Google

Minggu, 07 Desember 2008

MENGUBAH SAMPAH MENJADI EMAS (2)

Melanjutkan sedikit postingan yang lalu tentang mengelola "sampah", berikut saya comot bulat-bulat artikel dari Kompas, 1 Desember 2008 sebagai bukti nyata telah diimplementasikannya pengelolaan sampah atas inisiatif masyarakat sendiri (bukan pemerintah).

Judulnya: GERAKAN BANK SAMPAH DARI BANTUL.











Setiap pukul 16.00, antrean nasabah bank sampah biasanya sudah panjang. Mereka bukannya menanti giliran menyetor uang seperti di bank pada umumnya, melainkan sampah yang mereka kumpulkan selama dua hari. Meski yang disetorkan wujudnya tidak sama, pengelolaan bank sampah mirip dengan bank pada umumnya.

Setiap nasabah datang dengan tiga kantong sampah berbeda. Kantong I berisi sampah plastik, kantong II sampah kertas, dan kantong III berupa kaleng dan botol. Ketika menimbang sampah, nasabah akan mendapat bukti setoran dari petugas teller. Bukti setoran itu menjadi dasar penghitungan nilai rupiah sampah, yang kemudian dicatat dalam buku tabungan. Untuk membedakan, warna buku tabungan tiap RT dibuat berbeda.

Setelah sampah terkumpul banyak, petugas bank menghubungi tukang rosok. Tukang rosok memberi nilai ekonomi tiap kantong sampah milik nasabah. Catatan nilai rupiah itu lalu dicocokkan dengan bukti setoran dan kemudian dibukukan.

Harga sampah bervariasi bergantung pada klasifikasinya. Kertas karton dihargai Rp 2.000 per kg, kertas arsip Rp 1.500 per kg. Sedangkan plastik, botol, dan kaleng harganya menyesuaikan ukuran.

Tiap nasabah memiliki karung ukuran besar, yang tersimpan di bank untuk menyimpan seluruh sampah yang mereka tabung. Tiap karung diberi nama dan nomor rekening tiap nasabah. Tujuannya agar setiap tukang rongsok datang, petugas bank tidak kebingungan memilah tabungan sampah tiap nasabah. Karung- karung sampah itu tersimpan rapi di gudang bank.

Gemah Ripah

Bank Sampah Gemah Ripah, didirikan masyarakat Dusun Bandegan, Bantul, DI Yogyakarta, tiga bulan lalu. Kini jumlah nasabahnya 41 orang dari 12 RT di dusun tersebut. Pada tahap awal mereka masih membatasi diri untuk warga satu dusun, tetapi bila sudah memungkinkan nasabah tidak akan dibatasi asalnya.

Tidak semua sampah disetor ke tukang rosok. Sebagian di antaranya, yakni jenis plastik sachet dan gabus, diolah sendiri oleh bank sampah. ”Plastik sachet kami hargai Rp 15 per sachet, sementara gabus bergantung pada ukuran,” ujar Ismiyati, koordinator daur ulang sampah.

Plastik-plastik itu lalu diolah untuk membuat aneka aksesori rumah tangga, seperti tas, dompet, hingga rompi. Barang-barang tersebut dijual dengan harga Rp 20.000-Rp 35.000. ”Beberapa pembeli asing minta dikirim contoh barang. Kalau mereka setuju, pesanan yang kami terima akan menumpuk. Karenanya, stok bahan baku harus banyak. Kami sudah meminta warga untuk lebih aktif menabung sampah,” katanya.

Sampah jenis gabus biasanya dibuat menjadi pot bunga, tempat dudukan bendera, atau perlengkapan rumah tangga lainnya. Gabus-gabus itu dicampur dengan pasir dan semen. ”Produksi dari bahan gabus pesananannya masih lokal saja,” kata Ismiyanti

Menurut Panut Susanto, ketua pengelola bank sampah, sampah yang terkumpul tiap minggu mencapai 60-70 kg. Untuk sementara jam layanan bank dimulai pukul 16.00-21.00 tiap hari Senin-Rabu-Jumat. ”Kami baru bisa melayani pada sore hari karena sebagian besar petugas bank harus bekerja pada pagi hari,” katanya.

Belum maksimalnya kinerja petugas karena mereka mengelola bank sampah tanpa dibayar. Artinya, mereka harus tetap bekerja untuk membiayai kehidupan keseharian. ”Apa yang kami kerjakan sifatnya masih sosial. Jadi, kami memang tidak mengharapkan upah karena kondisi bank belum maksimal,” katanya.

Bank sampah memotong dana 15 persen dari nilai sampah yang disetor nasabah. Dana itu digunakan untuk membiayai kegiatan operasional, seperti fotokopi, pembuatan buku tabungan, dan biaya lainnya. ”Selama ini tidak ada nasabah yang keberatan. Kami harus melakukan pemotongan karena bank ini memang dikelola bersama-sama,” katanya.

Berbeda dengan bank tempat nasabah bisa mengambil dana setiap saat, di bank sampah nasabah hanya bisa menarik dana setiap tiga bulan sekali. Tujuannya agar dana yang terkumpul bisa lebih banyak sehingga uang tersebut dimanfaatkan sebagai modal kerja atau keperluan yang bersifat produktif.

”Kalau dibebaskan, mereka bisa konsumtif. Baru terkumpul Rp 20.000-Rp 30.000 sudah tergiur untuk mengambil. Karena hanya tiga bulan sekali, mereka bisa menarik dana sampai Rp 100.000-Rp 200.000 bergantung pada banyaknya sampah yang ditabung,” kata Bambang Suwirda, penggagas bank sampah.

Tersimpan

Menurut Bambang, dana kelolaan yang saat ini tersimpan tinggal Rp 500.000. Sebagian besar nasabah sudah mengambil saat Lebaran lalu. Untuk sementara, dana nasabah disimpan sendiri oleh pengelola bank. Ke depan, pengelola akan menjalin kerja sama dengan Bank Bantul untuk menyimpan dana nasabah.

Para pengelola bank juga bertekad memperluas operasional bank agar tidak terbatas pada penyimpanan, tetapi juga peminjaman. ”Dalam konsep bank sampah, barang jaminan mungkin berupa sampah juga,” katanya.

Fokus sampah yang dikumpulkan saat ini masih sebatas sampah anorganik. Ke depan, sampah organik juga akan diterima, yang selanjutnya diolah menjadi pupuk kompos.

Bagi para nasabah, keberadaan bank sangat membantu. Mereka bisa mendapat penghasilan tambahan sekaligus kebersihan lingkungan sekitar terjaga. ”Lumayanlah tiap bulan ada pemasukan tambahan. Hitung-hitung buat nambah dana belanja dapur,” kata Sutiyani, warga setempat.

Bila gerakan bank sampah bisa meluas ke berbagai desa, masalah sampah bisa tertangani. Tak hanya itu, perekonomian masyarakat juga ikut membaik sehingga angka kemiskinan bisa ditekan.

Di Bantul, produksi sampah per hari mencapai 614 meter kubik. Sayangnya, pemerintah daerah setempat belum berpikiran ke arah itu. (ENY PRIHTIYANI)

Sebelumnya, Kompas juga pernah memuat artikel sejenis dengan judul:


MASYARAKAT BANDEKAN DIRIKAN BANK SAMPAH.


Maisurah, tengah mengolah sampah kain menjadi keset, di Bank Sampah, RT 10 RW 02, Pejaten Indah II, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

BANTUL, KAMIS - Sampah tidak lagi dilihat sebelah mata. Masyarakat Dusun Bandekan, Bantul sudah meliriknya menjadi bahan baku aneka kerajinan. Mereka bahkan mendirikan bank sampah sebagai penghasilan tambahan yang menjanjikan. Lewat bank ini, sampah-sampah dikumpulkan lalu diolah kembali menjadi barang aksesoris rumah tangga.

Bank sampah menerima sampah jenis anorganik dari seluruh warga. Tiap warga akan dibuatkan buku tabungan. "Setelah sampah disetorkan ke bank dan ditimbang, uangnya langsung dimasukan ke buku tabungan. Jadi masyarakat bisa punya simpanan dari sampah yang mereka kumpulkan sendiri," kata Siti Badriah (18), Sekretaris di Bank Sampah Bandekan, di sela-sela acara Bantul Ekspo, Kamis (7/8).

Ada beberapa jenis sampah anorganik yang diterima bank sampah yakni kertas, plastik, botol, dan kaleng. Untuk setiap 1 kilogram kertas dihargai Rp 2.000/Kg, plastik Rp 1.500/Kg, sedangkan untuk botol tergantung ukurannya.

Di RT 12 Dusun Bandekan ada 55 keluarga yang tercatat sebagai nasabah bank sampah. Mereka menabung sampah setiap hari Rabu dan Jumat. "Awalnya kami hanya melayani warga 1 Rt, tetapi dalam perkembangannya jumlah nasabah terus meluas hingga ke luar dusun," katanya.

Tidak hanya menabung, warga khusus ibu-ibu juga mengolahnya menjadi aneka timbangan. Sampah plastik misalnya dimanfaatkan untuk bahan pelapis sandal, tas, dan perabot lainnya. Plastik juga bisa dimanfaatkan untuk bahan isian bantal. Kertas bisa didaur ulang untuk membuat frame foto dan pelapis boks.

Pemanfaatan sampah juga dilakukan masyarakat Dusun Metes, Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu. Mereka mengumpulkan sampah-sampah sachet seperti bungkus kopi, detergen, dan berbagai produk pabrikan lainnya untuk bahan pelapis aneka aksesoris. Dengan ditambah pelapis, harga sandal rumah yang biasanya hanya berkisar Rp 5.000/pasang bisa naik menjadi Rp 15.000/pasang.

Gagasan ini terinspirasi dari kegiatan serupa di daerah lain. "Kami juga mendapat banyak informasi soal pemanfaatan sampah dari TV dan koran," kata Ibu Fajar Purwaningsih.

Fajar menuturkan, pada tahap awal gagasan memanfaatkan sampah tersebut sempat tidak diterima warga karena dianggap tidak lazim. Namun berkat dukungan sejumlah warga yang kemudian mendirikan kelompok usaha, kegiatan ini pun dicintai masyarakat sekitar.

