Google

Jumat, 09 November 2007

Ke mana Energi Kita Disalurkan = Itukah ”Niche” Kita?

Beberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan adik dan suami saya. Kami menganalisa mengapa ada anak-anak yang tidak bisa diam dan duduk manis ketika belajar di sekolah, sementara yang lainnya lebih penurut dan tidak pernah menimbulkan masalah di kelas, meskipun belum tentu si penurut ini lebih cerdas dan berprestasi dibandingkan si”trouble maker”?

Suami saya bercerita, bahwa sejak SD dia selalu juara kelas bahkan sampai mendapat beasiswa. Namun di sisi lainnya, ia pun pernah beberapa kali dihukum berdiri di depan kelas dengan mulut diplester karena kedapatan ngobrol melulu dengan temannya saat jam belajar. Suami berujar, mungkin dari peristiwa itu sudah terlihat bahwa saya punya bakat (menonjol) dalam soal bicara, ya? Saya jadi tidak heran kenapa anak kami sering dapat teguran dari gurunya karena kedapatan ngobrol melulu di kelas. Rupanya ada bakat turunan dari Ayahnya..., hehehe... :))

Dari pembicaraan tersebut saya memperoleh insight, bahwa apa yang kita lakukan secara spontan, dengan sering, tapi juga dengan senang dan tanpa kesulitan, bisa jadi merupakan petunjuk adanya bakat dan ”niche” kita di situ.

Saya jadi ingat diri saya sendiri. Sejak kecil saya suka melamun, menggambar dan menulis. Tulisan saya yang pertama (dan satu-satunya) yang pernah dimuat di media massa adalah sebuah cerpen yang saya tulis untuk Majalah Bobo saat saya kelas 6 SD. Padahal seingat saya, itu juga asal nulis dan asal ngirim. Nggak serius-serius amat. Sebenarnya pun, dimuat di majalah bukan menjadi target saya, karena tanpa disuruh pun saya bisa menulis dengan sukacita sampai berlembar-lembar banyaknya. Saya mulai menulis diary sejak SMP, dan setiap tahun punya jilidnya sendiri. Itu berlangsung sampai sekarang. Diary saya sejak 10 tahun yang lalu masih saya koleksi, dan jumlahnya sudah lebih dari 10 buah. Bukankah ini menunjukkan bahwa saya memiliki potensi menulis yang bisa dikembangkan menjadi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain? Buktinya, jika diminta mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan gagasan, ide-ide dan imajinasi, saya bisa melakukannya dengan baik dan dengan gembira. Bahkan melebihi apa yang diminta.

Bicara soal talenta yang tidak dikembangkan atau mengalami hambatan untuk berkembang ibarat tubuh yang tidak mampu menyalurkan kelebihan energinya sehingga malah menjadi penyakit.

Seperti kita ketahui, yang namanya sakit adalah kondisi ketika tubuh mengalami ketidakseimbangan energi. Apa yang menyebabkan ketidakseimbangan tersebut misalnya, orang yang marah tapi tidak bisa mengungkapkan kemarahannya; orang yang banyak pikiran tapi tak dapat me-release ketegangannya. Termasuk di antaranya ketika orang tidak mampu menyalurkan energi untuk melakukan apa yang disukainya, apa yang menjadi talentanya.

Orang yang senang berpikir, berimajinasi dan bermain-main dengan gagasan, akan mengalami kelebihan energi di otaknya, yang jika tidak disalurkan akan membuatnya mengalami kesulitan tidur (imsonia), atau otak menjadi terlalu tegang dan berat yang bisa-bisa menjadi stroke. Maka sebaiknya orang tersebut mencari tahu, apa cara terbaik untuk menyalurkan buah-buah pikiran, gagasan dan imajinasinya. Apakah dengan menulis, mengajar, ngobrol, menciptakan sesuatu, dsb?

Orang yang penuh hatinya, atau yang mengalami ketidakseimbangan emosi (perasaannya), perlu menyalurkan energinya dengan menyanyi, curhat atau berteriak, atau melukis, menari, olahraga, dsb.

Sebenarnya tubuh telah memiliki mekanisme yang spontan untuk mengontrol hal itu. Itulah yang membedakan seseorang satu dengan yang lainnya. Ada yang memerlukan media ngobrol untuk membuang kelebihan energinya. Ada yang melalui tulisan. Ada yang melalui bermain musik. Ada yang melalui melukis, dsb.

Jadi, anak yang hobinya ngobrol, bisa jadi karena ada dorongan spontan dari tubuhnya untuk menyalurkan energinya dengan cara ngobrol. Mungkin karena ia sendiri tidak tahu harus disalurkan melalui media apa.

Pilihan yang diambil seseorang untuk menyalurkan "kelebihan" energinya, bisa menjadi sinyal ke mana sebenarnya bakat dan panggilannya. Ada yang berbakat bicara seperti anak saya misalnya, yang jika dibiarkan memilih, pasti akan lebih suka menghabiskan waktunya untuk mengobrol bersama mainannya, menjadi "dalang" bagi robot-robot koleksinya. Sementara anak tetangga saya, yang mempunyai talenta fisik yang luar biasa, jago salto, beratraksi dengan sepeda, main basket, badminton, dsb akan lebih memilih untuk bergerak dan berolah fisik ketimbang berpikir dan belajar. Mungkin jika tidak demikian mereka akan sakit, sama seperti saya yang mungkin sakit jika tidak menulis.

Pertanyaannya, apa yang akan Anda pilih untuk Anda lakukan dengan energi yang Anda miliki? Menyalurkan apa yang Anda punya dan miliki tidak selalu berkaitan dengan uang dan penghasilan. Mungkin dengan serta merta Anda akan membagikannya tanpa berpikir dua kali meski Anda tak dibayar atau dihargai. Kelebihan itu spontan saja mengalir karena jika tidak Anda-lah yang akan menderita sakit karenanya.

Cobalah mengamati apa kelebihan Anda tersebut. Mungkin di situlah Tuhan ingin Anda berkarya dan menjadi sesuatu bagi dunia ini. Mungkin itulah panggilan dan takdir Anda, ungkin di situlah ”niche” Anda, di situlah porsi Anda, di situlah bagian Anda di dunia ini yang perlu dibagikan kepada orang lain, siapa tahu?

Jangan Pikirkan Bagian Tuhan

Meski saya terus belajar untuk rileks dan lebih rileks lagi, tapi kadang-kadang saya gagal memasuki tahap rileks. Pikiran terus tegang, apalagi jika belum menemukan jalan keluar. Akhirnya beberapa hari yang lalu, saya baru menemukan kuncinya.

Ternyata kondisi rileks erat kaitannya dengan keadaan berserah (pasrah).

Keadaan di mana kita dengan rela dan sadar meletakkan semua beban yang menggelayuti jauh-jauh di luar diri kita. Lebih baik lagi ketika kita percayakan beban itu kepada seseorang yang lebih kuat daripada kita, yang kita yakin dan bisa kita andalkan untuk menanggung beban itu.

Katakanlah saya baru tiba di stasiun Gambir dengan barang bawaan lebih dari 25 kg. Tentulah akan terlalu berat jika saya membawanya sendirian. Sesaat kemudian lewatlah portir yang menawarkan saya untuk menggunakan jasanya. Pilihan saya adalah, mempercayakan barang saya kepadanya dan saya bisa melangkah lebih ringan. Atau saya tetap memegang erat-erat barang-barang saya karena saya tidak mempercayai portir tersebut, dengan resiko saya akan tetap membawa beban yang sama, berdiri di tempat yang sama, dan tak bergerak ke mana pun.

Illustrasi di atas sebenarnya menggambarkan hubungan saya dengan Tuhan selama ini. Boleh saja saya mengakui taat beribadah dan hafal ayat-ayat suci, namun itu tidak menjamin bahwa saya percaya pada Tuhan, mempercayaiNya maupun mempercayakan diri saya padaNya.

Ya, beragama itu tidak sama dengan percaya. Kita bisa saja rajin mengikuti dan menjalani ritual keagamaan kita, tapi soal percaya itu hal yang berbeda. Percaya lahir dari hati. Ini bicara soal hubungan, bukan soal tradisi. Dalam tradisi, saya lahir dari Ayah dan Ibu saya yang sepatutnya saya hormati. Tapi apakah saya benar-benar hormat, itu harus datang melalui pengalaman saya bersama mereka dan keluar dari hati saya sendiri, bukan karena sudah seharusnya demikian.

Mengapa saya bilang jangan-jangan saya tidak percaya pada Tuhan? Karena setiap kali masalah datang, respon saya yang pertama adalah selalu berusaha mencari sendiri dulu jalan keluarnya, Tuhan belakangan. Tuhan baru saya hampiri saat keadaan sudah mentok. Saya akui, sulit sekali bagi saya mempercayai orang lain dan mempercayakan diri saya padanya, apalagi kepada Tuhan yang tak kelihatan.

Nah, ketidakmampuan mempercayakan diri inilah yang membuat seseorang menjadi tegang dan tidak bisa rileks, sampai ia benar-benar RELA menyerahkan diri kepada orang lain untuk ditolong. Rela, percaya sepenuhnya adalah kondisi pasrah yang memungkinkan orang mencapai keadaan rileks yang sejati. Mengakui keterbatasan diri, keterbatasan pikiran kita untuk kemudian dengan rendah hati meminta pertolongan kepada orang yang lebih kuat untuk menanggungkan beban kita.

Saat ini saya sedang mengalami keadaan yang sulit secara finansial. Sebagai tenaga lepas (freelance), saya tidak menerima gaji bulanan, melainkan dibayar jika mendapat proyek. Nah, dalam 3 bulan terakhir, seiring hadirnya bulan puasa, libur Idul Fitri dan berikutnya liburan Natal, mengimbas pula pada produk/jasa yang saya jual. Inilah masa kritis bagi saya yang sedang dalam masa transisi menjadi pekerja mandiri. Di saat-saat sepi order seperti ini, saya mulai kuatir dan mempertanyakan masa depan saya. Apakah saya masih bisa menghidupi keluarga di hari-hari mendatang? Apakah Tuhan masih berkenan memberikan proyek-proyek baru kepada saya?

Saya sempat menjerit, bukankah saya sudah melakukan pekerjaan saya sebaik-baiknya? Juga dengan senang hati dan gembira? Tapi mengapa tuaian dari apa yang telah saya taburkan belum terlihat wujudnya? Saya berpikir dan terus berpikir, apa lagi yang bisa saya lakukan dan usahakan. Apa lagi?

Namun pagi ini tiba-tiba terbersit sebuah jawaban.

Lakukan saja bagianmu, dan jangan pikirkan bagian Tuhan!

Ibarat bekerja dalam sebuah tim, ketika sudah dibagi tugas masing-masing, maka setiap anggota tim tidak berhak intervensi pada tugas yang menjadi bagian rekannya. Harus ada saling percaya bahwa satu sama lain akan melakukan tugas dan kewajibannya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Kecuali jika ada yang merasa butuh bantuan, rekan lain yang merasa bisa membantu silakan turun tangan. Bagi yang dibantu, harus rela jika pekerjaan yang menjadi bagiannya terpaksa mengalami penyesuaian-penyesuaian yang mungkin tidak sesuai dengan keinginannya. Namanya juga dibantu, artinya memiliki keterbatasan, jadi tidak bisa dengan semena-mena mengatur yang mereka yang sudah menyediakan diri untuk membantu, atau ngotot semaunya sendiri. Di dalam tim, ada kebersamaan, ada saling menyesuaikan, ada saling merendahkan hati.

