dalang" bagi robot-robot koleksinya. Sementara anak tetangga saya, yang mempunyai talenta fisik yang luar biasa, jago salto, beratraksi dengan sepeda, main basket, badminton, dsb akan lebih memilih untuk bergerak dan berolah fisik ketimbang berpikir dan belajar. Mungkin jika tidak demikian mereka akan sakit, sama seperti saya yang mungkin sakit jika tidak menulis.

Pertanyaannya, apa yang akan Anda pilih untuk Anda lakukan dengan energi yang Anda miliki? Menyalurkan apa yang Anda punya dan miliki tidak selalu berkaitan dengan uang dan penghasilan. Mungkin dengan serta merta Anda akan membagikannya tanpa berpikir dua kali meski Anda tak dibayar atau dihargai. Kelebihan itu spontan saja mengalir karena jika tidak Anda-lah yang akan menderita sakit karenanya.

Cobalah mengamati apa kelebihan Anda tersebut. Mungkin di situlah Tuhan ingin Anda berkarya dan menjadi sesuatu bagi dunia ini. Mungkin itulah panggilan dan takdir Anda, ungkin di situlah ”niche” Anda, di situlah porsi Anda, di situlah bagian Anda di dunia ini yang perlu dibagikan kepada orang lain, siapa tahu?

Jangan Pikirkan Bagian Tuhan

Meski saya terus belajar untuk rileks dan lebih rileks lagi, tapi kadang-kadang saya gagal memasuki tahap rileks. Pikiran terus tegang, apalagi jika belum menemukan jalan keluar. Akhirnya beberapa hari yang lalu, saya baru menemukan kuncinya.

Ternyata kondisi rileks erat kaitannya dengan keadaan berserah (pasrah).

Keadaan di mana kita dengan rela dan sadar meletakkan semua beban yang menggelayuti jauh-jauh di luar diri kita. Lebih baik lagi ketika kita percayakan beban itu kepada seseorang yang lebih kuat daripada kita, yang kita yakin dan bisa kita andalkan untuk menanggung beban itu.

Katakanlah saya baru tiba di stasiun Gambir dengan barang bawaan lebih dari 25 kg. Tentulah akan terlalu berat jika saya membawanya sendirian. Sesaat kemudian lewatlah portir yang menawarkan saya untuk menggunakan jasanya. Pilihan saya adalah, mempercayakan barang saya kepadanya dan saya bisa melangkah lebih ringan. Atau saya tetap memegang erat-erat barang-barang saya karena saya tidak mempercayai portir tersebut, dengan resiko saya akan tetap membawa beban yang sama, berdiri di tempat yang sama, dan tak bergerak ke mana pun.

Illustrasi di atas sebenarnya menggambarkan hubungan saya dengan Tuhan selama ini. Boleh saja saya mengakui taat beribadah dan hafal ayat-ayat suci, namun itu tidak menjamin bahwa saya percaya pada Tuhan, mempercayaiNya maupun mempercayakan diri saya padaNya.

Ya, beragama itu tidak sama dengan percaya. Kita bisa saja rajin mengikuti dan menjalani ritual keagamaan kita, tapi soal percaya itu hal yang berbeda. Percaya lahir dari hati. Ini bicara soal hubungan, bukan soal tradisi. Dalam tradisi, saya lahir dari Ayah dan Ibu saya yang sepatutnya saya hormati. Tapi apakah saya benar-benar hormat, itu harus datang melalui pengalaman saya bersama mereka dan keluar dari hati saya sendiri, bukan karena sudah seharusnya demikian.

Mengapa saya bilang jangan-jangan saya tidak percaya pada Tuhan? Karena setiap kali masalah datang, respon saya yang pertama adalah selalu berusaha mencari sendiri dulu jalan keluarnya, Tuhan belakangan. Tuhan baru saya hampiri saat keadaan sudah mentok. Saya akui, sulit sekali bagi saya mempercayai orang lain dan mempercayakan diri saya padanya, apalagi kepada Tuhan yang tak kelihatan.

Nah, ketidakmampuan mempercayakan diri inilah yang membuat seseorang menjadi tegang dan tidak bisa rileks, sampai ia benar-benar RELA menyerahkan diri kepada orang lain untuk ditolong. Rela, percaya sepenuhnya adalah kondisi pasrah yang memungkinkan orang mencapai keadaan rileks yang sejati. Mengakui keterbatasan diri, keterbatasan pikiran kita untuk kemudian dengan rendah hati meminta pertolongan kepada orang yang lebih kuat untuk menanggungkan beban kita.

Saat ini saya sedang mengalami keadaan yang sulit secara finansial. Sebagai tenaga lepas (freelance), saya tidak menerima gaji bulanan, melainkan dibayar jika mendapat proyek. Nah, dalam 3 bulan terakhir, seiring hadirnya bulan puasa, libur Idul Fitri dan berikutnya liburan Natal, mengimbas pula pada produk/jasa yang saya jual. Inilah masa kritis bagi saya yang sedang dalam masa transisi menjadi pekerja mandiri. Di saat-saat sepi order seperti ini, saya mulai kuatir dan mempertanyakan masa depan saya. Apakah saya masih bisa menghidupi keluarga di hari-hari mendatang? Apakah Tuhan masih berkenan memberikan proyek-proyek baru kepada saya?

Saya sempat menjerit, bukankah saya sudah melakukan pekerjaan saya sebaik-baiknya? Juga dengan senang hati dan gembira? Tapi mengapa tuaian dari apa yang telah saya taburkan belum terlihat wujudnya? Saya berpikir dan terus berpikir, apa lagi yang bisa saya lakukan dan usahakan. Apa lagi?

Namun pagi ini tiba-tiba terbersit sebuah jawaban.

Lakukan saja bagianmu, dan jangan pikirkan bagian Tuhan!

Ibarat bekerja dalam sebuah tim, ketika sudah dibagi tugas masing-masing, maka setiap anggota tim tidak berhak intervensi pada tugas yang menjadi bagian rekannya. Harus ada saling percaya bahwa satu sama lain akan melakukan tugas dan kewajibannya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Kecuali jika ada yang merasa butuh bantuan, rekan lain yang merasa bisa membantu silakan turun tangan. Bagi yang dibantu, harus rela jika pekerjaan yang menjadi bagiannya terpaksa mengalami penyesuaian-penyesuaian yang mungkin tidak sesuai dengan keinginannya. Namanya juga dibantu, artinya memiliki keterbatasan, jadi tidak bisa dengan semena-mena mengatur yang mereka yang sudah menyediakan diri untuk membantu, atau ngotot semaunya sendiri. Di dalam tim, ada kebersamaan, ada saling menyesuaikan, ada saling merendahkan hati.

Nah, ternyata rileks yang sejati baru bisa muncul ketika kita memiliki kerendahan hati untuk mau menerima pertolongan yang lain. Ketika kita mau meletakkan beban kita kepada tangan yang lebih kuat dan mempercayakan diri kita kepadanya. Lakukan saja apa yang mampu kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Selebihnya itu adalah bagian Tuhan yang bekerja dengan caraNya yang tak kita pahami, namun yang mestinya kita percayai akan selalu membawa kebaikan bagi kita. Amin.