(Sumber: Kompas, 7 Agustus 2008/Eny Prihtiyani)

Semoga bermanfaat dan menggugah kita semua untuk lebih mencintai bumi.

Salam,

Sabtu, 06 Desember 2008

MENYEMANGATI DIRI SENDIRI (5)

Apa tujuan akhir dari menyemangati diri?

Jika tujuannya sekedar membuat perasaan menjadi lebih nyaman atau sekedar menghibur-hibur diri, maka bisa-bisa proses menyemangati diri hanya akan menjadi sebuah aktivitas yang diulang-ulang tanpa mengandung satu nilai pembelajaran dan segera akan mengalami titik jenuh.

Menyemangati diri haruslah lebih dari sekedar mengipas-ngipas kekecewaan agar lekas pergi. Akan lebih baik dan bermanfaat jika menyemangati diri selalu ditujukan pada peningkatan kualitas. Bermuara pada kualitas.

Apa maksudnya?
Menyemangati diri biasanya kita lakukan akibat timbulnya rasa kecewa. Dan rasa kecewa muncul karena adanya kegagalan (atau yang kita anggap gagal). Nah, jangan sampai, menyemangati diri yang kita lakukan hanya sekedar menyembuhkan rasa kecewa, tapi tidak memperbaiki sumber kegagalannya. Kita harus selalu belajar dan berusaha mencari tahu, mengapa kita gagal di waktu yang lalu. Dari kegagalan itulah kita belajar meningkatkan kualitas dan profesionalitas.

Sebagai contoh, saya saat ini sedang mencoba berbisnis kue basah. Resikonya adalah, kue-kue tidak laku dan dikembalikan. Pada saat menerima kembali kue yang tidak laku, tentu saja ada rasa kecewa, merasa gagal. Kemudian saya tentunya akan berusaha menyemangati diri agar perasaan menjadi lebih nyaman. Nah, jika saya hanya berhenti hanya sampai perasaan menjadi lebih nyaman, maka bisa jadi esoknya saya akan melakukan kesalahan yang sama yang menyebabkan kue-kue saya kembali dipulangkan. Tapi jika saya melanjutkannya dengan proses introspeksi, maka saya akan tahu di mana kira-kira saya perlu memperbaiki diri. Dengan demikian proses menyemangati diri menjadi lebih bermakna.

Menyemangati diri adalah sebuah proses mental. Tapi sumber masalah sebenarnya bisa jadi bukan terletak pada faktor mental. Bisa jadi terletak pada faktor keterampilan (skill) atau profesionalitas kita. Kue-kue saya dikembalikan bukan untuk menguji seberapa besar ketegaran saya menghadapi kegagalan, tapi mungkin karena cita rasa yang buruk atau penampilan yang kurang mengundang minat, sehingga butuh perbaikan pada kesempatan berikutnya. Jadi solusinya di sini adalah, saya harus meningkatkan kualitas dan keterampilan saya dalam membuat kue, bukan sekedar menghibur-hibur diri dari rasa kecewa.

Memang ada faktor lain yang menyebabkan kegagalan atau keberhasilan. Yaitu faktor luck. Ini tak bisa dipungkiri dan kita harus bisa menerimanya dengan besar hati. Kadang produk yang kita anggap masterpiece tidak laku di pasaran, tetapi sebaliknya yang kita anggap biasa-biasa saja, malah disenangi pasar. Kita harus benar-benar jeli mengamati dan belajar tentang keadaan pasar. Dan selebihnya mengelola kekecewaan agar tak terlalu berlebihan.

Belajar, belajar dan terus belajar, itu adalah langkah menyemangati diri yang paling membebaskan, karena pembelajaran tidak pernah mengecewakan, selalu ada hikmah yang kita petik, selalu ada ilmu yang kita peroleh, berapa pun kecilnya.

Yakinlah, bahwa tidak ada yang sia-sia dari apa yang pernah kita alami ketika kita selalu mau terbuka untuk belajar dan memperbaiki diri.

Salam,

Kamis, 04 Desember 2008

MENYEMANGATI DIRI SENDIRI (4)

Jika kita sedang merasa patah, kehilangan bahkan kehabisan semangat, pernahkah bertanya pada diri sendiri, apa sumber semangat yang tak pernah ada habisnya?

Jawabnya adalah: NIAT BAIK.

Setiap niat baik yang muncul dalam diri kita adalah sumber semangat terbesar. Sifatnya internal dan tidak bisa habis atau lenyap, kecuali kita yang mengizinkannya.

Perhatikanlah, ketika kita mempunyai niat baik untuk membahagiakan orang yang kita cintai, ingin memberi hadiah untuk orang yang kita anggap berjasa, ingin menolong orang yang sedang kesusahan, kita seolah mempunyai energi baru untuk mewujudkannya. Semua rasa capek dan lelah seolah lenyap tak berbekas digantikan dengan hal-hal indah yang kita bayangkan ketika niat baik itu terwujud nantinya.

Niat baik juga memperlancar arus bantuan dan pertolongan dari Tuhan. Entah itu berupa dana atau fasilitas atau orang-orang yang tiba-tiba saja tersedia untuk mendukung kita. Niat baik merupakan energi positif yang luar biasa besar, sehingga tak heran daya pancarnya begitu kuat, begitu jauh menembus barikade halangan dan setiap aral yang melintang.

Tetapkan sebuah niat baik yang ingin kita lakukan setiap hari, maka hal tersebut akan menjadi sumber semangat kita pada hari itu. Jangan berpikir bahwa niat baik itu harus berupa hal-hal yang spektakuler. Kita bisa memulainya dengan hal-hal sederhana. Misalnya, hari ini saya ingin bersikap mesra pada pasangan saya. Hari ini saya tak hendak mengomeli anak saya. Hari ini saya akan bekerja dengan lebih serius dan sepenuh hati, cermat dan hati-hati. Hari ini saya ingin menyempatkan diri untuk mendengarkan sahabat yang hendak curhat. Hari ini saya ingin memberi sedikit uang bagi mereka yang membutuhkannya, dsb.

Niat baik bukan saja indah dan menggelorakan semangat, namun juga membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dan lebih disayangi. Mari berlomba-lomba mewujudnyatakan sebuah niat baik, dan yakinlah bahwa hidup Anda akan menjadi lebih berenergi.

Selain mengetahui sumber semangat terbesar kita, kita juga perlu mengenali berbagai jenis pelemah semangat kita. Ada yang bersifat internal (dari dalam diri sendiri) ada yang eksternal.

Pelemah semangat internal antara lain: adanya dendam yang tak kunjung diselesaikan, rasa benci, trauma, kuatir dan cemas yang berlebihan, ketakutan, iri hati, rasa bersalah, kesombongan, dsb.

Sementara yang eksternal contohnya adalah kritik yang tidak membangun, fitnah, gosip, penghakiman sepihak, kesalahpahaman, dll.

Diam dan amati ketika tiba-tiba ada orang yang sibuk mendera kita dengan berbagai kritik yang bersifat menghukum dan menghakimi. Jangan bereaksi. Dengarkan saja. Biarkan berlalu jika memang bukan itu kebenarannya. Karena kritik yang tidak membangun, hanya membuat luka tapi tak membalutnya. Hanya membuat kita merasa bersalah, tapi tak memberi solusinya. Jika kita berlama-lama menanggapinya, jangan heran jika semakin lama semangat kita semakin menipis dikikisnya.

Tetapi kritik yang membangun, yang didasarkan pada niat baik dan cinta kasih, akan selalu menginspirasi kita untuk memperbaiki diri. Kritik yang membangun bukan hanya melempar kata-kata tanpa tanggung jawab, tapi juga menyiapkan diri untuk menerima kekurangan kita dan menolong kita membangun citra yang lebih baik. Kritik yang membangun tidak hanya menghakimi dan menyalahkan, tetapi memompakan semangat di balik kelemahan kita.

Semoga kita dapat menjadi pribadi-pribadi yang menyemangati setiap orang di sekitar kita.

Salam,

MENYEMANGATI DIRI SENDIRI (3)

Masih seputar menyemangati diri sendiri.

Jika sebelumnya kita perlu belajar dari orang-orang yang "lebih" dari kita - entah itu lebih berhasil, lebih berpengalaman, lebih cerdik, lebih berani dsb - untuk menyemangati kita, ternyata orang-orang yang "kurang" dari kita pun bisa menjadi penyemangat yang tak kalah hebatnya. Bahkan melalui mereka lah kita jadi sadar, bahwa penderitaan yang kita alami saat ini belum apa-apa. Belum melampaui kekuatan kita.














Dari mereka yang hidup berkekurangan, kita belajar bagaimana tetap survive dalam keterbatasan. Dan inilah hidup yang sejati menurut saya, karena hidup dalam keterbatasan memaksa kita menetapkan prioritas, mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang lebih bersifat keinginan. Kadangkala uang yang berlebih, materi yang berlebih, membutakan mata kita untuk melihat batas-batas kebutuhan kita secara apa adanya. Tapi begitu keterbatasan dana, keterbatasan fasilitas, keterbatasan kesempatan menghimpit kita, kita baru berpikir, mana yang lebih urgent, mana yang perlu didahulukan. Kita jadi lebih aktif memilah, mengesampingkan keperluan-keperluan yang kurang efektif dan efisien, kita jadi lebih terampil dan taktis menggeser idaman-idaman dan lebih memilih hidup berpijak pada kenyataan.

Orang yang biasa hidup berkekurangan tahu apa artinya perjuangan tak kenal lelah. Belum lagi kebutuhan hari ini terpenuhi, mereka sudah harus siap menghadapi esok hari yang masih penuh tanda tanya. Padahal kita semua sama-sama punya keterbatasan fisik, keterbatasan waktu. Waktu 24 jam diberikan sama kepada orang yang kaya maupun yang miskin. Tapi tetap saja ada yang mengeluh kurang waktu sebaliknya ada yang kebingungan bagaimana menghabiskan waktu. Dari mereka yang hidup bersahaja, kita belajar bahwa kebutuhan yang sederhana membuat kita lebih kaya akan waktu. Bukannya menghabiskan waktu berjam-jam memelototi televisi, atau berjalan-jalan di mal membelanjakan sebagian besar dana kita untuk barang-barang yang tak sepenuhnya kita butuhkan.