Nah, ternyata rileks yang sejati baru bisa muncul ketika kita memiliki kerendahan hati untuk mau menerima pertolongan yang lain. Ketika kita mau meletakkan beban kita kepada tangan yang lebih kuat dan mempercayakan diri kita kepadanya. Lakukan saja apa yang mampu kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Selebihnya itu adalah bagian Tuhan yang bekerja dengan caraNya yang tak kita pahami, namun yang mestinya kita percayai akan selalu membawa kebaikan bagi kita. Amin.

Rabu, 07 November 2007

Mengampuni Diri Sendiri

Kata mengampuni erat kaitannya dengan aspek hukum. Entah itu hukum sosial masyarakat, hukum agama, atau hati nurani. Mengampuni berkaitan dengan keadaan salah yang pernah terjadi, yang mungkin bertentangan dengan norma hukum yang berlaku, yang perlu diakui, diluruskan kembali, dan kemudian diperdamaikan.

Dalam prakteknya, orang mungkin bisa mengelabui kebenaran di tingkat hukum masyarakat maupun hukum agama. Kita bisa saja bersikeras untuk tidak mengakui atau berpura-pura tidak peduli meski tahu bahwa kita bersalah. Namun berbeda halnya jika kita harus berhadapan dengan hati nurani. Kita tak dapat menghindar. Meskipun kita mencoba untuk membungkamnya, ia akan terus bersuara. Karena tujuan hati nurani adalah memberitahukan apa yang terbaik bagi kita.

Bahasa apa yang dipergunakan oleh hati nurani untuk memberitahu kita ketika kita melakukan hal yang salah? Biasanya dengan sinyal rasa tidak nyaman atau rasa bersalah di dalam hati kita.

David R.Hawkins, MD, PhD dalam penelitiannya selama 20 tahun mencoba mengukur berbagai level energi manusia dalam berbagai kondisi. Hasilnya disajikan dalam sebuah tabel yang disebut Map of Consciousness. Dalam tabel ini, ditampilkan beberapa jenis kondisi emosi manusia dengan skornya masing-masing. Dengan angka 200 sebagai baseline, Hawkins menunjukkan bahwa yang memiliki skor di atas 200 adalah kondisi emosi yang memberikan efek energi positif. Beberapa di antaranya adalah: pencerahan, kedamaian, sukacita, cinta, berpikir, penerimaan, kemauan dan netralitas.

Sebaliknya, kondisi yang memiliki skor di bawah 200 adalah emosi yang menghasilkan efek negatif. Beberapa di antaranya adalah: perasaan bangga diri, marah, keinginan, takut, kesedihan mendalam, apatis, rasa bersalah dan rasa malu. Untuk lebih detailnya Anda dapat membaca buku laris Becoming a Money Magnet yang ditulis Bapak Adi W. Gunawan.

Dari tabel tersebut nampak bahwa rasa malu dan rasa bersalah adalah dua hal yang paling merusak dan berefek paling negatif terhadap diri (skor paling rendah).

Lantas apa yang harus kita lakukan agar bisa kembali feel good dan tidak terus menerus dihantui perasaan bersalah?

Pertama, biasanya kita akan merasa lebih ringan setelah kita MENGAKUI kesalahan tersebut,. Kemudian MINTA MAAF/MINTA AMPUN kepada pihak yang menjadi korban kesalahan kita. Jika kita sulit minta maaf kepada orang yang bersangkutan, biasanya lewat mengadu kepada Tuhan sebagai perantara merupakan langkah yang efektif pula.

Tapi bagaimana jika yang kita persalahkan adalah Tuhan atau diri kita sendiri? Bagaimana kita bisa mengampuni Tuhan dan diri sendiri? Masa Tuhan diampuni….nggak salah tuh? Nggak terbalik tuh? Memangnya siapa kita dan siapa Tuhan?

Memang kedengarannya janggal dan tak masuk akal. Sedikit kurang ajar malah.
Tapi mungkin tanpa sadar kita pernah protes, berontak bahkan marah kepada Tuhan.

Kapan itu terjadi?

Umumnya ketika penderitaan sedang menghampiri kita.

”Kenapa harus aku Tuhan?”, mungkin protes semacam itu akan meluncur dari mulut kita. "Kenapa aku mengalami hal yang buruk sementara aku meyakini bahwa Tuhan itu baik?"

Mampukah kita bertahan untuk tidak menyalahkan Tuhan ketika kita mengalami penderitaan yang bertubi-tubi?
Mampukah kita menerima bahwa Tuhan adalah tetap baik adanya dengan segala rencana Nya yang tidak kita pahami?
Mampukah kita mengampuni Tuhan ketika akhirnya kita terpaksa marah dan menyalahkanNya?

Mari kita coba masuk ke dalam batin kita lebih jauh lagi.

Jangan-jangan itu semua terjadi karena kesalahan kita sendiri yang sering mengabaikan suaraNya yang berdiam di hati nurani kita. Kita lebih senang mendengarkan suara manusia dibanding mendengarkanNya. Kita lebih mengedepankan suara logika kita, ketimbang suara hati nurani. Kita sering tak menghargai perasaanNya, pendapatNya, pengajaranNya. Namun ketika kita gagal, Tuhanlah yang paling pertama kita salahkan. Bahkan lebih parah lagi, kita tak segera mendekat dan berdamai denganNya, ketika kita terlanjur mengambil keputusan yang salah.

Pengadilan, persidangan, pengakuan, penentuan bersalah atau tidak bersalah, vonis, penghukuman, perdamaian, semua itu berkonotasi hukum. Jadi, jika kita melanggar sesuatu dalam aspek hukum, ada sanksinya meski juga ada solusinya.

Demikian juga perilaku kita terhadap hati nurani sebagai pemegang kedaulatan hukum yang tertinggi, akan menentukan apa yang akan kita dapatkan. Jika kita mau mengakui kesalahan kita, kita mau berdamai dengan hati nurani kita, maka kita pun akan memperoleh kedamaian dan pembebasan dari rasa bersalah. Namun jika kita tetap keras kepala meski sudah tahu bersalah, kita menolak mendengar teguran hati nurani kita, maka rasa bersalah juga akan terus mengejar-ngejar, hati tak kunjung merasa damai, dan jiwa kita tak kunjung tenang dan bahagia.

Dalam masa tranformasi 150 hari yang lalu, itulah yang coba saya lakukan. Mengakui kesalahan saya selama ini yang telah sering menganggap angin lalu suara hati nurani. Berdamai dengan hati nurani, dan mencoba hidup baru bersamanya. Hasilnya? Saya merasa lebih bersih, lebih bebas, lebih damai dan lebih bahagia

Inikah yang dinamakan pertobatan?

Senin, 29 Oktober 2007

STOP PRESS! PESTA BLOGGER 2007

Berita tentang akan diadakannya Pesta Blogger Indonesia tahun 2007 pertama kali saya ketahui dari Jennie S. Bev, dan sejak itu saya menyatakan dukungan terhadap acara ini dengan mencantumkan logo Pesta Blogger 2007 di blog ini.

Meski saya tak terdaftar sebagai peserta maupun hadir dalam acara akbar tersebut, setidaknya saya mengikuti perkembangan Pesta Blogger ini dari berbagai milis.

Dari milis Forum Pembaca Kompas yang dikomandani oleh Mas Agus Hamonangan saya jadi tahu perkembangan blogger di dunia maupun di Indonesia saat ini.

Dari artikel Jangan Abaikan Blogger yang ditulis oleh J Heru Margianto disebutkan bahwa Blog sebagai kekuatan baru dunia informasi tak dapat dipungkiri lagi. Contoh kasus kerusuhan di Myanmar tempo hari, berhasil didokumentasikan dan disiarkan oleh para blogger ke seluruh penjuru dunia meski berada di bawah ancaman dan tekanan dari junta militer yang berkuasa. Ini menunjukkan bahwa suara para blogger tidak bisa lagi diabaikan.

Perkembangan jumlah blog sendiri disinyalir bertambah dua kali lipat setiap bulan. Sementara, setiap hari tercipta lebih dari 70 ribu blog baru di seluruh dunia. Bahkan di Indonesia, sebagaimana diliput oleh Majalah Business Week, telah mencatatkan Jakarta ke dalam 30 kota yang aktivitas ngeblog-nya tinggi. Sementara kabar dari Word Press menyebutkan bahwa dalam statistik bulan Juni bahasa Indonesia berada dalam urutan ketujuh bahasa yang paling banyak digunakan di situs ngeblog itu.

Bagaimana dengan persiapan Pesta Blogger 20o7 itu sendiri?
Dikabarkan pantia sempat kewalahan dengan membludaknya peserta, sampai-sampai memindahkan lokasi pelaksanaan ke tempat yang lebih besar.
Wah, luar biasa ya?

Dalam acara ini dinominasikan sejumlah blog berdasarkan kategorinya (berikut para pemenangnya sesuai berita terbaru yang saya peroleh hari ini).
  1. Kategori online marketing dan sales: Media Ide Bajing Loncat
  2. Kategori women’s issues: Fashionese Daily
  3. Kategori blog teknologi: Ilmu Komputer.com
  4. Kategori blog personal: Istri Bawel
  5. Kategori blog selebriti: Jennie S. Bev
  6. Kategori current issues: Perspektif. net
  7. Kategori bridge blogging: Enda Nasution
  8. Kategori pendatang baru terbaik: Lidya Wangsa
Dan wow, di blog selebriti terbaik terpilih Jennie S.Bev, sebagaimana sudah saya duga sebelumnya. Bukan karena saya nge-fans pada Jen, tapi blog Jen memang patut mendapat penghargaan terbaik. Paling tidak, menurut saya, blog Jen memenuhi kriteria informatif dan terpercaya, edukatif, memiliki misi yang jelas, desain yang menarik dan beberapa kelebihan lain yang akan terlalu panjang jika saya sebutkan satu persatu di sini ;-)).
Congratulations, Jen dan juga para pemenang lainnya. Salam persaudaraan semuanya.

Akhir kata, semoga kemeriahan acara ini tak berhenti sampai di sini. Semoga para Blogger tetap menjalankan misinya masing-masing di dunia teknologi informasi ini untuk menjadi pembawa pesan, informasi, kebenaran, keadilan dan perdamaian bagi dunia kita bersama.

Salam

Kamis, 25 Oktober 2007

MENERIMA DIRI SENDIRI

Setelah belajar mengenal diri, kita lanjut ke tahap berikutnya, yaitu menerima diri sendiri.

Sebagian orang (termasuk saya) ternyata memerlukan waktu ekstra untuk bisa menerima diri sendiri. Lho, apa sulitnya sih menerima diri sendiri? Dan kenapa jadi sulit?

Ini beberapa kasus yang sempat tercatat oleh saya:
  1. Penolakan yang dialami semasa kecil
  2. Pengalaman ditolak/dikucilkan dari kelompok yang terjadi berulang-ulang
  3. Keserakahan (menginginkan status, posisi, nasib orang lain)
  4. Kesombongan (tidak mau menerima kelemahan diri)

Jika ada mau menambahkan, silahkan. Tapi saya coba membahas 4 yang di atas dulu ya?

Jangan pernah abaikan pengalaman masa kecil, bahkan yang tanpa kita ketahui pernah terjadi semasa masih berupa janin dalam rahim ibunda.