Rabu, 07 November 2007

Mengampuni Diri Sendiri

Kata mengampuni erat kaitannya dengan aspek hukum. Entah itu hukum sosial masyarakat, hukum agama, atau hati nurani. Mengampuni berkaitan dengan keadaan salah yang pernah terjadi, yang mungkin bertentangan dengan norma hukum yang berlaku, yang perlu diakui, diluruskan kembali, dan kemudian diperdamaikan.

Dalam prakteknya, orang mungkin bisa mengelabui kebenaran di tingkat hukum masyarakat maupun hukum agama. Kita bisa saja bersikeras untuk tidak mengakui atau berpura-pura tidak peduli meski tahu bahwa kita bersalah. Namun berbeda halnya jika kita harus berhadapan dengan hati nurani. Kita tak dapat menghindar. Meskipun kita mencoba untuk membungkamnya, ia akan terus bersuara. Karena tujuan hati nurani adalah memberitahukan apa yang terbaik bagi kita.

Bahasa apa yang dipergunakan oleh hati nurani untuk memberitahu kita ketika kita melakukan hal yang salah? Biasanya dengan sinyal rasa tidak nyaman atau rasa bersalah di dalam hati kita.

David R.Hawkins, MD, PhD dalam penelitiannya selama 20 tahun mencoba mengukur berbagai level energi manusia dalam berbagai kondisi. Hasilnya disajikan dalam sebuah tabel yang disebut Map of Consciousness. Dalam tabel ini, ditampilkan beberapa jenis kondisi emosi manusia dengan skornya masing-masing. Dengan angka 200 sebagai baseline, Hawkins menunjukkan bahwa yang memiliki skor di atas 200 adalah kondisi emosi yang memberikan efek energi positif. Beberapa di antaranya adalah: pencerahan, kedamaian, sukacita, cinta, berpikir, penerimaan, kemauan dan netralitas.

Sebaliknya, kondisi yang memiliki skor di bawah 200 adalah emosi yang menghasilkan efek negatif. Beberapa di antaranya adalah: perasaan bangga diri, marah, keinginan, takut, kesedihan mendalam, apatis, rasa bersalah dan rasa malu. Untuk lebih detailnya Anda dapat membaca buku laris Becoming a Money Magnet yang ditulis Bapak Adi W. Gunawan.

Dari tabel tersebut nampak bahwa rasa malu dan rasa bersalah adalah dua hal yang paling merusak dan berefek paling negatif terhadap diri (skor paling rendah).

Lantas apa yang harus kita lakukan agar bisa kembali feel good dan tidak terus menerus dihantui perasaan bersalah?

Pertama, biasanya kita akan merasa lebih ringan setelah kita MENGAKUI kesalahan tersebut,. Kemudian MINTA MAAF/MINTA AMPUN kepada pihak yang menjadi korban kesalahan kita. Jika kita sulit minta maaf kepada orang yang bersangkutan, biasanya lewat mengadu kepada Tuhan sebagai perantara merupakan langkah yang efektif pula.

Tapi bagaimana jika yang kita persalahkan adalah Tuhan atau diri kita sendiri? Bagaimana kita bisa mengampuni Tuhan dan diri sendiri? Masa Tuhan diampuni….nggak salah tuh? Nggak terbalik tuh? Memangnya siapa kita dan siapa Tuhan?

Memang kedengarannya janggal dan tak masuk akal. Sedikit kurang ajar malah.
Tapi mungkin tanpa sadar kita pernah protes, berontak bahkan marah kepada Tuhan.

Kapan itu terjadi?

Umumnya ketika penderitaan sedang menghampiri kita.

”Kenapa harus aku Tuhan?”, mungkin protes semacam itu akan meluncur dari mulut kita. "Kenapa aku mengalami hal yang buruk sementara aku meyakini bahwa Tuhan itu baik?"

Mampukah kita bertahan untuk tidak menyalahkan Tuhan ketika kita mengalami penderitaan yang bertubi-tubi?
Mampukah kita menerima bahwa Tuhan adalah tetap baik adanya dengan segala rencana Nya yang tidak kita pahami?
Mampukah kita mengampuni Tuhan ketika akhirnya kita terpaksa marah dan menyalahkanNya?

Mari kita coba masuk ke dalam batin kita lebih jauh lagi.

Jangan-jangan itu semua terjadi karena kesalahan kita sendiri yang sering mengabaikan suaraNya yang berdiam di hati nurani kita. Kita lebih senang mendengarkan suara manusia dibanding mendengarkanNya. Kita lebih mengedepankan suara logika kita, ketimbang suara hati nurani. Kita sering tak menghargai perasaanNya, pendapatNya, pengajaranNya. Namun ketika kita gagal, Tuhanlah yang paling pertama kita salahkan. Bahkan lebih parah lagi, kita tak segera mendekat dan berdamai denganNya, ketika kita terlanjur mengambil keputusan yang salah.

Pengadilan, persidangan, pengakuan, penentuan bersalah atau tidak bersalah, vonis, penghukuman, perdamaian, semua itu berkonotasi hukum. Jadi, jika kita melanggar sesuatu dalam aspek hukum, ada sanksinya meski juga ada solusinya.

Demikian juga perilaku kita terhadap hati nurani sebagai pemegang kedaulatan hukum yang tertinggi, akan menentukan apa yang akan kita dapatkan. Jika kita mau mengakui kesalahan kita, kita mau berdamai dengan hati nurani kita, maka kita pun akan memperoleh kedamaian dan pembebasan dari rasa bersalah. Namun jika kita tetap keras kepala meski sudah tahu bersalah, kita menolak mendengar teguran hati nurani kita, maka rasa bersalah juga akan terus mengejar-ngejar, hati tak kunjung merasa damai, dan jiwa kita tak kunjung tenang dan bahagia.

Dalam masa tranformasi 150 hari yang lalu, itulah yang coba saya lakukan. Mengakui kesalahan saya selama ini yang telah sering menganggap angin lalu suara hati nurani. Berdamai dengan hati nurani, dan mencoba hidup baru bersamanya. Hasilnya? Saya merasa lebih bersih, lebih bebas, lebih damai dan lebih bahagia

Inikah yang dinamakan pertobatan?

Senin, 29 Oktober 2007

STOP PRESS! PESTA BLOGGER 2007

Berita tentang akan diadakannya Pesta Blogger Indonesia tahun 2007 pertama kali saya ketahui dari Jennie S. Bev, dan sejak itu saya menyatakan dukungan terhadap acara ini dengan mencantumkan logo Pesta Blogger 2007 di blog ini.

Meski saya tak terdaftar sebagai peserta maupun hadir dalam acara akbar tersebut, setidaknya saya mengikuti perkembangan Pesta Blogger ini dari berbagai milis.

Dari milis Forum Pembaca Kompas yang dikomandani oleh Mas Agus Hamonangan saya jadi tahu perkembangan blogger di dunia maupun di Indonesia saat ini.

Dari artikel Jangan Abaikan Blogger yang ditulis oleh J Heru Margianto disebutkan bahwa Blog sebagai kekuatan baru dunia informasi tak dapat dipungkiri lagi. Contoh kasus kerusuhan di Myanmar tempo hari, berhasil didokumentasikan dan disiarkan oleh para blogger ke seluruh penjuru dunia meski berada di bawah ancaman dan tekanan dari junta militer yang berkuasa. Ini menunjukkan bahwa suara para blogger tidak bisa lagi diabaikan.