Orang yang hidup bersahaja, berjuang di garis batas hidup dan mati. Dan ini perlu kita homati, karena memerlukan keberanian yang tinggi untuk bisa hidup seperti itu. Anda dan saya, belum tentu berani tinggal dan hidup di pinggir kali. Makan sekali sehari atau tidak sama sekali. Mengais sampah, mengumpulkan pulungan untuk mendapat nafkah duapuluh ribu sehari. Belum lagi jika musibah mendera. Apakah itu yang alami seperti banjir, atau yang non alami seperti penggusuran oleh petugas tramtib. Belum lagi anak-anak yang seolah hidup tanpa masa depan. Tak ada perlindungan rasa aman, atau mendapat pengobatan dan pendidikan yang layak.

Jadi, dengan kata lain, kita belum layak mengeluh dengan penderitaan yang menimpa dan mengecilkan hati kita saat ini. Keterbatasan, kekecewaan, halangan, cobaan, ujian atau apapun lah namanya untuk menggambarkan penderitaan kita, belum seberapa jika dibandingkan apa yang tengah dialami sebagian besar saudara-saudara kita. Dari pengalaman mereka lah kita belajar untuk terus berjuang, terus tegar, berbesar hati, bersyukur atas apapun yang sempat kita alami, karena semua itu membantu kita membentuk karakter berani, ulet, pantang menyerah dan percaya diri.

Semoga kita semua menjadi pribadi yang semakin berkualitas tinggi.

Salam,

Kamis, 27 November 2008

MENYEMANGATI DIRI SENDIRI (2)

Belajar dari orang-orang yang telah lebih dulu berhasil daripada kita, adalah cara lain untuk menyemangati diri sendiri.

Bukan kebetulan jika belakangan ini entrepreneurship gencar diusulkan sebagai langkah alternatif untuk mengatasi berbagai beban kehidupan yang makin menekan. Sampai-sampai Menristek RI Kusmayanto Kadiman, dalam Pesta Blogger 2008 di Gedung BPPT Jakarta, Sabtu 22 November 2008 yang lalu, menganggap perlu dimunculkannya blog-preneur alias blogger yang berjiwa wirausaha (Kompas, 24/11/2008).

Hal senada juga diungkapkan oleh Bob Sadino, seorang entrepreneur kawakan Indonesia, dan Dr.Ir. Wahyu Saidi, MSc - Doktor yang juga pengusaha mie yang sukses dalam forum diskusi "Entrepreneurship Experiencing 2008" di Universitas Indonesia beberapa pekan lalu. Bahkan Bob Sadino memberikan tantangan yang provokatif kepada hadirin bahwa "Siapa saja yang ingin menjadi entrepreneur, keluarlah dari kampus setelah acara ini dan jangan kembali ke sini lagi!". (Kompas, 13/11/2008).

Apa maksudnya? Apakah kita semua tidak perlu bersekolah tinggi untuk dapat menjadi entrepreneur?
Tentu maksudnya bukan itu. Tapi bahwa gelar kesarjanaan tertentu di negeri ini, seringkali bisa menghalangi semangat kita untuk berwirausaha. Saya sendiri sempat mengalaminya, seperti yang diungkapkan Bapak Wahyu Saidi,
"Untuk memulai entrepreneurship, gelar kesarjanaan benar-benar tak berguna, justru sering negatif. Begitu mau menyebar brosur atau nggoreng makanan, ngerasa diri sarjana. Itu bisa jadi awal kegagalan", demikian ujar beliau.

Lagi, menurut pak Wahyu yang telah membuka 410 gerai makanan di 30 kota dan 4 negara ini, ilmu yang didapat di bangku kuliah baru berguna jika bisnis sudah berkembang. Misalnya terkait tuntutan penguasaan manajemen, mekanisme kontrol dan distribusi. Namun, tidak bersekolah juga bukan berarti tidak bisa belajar menguasai ilmu-ilmu ini.

"Kalau mau jadi entrepreneur, mulailah dari sekarang. Jangan berencana mulai setelah lulus kuliah. Apalagi kalau Anda berusaha lulus dengan indeks prestasi tinggi, besar kemungkinan muncul harapan dan iming-iming untuk jadi pegawai", ujar pak Wahyu .

Wah, kata-kata penuh semangat dari 2 pengusaha sukses ini sungguh menyemangati saya. Sejak muda, saya memang tidak berhasrat jadi pegawai. Itu sebabnya, bekerja pada orang lain saya niatkan hanya untuk sementara saja. Untuk mencari pengalaman, mengamalkan ilmu yang saya peroleh di kuliah dan untuk mengumpulkan modal. Dan setelah merasa cukup, saya harus berani memutuskan untuk keluar dari comfort zone tersebut, apapun resikonya.

Berwirausaha melatih kita menjadi berani. Dan itu adalah modal utama dalam hidup ini. Kita juga dilatih sabar, tegar dan tabah dengan adanya berbagai ketidakpastian yang harus kita hadapi setiap kali. Kita dilatih mengalahkan rasa malas, dilatih berpikir dan bertindak taktis dan strategik, serta berjiwa mandiri, tidak selalu mengharap bahkan menuntut pertolongan orang lain melulu. Wirausaha mengajarkan kita hidup dalam arti yang sebenar-benarnya. Kita hidup di alam nyata, ada kerja ada hasilnya. Ada usaha ada pahalanya. Berwirausaha juga membuat hubungan kita dengan Sang Pencipta menjadi lebih dekat. Kita bisa melihat pertolonganNya begitu nyata dalam setiap saat. Kita menjadi lebih mudah bersyukur, serta lebih mudah nrimo jika ada kegagalan menimpa. Tidak cengeng lagi seperti sebelumnya.

Saya bersyukur tengah menjalani sebuah proses yang menghidupkan. Yang mengembalikan jati diri saya sebagai manusia yang terus bergerak dan berubah. Dinamis dan tidak statis. Saya tidak sedang tinggal di air tenang melulu, tapi juga di air yang beriak. Saya menikmati setiap sensasinya sekalipun kadang mendebarkan bahkan mengerikan.

Mudah-mudahan tulisan kali ini bisa menyemangati Anda semua yang tengah berada di titik semangat yang paling rendah. Tuhan menguatkan kita semua. Sampai jumpa pada postingan berikutnya.

Salam,

Jumat, 21 November 2008

MENYEMANGATI DIRI SENDIRI (1)













Waow! Judul postingan hari ini lumayan provokatif ya?

Sebenarnya itu saya tujukan untuk menyemangati diri sendiri.
Pada postingan sebelumnya telah saya tuliskan bahwa saat ini saya sedang menjalani masa-masa awal dalam berwirausaha. Saya akui, beberapa kali nyaris ingin kembali saja ke masa-masa jaya dulu sebagai pegawai... :-), karena hati terasa ciut memikirkan apakah mungkin usaha yang tengah saya jalani ini bisa bertahan bahkan berkembang.

Menyemangati diri sendiri adalah sebuah aktivitas yang sangat dibutuhkan saat kita sedang merasa kecil, tak berdaya dan kehilangan harapan. Kita semua tahu bahwa ketika kita sedang berada di lingkaran yang nyaman (comfort zone), kita lebih mudah membangun mimpi-mimpi. Tapi mimpi-mimpi tersebut bisa runtuh seketika ketika kita harus berhadapan langsung dengan kenyataan. Bak fatamorgana, ia tidak nyata. Semu. Tipuan mata semata. Dan ini bisa sangat menggelisahkan kita.

Bagaimana mengatasi kegamangan ketika kita tak lagi bisa berkelit terhadap kenyataan? Ketika kita tak bisa lagi sembunyi di balik mimpi-mimpi yang menaburkan banyak harapan?

Jawabannya: HADAPI SAJA!

Tidak ada jalan lain, tidak ada jalan pintas!
Anda dan saya sama-sama manusia yang harus melalui jalan yang sama yaitu kenyataan!
Apakah Anda seorang pegawai atau wirausahawan, bawahan atau atasan, petani atau presiden, apapun embel-embel yang menempel pada diri kita, kita akan tetap diperhadapkan pada kenyataan. Siap atau tidak siap, sedang percaya diri atau sedang kecil nyali, sedang berani atau sedang takut, semua itu harus dilalui.

Kenapa kita stress? kenapa kita depresi?
Bisa jadi karena kita kurang percaya diri, takut gagal dan tidak berani menghadapi kenyataan.
Kenapa takut gagal? Kenapa tak berani menghadapi kenyataan? Padahal kita tahu di seluruh dunia, semua manusia pernah gagal dan pernah merasa takut menghadapi kenyataan? Kita tak sendirian, kawan.

Masalahnya mungkin terletak pada standar yang kita terapkan bagi diri sendiri. Jangan-jangan standar itu terlalu tinggi, sehingga membuat kita merasa kesulitan mencapainya. Kita jadi tegang jika tak tercapai. Kita merasa gagal, lantas patah arang. Lalu berlanjut menjadi penyakit jiwa nomor satu di dunia: tidak percaya diri.

Kalau begitu, bagaimana jika kita mencoba membebaskan diri dari lingkaran setan tersebut? Bagaimana caranya?

Ada satu cara yang cukup ampuh dan efektif yang tanpa sengaja saya temukan dari pengalaman beberapa waktu belakangan ini. Mungkin bisa berguna bagi Anda juga. Semoga.

Sebelum ini, saya adalah penganut berat paham worksmart bukan workhard. Saya paling alergi dengan istilah "kerja keras", karena bagi saya itu identik dengan kaum workaholic yang cenderung menelantarkan keluarga demi sebuah pekerjaan atau prestasi di pekerjaan. Kerja keras menurut saya juga identik dengan kerja otot dan bukan kerja otak, dan ini membuat kita seolah tak pernah mencatat kemajuan dalam sejarah peradaban manusia jika masih saja terus menerus mengandalkan otot dan bukan otak. Itu anggapan saya dulu lho... yang mungkin terlalu ekstrim memilah-milahkan antara otot dan otak. Padahal kalau dipikir-pikir, semestinya keduanya berjalan sinergi ya?