Apakah itu mereka yang dulunya pernah akan digugurkan, yang kelahirannya tak diinginkan, atau yang diinginkan lahir dengan jenis kelamin tertentu, yang lahir dan besar dalam keluarga broken home, orangtua yang bercerai, dst hampir sebagian besar pernah mengalami "rasa tertolak" yang mungkin bisa berlanjut hingga dewasa, bahkan tanpa mereka pernah menyadari, kenapa dan darimana mereka mempunyai perasaan tersebut. Seolah-olah itu memang sudah menjadi bagian dari diri mereka. "Rasa tertolak" ini bisa sangat mengganggu kecerdasan emosional pemiliknya. Mereka menjadi peragu, pemurung, cenderung menarik diri dari pergaulan. minder, merasa ada yang kurang, tidak PD, dll.
Bahkan sekalipun mereka memiliki prestasi yang menjulang, multi talenta, namun di lubuk hati yang terdalam, prestasi tertinggi yang mereka dambakan sebenarnya adalah penerimaan tanpa syarat, pertemanan yang sejati, persaudaraan yang abadi. Kebutuhan untuk diterima dan dicintai lebih besar artinya daripada pengakuan akan prestasi mereka. Bagi yang belum menyadari, mereka bisanya justru menggunakan jalan prestasi untuk bisa diterima. Bagaimanapun, kebutuhan untuk diterimalah yang menjadi prioritas utama.

Pengalaman ditolak/dikucilkan, biasanya terjadi di lingkungan yang rasis. Dampaknya lebih terasa bagi mereka yang perasa. Sedikit kasak-kusuk, cekikikan teman yang tidak melibatkan mereka, menjadi isu penolakan yang terbawa hingga dewasa. Jika ini diizinkan untuk terekam ulang ke pikiran bawah sadar kita, maka kita akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri, terlalu sensitif dan selalu dipenuhi rasa curiga.

Keserakahan atau kemarukan adalah bentuk lain tidak bisa menerima diri. Tidak puas terhadap diri sendiri. Ingin jadi seperti orang lain. Selalu iri melihat orang lain lebih baik dan lebih beruntung. Menginginkan nasib baik orang lain jatuh kepadanya, ingin menggeser posisi orang lain yang lebih tinggi, dst.

Ketidakmampuan untuk menerima diri sendiri bisa jadi juga berasal dari sisi kesombongan kita. Kita cenderung ingin melihat yang baik-baik saja dari diri kita, tapi sulit menerima kelemahan diri. Sulit dikritik. Selalu ingin dipuji. Kita lupa bahwa setiap manusia punya kelebihan tapi juga ada kekurangannya.

Nah, beberapa hal yang saya sebutkan di atas, jika tidak segera diselesaikan tidak akan segera membawa kita kepada perubahan yang kita inginkan. Kita perlu belajar jujur pada diri sendiri. Kita perlu rendah hati mengakui kelemahan kita. Tapi kita juga harus bersyukur dengan talenta yang kita miliki dan mengembangkannya semaksimal mungkin. Jangan malahan kita lebih ngotot mengembangkan talenta orang lain yang kita inginkan bisa kita miliki. Banggalah dengan apa yang ada pada diri kita, meskipun kelihatan "berbeda" dari rekan-rekan kita. Jangan takut menjadi "berbeda" dan jangan merendah-rendahkan diri hanya agar dapat dianggap sama dan diterima oleh komunitas atau kelompok yang kita kagumi.

Nampaknya ini serupa dengan saat pencarian jati diri di masa pubertas ya? Tapi percaya nggak percaya itu terus berlanjut ke masa dewasa jika kita tak segera menyelesaikannya lho.

OK, sekian dulu postingan saya hari ini. Semoga bermanfaat.

Salam,

Rabu, 24 Oktober 2007

MENGENAL DIRI SENDIRI

Sudahkah Anda mengenal diri sendiri?
Sejauh mana Anda mengenal diri sendiri?

Bagaimana cara Anda memahami sesuatu?
Apa tipe belajar Anda?
Apakah Anda mengetahui bagaimana otak Anda bekerja?

Bagaimana hubungan otak Anda dengan cara berpikir dan bereaksi Anda?
Bagaimana proses kerja pikiran Anda?
Bagaimana proses kerja emosi Anda?
Bagaimana cara Anda memaksimalkan kerja otak Anda?

Apakah Anda mengetahui apa yang sejatinya Anda inginkan?
Dan bagaimana cara mencapai apa yang Anda inginkan itu dengan apa yang ada pada diri Anda?

Apakah Anda tahu nilai-nilai apa yang mengendalikan diri Anda selama ini, yang Anda yakini dan Anda jadikan standar ukur keputusan Anda?

Sederetan pertanyaan di atas barulah sebagian kecil dari proses mengenal diri sendiri. Masih banyak pertanyaan berikutnya yang mengantre untuk dijawab.

Benarkah kita telah sungguh-sungguh mengenal diri kita sendiri dengan baik?

Apakah kita tahu, bahwa diri kita yang sekarang adalah hasil bentukan dan pilihan kita sendiri di masa lalu?
Apakah kita bisa merancang dan memilih kita ingin jadi siapa dan bagaimana 10 tahun yang akan datang?

Buku Piece of Mind dari Sandy MacGregor banyak sekali menolong saya lebih mengenal dan memahami diri sendiri. Misalnya, saya jadi tahu bahwa tipe belajar saya adalah dengan melihat (visual) dan melakukan (kinestetik). Lihat dan praktekkan! Itulah saya. Sebaliknya saya sulit belajar sesuatu hanya dari mendengar (auditori). Saya ingat, saat sekolah dan kuliah dulu, semua pelajaran baru bisa menyerap ke otak saya ketika saya membaca ulang dan membuat coretan-coretan sendiri di buku saya, dan BUKAN karena mendengar Dosen saya mengajar.

Sandy juga menjelaskan dengan baik tentang cara kerja otak kita. Apa itu otak kiri dan otak kanan. Apa itu gelombang energi otak yang dikenal dengan alpha, beta, theta dan delta.Apa yang disebut pikiran sadar dan bawah sadar. Bagaimana cara mengefektifkan kerja pikiran bawah sadar kita. Apa manfaatnya bagi kita, dst.

Kita tahu bahwa kunci perubahan diri dimulai dari PIKIRAN, dan buku Sandy ini sangat menolong kita mengetahui lebih banyak bagaimana cara berpikir dan menggunakan otak dengan benar dan efektif.

Selain Sandy MacGregor, ada juga tulisan Bpk Ikhwan Sopa yang saya peroleh dari e-mail. Mudah-mudahan dapat menolong kita untuk makin mengenal diri sendiri. Berikut cuplikannya,


Tips 162: Mindset Sukses - Melaju di Tengah Badai

Mindset I: Balancing Your Mind

Selalulah berupaya mengenali cara dan pola berpikir Anda sendiri. Ketahuilah bahwa otak dan pikiran Anda punya dua cara kerja utama. Ada yang bekerja dengan gaya kiri, dan ada yang bekerja dengan gaya kanan.

Cara kerja otak kiri adalah demi bertahan dan survive. Demi keamanan dan keterencanaan. Demi masa depan dan demi tujuan. Ia lebih dekat pada upaya menganalisis keadaan. Ia pandai berhitung, dan pandai memilah-milah dengan ilmiah. Ia kaku dan apa adanya.

Cara kerja otak kanan adalah demi kemajuan dan progress. Demi kepuasan dan keterkendalian. Demi saat ini dan demi pencapaian. Ia lebih dekat pada upaya kreatif. Ia pandai menemukan jejak, dan pandai menyesuaikan diri. Ia fleksibel dan mampu mengadaptasi.

Setiap detik, setiap menit, dan setiap saat, Anda sudah sangat terbiasa mengaktifkan otak kiri Anda.
Sudah saatnya bagi Anda untuk juga membiasakan diri mengaktivasi sisi kanan dari otak Anda. Adalah pada tempatnya jika Anda mulai membiasakan diri berada di dalam keseimbangan pikiran.

Keseimbangan pikiran adalah bekal utama yang pertama untuk bertahan di tengah badai. Tanpa keseimbangan ini, Anda akan merasa tidak berguna, useless, dan tak tahu harus bagaimana. Dengan keseimbangan pikiran, Anda selalu bisa kembali fokus.

Kenalilah state dan kondisi otak dan pikiran Anda setiap saat, agar bisa Anda manfaatkan sehingga Anda bisa efektif dan efisien dalam mencapai tujuan.

Mindset II: Balancing Your Emotion

Otak kiri dan otak kanan Anda erat hubungannya dengan perasaan dan emosi Anda.

Otak kiri Anda berkaitan dengan rasa mampu bertahan dan rasa keselamatan. Erat hubungannya dengan rasa aman dan rasa tetap berada di jalur yang tepat. Erat hubungannya dengan rasa kejelasan tentang masa depan dan rasa mampu mencapai tujuan.

Otak kanan Anda berkaitan dengan rasa memiliki kemajuan dan rasa memiliki peningkatan dalam berbagai tahapan bisnis dan kehidupan. Erat kaitannya dengan perasaan yang datang dan pergi di setiap waktu, dan kadang tidak terkait langsung dengan kondisi yang sesungguhnya. Erat hubungannya dengan rasa "selalu punya jalan" dan "selalu punya harapan".

Keseimbangan di dalam emosi dan perasaan adalah bekal utama yang kedua untuk bertahan di tengah badai. Tanpa keseimbangan ini, Anda akan merasa tidak punya harapan, pudarnya segala impian, dan keputusasaan. Dengan keseimbangan emosi, Anda selalu bisa memperbaiki mood dan perasaan.

Belajarlah untuk mampu mentransformasi segala bentuk energi dari emosi dan perasaan, menjadi energi positif yang mendorong Anda, agar melaju tanpa hambatan di tengah perjalanan.

Mindset III: Keep Moving On

Dengan dua mindset yang terpenting di atas, Anda selalu punya peluang untuk tetap bergerak. Tanpanya, Anda akan selalu merasa berjalan di tempat dan merasa tidak kemana-mana.

Dengannya, Anda semestinya tetap bergerak dengan kreatif. Jika tidak, maka Anda sudah selayaknya menimbang-nimbang ulang keseimbangan Anda. Baik di dalam pikiran, maupun di dalam perasaan.

Dengan keep moving, Anda akan tetap berjalan. Dan dengan keseimbangannya, Anda akan tetap berjalan ke arah yang benar.

Jika ketiga mindset sukses Anda sudah terlatih dan selalu berada di dalam keseimbangannya, maka dipastikan Anda akan tetap sampai ke tujuan.

Kapan?

Anda tak akan bisa memastikan. Waktu bukanlah milik kita. Jaminan untuk Anda hanya satu, yaitu bahwa Anda memang akan terus bergerak sampai ke tujuan.

Just do your best! Dan berdoalah!
Ikhwan Sopa, Master Trainer E.D.A.N.,
http://milis-bicara.blogspot.com

Semoga bermanfaat. Selamat mengenal diri sendiri.

Selasa, 23 Oktober 2007

PIKIRAN & PERASAAN

Kita adalah apa yang kita pikirkan.