Perkembangan jumlah blog sendiri disinyalir bertambah dua kali lipat setiap bulan. Sementara, setiap hari tercipta lebih dari 70 ribu blog baru di seluruh dunia. Bahkan di Indonesia, sebagaimana diliput oleh Majalah Business Week, telah mencatatkan Jakarta ke dalam 30 kota yang aktivitas ngeblog-nya tinggi. Sementara kabar dari Word Press menyebutkan bahwa dalam statistik bulan Juni bahasa Indonesia berada dalam urutan ketujuh bahasa yang paling banyak digunakan di situs ngeblog itu.

Bagaimana dengan persiapan Pesta Blogger 20o7 itu sendiri?
Dikabarkan pantia sempat kewalahan dengan membludaknya peserta, sampai-sampai memindahkan lokasi pelaksanaan ke tempat yang lebih besar.
Wah, luar biasa ya?

Dalam acara ini dinominasikan sejumlah blog berdasarkan kategorinya (berikut para pemenangnya sesuai berita terbaru yang saya peroleh hari ini).
  1. Kategori online marketing dan sales: Media Ide Bajing Loncat
  2. Kategori women’s issues: Fashionese Daily
  3. Kategori blog teknologi: Ilmu Komputer.com
  4. Kategori blog personal: Istri Bawel
  5. Kategori blog selebriti: Jennie S. Bev
  6. Kategori current issues: Perspektif. net
  7. Kategori bridge blogging: Enda Nasution
  8. Kategori pendatang baru terbaik: Lidya Wangsa
Dan wow, di blog selebriti terbaik terpilih Jennie S.Bev, sebagaimana sudah saya duga sebelumnya. Bukan karena saya nge-fans pada Jen, tapi blog Jen memang patut mendapat penghargaan terbaik. Paling tidak, menurut saya, blog Jen memenuhi kriteria informatif dan terpercaya, edukatif, memiliki misi yang jelas, desain yang menarik dan beberapa kelebihan lain yang akan terlalu panjang jika saya sebutkan satu persatu di sini ;-)).
Congratulations, Jen dan juga para pemenang lainnya. Salam persaudaraan semuanya.

Akhir kata, semoga kemeriahan acara ini tak berhenti sampai di sini. Semoga para Blogger tetap menjalankan misinya masing-masing di dunia teknologi informasi ini untuk menjadi pembawa pesan, informasi, kebenaran, keadilan dan perdamaian bagi dunia kita bersama.

Salam

Kamis, 25 Oktober 2007

MENERIMA DIRI SENDIRI

Setelah belajar mengenal diri, kita lanjut ke tahap berikutnya, yaitu menerima diri sendiri.

Sebagian orang (termasuk saya) ternyata memerlukan waktu ekstra untuk bisa menerima diri sendiri. Lho, apa sulitnya sih menerima diri sendiri? Dan kenapa jadi sulit?

Ini beberapa kasus yang sempat tercatat oleh saya:
  1. Penolakan yang dialami semasa kecil
  2. Pengalaman ditolak/dikucilkan dari kelompok yang terjadi berulang-ulang
  3. Keserakahan (menginginkan status, posisi, nasib orang lain)
  4. Kesombongan (tidak mau menerima kelemahan diri)

Jika ada mau menambahkan, silahkan. Tapi saya coba membahas 4 yang di atas dulu ya?

Jangan pernah abaikan pengalaman masa kecil, bahkan yang tanpa kita ketahui pernah terjadi semasa masih berupa janin dalam rahim ibunda.

Apakah itu mereka yang dulunya pernah akan digugurkan, yang kelahirannya tak diinginkan, atau yang diinginkan lahir dengan jenis kelamin tertentu, yang lahir dan besar dalam keluarga broken home, orangtua yang bercerai, dst hampir sebagian besar pernah mengalami "rasa tertolak" yang mungkin bisa berlanjut hingga dewasa, bahkan tanpa mereka pernah menyadari, kenapa dan darimana mereka mempunyai perasaan tersebut. Seolah-olah itu memang sudah menjadi bagian dari diri mereka. "Rasa tertolak" ini bisa sangat mengganggu kecerdasan emosional pemiliknya. Mereka menjadi peragu, pemurung, cenderung menarik diri dari pergaulan. minder, merasa ada yang kurang, tidak PD, dll.
Bahkan sekalipun mereka memiliki prestasi yang menjulang, multi talenta, namun di lubuk hati yang terdalam, prestasi tertinggi yang mereka dambakan sebenarnya adalah penerimaan tanpa syarat, pertemanan yang sejati, persaudaraan yang abadi. Kebutuhan untuk diterima dan dicintai lebih besar artinya daripada pengakuan akan prestasi mereka. Bagi yang belum menyadari, mereka bisanya justru menggunakan jalan prestasi untuk bisa diterima. Bagaimanapun, kebutuhan untuk diterimalah yang menjadi prioritas utama.

Pengalaman ditolak/dikucilkan, biasanya terjadi di lingkungan yang rasis. Dampaknya lebih terasa bagi mereka yang perasa. Sedikit kasak-kusuk, cekikikan teman yang tidak melibatkan mereka, menjadi isu penolakan yang terbawa hingga dewasa. Jika ini diizinkan untuk terekam ulang ke pikiran bawah sadar kita, maka kita akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri, terlalu sensitif dan selalu dipenuhi rasa curiga.

Keserakahan atau kemarukan adalah bentuk lain tidak bisa menerima diri. Tidak puas terhadap diri sendiri. Ingin jadi seperti orang lain. Selalu iri melihat orang lain lebih baik dan lebih beruntung. Menginginkan nasib baik orang lain jatuh kepadanya, ingin menggeser posisi orang lain yang lebih tinggi, dst.

Ketidakmampuan untuk menerima diri sendiri bisa jadi juga berasal dari sisi kesombongan kita. Kita cenderung ingin melihat yang baik-baik saja dari diri kita, tapi sulit menerima kelemahan diri. Sulit dikritik. Selalu ingin dipuji. Kita lupa bahwa setiap manusia punya kelebihan tapi juga ada kekurangannya.

Nah, beberapa hal yang saya sebutkan di atas, jika tidak segera diselesaikan tidak akan segera membawa kita kepada perubahan yang kita inginkan. Kita perlu belajar jujur pada diri sendiri. Kita perlu rendah hati mengakui kelemahan kita. Tapi kita juga harus bersyukur dengan talenta yang kita miliki dan mengembangkannya semaksimal mungkin. Jangan malahan kita lebih ngotot mengembangkan talenta orang lain yang kita inginkan bisa kita miliki. Banggalah dengan apa yang ada pada diri kita, meskipun kelihatan "berbeda" dari rekan-rekan kita. Jangan takut menjadi "berbeda" dan jangan merendah-rendahkan diri hanya agar dapat dianggap sama dan diterima oleh komunitas atau kelompok yang kita kagumi.

Nampaknya ini serupa dengan saat pencarian jati diri di masa pubertas ya? Tapi percaya nggak percaya itu terus berlanjut ke masa dewasa jika kita tak segera menyelesaikannya lho.

OK, sekian dulu postingan saya hari ini. Semoga bermanfaat.

Salam,

Rabu, 24 Oktober 2007

MENGENAL DIRI SENDIRI

Sudahkah Anda mengenal diri sendiri?
Sejauh mana Anda mengenal diri sendiri?

Bagaimana cara Anda memahami sesuatu?
Apa tipe belajar Anda?
Apakah Anda mengetahui bagaimana otak Anda bekerja?