Nah, tapi karena paradigma berpikir saya seperti itu, jadilah saya menjauhi jenis-jenis pekerjaan yang berbau kerja tangan. Saya lebih suka mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan ide, gagasan, impian, dsb. Dan seperti Anda tahu, sikap seperti ini pun tidak mencerminkan keseimbangan. Saya hidup di alam tidak nyata dan ilusi semata. Jadi ketika harus berhadapan dengan kenyataan, saya tidak pernah siap. Saya selalu ragu dan kuatir jika suatu hari nanti di PHK dan tidak ada perusahaan yang mau menampung saya lagi, apa yang harus saya lakukan?

Langkah radikal yang saya ambil kemudian adalah melakukan kegiatan yang 180 derajat berlawanan dengan apa yang saya pahami semula. Dari yang tadinya tidak ingin menyentuh dunia kerja otot, akhirnya saya malah terjun total ke situ. Saya yang semula tidak bisa bangun pagi, sekarang bangun pukul 03.30 untuk memulai pekerjaan saya. Saya yang semula enggan menyentuh pekerjaan kasar, sekarang justru melakukannya. 99% pekerjaan saya sekarang adalah bekerja tangan, bukan pikiran. Nah, di sinilah justru perubahan mulai terjadi. Saking asyiknya tangan bekerja, pikiran kita pun tidak sempat untuk menguatirkan ini dan itu. Ketika gagal jual hari ini, kita sudah memulai yang baru untuk esok hari - yang tentunya disertai dengan harapan baru. Saya tidak sempat berlama-lama menangisi kegagalan. Saya tidak punya waktu untuk berlarut-larut tinggal dalam kekecewaan dan kekuatiran. Saya tenggelam dalam kesibukan yang memabukkan sehingga tanpa terasa telah melalui sebuah kenyataan pahit dengan ringan dan cepat.

Di sinilah saya belajar, bahwa mempunyai paradigma yang salah, bisa membuat kita berjalan salah pula. Memegang paradigma terlalu kuat, membuat kita mengabaikan keseimbangan. Bersikap lentur saja seperti pohon bambu, mungkin itu akan lebih berguna. Pohon bambu mudah digoyang angin tapi tak mudah patah. Ia menyesuaikan diri sedemikian dengan rupa-rupa godaan dan hambatan. Saya percaya, pohon bambu ada untuk mengajar kita, bagaimana menyemangati diri sendiri ketika harapan seolah tak ada.

Nah, sekian dulu sharing saya. Mungkin lain kesempatan bisa disambung lagi. Semoga bermanfaat.

Salam,

Sabtu, 15 November 2008

HIDUP CUKUP ALA KAUM FREEGAN



Minggu lalu, saya terinspirasi oleh dua tayangan pada dua stasiun TV yang berbeda. Yang pertama adalah liputan Oprah Winfrey Show tentang kaum Freegan, dan yang kedua adalah wawancara DAAI TV dengan Romo Sandyawan Sumardi.

Apa itu Freegan?

people who have decided to live outside consumer society. Freegans say our culture's emphasis on buying the newest products—and throwing away perfectly fine older things—is a waste of the world's resources. Instead, they focus on buying less and use only what they need. One of the main ways freegans do this is by salvaging food and other goods from the trash.

(selengkapnya bisa anda lihat di Oprah.Com)

Ada definisi yang lebih lengkap:

Freeganism is an anti-consumerism lifestyle whereby people employ alternative living strategies based on "limited participation in the conventional economy and minimal consumption of resources. Freegans embrace community, generosity, social concern, freedom, cooperation, and sharing in opposition to a society based on materialism, moral apathy, competition, conformity, and greed,The lifestyle involves salvaging discarded, unspoiled food from supermarket dumpsters that have passed, or in some cases haven't even passed, their sell by date, but are still edible and nutritious. They salvage the food not because they are poor or homeless, but as a political statement.

The word "freegan" is a blend of "free" and "vegan".Freeganism started in the mid 1990s, out of the antiglobalization and environmentalist movements. Groups such as Food Not Bombs served free vegetarian and vegan food that was salvaged from food market trash by dumpster diving. The movement also has elements of Diggers, an anarchist street theater group based in Haight-Ashbury in San Francisco in the 1960s, that gave away rescued food.

(Sumber:http://www.facebook.com/group.php?gid=55202305088&ref=share)


Salah satu partisipan dari kelompok freegans ini adalah Madeline seorang eksekutif di New York City dengan penghasilan jutaan dollar. Keputusannya untuk menjadi freegan boleh jadi dinilai mengejutkan karena salah satu cara hidup mereka yang gemar mengais dan memanfaatkan makanan maupun barang yang telah dibuang (sampah). Keputusan Madeline tentu bukanlah tanpa dasar. Dimulai dari kerisauannya hatinya tentang betapa besar pengeluarannya untuk apa yang ia makan dan ia kenakan. Ia lantas bertanya pada diri sendiri, apakah aku memang benar-benar membutuhkan barang ini atau barang itu? makanan atau baju dengan harga sedemikian mahal? Madeline juga membayangkan, ketika sebagian warga dunia dilanda kelaparan dan kekurangan pangan, para warga di negara-negara makmur dan berkembang justru membuang-buang makanan yang semestinya akan dijual di supermarket hanya karena sedikit penyok, atau sedikit tergores. Itu sebabnya maka Madeline akhirnya bergabung dengan komunitas freegan.

Kaum freegan adalah mereka yang prihatin dengan kenyataan bahwa telah terjadi pemborosan yang luar biasa demi sebuah gaya hidup, dan memutuskan hidup sederhana karena kesadaran mereka akan penghematan energi. Bisa jadi mungkin juga demi berbela rasa dengan mereka yang miskin dan berkekurangan. Mereka rela mengais sampah di malam hari dan mencari makanan kemasan maupun kalengan, bahkan sayuran dan buah-buahan yang masih segar untuk dikonsumsi. Bukan karena mereka pelit atau terlalu irit, tapi karena mereka menyayangkan mengapa makanan yang masih bisa dikonsumsi, belum kadaluarsa, sudah harus berakhir di pembuangan sampah. Mereka juga memilih untuk hidup "secukupnya". Meski penghasilan mereka memungkinkan untuk tinggal di apartemen mewah, belanja makanan mahal, baju dan perlengkapan busana yang highclass, tapi mereka memilih untuk tidak melakukannya. Yang paling mencengangkan bagi saya adalah mereka memutuskan hidup sederhana dengan makanan dan perabotan bekas, tapi menyumbangkan sebagian gaji jutaan dolar mereka kepada orang yang tidak mampu. Ck...ck...ck... ini sungguh mengharukan.

Di Indonesia sendiri ada Romo Sandyawan yang juga memiliki sikap yang nyaris mirip. Ketika mendengarkan wawancara DAAI TV dengan beliau, saya jadi speechless. Kok ada ya orang yang mau seperti ini? pikir saya.
Dengan kesadaran yang tinggi untuk merasakan penderitaan mereka yang miskin dan terpinggirkan, Romo Sandy rela menyamar menjadi buruh dan bahkan menjalani hidup sebagai buruh demi untuk belajar dan merasakan bagaimana hidup sebagai buruh itu. Romo Sandy juga memutuskan untuk hidup bersama-sama, berdampingan dengan mereka yang tinggal di bantaran kali Ciliwung. Susah dan senang mereka alami dan rasakan bersama, apakah itu kebanjiran atau pun penggusuran. Salah satu kalimat beliau yang melekat kuat di memori saya hingga saat ini adalah: yang kita perangi bersama adalah kemiskinan, bukan orang miskinnya!

Bagi saya, kaum freegan maupun Romo Sandy adalah orang-orang yang dengan kesadaran yang tinggi mau menyederhanakan kebutuhan hidupnya demi dirinya sendiri (agar hidup lebih bijak) maupun demi orang lain yang lebih menderita (dalam berbela rasa), sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus yang:

... telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Fil 2:7-8)

Semoga kita dapat mengikuti teladan mereka.

Salam.

Sabtu, 08 November 2008

OBAMA...OBAMA...!!!

Bukan hanya warga Amerika Serikat yang tegang dan menunggu dengan penuh debar hasil pemilihan presiden tahun ini, tapi hampir seluruh dunia tersedot perhatiannya untuk tidak melewatkan detik-detik paling bersejarah ketika untuk pertama kalinya seorang keturunan Afro-Amerika tampil sebagai orang nomor satu di negeri super power tersebut. Dan ketika akhirnya Obama memenangi pemilu, seluruh dunia seolah tenggelam dalam sukacita dan pesta pora.

Apa yang sebenarnya mereka rayakan? Sedemikian dahsyatkah kharisma dan daya tarik Obama sehingga mereka begitu merasa punya keterikatan batin dengannya, rela antre berjam-jam dengan antusiasme yang tinggi untuk memberikan suaranya? Terlebih lagi, masyarakat di luar Amerika yang mendadak demam Obama dan turut haru biru, meneteskan air mata dan bersorak-sorai bagi kemenangannya? Benarkah hanya karena orasinya yang memukau Obama sedemikian menjadi pusat perhatian dunia? Benarkah ia hanya memenangi momentum? Benarkah karena tema "perubahan" yang diusungnya membuatnya lantas digantungi harapan berjuta manusia?

Boleh jadi alasan-alasan tersebut lah yang mendasari terpilihnya Obama. Tapi boleh jadi sebenarnya bukan kemenangan Obama yang kita rayakan atau bukan sosok Obama yang kita sanjung dan idolakan, melainkan kita semua sedang merayakan kemenangan dari sebuah "kemustahilan". Kita merayakan kemenangan diri sendiri, ketika tiba-tiba kita tersadar bahwa harapan itu nyata ada, bahwa bukan hanya Obama yang bisa menang, tapi kita semua pun memiliki kesempatan yang sama!