Ingin menjadi seperti apa kita, dimulai dari pikiran kita.
Dan bagaimana kita berpikir ditentukan oleh pengalaman yang kita rekam dan kita izinkan untuk mengendap di bawah sadar kita.
Dan pengalaman yang kita pilih, biasanya adalah yang memiliki nilai emosi tinggi, baik emosi negatif maupun positif.

Contohnya: saya selalu berpikir bahwa saya orang yang bodoh dalam hal matematika. Mengapa?
Karena "pengalaman" menunjukkan demikian.
Perhatikan, "pengalaman" yang saya maksudkan di sini mungkin bukan fakta yang sebenarnya, tapi telah saya izinkan untuk saya rekam dari berbagai peristiwa sebagai kenyataan bahwa saya lemah di bidang matematika. Yang saya ingat adalah bagaimana mama terpaksa harus menjelaskan berulang-ulang cara berhitung kepada saya saat saya masih SD. Bagaimana tante saya mengoreksi hitungan saya yang salah, dst, sampai wajah guru matematika saya di SMA yang membosankan, juga nilai C untuk matematika semasa kuliah.
Kebetulan karena saya bertipe visual-kinestetik, maka "pengalaman" dengan sentuhan emosi negatif tersebut terekam dengan mulusnya di otak saya. Setiap kali membayangkan matematika atau angka, maka yang terbayang adalah kegagalan. Ini terjadi berulang-ulang baik saat test masuk perguruan tinggi, saat ujian matematika, saat mengerjakan psikotes untuk melamar pekerjaan, dsb.
Tanpa saya sadari, saya telah mencipta, membentuk dan meyakini bahwa diri saya adalah orang yang tidak bisa matematika (angka) dan tidak suka angka. Saya menjadi gugup dan porak poranda ketika harus berargumentasi dengan orang lain soal angka.

Nah, jadi ketika ingin mengubah suatu karakter atau stigma negatif yang sudah terlanjur melekat pada diri kita, caranya kurang lebih sama.

Kita harus mulai dari pengalaman dengan emosi. Tapi kali ini dengan emosi positif.
Mungkin awalnya agak sulit, karena kita sudah terbiasa cepat merespon pengalaman negatif, akibatnya kurang sensitif terhadap pengalaman positif. Meski demikian, tetaplah mencoba.
Jika perlu, sediakan waktu dan lakukan persiapan khusus untuk memancing pengalaman positif tersebut.

Contohnya yang saya alami sewaktu liburan Idul Fitri baru-baru ini.
Biasanya jika tidak mudik, saya memilih di rumah saja, namun tanpa rencana apapun. Bahkan bayangan saya tentang liburan itu saja sudah negatif. Pembantu pulang, saya repot.

Tapi liburan kali ini, saya ingin mengubah persepsi itu. Jauh-jauh hari saya sudah bayangkan betapa enaknya jika tak ada pembantu. Kami sekeluarga bisa lebih santai, mau bangun siang, mau makan jam berapa, tidur jam berapa nggak jadi soal. Yang penting happy. Selain itu, saya sudah buat daftar, kira-kira apa saja yang mau saya kerjakan selama liburan. Setiap hari saya tambahkan satu dua kegiatan yang tiba-tiba terpikir untuk dilakukan.

Sampai akhirnya, tibalah liburan yang ditunggu-tunggu. Saya pun melakukan APA YANG SUDAH SAYA BAYANGKAN SEBELUMNYA. Dan saya bahagia banget. Inilah liburan yang benar-benar menyenangkan yang pernah saya alami. Yang saya jalani dengan penuh kesadaran, bukan asal lewat saja seperti biasanya.

Menurut buku Piece of Mind dan The Secret yang saya baca selama liburan, pengalaman positif seperti ini jangan dibiarkan cepat berlalu. Nikmatilah berlama-lama setiap jengkal rasanya. Kebahagiaannya, kepuasannya, kegembiraannya, dst. Resapkan ke subconscious mind kita pengalaman berharga ini. Lebih baik lagi, seperti yang saya lakukan selama 10 hari berturut-turut pengalaman positif tersebut berulang-ulang terjadi (meskipun dalam peristiwa yang berbeda).

Pengalaman positif yang mengendap di pikiran bawah sadar kita tersebut, nantinya akan memandu kita untuk berpikir positif ketika kita menggunakan pikiran sadar kita. Juga akan menyeleksi pengalaman negatif yang akan masuk setelah itu. Semakin banyak pengalaman positif yang kita rekam, semakin besar kemungkinan cara kita berpikir berubah menjadi lebih positif.

Pikiran (cara kita berpikir dan apa yang kita pikir) memang sangat menentukan perubahan yang kita rencanakan. Perubahan dimulai dari cara kita berpikir. Tapi jangan lupa bahwa bahasa perasaan atau emosi kitalah yang terbaca oleh subconscious mind kita. Jadi perbaiki dulu yang keliru di tingkat perasaan. Yang belum damai didamaikan. Yang belum release ya diikhlaskan. Jika sudah tak ada yang mengganjal lagi, baru apa yang kita tanamkan di pikiran sadar bisa masuk dan bekerja.

Mengapa saya bisa berpendapat demikian?
Karena dulu, meskipun saya rajin dan hafal ayat-ayat kitab suci, senang membaca buku-buku spiritual dan beraliran positif lainnya, tapi apa yang saya tanamkan tidak bisa bekerja maksimal karena hati saya masih penuh dendam, kebencian, kemarahan dan kepahitan. Baru ketika akhirnya saya setuju berdamai dengan diri sendiri, menerima, mengampuni diri sendiri dan orang lain, penyakit-penyakit emosional tersebut lenyap, dan apa yang pernah saya serap dari bacaan-bacaan tersebut dengan mudah menjadi mutiara dalam diri saya.

Ada 3 cara untuk mengatasi problem emosional seperti yang saya alami di atas:
1. Mengenal diri sendiri
2. Menerima diri sendiri
3. Mengampuni diri sendiri
Baru kemudian, lakukan hal yang sama untuk orang lain.

Sekian dulu postingan hari ini. Semoga bermanfaat.

Salam,

Selasa, 09 Oktober 2007

MEMPERJELAS TUJUAN

Ada 3 tujuan saya dalam membuat program Transformasi 150 hari.
  1. Terjadinya perubahan mindset, perilaku, habits, karakter dari negatif menjadi positif
  2. Terjadinya pertumbuhan di tingkat ketrampilan (skill)
  3. Terjadinya perkembangan di sektor network
Ketiganya butuh dijalani, butuh TINDAKAN, bukan hanya diangankan saja.

Pertanyaannya, kenapa saya tidak fokus di nomor 1 saja dulu?

Jawabannya, karena apa yang saya cantumkan di nomor 1 adalah hal-hal yang tidak nyata/ tidak konkrit.
Bagaimana saya mengukur ketekunan saya?
Bagaimana saya tahu seberapa besar power fokus saya?
Bagaimana saya tahu transformasi saya berhasil atau tidak?
Bagaimana saya tahu bahwa saya tak lagi bereaksi negatif lagi dan berubah sebaliknya?

Semua itu baru bisa terlihat dari apa yang kita hasilkan.

Apakah pekerjaan yang saya rencanakan berhasil saya tuntaskan?
Apakah target penghasilan saya tercapai?
Apakah skill saya bertambah? (Dulu gaptek sekarang minimal bisa buat blog sendiri...? hehehe... ini saya.... :-) )
Apakah teman-teman dan lingkungan pengaruh saya bertambah?

OK. Kita kembali lagi ke nomor 1.
Mengenai apa yang ingin saya ubah di nomor 1, masih bisa di break-down lagi:
  1. Mengubah TEGANG menjadi RILEKS
  2. Mengubah MARAH menjadi SABAR
  3. Mengubah PEMBOSAN menjadi TEKUN
  4. Mengubah TAKUT menjadi BERANI
  5. Mengubah KUATIR menjadi BERSERAH
  6. Mengubah MENUNTUT menjadi MENERIMA
  7. Mengubah MENGHAKIMI menjadi MENGHARGAI
  8. Mengubah MEMINTA menjadi MEMBERI
  9. Mengubah MENGOMEL menjadi BERSYUKUR
  10. Mengubah DENDAM menjadi PEMAAF
  11. Mengubah DILAYANI menjadi MELAYANI
  12. Mengubah BUTUH PERHATIAN menjadi MEMPERHATIKAN
  13. Mengubah NEGATIVE THINKING menjadi POSITIVE THINKING

Waow..., nggak terasa banyak juga ya? Padahal itu baru yang nomor 1 saja lho.

Bagaimana yang nomor 2?

  1. Saya ingin punya blog sendiri untuk mempublikasikan tulisan saya sendiri.
  2. Saya ingin mengirim tulisan saya sendiri ke milis-milis yang saya ikuti.
  3. Saya ingin membuat satu saja kerajinan tangan yang saya kuasai.
  4. Saya ingin belajar lebih banyak lagi tentang internet marketing.

Lho, lantas apa hubungannya nomor 1 dan nomor 2?

Begini, kalau kita ingin berubah, kita akan lebih terpacu jika ada orang lain yang tahu.
Minimal pada saat gagal, ada yang bisa membantu menyemangati (hehehe...GR!).
Nah, tujuan saya membuat blog selain untuk mendokumentasi program transformasi saya dan untuk menyemangati diri sendiri, terutama adalah untuk memproklamirkan kepada dunia bahwa saya MAU dan SEDANG berubah.... (wah..wah... kedengarannya kok terlalu dahsyat ya?). Dengan demikian, saya akan malu sendiri jika mundur dari program ini. 'Kan seluruh dunia sudah tahu, sedang menunggu dan siapa tahu mensupport rencana saya? Janganlah saya sampai putus asa di tengah jalan....

Yang kedua, dengan mempublikasikan tulisan saya lewat blog dan milis-milis, mau tak mau saya harus bertanggungjawab dengan apa yang saya tuliskan. Ini membuat sifat pengecut saya, sifat rendah diri saya menjadi bungkam. Saya termotivasi untuk berubah menjadi lebih PD dan lebih ksatria.

Yang ketiga, dengan membuat blog, dengan membuat kerajinan tangan, dengan menulis, saya benar-benar menghasilkan karya yang nyata. Bukan hanya berhenti pada IDE saja. Saya sudah melangkah pada step TINDAKAN, bukan hanya konsep atau rencana semata. Ini adalah sebuah langkah keberanian. Dan itu berhubungan dengan mengubah kebiasaan TAKUT saya menjadi BERANI.

Yang keempat, belajar membuat blog dan internet marketing mengubah sifat pembosan saya menjadi tekun dan kreatif. Mengubah sifat malas saya menjadi rajin dan produktif. Minimal rajin mencari info dan belajar dari sana sini .... :-). Mengubah kegaptekan saya menjadi "sedikit tahu" sekarang, hehehe...

Selanjutnya apa yang saya lakukan di nomor 1 dan 2, berimbas pada nomor 3: perkembangan network. Saya dapat teman-teman baru dari blog saya, dari milis-milis yang saya ikuti....

Demikianlah, mendefinisikan tujuan sangat penting untuk membangkitkan motivasi diri, bahwa kita MAU dan MAMPU. Kita orang-orang BERHASIL. Kita orang-orang BERANI. Kita orang-orang yang DIUBAHKAN dan MENGUBAH DUNIA.

Sungguh saya sangat bersukur pada Tuhan, bahwa Tuhanlah yang terbesar memberikan support kepada saya untuk berubah. Dibandingkan 150 hari yang lalu, saya melihat begitu banyak perubahan telah terjadi atas diri saya. It's miracle! Praise the Lord!