Bagaimana hubungan otak Anda dengan cara berpikir dan bereaksi Anda?
Bagaimana proses kerja pikiran Anda?
Bagaimana proses kerja emosi Anda?
Bagaimana cara Anda memaksimalkan kerja otak Anda?

Apakah Anda mengetahui apa yang sejatinya Anda inginkan?
Dan bagaimana cara mencapai apa yang Anda inginkan itu dengan apa yang ada pada diri Anda?

Apakah Anda tahu nilai-nilai apa yang mengendalikan diri Anda selama ini, yang Anda yakini dan Anda jadikan standar ukur keputusan Anda?

Sederetan pertanyaan di atas barulah sebagian kecil dari proses mengenal diri sendiri. Masih banyak pertanyaan berikutnya yang mengantre untuk dijawab.

Benarkah kita telah sungguh-sungguh mengenal diri kita sendiri dengan baik?

Apakah kita tahu, bahwa diri kita yang sekarang adalah hasil bentukan dan pilihan kita sendiri di masa lalu?
Apakah kita bisa merancang dan memilih kita ingin jadi siapa dan bagaimana 10 tahun yang akan datang?

Buku Piece of Mind dari Sandy MacGregor banyak sekali menolong saya lebih mengenal dan memahami diri sendiri. Misalnya, saya jadi tahu bahwa tipe belajar saya adalah dengan melihat (visual) dan melakukan (kinestetik). Lihat dan praktekkan! Itulah saya. Sebaliknya saya sulit belajar sesuatu hanya dari mendengar (auditori). Saya ingat, saat sekolah dan kuliah dulu, semua pelajaran baru bisa menyerap ke otak saya ketika saya membaca ulang dan membuat coretan-coretan sendiri di buku saya, dan BUKAN karena mendengar Dosen saya mengajar.

Sandy juga menjelaskan dengan baik tentang cara kerja otak kita. Apa itu otak kiri dan otak kanan. Apa itu gelombang energi otak yang dikenal dengan alpha, beta, theta dan delta.Apa yang disebut pikiran sadar dan bawah sadar. Bagaimana cara mengefektifkan kerja pikiran bawah sadar kita. Apa manfaatnya bagi kita, dst.

Kita tahu bahwa kunci perubahan diri dimulai dari PIKIRAN, dan buku Sandy ini sangat menolong kita mengetahui lebih banyak bagaimana cara berpikir dan menggunakan otak dengan benar dan efektif.

Selain Sandy MacGregor, ada juga tulisan Bpk Ikhwan Sopa yang saya peroleh dari e-mail. Mudah-mudahan dapat menolong kita untuk makin mengenal diri sendiri. Berikut cuplikannya,


Tips 162: Mindset Sukses - Melaju di Tengah Badai

Mindset I: Balancing Your Mind

Selalulah berupaya mengenali cara dan pola berpikir Anda sendiri. Ketahuilah bahwa otak dan pikiran Anda punya dua cara kerja utama. Ada yang bekerja dengan gaya kiri, dan ada yang bekerja dengan gaya kanan.

Cara kerja otak kiri adalah demi bertahan dan survive. Demi keamanan dan keterencanaan. Demi masa depan dan demi tujuan. Ia lebih dekat pada upaya menganalisis keadaan. Ia pandai berhitung, dan pandai memilah-milah dengan ilmiah. Ia kaku dan apa adanya.

Cara kerja otak kanan adalah demi kemajuan dan progress. Demi kepuasan dan keterkendalian. Demi saat ini dan demi pencapaian. Ia lebih dekat pada upaya kreatif. Ia pandai menemukan jejak, dan pandai menyesuaikan diri. Ia fleksibel dan mampu mengadaptasi.

Setiap detik, setiap menit, dan setiap saat, Anda sudah sangat terbiasa mengaktifkan otak kiri Anda.
Sudah saatnya bagi Anda untuk juga membiasakan diri mengaktivasi sisi kanan dari otak Anda. Adalah pada tempatnya jika Anda mulai membiasakan diri berada di dalam keseimbangan pikiran.

Keseimbangan pikiran adalah bekal utama yang pertama untuk bertahan di tengah badai. Tanpa keseimbangan ini, Anda akan merasa tidak berguna, useless, dan tak tahu harus bagaimana. Dengan keseimbangan pikiran, Anda selalu bisa kembali fokus.

Kenalilah state dan kondisi otak dan pikiran Anda setiap saat, agar bisa Anda manfaatkan sehingga Anda bisa efektif dan efisien dalam mencapai tujuan.

Mindset II: Balancing Your Emotion

Otak kiri dan otak kanan Anda erat hubungannya dengan perasaan dan emosi Anda.

Otak kiri Anda berkaitan dengan rasa mampu bertahan dan rasa keselamatan. Erat hubungannya dengan rasa aman dan rasa tetap berada di jalur yang tepat. Erat hubungannya dengan rasa kejelasan tentang masa depan dan rasa mampu mencapai tujuan.

Otak kanan Anda berkaitan dengan rasa memiliki kemajuan dan rasa memiliki peningkatan dalam berbagai tahapan bisnis dan kehidupan. Erat kaitannya dengan perasaan yang datang dan pergi di setiap waktu, dan kadang tidak terkait langsung dengan kondisi yang sesungguhnya. Erat hubungannya dengan rasa "selalu punya jalan" dan "selalu punya harapan".

Keseimbangan di dalam emosi dan perasaan adalah bekal utama yang kedua untuk bertahan di tengah badai. Tanpa keseimbangan ini, Anda akan merasa tidak punya harapan, pudarnya segala impian, dan keputusasaan. Dengan keseimbangan emosi, Anda selalu bisa memperbaiki mood dan perasaan.

Belajarlah untuk mampu mentransformasi segala bentuk energi dari emosi dan perasaan, menjadi energi positif yang mendorong Anda, agar melaju tanpa hambatan di tengah perjalanan.

Mindset III: Keep Moving On

Dengan dua mindset yang terpenting di atas, Anda selalu punya peluang untuk tetap bergerak. Tanpanya, Anda akan selalu merasa berjalan di tempat dan merasa tidak kemana-mana.

Dengannya, Anda semestinya tetap bergerak dengan kreatif. Jika tidak, maka Anda sudah selayaknya menimbang-nimbang ulang keseimbangan Anda. Baik di dalam pikiran, maupun di dalam perasaan.

Dengan keep moving, Anda akan tetap berjalan. Dan dengan keseimbangannya, Anda akan tetap berjalan ke arah yang benar.

Jika ketiga mindset sukses Anda sudah terlatih dan selalu berada di dalam keseimbangannya, maka dipastikan Anda akan tetap sampai ke tujuan.

Kapan?

Anda tak akan bisa memastikan. Waktu bukanlah milik kita. Jaminan untuk Anda hanya satu, yaitu bahwa Anda memang akan terus bergerak sampai ke tujuan.

Just do your best! Dan berdoalah!
Ikhwan Sopa, Master Trainer E.D.A.N.,
http://milis-bicara.blogspot.com

Semoga bermanfaat. Selamat mengenal diri sendiri.

Selasa, 23 Oktober 2007

PIKIRAN & PERASAAN

Kita adalah apa yang kita pikirkan.