Obama bukan sekedar menjadi ikon warga kulit hitam atau warga Amerika pada umumnya. Ia adalah sosok yang mewakili kita semua dalam mewujudkan mimpi dan harapan, membuat yang mustahil menjadi mungkin! Obama adalah spirit dan inspirasi bagi kita semua yang rindu akan kemenangan, terutama menang atas kelemahan diri sendiri.

Ya, Obama mewakili mereka yang minoritas dan terpinggirkan. Ia mewakili mereka yang broken home. Ia mewakili Barat dan Timur karena darah dan sejarah hidupnya yang multikultural. Ia pun mewakili mereka yang putus asa terhadap hidupnya karena ia pun pernah memiliki masa lalu yang suram dalam cengkeraman narkoba. Obama mewakili kita semua, memberikan harapan bahwa kita pun mungkin bertransformasi dari yang semula bukan siapa-siapa menjadi orang yang lebih bermakna daripada sebelumnya. Kemenangan Obama adalah pertama-tama menang atas dirinya sendiri. Sesungguhnya ia sudah menang jauh-jauh hari sebelum terpilih menjadi presiden Amerika Serikat yang baru.

Bagaimana dengan kita?

Apakah detik ini kita juga sudah menang atas diri sendiri? Sanggup menerima kelemahan diri dengan besar hati, dan sanggup berbangga tanpa arogansi terhadap kelebihan diri?

Apakah kita masih sering bersikap reaktif, marah dan sakit hati ketika dikritik?

Apakah kita masih sanggup berjalan meskipun terpaksa sendirian tanpa dukungan?

Apakah kita masih suka menyalahkan pihak lain sebagai penyebab kegagalan kita?

Apakah kita masih larut dan sulit beranjak dari kegagalan masa lalu?

Apakah kita masih sulit mempercayai adanya harapan di masa depan?

Apakah kita masih sulit mengampuni diri sendiri?

Berbagai peristiwa datang dan pergi dalam kehidupan kita seperti air yang mengalir. Orang bijak mengatakan, biarkan air mengalir, jangan dibendung pun jangan dibelokkan. Karena air yang mengalir membawa serta berkah maupun musibah. Dan keduanya sama baiknya bagi kita. Tak hanya berkah yang membawa kebaikan. Namun musibah juga memberikan banyak pengajaran yang pada akhirnya juga memberikan manfaat kepada kita.

Mari kita berjuang bersama sejak saat ini, sebagaimana Obama yang menyerukan: ”YES, WE CAN!”.


Jumat, 17 Oktober 2008

Menjadi "LASKAR KREATIF"

Istilah ”Laskar Kreatif” diangkat oleh Ninok Leksono dalam tulisannya di Kompas tanggal 15 Oktober 2008 yang lalu, mencermati fenomena film Laskar Pelangi yang dikatakannya sebagai meneguhkan kebangkitan industri kreatif di tanah air.

Apa itu Industri Kreatif?

Kira-kira begini definisinya:

“Industries which have their origin in individual creativity, skill & talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property”.

Rasanya kita harus berterimakasih kepada Ibu Mari Elka Pangestu (Menteri Perdagangan RI saat ini) yang telah mengangkat isu mengenai industri kreatif ini ke permukaan, bukan semata-mata karena berkaitan dengan tugas beliau, tetapi menurut saya hal ini merupakan satu bentuk upaya penggalian identitas bangsa.

Mengenal identitas bangsa – sebagaimana kita secara individu perlu mengenal diri sendiri – adalah satu pijakan penting sebelum memasuki arena yang lebih besar dan global yakni komunitas internasional. Generasi sekarang punya istilah “siapa lo?”,yang mengindikasikan bahwa identitas diri penting untuk menjelaskan keberadaan kita di tengah dunia. Kita harus mampu menjelaskan siapa diri kita, apa kelebihan kita, apa keunikan kita, apa sumbangsih yang bisa kita berikan bagi dunia.

Isu Ekonomi dan Industri Kreatif setidaknya telah membantu kita mengenali dan kemudian bangga menjadi anak bangsa ini. Jangan selalu berharap menjadi orang lain, menginginkan rumput tetangga yang lebih hijau. Kita sendiri pun punya intan dan permata yang tak kalah berkilau seandainya kita tahu bagaimana mengelola dan mengembangkannya, yaitu keragaman budaya yang tinggi dan manusianya yang secara alamiah kreatif, yang sekali lagi menurut bu Menteri merupakan potensi dan daya saing kita. Dan saya seratus persen setuju. Itulah sebabnya mengapa para founding fathers kita dulu telah merampatkannya dalam satu istilah yang sangat pas: Bhinneka Tunggal Ika. Tak dapat dipungkiri lagi, memang itulah kekayaan kita sebagai bangsa sekaligus ciri dan identitas kita di dalam komunitas global.

Nah, masalahnya sekarang adalah bagaimana mengembangkan potensi dan identitas ini agar semakin bersinar di mata dunia? Setidaknya ada 14 bidang industri yang bisa kita tekuni dan eksplorasi bersama untuk meningkatkan nilai jual kita di abad 21 ini, yaitu:
  1. Arsitektur,
  2. Desain,
  3. Kerajinan,
  4. Layanan Komputer dan Peranti Lunak,
  5. Mode,
  6. Musik,
  7. Pasar Seni dan Barang Antik,
  8. Penerbitan dan Percetakan,
  9. Periklanan,
  10. Permainan Interaktif,
  11. Riset dan Pengembangan,
  12. Seni Pertunjukan,
  13. Televisi dan Radio,
  14. Video, Film dan Fotografi.
Wow, menarik dan dahsyat sekali bukan?
Dan bagusnya lagi, kita tidak perlu susah-susah membentuk dan mengubah diri sendiri agar bisa berkontribusi dalam bidang-bidang tersebut. Maksud saya, bukannya dalam hal ini kita tidak perlu bekerja keras, melainkan bahwa secara alami potensi itu sudah mendarah daging pada diri anak bangsa ini.
Salah satu contohnya adalah, sudah bukan rahasia lagi bahwa rata-rata manusia Indonesia gemar menyanyi dan menikmati musik. Setiap acara musik selalu ramai dibanjiri peminat. Mereka bahkan hafal luar kepala syair-syair lagu ciptaan lokal. Bisa dibilang mereka punya bakat dan kecerdasan musikal yang tinggi. Dengan demikian, apabila kita hendak mengeksploitasi potensi musikal ini rasanya akan jauh lebih mudah dibanding untuk bidang-bidang yang secara alami memang kurang kita kuasai.

Contoh lainnya adalah sebagaimana yang sering ditampilkan di media televisi akhir-akhir ini. Para pendekar pengubah sampah menjadi emas. Kemasan-kemasan plastik dari sabun cuci, pewangi pakaian dsb, yang semula hanya menjadi timbunan sampah tak terhancurkan mampu mereka sulap menjadi tas-tas plastik yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Bahkan kertas koran bekas dalam bentuk aslinya, juga dapat dibuat menjadi tas kertas jinjing.

Bangsa kita boleh dibilang kaya akan seniman. Yang saya sebut di atas tadi, belum termasuk mereka-mereka yang secara genetis kultural memang telah mewarisi bakat sebagai seniman dari orangtua dan leluhurnya. Para pemahat, pelukis, penari, pemain alat musik tradisional, dsb begitu mudah dijumpai di Indonesia. Sayang jika generasi muda kita tidak mau melanjutkan warisan tradisi ini dan lebih suka membanggakan apa-apa yang berbau luar negeri.

Itu sebabnya, himbauan saya sama dengan himbauan Ninok. Mari kita sama-sama berjuang sebagai Laskar Kreatif bangsa di abad ini. Jangan kita dikenal dunia dari hal-hal yang negatif saja, tetapi ayo buktikan bahwa kita juga bisa memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi dunia. Syaratnya hanya satu: Jadilah individu-individu yang berjiwa bebas, karena tanpa jiwa yang bebas, mustahil kreativitas dapat lahir dan berkembang dengan luar biasa. Hanya orang yang berjiwa bebas yang dapat mengekspresikan dirinya (Sardono W. Kusuma). Banyak orang yang terkendala berjiwa bebas karena hanya mengejar pendapatan semata, dan itu akan membuat kreativitas kita terkekang dan terbatas. Mari berjuang mengalahkan motivasi-motivasi sempit dan membelenggu seperti ini.

Hidup Industri Kreatif!

















Keterangan gambar:

Salah satu karya anak bangsa yang termasuk dalam Industri Kreatif :
Memanfaatkan kain batik sisa menjadi karya seni kerajinan Patchwork.

(dari Pameran Kerajinan Inacraft di JHCC Senayan, April 2008 yang lalu)

Selasa, 14 Oktober 2008

MERASA CUKUP

Ada satu petikan ayat favorit saya yang bunyinya demikian:

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."(Mat 6:34)

Dan satu lagi yang merupakan bagian dari Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus:

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Mat 6:11)

Kata "cukup" di sini tentulah bukan sekedar tempelan pemanis atau bunga-bunga kata semata. Jika direnungkan lebih dalam dan lebih cermat, maknanya sungguh dahsyat. Karena di dalam kata "cukup" itulah terletak kebahagiaan sejati, yang dicari manusia sepanjang segala abad.
Setiap manusia yang sudah menemukan rasa cukup, ia sudah bahagia dengan kecukupannya. Tak perlu mencari-cari ke seluruh penjuru dunia, demi menemukan apa yang dianggapnya akan memberinya kebahagiaan. Harta terbesar yang kita miliki adalah ketika kita merasa cukup di dalam diri, karena itu tak akan pernah dicuri oleh siapapun.