Sekian dulu postingan hari ini. Disambung lagi pada postingan berikutnya, ya?

Salam,

Rabu, 03 Oktober 2007

RILEKS!

Dalam masa transformasi 150 hari yang saya canangkan, saya belajar banyak hal.

Salah satu di antaranya adalah bagaimana meditasi membantu saya mencapai apa yang saya inginkan.

Bagi saya meditasi adalah sebuah jalan, bukan tujuan.
Meditasi adalah suatu pengkondisian untuk mencapai tujuan.
Sementara TUJUAN adalah apa yang kita inginkan, apa yang kita cita-citakan, apa yang kita impikan, bahkan apa yang kita pilih dalam setiap persimpangan jalan hidup kita....

Dalam kasus saya misalnya:

Tujuan saya menjadi LEBIH SABAR, jalannya melalui meditasi.
Tujuan saya menjadi LEBIH TANGGUH, jalannya melalui meditasi
Tujuan saya menjadi LEBIH KREATIF, jalannya melalui meditasi
Tujuan saya menjadi LEBIH KAYA, jalannya melalui meditasi

Jadi dalam hal ini meditasi membantu saya mencapai kondisi agar bisa menerima apa yang saya inginkan tersebut.

Kondisi apa yang dimaksud?

Yang pertama adalah RILEKS.

Situasi zaman yang penuh target dan tenggat waktu membuat kita sering kehilangan ketenangan. Kita senantiasa bergegas, terburu-buru, berkejaran dengan waktu. Alhasil pikiran kita menjadi tegang seperti benang yang ditarik kencang dari dua arah yang berlawanan. Kita mudah tersulut emosi, sulit bertoleransi dan menerima perbedaan. Kita sulit membuka pikiran bagi ide-ide baru yang transformatif. Ketegangan membuat otak reptilian kita berkuasa. Kita seperti binatang yang sibuk bersiaga ketika merasa terancam oleh musuhnya.

Ketegangan membuat kita tidak produktif dan tidak kreatif. Karena ketegangan membuat sel-sel otak kita menjadi tersumbat. Kita menjadi sulit berpikir, seolah-olah otak kita ada yang membelenggu sehingga tak dapat bekerja dengan bebas dan leluasa.

Keadaan gundah, gelisah, khawatir, takut, tertekan, tegang.... semuanya juga mencirikan ketidaktenangan. Ada pendapat yang mengatakan stress baik untuk melecut motivasi. Tapi saya sudah mengalami bahwa keadaan rileks jauh lebih baik untuk memacu kreativitas.

Tidak mudah bagi saya untuk berpendapat demikian, karena tipe saya yang choleric terbiasa keras terhadap diri sendiri dan juga kepada orang lain. Hidup saya selama ini lebih banyak diwarnai dengan ketegangan dan karenanya juga....konflik. Namun melalui meditasi, saya belajar bahwa hidup rileks lebih nyaman dan bahagia...

Kondisi rileks ternyata membuat hati menjadi nyaman.
Saya bisa merasa bahagia, riang dan mudah bersyukur.
Selain itu pikiran saya menjadi lebih lentur, lebih fleksibel, lebih mudah beradaptasi, lebih reseptif dan lebih mudah dibentuk oleh ide-ide baru yang muncul, nasehat-nasehat yang semula kurang/tidak saya pedulikan.
Hati menjadi lebih lapang untuk menerima perbedaan, juga kekeliruan.... Dan kondisi ini memicu kreativitas bekerja lebih dahsyat dari biasanya.

Dalam kondisi rileks kita tahu bahwa kita tidak sendiri...

Dengan kondisi yang mudah bersyukur dan merasa riang gembira kita menjadi lebih dekat kepada Tuhan... yang adalah kebaikan adanya. Kita menjadi semakin dekat dengan kebaikan semesta (sesuai Law of Attraction).

Keadaan rileks membuat kita lebih mudah menerima kelemahan orang lain dan diri sendiri, kita menjadi lebih pemaaf.... Orang yang pemaaf juga menarik kebaikan mendekat kepadanya...

Keadaan rileks membuat kreativitas kita mengalir dengan deras, karena ketegangan yang sering menghambat sel-sel otak untuk berkreasi dilemahkan....

Dari sisi spiritualnya, keadaan rileks membuat kita bisa mendengar suara batin kita, mendengar suara Roh Pembimbing kita yang sedang membantu dan mengarahkan kita menuju keadaan yang lebih baik atau membantu mewujudkan apa yang kita inginkan.

Seperti yang dijelaskan dalam buku Journey of Souls, seorang yang ingin bisa mendengarkan petunjuk roh pembimbingnya seyogyanya....

... mereka harus terlebih dahulu menyingkirkan apapun yang mengganggu pikiran, untuk bisa reseptif menerimaku (roh pembimbing - pen.). Ini akan sulit, jika mereka tidak tenang.... (hal 260)

Salah sebuah ayat di kitab suci juga mengatakan....

... dalam tinggal tenang dan percaya, terletak kekuatanmu....

Jangan terburu-buru ingin segera mewujudkan apa yang kita impikan. Dahulukan dan prioritaskan keadaan tenang (rileks) – yang adalah sumber kekuatan sejati di dalam diri kita - baru semua yang kita inginkan akan menyusul kemudian. Ini sesuai benar dengan ayat favorit saya di Alkitab:

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu... (Mat 6:33)

Yang dimaksud dengan "Kerajaan Allah" di sini adalah:

Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. (Roma 14:17)

Jadi singkatnya: Sebelum kita menginginkan impian kita terwujud, utamakanlah atau prioritaskanlah tumbuhnya rasa damai dan sukacita (rileks) di dalam diri sehingga kita menjadi selaras dengan kebaikan semesta.

Salam

Selasa, 02 Oktober 2007

Program Transformasi 150 hari

Sebagaimana telah saya ceritakan pada postingan sebelumnya, kisah transformasi elang pada usianya yang ke 40 telah menginspirasi saya untuk melakukan hal serupa. Tapi jika pada si elang prosesnya berlangsung alamiah, saya sebaliknya...:-).

Dengan penuh kesadaran diri saya membuat program transformasi selama 150 hari terhitung dari tanggal 1 Mei 2007 dan berakhir pada 30 September 2007, tepat di bulan saya berusia 40 tahun. Selanjutnya, program transformasi ke-2 akan saya jalankan mulai 1 Oktober 2007 dan berakhir 29 Februari 2008. Jadi 150 hari sebelum dan sesudah usia 40 tahun. Hehehe... piiyyuuhh.... :0

Program transformasi apa, untuk apa dan bagaimana?

Program transformasi ini tujuannya adalah membangunkan kekuatan di dalam diri (the power of inner self). Saya sudah amati dan pelajari baik dari buku, kehidupan para tokoh, orang-orang luar biasa yang ada di sekitar saya, bahwa yang menjadi kunci kesuksesan mereka adalah kekuatan di dalam diri mereka. Bukan uang atau harta mereka, bukan pendidikan, keahlian, penampilan, atau network mereka. Karena pada orang yang KUAT, ketika semua itu diambil dari mereka, mereka tetap bisa bertahan, bahkan hidup lebih dahsyat lagi daripada sebelum kehilangan semua itu.

Ada yang keliru dalam cara hidup saya sebelum ini, yang makan waktu cukup lama bagi saya untuk menyadarinya. (Tapi nggak papalah... better late than never.... hehehe, menghibur diri kan nggak dilarang? :-)). Itulah yang membuat saya ingin bertransformasi. Saya ingin BERUBAH! Saya ingin mengubah kekeliruan itu dan membangun kekuatan baru yang berasal dari dalam diri.

Sudah lama saya tahu bahwa saya pemarah dan mudah tersinggung. Tapi saya nggak tahu apa penyebab mula-mulanya kenapa saya bisa begini.
Sudah lama saya tahu bahwa saya pembosan, mudah mengeluh, tidak tahu berterimakasih...
Tapi lagi-lagi saya nggak tahu apa akar dari semua ini.
Sudah lama saya tahu bahwa saya mudah patah semangat, pencemas, negative response, negative thinking..., tapi saya kesulitan menemukan cara mengubahnya....

Sudah banyak buku-buku self help, buku-buku motivasi dan spiritual yang saya baca, saya juga aktif di berbagai kegiatan kerohanian, meminta bimbingan para rohaniawan, bekerja di markas motivator, puasa, ikut seminar hypnotherapy, bahkan pernah konsultasi langsung dengan psikiater dan psikolog kondang di negeri ini... dan berharap semua itu mampu mengubah saya...

Akhirnya, setelah mencanangkan program transformasi 150 hari mulai 1 Mei 2007, saya baru tahu... bagaimana sebuah proses transformasi berlangsung dan berhasil mencapai tujuannya.

Perubahan di dalam diri dimulai dari sebuah KEPUTUSAN!
Dalam sebuah keputusan terkandung yang namanya TUJUAN/SASARAN.
Dan sebuah tujuan bisa tercapai jika kita melakukan TINDAKAN.
Sedangkan dalam BERTINDAK, kita perlu tahu alat bantunya, metodenya, mekanisme kerjanya, dsb... karena jika tidak, maka tindakan kita akan sia-sia saja... sama seperti yang pernah saya lakukan pada tahun-tahun-tahun sebelumnya.

· Keputusan : saya tidak mau lagi menjadi pribadi yang pemarah

· Analisa : biasanya saya marah/tersinggung jika... dilecehkan, tidak dianggap, dikritik, tidak diterima (ditolak), dst

· Metode : dalam kasus saya, saya menggunakan metode Meditasi

· Alat Bantu : sebelum praktek meditasi, saya belajar menggunakan pendulum. Di sini saya belajar menggerakkan pendulum dengan suara batin, bukan dengan pikiran (logika). Dari sinilah saya baru tahu, bahwa batin mempunyai suaranya sendiri.

· Proses :
  1. Dengan meditasi, saya belajar berkomunikasi dengan suara batin saya. Saya baru tahu jika selama ini saya (logika) seringkali menelantarkan suara batin bahkan membungkamnya dalam banyak hal yang membutuhkan keputusan. Saya (logika) selama ini berusaha menyenangkan orang lain lebih daripada mengikuti suara batin saya sendiri, karena saya ingin diterima oleh lingkungan di sekitar saya. Lama kelamaan suara batin saya merasa tak dianggap. Merasa dicuekin. Akibatnya, itulah yang sering tampil dalam pribadi saya. Kemarahan, ketidakpuasan, penolakan, dendam.... itulah akar yang harus saya bereskan.

  1. Saya mengajak batin saya berdialog. Dalam kesempatan ini saya menganggapnya sebagai pribadi yang nyata (berwujud). Saya minta maaf kepadanya karena selama bertahun-tahun saya tidak mempedulikannya. Saya mengajaknya berdamai dan mencurahkan kata-kata penuh cinta, dukungan dan penerimaan kepadanya.