Ingin menjadi seperti apa kita, dimulai dari pikiran kita.
Dan bagaimana kita berpikir ditentukan oleh pengalaman yang kita rekam dan kita izinkan untuk mengendap di bawah sadar kita.
Dan pengalaman yang kita pilih, biasanya adalah yang memiliki nilai emosi tinggi, baik emosi negatif maupun positif.

Contohnya: saya selalu berpikir bahwa saya orang yang bodoh dalam hal matematika. Mengapa?
Karena "pengalaman" menunjukkan demikian.
Perhatikan, "pengalaman" yang saya maksudkan di sini mungkin bukan fakta yang sebenarnya, tapi telah saya izinkan untuk saya rekam dari berbagai peristiwa sebagai kenyataan bahwa saya lemah di bidang matematika. Yang saya ingat adalah bagaimana mama terpaksa harus menjelaskan berulang-ulang cara berhitung kepada saya saat saya masih SD. Bagaimana tante saya mengoreksi hitungan saya yang salah, dst, sampai wajah guru matematika saya di SMA yang membosankan, juga nilai C untuk matematika semasa kuliah.
Kebetulan karena saya bertipe visual-kinestetik, maka "pengalaman" dengan sentuhan emosi negatif tersebut terekam dengan mulusnya di otak saya. Setiap kali membayangkan matematika atau angka, maka yang terbayang adalah kegagalan. Ini terjadi berulang-ulang baik saat test masuk perguruan tinggi, saat ujian matematika, saat mengerjakan psikotes untuk melamar pekerjaan, dsb.
Tanpa saya sadari, saya telah mencipta, membentuk dan meyakini bahwa diri saya adalah orang yang tidak bisa matematika (angka) dan tidak suka angka. Saya menjadi gugup dan porak poranda ketika harus berargumentasi dengan orang lain soal angka.

Nah, jadi ketika ingin mengubah suatu karakter atau stigma negatif yang sudah terlanjur melekat pada diri kita, caranya kurang lebih sama.

Kita harus mulai dari pengalaman dengan emosi. Tapi kali ini dengan emosi positif.
Mungkin awalnya agak sulit, karena kita sudah terbiasa cepat merespon pengalaman negatif, akibatnya kurang sensitif terhadap pengalaman positif. Meski demikian, tetaplah mencoba.
Jika perlu, sediakan waktu dan lakukan persiapan khusus untuk memancing pengalaman positif tersebut.

Contohnya yang saya alami sewaktu liburan Idul Fitri baru-baru ini.
Biasanya jika tidak mudik, saya memilih di rumah saja, namun tanpa rencana apapun. Bahkan bayangan saya tentang liburan itu saja sudah negatif. Pembantu pulang, saya repot.

Tapi liburan kali ini, saya ingin mengubah persepsi itu. Jauh-jauh hari saya sudah bayangkan betapa enaknya jika tak ada pembantu. Kami sekeluarga bisa lebih santai, mau bangun siang, mau makan jam berapa, tidur jam berapa nggak jadi soal. Yang penting happy. Selain itu, saya sudah buat daftar, kira-kira apa saja yang mau saya kerjakan selama liburan. Setiap hari saya tambahkan satu dua kegiatan yang tiba-tiba terpikir untuk dilakukan.

Sampai akhirnya, tibalah liburan yang ditunggu-tunggu. Saya pun melakukan APA YANG SUDAH SAYA BAYANGKAN SEBELUMNYA. Dan saya bahagia banget. Inilah liburan yang benar-benar menyenangkan yang pernah saya alami. Yang saya jalani dengan penuh kesadaran, bukan asal lewat saja seperti biasanya.

Menurut buku Piece of Mind dan The Secret yang saya baca selama liburan, pengalaman positif seperti ini jangan dibiarkan cepat berlalu. Nikmatilah berlama-lama setiap jengkal rasanya. Kebahagiaannya, kepuasannya, kegembiraannya, dst. Resapkan ke subconscious mind kita pengalaman berharga ini. Lebih baik lagi, seperti yang saya lakukan selama 10 hari berturut-turut pengalaman positif tersebut berulang-ulang terjadi (meskipun dalam peristiwa yang berbeda).

Pengalaman positif yang mengendap di pikiran bawah sadar kita tersebut, nantinya akan memandu kita untuk berpikir positif ketika kita menggunakan pikiran sadar kita. Juga akan menyeleksi pengalaman negatif yang akan masuk setelah itu. Semakin banyak pengalaman positif yang kita rekam, semakin besar kemungkinan cara kita berpikir berubah menjadi lebih positif.

Pikiran (cara kita berpikir dan apa yang kita pikir) memang sangat menentukan perubahan yang kita rencanakan. Perubahan dimulai dari cara kita berpikir. Tapi jangan lupa bahwa bahasa perasaan atau emosi kitalah yang terbaca oleh subconscious mind kita. Jadi perbaiki dulu yang keliru di tingkat perasaan. Yang belum damai didamaikan. Yang belum release ya diikhlaskan. Jika sudah tak ada yang mengganjal lagi, baru apa yang kita tanamkan di pikiran sadar bisa masuk dan bekerja.

Mengapa saya bisa berpendapat demikian?
Karena dulu, meskipun saya rajin dan hafal ayat-ayat kitab suci, senang membaca buku-buku spiritual dan beraliran positif lainnya, tapi apa yang saya tanamkan tidak bisa bekerja maksimal karena hati saya masih penuh dendam, kebencian, kemarahan dan kepahitan. Baru ketika akhirnya saya setuju berdamai dengan diri sendiri, menerima, mengampuni diri sendiri dan orang lain, penyakit-penyakit emosional tersebut lenyap, dan apa yang pernah saya serap dari bacaan-bacaan tersebut dengan mudah menjadi mutiara dalam diri saya.

Ada 3 cara untuk mengatasi problem emosional seperti yang saya alami di atas:
1. Mengenal diri sendiri
2. Menerima diri sendiri
3. Mengampuni diri sendiri
Baru kemudian, lakukan hal yang sama untuk orang lain.

Sekian dulu postingan hari ini. Semoga bermanfaat.

Salam,

Selasa, 09 Oktober 2007

MEMPERJELAS TUJUAN

Ada 3 tujuan saya dalam membuat program Transformasi 150 hari.
  1. Terjadinya perubahan mindset, perilaku, habits, karakter dari negatif menjadi positif
  2. Terjadinya pertumbuhan di tingkat ketrampilan (skill)
  3. Terjadinya perkembangan di sektor network
Ketiganya butuh dijalani, butuh TINDAKAN, bukan hanya diangankan saja.

Pertanyaannya, kenapa saya tidak fokus di nomor 1 saja dulu?

Jawabannya, karena apa yang saya cantumkan di nomor 1 adalah hal-hal yang tidak nyata/ tidak konkrit.
Bagaimana saya mengukur ketekunan saya?
Bagaimana saya tahu seberapa besar power fokus saya?
Bagaimana saya tahu transformasi saya berhasil atau tidak?
Bagaimana saya tahu bahwa saya tak lagi bereaksi negatif lagi dan berubah sebaliknya?

Semua itu baru bisa terlihat dari apa yang kita hasilkan.

Apakah pekerjaan yang saya rencanakan berhasil saya tuntaskan?
Apakah target penghasilan saya tercapai?
Apakah skill saya bertambah? (Dulu gaptek sekarang minimal bisa buat blog sendiri...? hehehe... ini saya.... :-) )
Apakah teman-teman dan lingkungan pengaruh saya bertambah?