Liburan Idul Fitri yang lalu, saya dan keluarga yang kebetulan tidak mudik, menyempatkan diri berekreasi ke sebuah lokasi pemancingan, tak jauh dari rumah. Saya - yang cenderung serakah :-) - sejak awal memang sudah berangan-angan bisa membawa ikan sebanyak-banyaknya ke rumah. Mana adik saya yang enggan ikutan sudah pesan ingin "matangnya" saja. Semakin terpaculah semangat untuk berjuang memperoleh yang terbaik...., hehehe... :)
Ternyata, semangat tinggallah semangat. Akibat terlalu berharap biasanya memang berakhir sebaliknya (wah, pembelaan diri nih). Suami dan anak saya yang iseng-iseng berhadiah malah dapat 3 ikan, sementara saya gigit jari dan bolak-balik kebagian tugas mengurai tali pancing yang melilit. Sebetulnya ada 2 kali kesempatan lagi bisa memperoleh ikan yang sudah kena umpan kami, tapi kemudian lepas. Lagi-lagi hanya saya yang berteriak, yaaahhh.... sayang.

Belakangan baru saya tahu maksud Tuhan. 3 ikan yang kami tangkap itu sudah lebih dari cukup untuk disantap kami berempat. Bahkan karena lumayan besar (3 ikan hampir 2 kilogram beratnya), akhirnya tak habis dimakan dalam sehari, dan harus diinapkan semalam sebelum disapu bersih adik saya keesokkan harinya. Bayangkan, kalau saja jadi 5 ekor yang kami tangkap, mau habis dalam berapa hari tuh ikan dimakan? Saya jadi belajar, makanya jangan rakus, jangan serakah. Semua sudah di atur, tinggal berserah.

Bangsa Israel di padang gurun juga pernah diajar hal yang sama. Ketika Tuhan memerintahkan untuk mengambil roti manna cukup untuk kebutuhan hari itu saja. Jangan menyimpan cadangan, karena esok harinya Tuhan pasti akan berikan yang baru. Tapi ada di antara mereka yang kuatir jika Tuhan tak menepati janji, terlalu kuatir jika-jika mereka terlantar dan kelaparan, dan yang lebih parah lagi, sebenarnya mereka tak mempercayai Tuhan yang Maha Peduli dan Maha Pemelihara. Jadilah mereka menyimpan dengan diam-diam manna yang turun pada hari itu untuk kebutuhan esok harinya. Dan mereka menjadi sangat terkejut manakala esok harinya manna tersebut telah menjadi ulat (belatung).

Saya jadi introspeksi diri. Benar juga, betapa sering saya terlalu memikirkan hari esok padahal hari ini Tuhan sudah cukupi saya dan keluarga untuk bisa tetap hidup. Definisi "CUKUP" antara saya dan Tuhan ternyata berbeda. Jangan-jangan itu sebabnya kita jarang sukses untuk mengucap syukur, karena kita baru ingin bersyukur setelah merasa cukup.

Apa batasan CUKUP buat kita? Apakah kita sudah merasa cukup jika kita masih bisa makan dan minum sewajarnya pada hari ini? Atau sebaliknya, sementara kita sedang makan (menikmati berkat Tuhan pada hari ini) pikiran kita melayang-layang tentang tabungan pendidikan untuk anak, asuransi jiwa dan kesehatan kita di masa pensiun nanti, cadangan dana tak terduga yang terus menerus ingin kita tambahi?

Sementara kita masih bisa berteduh di dalam rumah (bisa rumah sendiri, bisa yang masih ngontrak seperti saya, hehehe...) yang nyaman, kita sibuk memikirkan jauh ke depan tentang investasi apa yang perlu untuk mengamankan dan menyamankan diri lebih lagi. Kita lupa, nun jauh di sana banyak saudara-saudara kita yang tak punya tempat tinggal lagi untuk berteduh dan sekedar membaringkan diri karena digusur dan diusir pergi secara tak manusiawi.

Bagaimana rasa cukup kita bisa dibandingkan dengan Ibu Theresa yang memutuskan hanya punya 2 buah baju. Satu untuk dikenakan, satu lagi dicuci? Seperti apa sebenarnya definisi "cukup" yang kita kehendaki?

Kembali kepada ayat pembuka di atas, Yesus jelas-jelas mengajarkan kepada kita untuk membatasi diri sesuai kapasitas yang mampu kita tanggung pada hari ini. Apa yang mampu kita makan hari ini, cukuplah itu. Apa yang mampu kita kerjakan hari ini, cukuplah itu. Bahkan jika kita marah pada seseorang hari ini, cukupkanlah itu hanya sampai matahari terbenam, artinya, jangan diteruskan sampai esok hari, karena hari esok mempunyai masalahnya sendiri.

Mari kita coba pelajari lagi, selidiki lagi, sampai batas apa rasa cukup kita itu. Dan berbahagialah ketika telah mencapainya. Karena tanpa kendali itu, kita tak pernah tahu, kapan kita akan benar-benar berbahagia.

Salam,

Senin, 13 Oktober 2008

IRAMA PADANG GURUN

Salah satu episode yang paling menarik dari buku Sang Alkemis-nya Paulo Coelho adalah detik-detik yang mendebarkan ketika Santiago - tokoh sentral dalam novel sastra ini - memutuskan untuk menapaki padang gurun agar dapat tiba di Piramida Mesir, tempat harta dalam mimpinya berada. Menarik, karena para penjelajah gurun adalah orang-orang yang mau tak mau harus siap mati, siap tak bisa kembali lagi ke daerahnya semula. Sekali menginjakkan kaki di padang gurun tak ada jalan untuk undur dan memanjakan keragu-raguan.

Padang gurun adalah sebuah arena untuk melatih keteguhan hati. Bahwa kita semua punya mimpi, itu pasti. Tapi orang-orang yang berhasil, adalah mereka yang berani menindaklanjuti mimpi-mimpinya dengan sebuah TINDAKAN. Dan setelah bertindak, pantang untuk menoleh kembali ke belakang.

Peristiwa eksodus bangsa Israel dari tanah Mesir adalah salah satu peristiwa "padang gurun" juga. Tuhan memang menyediakan padang gurun untuk menempa yang dikasihiNya agar beranjak dewasa. Tidak cuma bisa mimpi. Tapi berani mewujudkan mimpi. Jika di pewayangan ada kawah Candradimuka sebagai media pengujian, padang gurun memiliki fungsi yang kurang lebih sama. Di padang gurun, kita tak lagi punya kemewahan untuk memilih. Terus maju atau mati! Itu tantangannya. Kita tak bisa berdebat tentang suka atau tidak suka. Mau atau tidak mau. Dan nasib kita berjalan sesuai irama padang gurun tersebut. Maksudnya jika kita mampu menyesuaikan diri, kita selamat. Jika tidak ya mati. Itu saja.

Saya pernah membaca sebuah cerpen Ayu Utami di Harian Kompas. Di situ dituliskan bahwa sejak seseorang memutuskan naik pesawat, sejak itu pulalah nyawanya diserahkan kepada sebuah kotak yang disebut black box. Ya, penumpang pesawat mirip dengan penjelajah padang gurun. Ia harus terus di sana sampai tiba di tempat yang dituju. Akan mendarat dengan selamat atau tidaknya, itu benar-benar misteri.

Kadangkala dalam hidup ini kita pun diperhadapkan pada misteri "padang gurun". Kembali ke belakang tak lagi memungkinkan, tapi berjalan terus maju pun terasa amat menggentarkan. Kita tahu tak mungkin kembali menjadi anak-anak yang banyak dibantu, dimanja dan dipermudah jalannya. Tapi menapaki kedewasaan pun kita merasa belum siap dan enggan. Dulu semasa kecil kita berangan-angan segera menjadi dewasa. Setelah dewasa, kita baru tahu bahwa pencapaian itu tidak mudah. Semua butuh perjuangan.

Kondisi yang saya alami saat ini juga tidak jauh dari efek padang gurun. Penuh misteri, mendebarkan dan menegangkan. Saya baru bisa merasakan apa yang dirasakan bangsa Israel sewaktu keluar dari tanah Mesir yang penuh kemapanan, diganti dengan kebergantungan total pada Tuhan yang tak kelihatan. Ada kalanya saya tergoda untuk bereaksi seperti mereka. Ingin kembali ke kehidupan yang lama, tak tahan dengan penundaan yang sebentar saja. Tak tahan berada dalam ketidakpastian. Kadang mengeluh, kadang bersungut-sungut, mengomel, penuh ketidakpercayaan pada Tuhan.

Kadang saya berpikir, alangkah panjang sabarnya Tuhan kita itu. Beribu-ribu tahun sudah Ia menghadapi manusia yang sama jenisnya seperti saya ini. Tidak tahu berterimakasih dan berjiwa kerdil (tak mau tumbuh dewasa dan berkembang, karena berkembang itu sakit). Tapi Tuhan memiliki mata yang tak kita miliki. Ia yang tahu persis bagaimana kita seharusnya menjadi. Untuk itulah manusia-manusia manja semacam saya ini diberiNya pelatihan. Agar kita berkembang sebagaimana mestinya.

Salah satu rahasia sukses menempuh padang gurun adalah mengikuti iramanya. Jangan melawan arah angin. Jangan menolak apa yang harus terjadi. Hadapi saja. Terima saja, apapun yang baik dan buruk yang terjadi pada kita. Karena hanya melalui kedua cara itu sajalah kita bisa tiba di seberang dengan selamat.

Siapa berani mencoba?

Sabtu, 04 Oktober 2008

MENGUBAH SAMPAH MENJADI EMAS

  • Sampah dapur (jumlahnya 30-40% dari sampah yang dihasilkan masyarakat) dipisahkan antara yang belum dimasak dan yang sudah dimasak.
  • Sampah dapur dari makanan yang telah dimasak kemudian dimasak ulang sebanyak dua kali dengan temperatur tinggi, lalu dijadikan makanan babi.
  • Sampah dapur dari makanan yang belum dimasak, termasuk tulang, akan dihancurkan dan dicampur dengan bubuk kayu lalu difermentasi. Setelah 9-10 hari makanan ini akan menjadi pupuk organik yang sangat baik untuk pertanian.
  • Sampah plastik akan diubah menjadi bahan isian untuk bantal, boneka, kasur dan mantel.
  • Gabus dan plastik tebal dijadikan rak baju, pot bunga dan material bangunan.
  • Botol kaca dan beling dihancurkan menjadi bahan untuk batu bata, aspal, kursi dan meja.
  • Kertas bekas akan diolah menjadi kertas baru. 1 ton kertas bekas bisa menghasilkan 800 kilogram kertas baru. Bandingkan jika membuat kertas baru dari batang pohon diperlukan 20 batang pohon berusia 20-40 tahun.
  • Barang-barang elektronik bekas, sepeda bekas dan furniture rusak dikumpulkan di satu tempat dan diperbaiki oleh tukang-tukang yang sangat terampil. Setelah dicat ulang kemudian dijual lagi dengan harga yang sangat murah. Cara ini sangat membantu bagi masyarakat kalangan bawah untuk mendapatkan barang yang baik dengan harga terjangkau.
  • Sementara itu debu dan endapan pembakaran dari insinerator dapat digunakan sebagai penutup galian infrastruktur kota dan urukan lahan pembangunan. Bahkan saat ini Pemerintah Kota Taipei sedang meneliti kemungkinan bahan-bahan sisa tersebut dapat diolah menjadi semen.