· Hasil :

Dan tebak apa yang terjadi!
Beberapa menit kemudian mengalirlah sebuah rasa damai yang luaaaar biasa, yang belum pernah saya rasakan dalam hidup ini di dalam batin saya. Mendadak batin saya dipenuhi rasa cinta kasih dan meluap oleh rasa syukur. Hati saya terasa ringan, riang, merasa puas dan cukup, bahkan berkelimpahan. Lebih daripada itu, saya seolah memperoleh bonus. Kini saya mempunyai seorang sahabat yang abadi, yang selalu menemani kemana pun saya pergi, yaitu Suara Batin saya. Dialah tempat curhat, berdialog, meminta pendapat bahkan petunjuk. Ya, setelah berdamai dengannya, saya kini mampu mendengar Suara Batin saya ketika dia memberi inspirasi, ide dan solusi di luar apa yang mampu saya (logika) pikirkan. Saya bersyukur luar biasa.

Puji Tuhan, sekarang saya jauh dari kebiasaan marah, malahan sulit untuk marah. Beberapa kali ada peristiwa (mungkin sebagai ujian?) yang memancing saya untuk marah. Tapi sungguh, saya nggak bisa lagi bereaksi seperti dulu. Entah kenapa tiba-tiba merasa tak ingin dan tak guna membuang energi untuk marah-marah berkepanjangan. Padahal dulunya saya cenderung pendendam. Kalau marah bisa sampai berbulan-bulan... hahaha... :-)

Yah, itu baru satu sasaran yang sempat saya capai dalam masa transformasi 150 hari yang lalu. Mungkin terasa sepele bagi yang tidak mengalaminya, namun bagi saya sangat besar dampaknya bagi kehidupan saya selanjutnya.

Pengalaman lain dalam masa transformasi 150 hari ini akan saya sambung dalam postingan berikutnya, supaya tidak kepanjangan….

Semoga bermanfaat ...


Kamis, 20 September 2007

Ulang Tahun ke 40 (2)

Bagaimana saya merayakan ulang tahun ke 40?

Pagi-pagi saya dibangunkan Latu dan Ayahnya dengan nyanyian mereka... Happy Birthday Mama.... Happy Birthday Mama....
Dan dengan wajah cerah ceria mereka membawa hadiah kejutan buat saya. Sebuah kotak berbungkus hijau yang mereka ingin segera saya buka.

Dengan mata masih terkantuk-kantuk - karena malamnya saya tidur agak larut sepulang dari rumah sakit - saya membuka bungkusan itu.
Sebuah mug yang bergambar kami bertiga dan bertuliskan "Dari Ayah dan Latu, 10 September 2007".

Waow terharu saya jadinya. Saya pun memeluk dan mencium mereka berdua. Terima kasih ya?
Bukan bentuk barang atau harganya yang menjadi penilaian saya. Namun besarnya perhatian, waktu yang mereka curahkan serta cinta yang mereka taburkan untuk mempersiapkan kado itulah yang tak terhingga nilainya. Tak mungkin terbalas dengan kata-kata atau apapun juga.

Ayah and Latu, I love you so much... :-))

Setelah membantu Latu mempersiapkan diri untuk ke sekolah, saya sendiri pun berkemas untuk ke rumah sakit. Ya, sudah 4 hari saya tidak ke kantor dan menghabiskan waktu di RS untuk menemani mama yang opname di sana. Ada gangguan pencernaan yang menyebabkan setiap makanan yang masuk ke tubuh mama akan keluar lagi baik melalui atas maupun bawah. Ini hari kelima yang akan menentukan apakah mama akan diizinkan pulang atau belum. Dan doa saya adalah semoga di hari yang berbahagia ini, saya boleh membawa mama pulang ke rumah dalam keadaan sehat wal'afiat.

Telpon dan sms ucapan selamat ulang tahun datang silih berganti ke ponsel saya. Dari Om dan Tante di Wonosobo, om dan tante yang di Jakarta, kakak adik, saudara-saudara sepupu, ipar dan mertua, teman-teman sekantor bahkan sahabat semasa kuliah, sahabat di Bali... wah, besarnya perhatian mereka pada saya... sungguh saya patut mengucap syukur pada Tuhan atas limpah rahmatNya di usia saya yang ke 40 tahun ini.

Akhirnya doa saya terjawab. Setelah menjalani proses anuscopy, mama diperbolehkan pulang. Kakak dan salah seorang adik menyelesaikan urusan adminitrasi RS, sementara saya dan seorang adik lagi membereskan kamar. Mama pun dibawa keluar kamar dengan kursi roda. Pukul setengah empat sore rombongan kami tiba di rumah.

Petang hari, setelah bangun dari istirahat sejenak, saya membuatkan bubur, sayur bening dan tempe becek untuk makan malam mama. Saya senang melihat mama menyantap makanan buatan saya dengan lahap. Tiba-tiba adik saya menginstruksikan agar saya dan keluarga (Latu dan ayahnya) berkumpul setelah makan malam karena mama ingin mengajak berdoa bersama. Saya pun mengiyakan saja, karena mungkin mama ingin mengucap syukur pada Tuhan atas kepulangannya dari rumah sakit.

Sungguh surprise karena ternyata mama mengajak berdoa bersama dalam rangka ulang tahun saya! Mama membacakan sedikit ayat kitab suci, kemudian berdoa. Dalam doanya mengalirlah permohonan dari lubuk hati yang terdalam akan datangnya berkah dan kebaikan bagi saya dan keluarga pada tahun-tahun mendatang. Saya sangat terharu dengan doa mama. Sungguh inilah kado terindah dan penuh makna yang boleh saya terima dari mama yang tercinta dalam keadaannya yang berbeda dengan saya. Ia yang masih sakit, dan saya yang sedang berbahagia. Hanya cinta kasihlah yang mampu menyatukan dua keadaan yang berbeda itu.

Belum selesai keterharuan saya, begitu kata "Amin" diucapkan mama, Latu dan adik-adik saya menyerbu kulkas dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Astaga, kejutan lagi. Ada kue-kue kecil dari ice cream yang sudah disiapkan mereka entah sejak kapan. Sungguh, malam itu saya sangat berbahagia. Rasanya semua orang mengingat saya, memberikan cinta dan perhatiannya yang terbesar kepada saya. Terimakasih mama, terimakasih adik-adikku Kenti dan Kunye, terimakasih Ayah suamiku yang tercinta, terima kasih anakku Lelatu... kalian semua adalah mata hatiku. Cintaku yang abadi.

Saya tak pandai berkata-kata. Saya juga tak pandai merangkai kata. Tapi apa yang saya alami di hari ulangtahun saya yang ke 40 tahun ini sungguh patut dikenang dalam bentuk tulisan semampu saya bisa, untuk menunjukkan betapa indahnya jika cinta di antara kita...

Semoga cinta ini bisa menular kepada siapapun yang membaca tulisan ini.
Selamat saling mencintai. Tuhan ada di antara kita yang saling mencinta.

Salam penuh cinta,

Selasa, 11 September 2007

Ulang Tahun ke 40 (1)

Tanggal 10 September kemarin, akhirnya tiba juga momen yang saya tunggu-tunggu dalam hidup ini, yakni ketika usia saya memasuki kepala 4 alias sudah 40 tahun lamanya saya hadir di dunia ini.

Ada beberapa hal yang telah saya persiapkan jauh-jauh hari demi menyambut momen penting ini. Namun semuanya bermuara pada satu inti, yakni menjadikan momen ini sebagai titik pijak kesadaran saya dalam menghargai hidup, memaknai hidup, menjadikan hidup lebih berarti baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Lho memangnya sebelum kepala 4 belum menemukan kesadaran itu?
Tentu saja ada dan progress juga ada. Saya juga tak bermaksud menganggap 39 tahun sebelumnya tak berarti, tapi yang saya inginkan adalah semacam memancangkan tugu peringatan dalam memori saya bahwa kepala 4 adalah tahun lahirnya diri saya yang baru, dengan komitmen baru, mindset yang baru, disertai catatan perubahan yang jelas, dan rinci menuju pribadi yang lebih baik.

Lantas persiapan apa yang saya lakukan dalam menyambut hari besar saya tersebut?

Terinspirasi oleh email Bp Djodi Ismanto tentang transformasi yang dialami burung Elang pada usianya yang ke 40, saya pun merancang program transformasi yang ingin saya jalani menjelang dan setelah usia 40 tahun. Berikut artikel yang dikirim Bp Djodi:

Kehidupan Sang Elang

Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia.
Umurnya dapat mencapai 70 tahun.
Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40.
Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga sangat menyulitkan waktu terbang. Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan:
(1) Menunggu kematian, atau
(2) Mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan
--- suatu proses transformasi yang panjang selama 150 hari.
Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung
untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di sana selama proses transformasi berlangsung.
Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru.
Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu.
Suatu proses yang panjang dan menyakitkan.

Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali.
Dengan paruh dan cakar baru, elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi!
Dalam kehidupan kita ini, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yang sangat berat untuk memulai sesuatu proses pembaharuan. Kita harus berani dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun kebiasaan lama itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan melenakan. Kita harus rela untuk meninggalkan perilaku lama kita agar kita dapat mulai terbang lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan.
Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar hal-hal yang baru, kita baru mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita yang terpendam, mengasah keahlian baru dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan. Halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam diri sendiri dan andalah sang penguasa atas diri anda.

Jangan biarkan masa lalu menumpulkan asa dan melayukan semangat kita.
Anda adalah elang-elang itu.
Perubahan pasti terjadi.
Maka itu, kita harus berubah!

God Bless You !

Nah, artikel inilah yang mendorong saya untuk melakukan perubahan yang berarti di usia 40. Dahsyat bukan?

Apakah Anda tertarik untuk mengetahui program transformasi yang saya rancang untuk diri sendiri? Nantikan di postingan berikutnya.

(Mohon maaf, karena postingan hari ini harus berakhir di sini dulu).

Salam,

Senin, 27 Agustus 2007

Mensyukuri Kehilangan

Minggu pagi yang lalu, akhirnya anjing kesayangan saya - Pepey - meninggal dunia. Meski semalam sebelumnya sempat saya bawa ke dokter hewan dan mendapat pengobatan, ternyata tak mampu menyelamatkan nyawanya lagi. Dengan hati sedih saya membungkus jazadnya dengan kain, menggali sendiri tanah di pekarangan untuk tempat persemayamannya yang terakhir, kemudian menguburkannya ke dalam lubang itu. Kenangan bersamanya pun sempat sesekali bermunculan.

Hubungan saya dengan Pepey memang lebih dari sekedar hubungan anjing dan tuannya. Ia hadir pertama kali ketika saya sedang menghadapi ujian hidup yang cukup berat. Keberadaannya serta merta menghibur dan mencairkan kebekuan yang terjadi saat itu. Pepey anjing yang nakal dan aktif. Sewaktu masih kecil dan saya tempatkan di dalam rumah, habis satu pintu belakang saya digerogotinya. Sejak saat itu saya pindahkan dia ke halaman depan supaya lebih bebas menikmati alam sekitar. Ia lebih senang lagi jika saya mengajaknya lari pagi. Tampangnya yang badung terlihat semakin kocak dengan lidah terjulur keluar mengajak bercanda, dan dengan setia ia berlari-lari kecil di samping saya.

Jika memang belum waktunya, apapun sulit menjadi alasan terjadinya sebuah perpisahan. Saya sempat kehilangan Pepey saat usianya baru beberapa bulan. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba ia sudah raib dari pekarangan rumah kami. Saya menunggunya sampai beberapa hari dengan harap harap cemas, tapi ia tak juga menunjukkan batang hidungnya. Saat itu di kompleks perumahan saya memang sering terjadi penculikan anjing. Meski sempat kuatir kalau-kalau Pepey jadi korban penculikan, saya yakin ia masih hidup. Dan benar saja. Suami yang baru saja pulang dari warung menemukan ia di sana, dan Pepey kemudian ikut pulang bersamanya. Aduh senangnya...