OK. Kita kembali lagi ke nomor 1.
Mengenai apa yang ingin saya ubah di nomor 1, masih bisa di break-down lagi:
  1. Mengubah TEGANG menjadi RILEKS
  2. Mengubah MARAH menjadi SABAR
  3. Mengubah PEMBOSAN menjadi TEKUN
  4. Mengubah TAKUT menjadi BERANI
  5. Mengubah KUATIR menjadi BERSERAH
  6. Mengubah MENUNTUT menjadi MENERIMA
  7. Mengubah MENGHAKIMI menjadi MENGHARGAI
  8. Mengubah MEMINTA menjadi MEMBERI
  9. Mengubah MENGOMEL menjadi BERSYUKUR
  10. Mengubah DENDAM menjadi PEMAAF
  11. Mengubah DILAYANI menjadi MELAYANI
  12. Mengubah BUTUH PERHATIAN menjadi MEMPERHATIKAN
  13. Mengubah NEGATIVE THINKING menjadi POSITIVE THINKING

Waow..., nggak terasa banyak juga ya? Padahal itu baru yang nomor 1 saja lho.

Bagaimana yang nomor 2?

  1. Saya ingin punya blog sendiri untuk mempublikasikan tulisan saya sendiri.
  2. Saya ingin mengirim tulisan saya sendiri ke milis-milis yang saya ikuti.
  3. Saya ingin membuat satu saja kerajinan tangan yang saya kuasai.
  4. Saya ingin belajar lebih banyak lagi tentang internet marketing.

Lho, lantas apa hubungannya nomor 1 dan nomor 2?

Begini, kalau kita ingin berubah, kita akan lebih terpacu jika ada orang lain yang tahu.
Minimal pada saat gagal, ada yang bisa membantu menyemangati (hehehe...GR!).
Nah, tujuan saya membuat blog selain untuk mendokumentasi program transformasi saya dan untuk menyemangati diri sendiri, terutama adalah untuk memproklamirkan kepada dunia bahwa saya MAU dan SEDANG berubah.... (wah..wah... kedengarannya kok terlalu dahsyat ya?). Dengan demikian, saya akan malu sendiri jika mundur dari program ini. 'Kan seluruh dunia sudah tahu, sedang menunggu dan siapa tahu mensupport rencana saya? Janganlah saya sampai putus asa di tengah jalan....

Yang kedua, dengan mempublikasikan tulisan saya lewat blog dan milis-milis, mau tak mau saya harus bertanggungjawab dengan apa yang saya tuliskan. Ini membuat sifat pengecut saya, sifat rendah diri saya menjadi bungkam. Saya termotivasi untuk berubah menjadi lebih PD dan lebih ksatria.

Yang ketiga, dengan membuat blog, dengan membuat kerajinan tangan, dengan menulis, saya benar-benar menghasilkan karya yang nyata. Bukan hanya berhenti pada IDE saja. Saya sudah melangkah pada step TINDAKAN, bukan hanya konsep atau rencana semata. Ini adalah sebuah langkah keberanian. Dan itu berhubungan dengan mengubah kebiasaan TAKUT saya menjadi BERANI.

Yang keempat, belajar membuat blog dan internet marketing mengubah sifat pembosan saya menjadi tekun dan kreatif. Mengubah sifat malas saya menjadi rajin dan produktif. Minimal rajin mencari info dan belajar dari sana sini .... :-). Mengubah kegaptekan saya menjadi "sedikit tahu" sekarang, hehehe...

Selanjutnya apa yang saya lakukan di nomor 1 dan 2, berimbas pada nomor 3: perkembangan network. Saya dapat teman-teman baru dari blog saya, dari milis-milis yang saya ikuti....

Demikianlah, mendefinisikan tujuan sangat penting untuk membangkitkan motivasi diri, bahwa kita MAU dan MAMPU. Kita orang-orang BERHASIL. Kita orang-orang BERANI. Kita orang-orang yang DIUBAHKAN dan MENGUBAH DUNIA.

Sungguh saya sangat bersukur pada Tuhan, bahwa Tuhanlah yang terbesar memberikan support kepada saya untuk berubah. Dibandingkan 150 hari yang lalu, saya melihat begitu banyak perubahan telah terjadi atas diri saya. It's miracle! Praise the Lord!

Sekian dulu postingan hari ini. Disambung lagi pada postingan berikutnya, ya?

Salam,

Rabu, 03 Oktober 2007

RILEKS!

Dalam masa transformasi 150 hari yang saya canangkan, saya belajar banyak hal.

Salah satu di antaranya adalah bagaimana meditasi membantu saya mencapai apa yang saya inginkan.

Bagi saya meditasi adalah sebuah jalan, bukan tujuan.
Meditasi adalah suatu pengkondisian untuk mencapai tujuan.
Sementara TUJUAN adalah apa yang kita inginkan, apa yang kita cita-citakan, apa yang kita impikan, bahkan apa yang kita pilih dalam setiap persimpangan jalan hidup kita....

Dalam kasus saya misalnya:

Tujuan saya menjadi LEBIH SABAR, jalannya melalui meditasi.
Tujuan saya menjadi LEBIH TANGGUH, jalannya melalui meditasi
Tujuan saya menjadi LEBIH KREATIF, jalannya melalui meditasi
Tujuan saya menjadi LEBIH KAYA, jalannya melalui meditasi

Jadi dalam hal ini meditasi membantu saya mencapai kondisi agar bisa menerima apa yang saya inginkan tersebut.

Kondisi apa yang dimaksud?

Yang pertama adalah RILEKS.

Situasi zaman yang penuh target dan tenggat waktu membuat kita sering kehilangan ketenangan. Kita senantiasa bergegas, terburu-buru, berkejaran dengan waktu. Alhasil pikiran kita menjadi tegang seperti benang yang ditarik kencang dari dua arah yang berlawanan. Kita mudah tersulut emosi, sulit bertoleransi dan menerima perbedaan. Kita sulit membuka pikiran bagi ide-ide baru yang transformatif. Ketegangan membuat otak reptilian kita berkuasa. Kita seperti binatang yang sibuk bersiaga ketika merasa terancam oleh musuhnya.

Ketegangan membuat kita tidak produktif dan tidak kreatif. Karena ketegangan membuat sel-sel otak kita menjadi tersumbat. Kita menjadi sulit berpikir, seolah-olah otak kita ada yang membelenggu sehingga tak dapat bekerja dengan bebas dan leluasa.

Keadaan gundah, gelisah, khawatir, takut, tertekan, tegang.... semuanya juga mencirikan ketidaktenangan. Ada pendapat yang mengatakan stress baik untuk melecut motivasi. Tapi saya sudah mengalami bahwa keadaan rileks jauh lebih baik untuk memacu kreativitas.

Tidak mudah bagi saya untuk berpendapat demikian, karena tipe saya yang choleric terbiasa keras terhadap diri sendiri dan juga kepada orang lain. Hidup saya selama ini lebih banyak diwarnai dengan ketegangan dan karenanya juga....konflik. Namun melalui meditasi, saya belajar bahwa hidup rileks lebih nyaman dan bahagia...

Kondisi rileks ternyata membuat hati menjadi nyaman.
Saya bisa merasa bahagia, riang dan mudah bersyukur.
Selain itu pikiran saya menjadi lebih lentur, lebih fleksibel, lebih mudah beradaptasi, lebih reseptif dan lebih mudah dibentuk oleh ide-ide baru yang muncul, nasehat-nasehat yang semula kurang/tidak saya pedulikan.
Hati menjadi lebih lapang untuk menerima perbedaan, juga kekeliruan.... Dan kondisi ini memicu kreativitas bekerja lebih dahsyat dari biasanya.