    Nah semoga gerakan Pemerintah Kota Taipei ini dapat ditiru oleh masyarakat bangsa kita, sehingga kerusakan alam yang lebih parah dapat dicegah.

Sumber: Kompas, 3 Oktober 2008

SAVE OUR EARTH

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Matius 9:36)

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. (Matius 14:14)

Kata “tergeraklah hati” disebutkan sebanyak 11 kali di Alkitab Perjanjian Baru, yang kemudian selalu diiringi dengan kejadian atau peristiwa yang luar biasa. Apakah itu kesembuhan, atau pun pengampunan dan pemulihan, dan juga mujizat-mujizat.

Kapan dan mengapa biasanya hati kita tergerak? Apakah itu karena belas kasihan, atau karena terinspirasi oleh sesuatu hal, atau karena baru tersadarkan dari yang sebelumnya kita abaikan?

Ada dua hal yang belakangan membuat saya merasa tergerak untuk mulai lebih peduli terhadap bumi kita.

Yang pertama, mengenai issue Global Warming. Acara Kick Andy di Metro TV, Jumat 3 Oktober 2008 kemarin menayangkan tentang bagaimana saudara-saudara kita di Flores yang menderita kekeringan luar biasa sejak 10 tahun yang lalu. Padi yang ditanam selalu gagal karena ketiadaan sumber daya air. Sementara saudara-saudara kita di wilayah lain justru mengalami banjir besar yang menenggelamkan sawah, ladang dan pemukiman mereka. Semua ini bisa terjadi sebagai efek Global Warming. Dijelaskan pula bagaimana bongkahan es di kedua kutub bumi sejak beberapa tahun belakangan telah mulai berguguran dan mencair, sehingga banyak wilayah di negara-negara tertentu mulai tenggelam oleh naiknya permukaan air laut. Sungguh ngeri jika kita tak segera waspada dan mengusahakan pengendalian terhadap penyebab Global Warming ini sejak sekarang.

Yang kedua, masih seputar Global Warming, namun lebih fokus ke persoalan SAMPAH. Harian Kompas, Jumat 3 Oktober 2008 mengangkat isu sampah yang bisa diubah menjadi emas sebagaimana sukses dilakukan oleh Pemerintah Kota Taipei. Sebagaimana kita ketahui, sampah ada berbagai jenis. Ada yang bisa hancur (organik), ada yang tidak bisa hancur (anorganik). Jenis sampah yang kedua inilah yang memiliki potensi merusak bumi jika tak segera dialihfungsikan. Pembakaran sampah, selain menimbulkan pencemaran udara, juga menambah resiko global warming. Untuk itulah Pemerintah Kota Taipei kemudian memikirkan solusi untuk menanganinya dengan tepat agar bermanfaat. Selengkapnya baca di postingan saya berikut.

Memang sulit untuk hati kita tergerak, jika kita tak pernah belajar menempatkan diri di posisi mereka yang menderita dan mengalami secara langsung.
Bagaimana kita bisa berbela rasa pada mereka yang kelaparan jika kita sendiri tak pernah kelaparan?
Bagaimana kita bisa merasakan derita mereka yang tak punya rumah karena digusur, kebakaran atau bencana alam jika kita selalu tidur dengan lelap dalam lindungan rumah yang nyaman dan hangat?
Bagaimana kita bisa merasakan kedinginan akibat banjir jika tak pernah kebanjiran?
Bagaimana kita bisa merasakan hausnya tenggorokan, lengketnya badan oleh keringat dan debu akibat kekeringan dan ketiadaan air?

Sungguh berbela rasa itu tidak mudah, karena dibutuhkan kepekaan hati untuk merasakan sentuhan jemariNya. Kepekaan hanya bisa datang dari hati yang tenang dan bening. Hati yang hening bukan yang riuh oleh semarak duniawi. Hati yang peka adalah hati yang senantiasa terbuka untuk mendengarkan suaraNya dan menanggapi panggilanNya sebagaimana dituliskan tentang nabi Yesaya

Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" (Yesaya 6:8)

Jumat, 03 Oktober 2008

Film "LASKAR PELANGI"

Libur lebaran kali ini saya sempatkan untuk nonton film Laskar Pelangi bersama keluarga. Film yang diangkat dari novel laris karya Andrea Hirata ini mengisahkan tentang perjuangan sepuluh anak Belitong untuk tetap bersekolah di tengah berbagai aral dan hambatan yang menghadang seperti kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan.

Ada rasa haru dan getir yang menyeruak ketika menyaksikan tokoh Lintang, anak pesisir yang cerdas, harus mengayuh sepedanya puluhan kilometer setiap harinya hanya untuk belajar di sebuah gedung sekolah yang renta dan nyaris ambruk, atapnya bocor di sana-sini sehingga seringkali harus berteduh bersama kambing ketika hujan datang menerpa. Sayang Lintang yang menjadi penyelamat sekolahnya dalam acara Cerdas Cermat SD di kotanya, ternyata tak dapat menyelamatkan dirinya sendiri untuk tetap bersekolah karena harus menggantikan posisi ayahnya yang meninggal dunia sebagai pencari nafkah keluarga. Perpisahan Lintang dengan Ibu Muslimah dan kawan-kawannya di sekolah adalah salah satu adegan dramatis yang mau tak mau membuat saya menitikkan air mata. Sungguh amat mengiris hati membayangkan betapa masa depan seorang anak manusia yang begitu cerdas secara alami, harus pupus dalam sekejap karena masalah ekonomi.

Sayang, mengingat begitu banyak hal lainnya yang ingin diangkat dalam film ini, penyajiannya terkesan terpotong-potong. Bagi yang belum membaca bukunya mungkin akan sedikit bingung dan kurang dapat menangkap apa yang ingin disampaikan lewat bahasa gambar. Tetapi bagi Laskar Pelangi mania, tentu saja adegan demi adegan sangat ditunggu-tunggu karena mereka ingin melihat visualisasi dari apa yang pernah mereka baca.

Banyak komentar dan resensi telah ditulis mengenai film ini, tentu saja dengan kelebihan dan kekurangannya. Jujur saja, saya sendiri juga sedikit kecewa dengan film yang tak seindah bukunya. Meski demikian, saya tetap sangat menghargai akting para pemainnya yang telah berusaha dengan maksimal memberi roh pada film ini sehingga layak ditonton. Demikian juga gambar-gambar yang ditampilkan tentang alam Belitong yang indah, sangat artistik dan romantis. Setidaknya mengajarkan kepada bangsa ini untuk menghargai satu sudut wilayah negara kita yang selama ini kurang diperhatikan.

Bagaimanapun, saya acungi jempol bagi semua seniman pendukungnya untuk sebuah karya sastra dan film yang luar biasa inspiratif ini. Semestinya anak bangsa kita, generasi abad ini belajar memaknai setiap kesempatan yang datang, karena tidak banyak orang yang beruntung untuk bisa mendapatkan dan menikmatinya. Bravo Laskar Pelangi!

Rabu, 24 September 2008

START FROM ZERO

Adalah sebuah pengalaman yang indah ketika saya harus mengundurkan diri dari perusahaan tempat saya bernaung selama 5 tahun belakangan ini. Indah, karena sejak itu (tepatnya bulan Mei 2008 yang lalu), saya tidak lagi berstatus karyawati yang terikat dengan jam kerja 8 to 5, melainkan menjadi manusia bebas sepenuhnya.
Indah, karena sejak itu mau tak mau saya menyandarkan hidup saya ke dalam pemeliharaan Tuhan sepenuhnya, menggantungkan diri pada belas kasihan dan anugerahNya semata-mata dan bukan lagi mengandalkan kekuatan diri sendiri lagi, karena saya tidak lagi memiliki penghasilan tetap yang biasanya saya andalkan dan saya banggakan.

Sebetulnya bisa saja saya mencari pekerjaan lainnya sebagai pengganti. Tapi usia yang sudah kepala 4 ini ingin saya syukuri dalam bentuk menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri. Sudah lama saya memiliki mimpi untuk bekerja di rumah sambil bisa menemani anak setiap harinya. Dan ini adalah kesempatan yang sudah lama saya tunggu-tunggu. Memang, sungguh tidak mudah memasuki masa transformasi dari seorang pekerja menjadi wiraswasta. Dari orang yang biasa menerima gaji tetap menjadi berpenghasilan tak menentu. Dari yang semula berhubungan dengan banyak orang harus bekerja sendirian. Tapi bagaimana pun, dalam hidup ini tentu tak melulu duka dan derita. Di balik semua peristiwa, selalu ada suka dan hikmahnya. Begitu pun yang saya alami.

Saya mengawali babak baru dalam kehidupan saya ini dengan berjualan kue. Dari yang semula ”nol” di dunia dapur dan masak memasak, dalam tempo 2 bulan saya sudah bisa membuat dan menjual hasil produksi perdana saya, (hehehe... tidak percuma berguru pada mama). Saya menitipkan kue-kue buatan saya di kantor adik-adik saya. Meskipun skalanya masih sangat, sangat kecil, tapi saya bangga bahwa akhirnya saya bisa mengalahkan kegentaran dan rasa tidak percaya diri ketika harus terjun ke ”dunia” ini. Ada kalanya timbul rasa ingin menyerah saja ketika gagal melulu sewaktu membuat kue-kue percobaan. Atau rasa gagal yang menyerang kala kue-kue kurang laku dan terpaksa ”dipulangkan”. Mana masih dikejar-kejar perasaan kuatir apakah hidup saya di hari esok masih bisa berlangsung mengingat penghasilan kini tak seberapa dan tak menentu pula?