Peristiwa lain adalah ketika Pepey melahirkan yang kedua kalinya. Anaknya banyak sekali dan kami kewalahan menanganinya. Akhirnya kami bagi-bagikan ke orang yang mau memeliharanya. Karena kuatir anaknya terlantar, kami sertakan Pepey untuk dibawa sekalian. Lucunya, ternyata Pepey sanggup membuat pilihan :-). Sungguh mengharukan tatkala mendapati ia pulang sendirian setelah terantuk-antuk menyusuri jalanan untuk bersatu dengan kami kembali.

Peristiwa ketiga adalah saat banjir besar melanda Jakarta awal tahun ini. Rumah kami kebanjiran sampai setinggi dada. Setelah mengevakuasi anak kami untuk mengungsi, saya dan suami kembali ke rumah untuk mengevakuasi Pepey. Saat itu ia sudah dikepung air. Ia menguik-nguik gembira melihat kami. Kami memasukkannya ke dalam ember besar dan mengapungkan ember sampai ke tempat yang aman. Untuk sementara Pepey diikat supaya tidak mengganggu. Beberapa hari kemudian ketika banjir telah surut dan kami kembali ke rumah untuk bersih-bersih, Pepey menghilang dari rumah di mana kami mengungsi. Memang kami sempat kepikiran juga kemana dia pergi. Tapi tiba-tiba suatu hari ia muncul lagi di hadapan kami, lengkap dengan tali yang masih terikat di lehernya....

Jadi ketika sekarang Pepey pergi untuk selama-lamanya, saya hanya bisa berpikir, mungkin memang sudah saatnya. Bukankah segala sesuatu ada waktunya? Ada waktu lahir, ada waktu mati. Ada waktu bertemu, ada waktu berpisah...

Kehilangan Pepey adalah kehilangan saya yang keempat tahun ini setelah kehilangan beberapa barang saat kebanjiran; kehilangan Bapak mertua yang meninggal dunia karena sakit; kehilangan Nur, pembantu yang sudah 5 tahun mengabdi dan sekarang kehilangan Pepey yang sudah hampir memasuki tahun keempat tinggal bersama dengan kami.

Kehilangan sesuatu atau seseorang yang kita cintai memang menyedihkan. Tapi di balik semua itu, kita patut bersyukur, karena setiap proses kehilangan menjauhkan kita dari kemelekatan. Kemelekatan terhadap sesuatu yang tidak abadi. Ketika kita dengan gagah berani mampu melepaskan apa yang kita cintai, itulah saatnya menuju kematangan diri. Selalu ada kebaikan si balik semua penderitaan dan kesedihan diri. Selalu ada a blessing in disguise pada setiap peristiwa yang kita alami.

Akhirnya, selamat jalan Pepey. Maafkan aku yang mungkin kurang peduli pada saat-saat terakhirmu. I love you....

Kamis, 23 Agustus 2007

Diam, Amati, Terima dan Syukuri!

Pernahkah Anda mengalami suatu keadaan di mana masalah berdatangan seolah-olah tak kunjung henti? Baru saja mengalami masalah A, tiba-tiba sudah muncul masalah B, disusul masalah C dan seterusnya secara silih berganti dalam waktu yang nyaris bersamaan.

Apa yang Anda rasakan? Bingung? Ingin marah? ingin menangis? ingin lari? merasa tertekan? frustrasi? depresi? panik tak terkendali?

Apa yang Anda lakukan? Segera ambil tindakan? Sibuk menyalahkan keadaan? Marah-marah?Mengomel?Bersungut-sungut? Atau malah diam tak berdaya?

Saya mengalaminya beberapa waktu belakangan ini.

Pembantu rumah tangga yang sudah 5 tahun bekerja pada kami tiba-tiba mengundurkan diri karena akan menikah. Wah, mendadak urusan rumah yang semula tak lagi jadi pikiran jadi keteteran..., anak tak terurus padahal sedang musim ulangan...,

Dapat pembantu pengganti, ehh bukannya cocok, malah menambah masalah sendiri...

Tagihan listrik yang mendadak naik 2x lipat bulan ini, bukan karena pemakaian kami melainkan karena kelalaian petugas pencatatnya. Tapi malah kami sebagai konsumen yang harus menanggungnya...

Pengeluaran-pengeluaran tak terduga yang meledak luar biasa mulai dari keperluan sekolah anak, urusan sosial kemasyarakatan, acara tujuhbelasan..., dll

Orang-orang terkasih yang salah mengerti, menyebabkan putus komunikasi dan beban emosi...

Urusan pekerjaan di kantor, target sales yang tidak tercapai, rekan sekantor yang tiba-tiba berselisih paham...

Plafon rumah yang bocor kena hujan awal musim kemarin, anjing kesayangan yang tidak mau makan dan terserang demam...,

Kabar yang kurang menggembirakan hari ini dari program investasi yang saya ikuti...

Wah, pendeknya bertubi-tubi dan membutuhkan kesabaran tinggi untuk menghadapinya.

Dulu, sebelum komit menjalani program transformasi diri, saya akan langsung panik, tegang, dan marah-marah setiap kali menghadapi kondisi seperti ini. Maklum, biasanya saya selalu mengatur sedemikian rupa semuanya supaya dalam keadaan terkendali dan mereduksi hal-hal yang terjadi di luar dugaan.

Tapi sekarang saya mulai bisa dengan lebih mudah menerima keadaan dan kenyataan.
Resepnya adalah: Diam - Amati - Terima Saja dan Syukuri.

Maksudnya demikian,
Jika suatu kali tiba-tiba kita mengalami sebuah kejadian tak terduga, jangan langsung bereaksi. Ambil waktu sejenak untuk berdiam diri dan mengamati. Amati saja, jangan menganalisa. Amati dan pelajari.

Diam yang saya maksud bukan berarti tidak cepat tanggap. Juga bukan bengong-bengong saja tanpa daya. Diam di sini artinya menenangkan diri, mengendalikan emosi.
Jangan menganalisa maksudnya jangan menggunakan otak sadar kita yang terbatas ini untuk mengatasi. Masuklah ke level alpha alias subconscious mind karena di situlah letak solusi yang kita butuhkan. Masuklah ke ruang meditasi di dalam diri karena Tuhan dan alam semesta akan membantu kita menemukan jawabnya.

Akan berbeda jika kita menanggapi semua masalah itu dengan emosi yang bergejolak. Atau bergerak di level beta di mana kita cenderung menggunakan logika dan bukan rasa. Intuisi dan kata hati yang seharusnya kita ikuti malah akan nyaris tak terdengar.

Keadaan diam sesungguhnya menjadi penolong kita dalam menemukan jawaban kreatif atas setiap masalah yang kita hadapi. Sebagaimana kata-kata bijaksana yang saya kutip berikut ini:

"dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu..."
... in quietness and in confidence shall be your strength...
Diam sebenarnya bukan hal yang mudah bagi saya, karena saya tipe orang yang mudah tersulut dan terbakar, hahaha... Tapi saya mau dan sedang belajar mendisiplin diri untuk melakukannya.

Yang kedua, terima saja dan syukuri.
Kadang-kadang, ada masalah yang ingin segera kita atasi namun tak kunjung memperoleh solusi. Atau suatu keadaan yang ingin kita ubah namun tak kunjung bisa berubah. Jalan satu-satunya ya tidak perlu memaksakan diri. Terima saja dan syukuri.

Saya mendapat insight dari buku Ric A. Weinman: Tangan Anda Dapat Menyembuhkan (Your Hands Can Heal) yaitu bahwa ketika kita bernafas, tugas kita hanya menerima saja.

Ya, ada beberapa hal dalam kehidupan ini yang kita dapatkan tanpa perlu mengusahakannya. Misalnya udara untuk bernafas, sinar matahari, dsb. Sikap kita di sini hanya perlu menerima saja dan mensyukurinya. Sulit membayangkan kita berontak atau lari menghindari udara atau kehangatan sinar matahari bukan?

Maka dalam menghadapi masalah, saya mencoba menerapkan teknik yang sama. Pertama-tama saya ubah mindset saya tentang masalah. Saya tempatkan masalah pada posisi yang netral. Bukan hal yang mengancam atau membuat saya lari ketakutan. Saya anggap sebagai hal yang lumrah untuk dihadapi dalam kehidupan. Itu mencegah saya menjadi panik, berontak atau lari daripadanya.

Setelah itu, dengan berdiam diri saya akan terima saja dulu apapun yang terjadi itu tanpa komentar, tanpa reaksi. Semudah saya menarik nafas dari detik ke detik. Terima saja. Terima saja. Dalam beberapa saat, tiba-tiba saya akan merasakan sebagian besar beban masalah itu sudah terangkat. Beda rasanya jika saya berontak. Badan dan pikiran akan terasa letih, energi terkuras untuk melawannya. Tapi dengan menerima, energi saya terasa utuh. Saya merasa lebih kuat.

Kekuatan berikutnya diperoleh dari rasa syukur. Saat kita bisa menemukan satu saja hal yang bisa kita syukuri dalam himpitan masalah itu, akan muncul hal-hal berikutnya yang menambah kekuatan dan daftar syukur tersebut. Dan tanpa terasa beban kita perlahan-lahan telah berkurang tanpa kesulitan yang berarti. Karena masalah atau bukan masalah memang tergantung dari cara kita memandangnya.

Sekian dulu postingan saya hari ini, semoga ini bisa bermanfaat bagi mereka yang sedang dalam himpitan masalah.

Salam,

Selasa, 21 Agustus 2007

Perempuan-perempuan Luar Biasa

Kemarin sepulang kerja, saya berkesempatan ngobrol dengan pekerja rumah tangga saya yang baru. Dia seorang ibu dari 4 anak yang semuanya masih dalam usia sekolah. Suaminya jobless, walaupun kadang-kadang memperoleh penghasilan juga dari ojek motornya atau upah mencuci bus di Pulogadung. Jadi bisa dikatakan si mbak N ini adalah tulang punggung keluarga satu-satunya.

Yang menyedihkan adalah, ternyata ia sudah beberapa kali mencoba bunuh diri karena tidak tahan terhadap tekanan ekonomi dan beban moral yang musti disandangnya. Belum lagi memikirkan dari mana biaya untuk hidup dan sekolah bagi ke-4 anaknya, ia juga musti menghadapi kenyataan bahwa suami sering berselingkuh dan main judi. Dan jika ia memperingatkan sang suami dengan cara yang paling halus sekali pun, tak ayal ia akan jadi korban hajaran dari suaminya, bukan hanya tubuh tapi juga wajah. Bahkan yang lebih memalukan lagi, itu dilakukan suaminya di depan umum, di bawah tatapan mata banyak orang yang hanya bisa menonton tanpa mengambil tindakan apapun.

Sambil berkisah dengan mata berkaca-kaca, mbak N mengatakan bahwa ia bertahan dalam hidup pernikahannya supaya anak-anaknya tidak kehilangan figur bapak. Ia hanya berharap, anak-anaknya dapat terus bersekolah, dan menjadi "orang", tak peduli berapa berat biaya yang musti ditanggungnya.