Dalam kondisi rileks kita tahu bahwa kita tidak sendiri...

Dengan kondisi yang mudah bersyukur dan merasa riang gembira kita menjadi lebih dekat kepada Tuhan... yang adalah kebaikan adanya. Kita menjadi semakin dekat dengan kebaikan semesta (sesuai Law of Attraction).

Keadaan rileks membuat kita lebih mudah menerima kelemahan orang lain dan diri sendiri, kita menjadi lebih pemaaf.... Orang yang pemaaf juga menarik kebaikan mendekat kepadanya...

Keadaan rileks membuat kreativitas kita mengalir dengan deras, karena ketegangan yang sering menghambat sel-sel otak untuk berkreasi dilemahkan....

Dari sisi spiritualnya, keadaan rileks membuat kita bisa mendengar suara batin kita, mendengar suara Roh Pembimbing kita yang sedang membantu dan mengarahkan kita menuju keadaan yang lebih baik atau membantu mewujudkan apa yang kita inginkan.

Seperti yang dijelaskan dalam buku Journey of Souls, seorang yang ingin bisa mendengarkan petunjuk roh pembimbingnya seyogyanya....

... mereka harus terlebih dahulu menyingkirkan apapun yang mengganggu pikiran, untuk bisa reseptif menerimaku (roh pembimbing - pen.). Ini akan sulit, jika mereka tidak tenang.... (hal 260)

Salah sebuah ayat di kitab suci juga mengatakan....

... dalam tinggal tenang dan percaya, terletak kekuatanmu....

Jangan terburu-buru ingin segera mewujudkan apa yang kita impikan. Dahulukan dan prioritaskan keadaan tenang (rileks) – yang adalah sumber kekuatan sejati di dalam diri kita - baru semua yang kita inginkan akan menyusul kemudian. Ini sesuai benar dengan ayat favorit saya di Alkitab:

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu... (Mat 6:33)

Yang dimaksud dengan "Kerajaan Allah" di sini adalah:

Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. (Roma 14:17)

Jadi singkatnya: Sebelum kita menginginkan impian kita terwujud, utamakanlah atau prioritaskanlah tumbuhnya rasa damai dan sukacita (rileks) di dalam diri sehingga kita menjadi selaras dengan kebaikan semesta.

Salam

Selasa, 02 Oktober 2007

Program Transformasi 150 hari

Sebagaimana telah saya ceritakan pada postingan sebelumnya, kisah transformasi elang pada usianya yang ke 40 telah menginspirasi saya untuk melakukan hal serupa. Tapi jika pada si elang prosesnya berlangsung alamiah, saya sebaliknya...:-).

Dengan penuh kesadaran diri saya membuat program transformasi selama 150 hari terhitung dari tanggal 1 Mei 2007 dan berakhir pada 30 September 2007, tepat di bulan saya berusia 40 tahun. Selanjutnya, program transformasi ke-2 akan saya jalankan mulai 1 Oktober 2007 dan berakhir 29 Februari 2008. Jadi 150 hari sebelum dan sesudah usia 40 tahun. Hehehe... piiyyuuhh.... :0

Program transformasi apa, untuk apa dan bagaimana?

Program transformasi ini tujuannya adalah membangunkan kekuatan di dalam diri (the power of inner self). Saya sudah amati dan pelajari baik dari buku, kehidupan para tokoh, orang-orang luar biasa yang ada di sekitar saya, bahwa yang menjadi kunci kesuksesan mereka adalah kekuatan di dalam diri mereka. Bukan uang atau harta mereka, bukan pendidikan, keahlian, penampilan, atau network mereka. Karena pada orang yang KUAT, ketika semua itu diambil dari mereka, mereka tetap bisa bertahan, bahkan hidup lebih dahsyat lagi daripada sebelum kehilangan semua itu.

Ada yang keliru dalam cara hidup saya sebelum ini, yang makan waktu cukup lama bagi saya untuk menyadarinya. (Tapi nggak papalah... better late than never.... hehehe, menghibur diri kan nggak dilarang? :-)). Itulah yang membuat saya ingin bertransformasi. Saya ingin BERUBAH! Saya ingin mengubah kekeliruan itu dan membangun kekuatan baru yang berasal dari dalam diri.

Sudah lama saya tahu bahwa saya pemarah dan mudah tersinggung. Tapi saya nggak tahu apa penyebab mula-mulanya kenapa saya bisa begini.
Sudah lama saya tahu bahwa saya pembosan, mudah mengeluh, tidak tahu berterimakasih...
Tapi lagi-lagi saya nggak tahu apa akar dari semua ini.
Sudah lama saya tahu bahwa saya mudah patah semangat, pencemas, negative response, negative thinking..., tapi saya kesulitan menemukan cara mengubahnya....

Sudah banyak buku-buku self help, buku-buku motivasi dan spiritual yang saya baca, saya juga aktif di berbagai kegiatan kerohanian, meminta bimbingan para rohaniawan, bekerja di markas motivator, puasa, ikut seminar hypnotherapy, bahkan pernah konsultasi langsung dengan psikiater dan psikolog kondang di negeri ini... dan berharap semua itu mampu mengubah saya...

Akhirnya, setelah mencanangkan program transformasi 150 hari mulai 1 Mei 2007, saya baru tahu... bagaimana sebuah proses transformasi berlangsung dan berhasil mencapai tujuannya.

Perubahan di dalam diri dimulai dari sebuah KEPUTUSAN!
Dalam sebuah keputusan terkandung yang namanya TUJUAN/SASARAN.
Dan sebuah tujuan bisa tercapai jika kita melakukan TINDAKAN.
Sedangkan dalam BERTINDAK, kita perlu tahu alat bantunya, metodenya, mekanisme kerjanya, dsb... karena jika tidak, maka tindakan kita akan sia-sia saja... sama seperti yang pernah saya lakukan pada tahun-tahun-tahun sebelumnya.

· Keputusan : saya tidak mau lagi menjadi pribadi yang pemarah

· Analisa : biasanya saya marah/tersinggung jika... dilecehkan, tidak dianggap, dikritik, tidak diterima (ditolak), dst

· Metode : dalam kasus saya, saya menggunakan metode Meditasi

· Alat Bantu : sebelum praktek meditasi, saya belajar menggunakan pendulum. Di sini saya belajar menggerakkan pendulum dengan suara batin, bukan dengan pikiran (logika). Dari sinilah saya baru tahu, bahwa batin mempunyai suaranya sendiri.

· Proses :
  1. Dengan meditasi, saya belajar berkomunikasi dengan suara batin saya. Saya baru tahu jika selama ini saya (logika) seringkali menelantarkan suara batin bahkan membungkamnya dalam banyak hal yang membutuhkan keputusan. Saya (logika) selama ini berusaha menyenangkan orang lain lebih daripada mengikuti suara batin saya sendiri, karena saya ingin diterima oleh lingkungan di sekitar saya. Lama kelamaan suara batin saya merasa tak dianggap. Merasa dicuekin. Akibatnya, itulah yang sering tampil dalam pribadi saya. Kemarahan, ketidakpuasan, penolakan, dendam.... itulah akar yang harus saya bereskan.

  1. Saya mengajak batin saya berdialog. Dalam kesempatan ini saya menganggapnya sebagai pribadi yang nyata (berwujud). Saya minta maaf kepadanya karena selama bertahun-tahun saya tidak mempedulikannya. Saya mengajaknya berdamai dan mencurahkan kata-kata penuh cinta, dukungan dan penerimaan kepadanya.

· Hasil :

Dan tebak apa yang terjadi!
Beberapa menit kemudian mengalirlah sebuah rasa damai yang luaaaar biasa, yang belum pernah saya rasakan dalam hidup ini di dalam batin saya. Mendadak batin saya dipenuhi rasa cinta kasih dan meluap oleh rasa syukur. Hati saya terasa ringan, riang, merasa puas dan cukup, bahkan berkelimpahan. Lebih daripada itu, saya seolah memperoleh bonus. Kini saya mempunyai seorang sahabat yang abadi, yang selalu menemani kemana pun saya pergi, yaitu Suara Batin saya. Dialah tempat curhat, berdialog, meminta pendapat bahkan petunjuk. Ya, setelah berdamai dengannya, saya kini mampu mendengar Suara Batin saya ketika dia memberi inspirasi, ide dan solusi di luar apa yang mampu saya (logika) pikirkan. Saya bersyukur luar biasa.

Puji Tuhan, sekarang saya jauh dari kebiasaan marah, malahan sulit untuk marah. Beberapa kali ada peristiwa (mungkin sebagai ujian?) yang memancing saya untuk marah. Tapi sungguh, saya nggak bisa lagi bereaksi seperti dulu. Entah kenapa tiba-tiba merasa tak ingin dan tak guna membuang energi untuk marah-marah berkepanjangan. Padahal dulunya saya cenderung pendendam. Kalau marah bisa sampai berbulan-bulan... hahaha... :-)

Yah, itu baru satu sasaran yang sempat saya capai dalam masa transformasi 150 hari yang lalu. Mungkin terasa sepele bagi yang tidak mengalaminya, namun bagi saya sangat besar dampaknya bagi kehidupan saya selanjutnya.

Pengalaman lain dalam masa transformasi 150 hari ini akan saya sambung dalam postingan berikutnya, supaya tidak kepanjangan….

Semoga bermanfaat ...


Kamis, 20 September 2007

Ulang Tahun ke 40 (2)

Bagaimana saya merayakan ulang tahun ke 40?

Pagi-pagi saya dibangunkan Latu dan Ayahnya dengan nyanyian mereka... Happy Birthday Mama.... Happy Birthday Mama....
Dan dengan wajah cerah ceria mereka membawa hadiah kejutan buat saya. Sebuah kotak berbungkus hijau yang mereka ingin segera saya buka.

Dengan mata masih terkantuk-kantuk - karena malamnya saya tidur agak larut sepulang dari rumah sakit - saya membuka bungkusan itu.
Sebuah mug yang bergambar kami bertiga dan bertuliskan "Dari Ayah dan Latu, 10 September 2007".

Waow terharu saya jadinya. Saya pun memeluk dan mencium mereka berdua. Terima kasih ya?
Bukan bentuk barang atau harganya yang menjadi penilaian saya. Namun besarnya perhatian, waktu yang mereka curahkan serta cinta yang mereka taburkan untuk mempersiapkan kado itulah yang tak terhingga nilainya. Tak mungkin terbalas dengan kata-kata atau apapun juga.

Ayah and Latu, I love you so much... :-))

Setelah membantu Latu mempersiapkan diri untuk ke sekolah, saya sendiri pun berkemas untuk ke rumah sakit. Ya, sudah 4 hari saya tidak ke kantor dan menghabiskan waktu di RS untuk menemani mama yang opname di sana. Ada gangguan pencernaan yang menyebabkan setiap makanan yang masuk ke tubuh mama akan keluar lagi baik melalui atas maupun bawah. Ini hari kelima yang akan menentukan apakah mama akan diizinkan pulang atau belum. Dan doa saya adalah semoga di hari yang berbahagia ini, saya boleh membawa mama pulang ke rumah dalam keadaan sehat wal'afiat.

Telpon dan sms ucapan selamat ulang tahun datang silih berganti ke ponsel saya. Dari Om dan Tante di Wonosobo, om dan tante yang di Jakarta, kakak adik, saudara-saudara sepupu, ipar dan mertua, teman-teman sekantor bahkan sahabat semasa kuliah, sahabat di Bali... wah, besarnya perhatian mereka pada saya... sungguh saya patut mengucap syukur pada Tuhan atas limpah rahmatNya di usia saya yang ke 40 tahun ini.

Akhirnya doa saya terjawab. Setelah menjalani proses anuscopy, mama diperbolehkan pulang. Kakak dan salah seorang adik menyelesaikan urusan adminitrasi RS, sementara saya dan seorang adik lagi membereskan kamar. Mama pun dibawa keluar kamar dengan kursi roda. Pukul setengah empat sore rombongan kami tiba di rumah.

Petang hari, setelah bangun dari istirahat sejenak, saya membuatkan bubur, sayur bening dan tempe becek untuk makan malam mama. Saya senang melihat mama menyantap makanan buatan saya dengan lahap. Tiba-tiba adik saya menginstruksikan agar saya dan keluarga (Latu dan ayahnya) berkumpul setelah makan malam karena mama ingin mengajak berdoa bersama. Saya pun mengiyakan saja, karena mungkin mama ingin mengucap syukur pada Tuhan atas kepulangannya dari rumah sakit.

Sungguh surprise karena ternyata mama mengajak berdoa bersama dalam rangka ulang tahun saya! Mama membacakan sedikit ayat kitab suci, kemudian berdoa. Dalam doanya mengalirlah permohonan dari lubuk hati yang terdalam akan datangnya berkah dan kebaikan bagi saya dan keluarga pada tahun-tahun mendatang. Saya sangat terharu dengan doa mama. Sungguh inilah kado terindah dan penuh makna yang boleh saya terima dari mama yang tercinta dalam keadaannya yang berbeda dengan saya. Ia yang masih sakit, dan saya yang sedang berbahagia. Hanya cinta kasihlah yang mampu menyatukan dua keadaan yang berbeda itu.

Belum selesai keterharuan saya, begitu kata "Amin" diucapkan mama, Latu dan adik-adik saya menyerbu kulkas dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Astaga, kejutan lagi. Ada kue-kue kecil dari ice cream yang sudah disiapkan mereka entah sejak kapan. Sungguh, malam itu saya sangat berbahagia. Rasanya semua orang mengingat saya, memberikan cinta dan perhatiannya yang terbesar kepada saya. Terimakasih mama, terimakasih adik-adikku Kenti dan Kunye, terimakasih Ayah suamiku yang tercinta, terima kasih anakku Lelatu... kalian semua adalah mata hatiku. Cintaku yang abadi.

Saya tak pandai berkata-kata. Saya juga tak pandai merangkai kata. Tapi apa yang saya alami di hari ulangtahun saya yang ke 40 tahun ini sungguh patut dikenang dalam bentuk tulisan semampu saya bisa, untuk menunjukkan betapa indahnya jika cinta di antara kita...

Semoga cinta ini bisa menular kepada siapapun yang membaca tulisan ini.
Selamat saling mencintai. Tuhan ada di antara kita yang saling mencinta.

Salam penuh cinta,