Cerita semacam ini bukan satu dua kali saya dengar langsung dari orang-orang semacam mbak N. Pengasuh anak saya yang pertama juga memiliki pengalaman yang mirip. Dan setelah hampir 6 tahun sejak ia berpisah dengan kami, ia menelpon saya dan mengabarkan bahwa akhirnya ia bercerai dengan suaminya.

Saya juga mendapati bahwa bukan hanya mereka yang berada di level ekonomi menengah ke bawah saja yang mengalaminya. Seorang sahabat di Palembang yang sudah saya anggap saudara sendiri, serta satu klien di daerah Bekasi yang saya kenal lewat telpon juga mengalami hal yang sama. Selain harus berfungsi sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga, mereka masih harus menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Mata yang jadi rusak karena sering ditinju, kepala bocor karena disabet kepala ikat pinggang, diusir dari rumah tanpa bekal uang dan pakaian satu lembar pun, juga kekerasan seksual. Jika mereka minta untuk diceraikan, kekerasan yang mereka terima semakin menjadi. Sungguh, bukan satu cerita yang sedap untuk didengar dan dibagikan.

Sementara seorang sahabat di Bali dan satu lagi di Solo bernasib lebih baik, tidak sempat menjadi korban kekerasan, tapi harus jungkir balik mencari nafkah demi suami dan anak-anaknya. Masih banyak sebetulnya orang-orang bernasib serupa yang entah kenapa seperti didatangkan kepada saya, atau saya lihat secara langsung.

Pertanyaan saya: Wahai..., gejala apa ini?
Apa sebenarnya pesan di balik semua yang terjadi ini?

Terus terang saya belum menemukan jawabannya. Namun yang saya lihat adalah sebuah pembelajaran dari perempuan-perempuan luar biasa ini. Mereka dengan tegar terus bertahan terhadap semua penyiksaan dan dengan gigih mencari sesuap nasi demi anak-anak yang mereka cintai.

Mereka sudah harus bangun lebih awal untuk menyiapkan anak-anaknya bersekolah saat sang suami masih tidur mendengkur di peraduannya.
Kemudian bergegas menyiapkan diri memulai hari. Berjuang di jalan raya dan bertarung dengan kesemrawutan lalu lintas yang ada.
Tak jarang tanpa sempat sarapan (karena tak ada lagi makanan yang bisa disantap).
Bekerja keras di tempat kerja masing-masing yang kadang masih diselingi dengan beban emosi yang menguras energi.
Saat matahari terbenam baru tiba di rumah. Seringkali tak bisa langsung mengaso, melainkan masih harus memasak, menyiapkan makan untuk keuarga, mencuci baju dan peralatan dapur, membersihkan rumah dan juga mendampingi anak belajar.

Ke mana para suami?
Mungkin sedang bersantai di depan TV, atau mengasyiki game di depan layar komputer. Mungkin ngobrol sambil ngopi atau main catur dengan tetangga. Dan sesudahnya bisa menghabiskan waktu untuk bermimpi di kasur yang empuk.

Heran?
Tapi itulah fakta!

Sementara para perempuan luar biasa ini nyaris tak pernah berpisah dengan simbah peluh dan air mata. Mereka menangis bukan karena penderitaan mereka sendiri, tapi karena tak tahu anak mereka harus diberi makan apa hari ini. Mereka bingung bukan karena nasib mereka sendiri, tapi karena tak ada ongkos transport untuk berangkat kerja, tak ada uang untuk bayar uang sekolah anak, tak ada beras yang bisa ditanak, tak ada tempat untuk meletakkan kepala apalagi untuk berbagi perasaan yang menyesakkan dada.

Tiap hari mereka harus bertanya, apa yang bisa dimakan hari ini?
Bukan untuk perutku, tapi untuk anakku.

Bahkan kadang mereka bertanya, apakah harapan itu benar ada.
Jika ada, bagaimana cara harapan itu menampilkan dirinya? Kenapa tak segera mewujudnyata di hadapan kami?
Merasa pahit? Rasanya tak guna lagi, karena racun kehidupan sudah jadi makanan sehari-hari. Apa yang perlu dikeluhkan? Apakah dengan mengeluh menyelesaikan persoalan?

Buat para perempuan yang luar biasa ini, yang dengan kepala tegak terus berdiri menantang kehidupan yang menghampiri, sungguh saya tak mampu memberikan support yang berarti selain memberikan hati untuk berempati. Saya sendiri masih berjalan di jalan yang sama, saya belum menemukan jalan keluarnya. Tapi saya yakin, kita akan sama-sama tiba di ujung terowongan dan menemukan secercah sinar yang akan menerangi jalan kita nantinya.

Salam saya untuk para perempuan luar biasa ini.

Senin, 20 Agustus 2007

Stop Press (2)

O, ya sebelum terlanjur kelamaan, saya ingin berterimakasih untuk kunjungan rekan-rekan blogger (senior) yang sangat membesarkan hati seorang pemula seperti saya.

Yang pertama untuk rekan Made Sariada, atas emailnya tanggal 8 Agustus 2007 yang lalu. Dan yang kedua rekan Anang YB atas email dan komentarnya tanggal 13 Agustus 2007.

Khusus untuk bung Anang, terimakasih atas petunjuknya yang panjang lebar tentang membuat link. Anda pasti telah menyisihkan waktu yang tak sebentar untuk menuliskan itu buat saya. Terimakasih. Sangat bermanfaat bagi saya yang gaptek ini...

Sebagai ungkapan rasa hormat saya, saya cantumkan blog Anda berdua di blog ini. Semoga semakin sering kunjungannya. Jangan kapok, hahaha...

Salam,

Belajar dari Orang Yang Memusuhi Kita

Jujur saja, sebenarnya ini bukan judul postingan yang saya rencanakan untuk hari ini. Rencana berubah mendadak ketika tadi pagi saya menerima sebuah email yang berisi caci maki lengkap dengan warna teks yang serupa dengan salah satu warna bendera kita :-( . Email ini datang dari seorang rekan kerja yang cukup dekat dengan saya. Tak heran, saya sempat terhenyak dan memutuskan untuk segera melakukan introspeksi.

Tak perlulah saya ceritakan di sini mengapa dan alasan apa email itu dikirimkan. Yang lebih penting bagi saya adalah, pelajaran apa yang perlu saya petik dari peristiwa ini dan bagaimana menyikapinya.

Saya bisa saja memilih dari sekian alternatif yang mungkin. Misalnya, saya bisa saja terpancing marah dan balas memaki-makinya. Kedua, saya bisa saja ambil sikap tak mau pusing alias masa bodo atau cuek saja. Dan yang ketiga, saya bisa mengambil sikap tak bereaksi.

Benar, Anda tak salah baca.
Tak bereaksi konon adalah jalan yang harus ditempuh jika seseorang ingin "naik kelas" dalam hal kebijaksanaannya.

Beberapa waktu lalu saat belajar meditasi, saya mendapat insight bahwa peristiwa tak ubahnya seperti buah pikiran yang bermunculan silih berganti dan jumlahnya bisa ribuan macam dalam sehari, mulai dari kita bangun di pagi hari sampai malam nanti kita kembali ke peraduan.

Tak percaya? Silakan mengujinya.
Anda boleh coba luangkan 1-5 menit dengan duduk diam bersila sambil memejamkan mata. Fokuskan pikiran pada 1 titik. Dan amati apa yang terjadi.

Jika Anda tak terbiasa bermeditasi, maka dalam hitungan detik saja, pikiran Anda sudah akan melayang entah ke mana. Bisa jadi tiba-tiba Anda teringat apakah kompor sudah dimatikan? apakah pintu sudah dikunci? di mana Anda meletakkan kunci? apakah kran air di kamar mandi sudah dimatikan? Kalau belum... mudah-mudahan ada yang ingat untuk mematikan... waduh perut udah lapar nih. O, ya, mau makan apa hari ini? enaknya masak apa ya? Kalau begitu harus belanja dong? Apa saja yang perlu dibeli? belanja ke mana? sama siapa? waoowww...

Bisa dibayangkan bukan, kalau saja kita bereaksi terhadap setiap buah pikiran yang muncul bisa-bisa kita akan gagal bermeditasi. Saya sendiri sering merasa tergoda untuk membuktikan apakah yang terlintas di pikiran saya benar demikian adanya. Atau pikiran saya tiba-tiba sudah beralih fokus ke topik yang lain. Sungguh tidak mudah lho belajar tak bereaksi itu.

Meditasi adalah sebuah cara ampuh untuk melawan godaan. Kita dilatih untuk tidak gampang bereaksi baik terhadap buah pikiran, maupun terhadap berbagai peristiwa yang datang dan pergi.

Saya jadi teringat tokoh pendekar silat di cersil-nya Kho Ping Hoo atau para jagoan kungfu yang diperankan oleh Jet Lee dan Jackie Chan. Mereka yang akhirnya berhasil mengalahkan kejahatan biasanya karena sudah terlebih dahulu menang dalam menaklukkan pikiran sendiri. Cara mereka melatih diri apalagi kalau bukan belajar tak bereaksi? Sesuai bukan dengan pepatah bijaksana ini?
Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan,
orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.

Itu sebabnya sering digambarkan para jagoan ini menghindari keributan atau tak ambil pusing ketika para penjahat berusaha memancing reaksi mereka. Karena "terpancing" menandakan mereka sudah keluar dari jalur fokus dan mengarahkan energi mereka ke sana. Dan akibatnya, energi positif yang telah mereka pelihara selama ini bisa tercemari oleh energi negatif lawannya.

Kembali ke persoalan saya dengan rekan di atas. Apa yang bisa dipelajari?

Saya tak bilang bahwa saya yang benar dan dia yang salah. Karena benar salah adalah sebuah persepsi. Saya juga tak bilang sayalah si jagoan yang berpikir positif dan dia si jahat yang berpikir negatif.
No, no, no....

Anda ingin tahu pendapat saya?

Saya sama sekali tak menyalahkannya. Karena apa yang dialaminya pernah saya alami dan mungkin sekali waktu nanti bisa saya alami kembali. Semua manusia akan pernah mendapat ujian yang serupa dalam setiap babak kehidupannya. Kebetulan kali ini giliran rekan saya, siapa tahu berikutnya giliran saya? Itu sebabnya saya sangat memahaminya dan bisa menerima semua alasan kemarahannya. Saya juga tak benci kepadanya, malahan memakluminya.

Yang kedua, saya justru berterimakasih kepadanya. Karena dari semua caci makinya saya tahu apa yang menjadi kekurangan saya. Kadang dari seorang teman atau sahabat baik belum tentu kita memperoleh masukan yang sejujurnya, tapi justru dari orang yang memusuhi dan membenci kita, kita bisa memperoleh input yang berguna.

Yang ketiga, melalui peristiwa ini saya diingatkan untuk terus mencari solusi yang lebih seimbang bagi kebaikan bersama. Semua ketidakpuasan yang diletupkan oleh rekan saya ini menunjukkan bahwa ada yang tidak beres dalam sistem yang sedang diberlakukan. Dan itu membutuhkan perbaikan atau pembenahan dengan segera.

Akhirnya, dari semua peristiwa yang terjadi pada hari ini, saya mencoba mengucap syukur. Tidak ada yang kebetulan dari sebuah ketidakbetulan. Tidak ada yang salah dari sebuah peristiwa yang nampaknya salah. Yang ada hanyalah, pembelajaran dan pelatihan agar kita menjadi manusia yang lebih baik lagi dari waktu ke waktu.

Salam,