Tapi di sinilah justru karya Tuhan terjadi atas hidupku. Dulu sewaktu masih bekerja, dan ingin memutuskan berhenti untuk usaha sendiri, tak juga muncul rasa berani. Takut ini, kuatir itu. Herannya, justru setelah dijalani, nyata betul pemeliharaan Tuhan dari hari ke hari. Setiap kali ketika saya mulai bertanya-tanya, dari manakah akan datang pertolonganku? (Mazmur 121:1), berkali-kali pula Tuhan langsung memberi jawab tepat pada waktunya. Sungguh luar biasa! Tak terlukiskan dengan kata-kata. Penghiburan, semangat, kesempatan, dukungan bahkan mujizat, Ia berikan kepada saya hanya untuk membuat saya percaya, bahwa hidup saya terjamin di tanganNya. Karena itulah pada kesempatan ini, mudah-mudahan tulisan ini mampu menguatkan para pembaca yang punya pengalaman mirip dengan saya, yang sering meragukan kasih dan pemeliharaan Tuhan.

Rejeki bukan dicari tapi diberikan (=dianugerahkan).
Hidup kita bukan untuk mencari uang, tetapi melakukan yang terbaik dalam segala pekerjaan yang menjadi bagian kita, sedangkan urusan upah adalah bagian Tuhan.
Jika kita bekerja dengan niat baik dan sungguh-sungguh serta selalu mensyukuri berkat Tuhan yang paling kecil sekali pun, percayalah bahwa Tuhan tidak akan menelantarkan kita. Tuhan sudah menciptakan kita, Tuhan pula yang akan bertanggungjawab memenuhi segala keperluan kita. Jangan kita dipenuhi rasa kuatir yang membuat kita jadi menganggap sepi dan meniadakan bagianNya. Jangan kita mengambil bagian yang bukan bagian kita, dan menjadikan diri sendiri menjadi penanggungjawab sepenuhnya atas hidup kita. Jika itu kita lakukan, maka tak heran kita senantiasa merasa letih dan stress. Tuhan ingin kita menikmati hidup. Merasa cukup. Dan mengembangkan bakat dan talenta kita sebaik-baiknya. Tuhan akan memfasilitasi segala keperluan kita, jika kita memang serius dan bersungguh-sungguh menjalaninya.

Semoga Anda diberkati.

Salam

Minggu, 20 Juli 2008

Keindahan Ciptaan Tuhan

Sudah lama gak update blog. Baru-baru ini mudik lagi ke Wonosobo, nemenin si kecil yang lagi liburan sekolah. Iseng-iseng saya motret tanaman mama yang tumbuh dengan indahnya di sekeliling rumah. Setelah bertahun-tahun, kenapa baru sekarang ya perhatian saya seolah tersedot untuk mengagumi ciptaan Tuhan yang bernama tanaman ini? Padahal biasanya pemandangan yang sama hanya mampu membuat saya berlalu begitu saja. Adakah hati yang berubah membuat cara pandang berubah?





Rabu, 26 Maret 2008

Christian Indonesian Blogger Festival 2008 (CIBfest 2008) !

Pagi ini saya dapat kejutan. Ada kiriman e-mail dari panitia Christian Indonesian Blogger Festival (CIBfest) 2008 yang mengundang saya untuk turut meramaikan Festival Blogger Kristiani tersebut. Entah dari mana panitia bisa memperoleh identitas saya, yang jelas saya langsung memutuskan untuk bergabung, karena saya rasa ide ini unik dan menarik sehingga patut didukung.

Sebetulnya blog saya ini bisa dikatakan tidak terlalu kristiani, meski saya memang penganut agama Kristen. Blog ini lebih bersifat perjalanan spiritual, yang berarti lepas dari embel-embel agama apapun. Bagi saya, hubungan dengan Tuhan sangat personal, tidak bisa dikotak-kotakkan dalam label agama. Pengalaman saya bersama Tuhan selama ini tak lepas dari pengalaman bersama agama-agama dan kepercayaan yang lain. Kedekatan saya dengan Tuhan bahkan seringkali dijembatani oleh orang-orang yang menganut keyakinan berbeda. Dan bagi saya, hal itu justru membuat kehidupan beragama saya menjadi lebih indah dan berwarna. Kekristenan saya tumbuh dan berkembang bersama dengan saudara-saudara tak seiman. Aneh, tapi nyata.

Meski demikian, sudah lama ada kerinduan saya untuk menelurkan 1 blog lagi khusus renungan kristiani, yang sayangnya hingga kini belum sempat tertangani dengan serius. Adanya CIBFest jadi mendorong saya untuk segera mewujudkan ide tersebut lebih cepat lagi. Terimakasih ya, panitia CIBFest, Anda menjadi wakil Tuhan untuk mengingatkan saya tentang hal ini, hehehe...

Akhir kata, selamat berfestival... semoga semua kegiatan ini memuliakan Tuhan jua adanya....

Salam sejahtera,

Selasa, 11 Maret 2008

Malas = Masalah

Seorang sahabat terbujur di rumah sakit sejak seminggu belakangan ini. Ia terserang stroke. Sebelah tubuhnya sulit digerakkan. Dan sebagai penunjang tubuhnya untuk sementara waktu, ia harus menggunakan kursi roda.

Untungnya sahabat saya ini masih bisa menyemangati diri sendiri. Setahu saya pasien penderita stroke biasanya memiliki emosi yang kurang stabil, dan perasaannya bisa menjadi sangat sensitif. Mereka seringkali merasa masygul pada diri sendiri dan butuh waktu cukup lama untuk bisa menerima keadaannya yang tak berdaya dan harus bergantung pada orang lain. Sangat menyedihkan.

Hampir sebulan yang lalu, tante saya yang juga pernah terserang stroke akhirnya meninggal dunia setelah lebih dari 3 tahun menjalani masa-masa sulit pasca stroke. Mama yang selama ini merawatnya, juga mengalami masa-masa sulit dan nyaris angkat tangan, karena besarnya beban fisik dan mental yang harus ditanggungnya. Stroke memang bukan hanya membuat si penderita tersiksa, tapi juga orang-orang di sekitarnya yang merawat dan menemani mereka. Penderitaan berkepanjangan, itulah yang seringkali membuat penderita putus asa, kehilangan harga diri dan harapan. Merasa hidup tak ada guna lagi.

Saya rajin menelpon dan mengirimkan sms pada sahabat saya ini untuk membesarkan hatinya. Saya membelikannya An Kung, obat Cina yang sangat bagus untuk pemulihan kondisi penderita stroke. Saya juga berniat menemaninya terapi akupunktur sepulang dia dari rumah sakit nanti. Selain itu ada program meditasi Sen Qi yang mungkin akan dijalaninya juga selain physioterapi di rumah.

Memang ada kecerobohan yang dilakukan sahabat saya ini sebelum dia terserang stroke. Pola makan dan kebiasaan hidupnya tak sehat, merokok dan jadwal tidur tak teratur serta malas berolahraga, membuat fisiknya rentan terhadap stroke. Belakangan, ketika ia juga terjun dalam penerbitan majalah yang menjadikannya sering stress akibat dikejar deadline, makin lengkaplah persyaratan untuk stroke bisa menyerangnya.

Meski demikian saya tak ingin mundur lagi ke belakang, mengungkit-ungkit kesalahannya. Setiap manusia mempunyai shadow-nya sendiri. Pada diri sahabat saya, mungkin ketidakdisplinan hidup sehat yang menjadi shadow-nya. Tahu yang benar, tapi tak mau menjalani. Tahu yang seharusnya, tapi malas melakukan. Apa yang dialaminya adalah akumulasi dari penundaan-penundaan akibat kemalasannya.

Saya pun demikian juga. Dalam 2 bulan terakhir ini saya harus 4 kali bolak-balik ke rumah sakit karena IUD yang salah pasang 8 tahun yang lalu. Keengganan saya untuk kontrol selama ini membuat saya harus menanggung akibatnya. Proses penanganan akhirnya menjadi lebih mahal dan lebih sulit daripada semestinya.

Ketakutan dan kemalasan melahirkan penundaan-penundaan. Penundaan menyebabkan masalah terus mengejar, bahkan dengan efek bola salju, menggelinding makin tebal dan makin besar. Ketika dalam diri mulai tumbuh rasa enggan dalam menghadapi sesuatu, ingatlah bahwa jika tak segera dituntaskan, kelak akan timbul dampak yang lebih merugikan. Karena itu, janganlah menunda. Segera selesaikan masalah sedini mungkin agar tak menjadi batu sandungan pada waktu yang tak diharapkan.

Sahabatku, semoga engkau lekas pulih. Terimakasih untuk pembelajaran yang sangat berharga ini. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari semua pengalaman ini.

Salam,

God Loves Story

Hidup adalah serangkaian cerita. Sejarah panjang peradaban manusia ditorehkan dalam berbagai kisah yang menawan. Mulai dari kisah-kisah heroik yang menimbulkan inspirasi hingga yang saking sepelenya nyaris tak mampu diingat lagi.

Setiap manusia mempunyai kisah hidupnya sendiri. Pendek kata, bukan hanya kisah para pahlawan dan tokoh dunia saja yang perlu diabadikan dalam biografi, namun setiap kita mempunyai peluang yang sama untuk mengukirkan kisah kita di prasasti kehidupan ini.

Karena hidup itu bergerak, penuh dinamika, maka ia bisa menjadi cerita. Bayangkan hidup yang sepenuhnya statis dan itu-itu saja, betapa amat membosankan.

Namun perubahan dan dinamika selain menimbulkan gairah dan antusiasme juga menuntut pengorbanan dan penderitaan. Keseimbangan di antara keduanya itulah tujuan kita, dan memaknai keduanya itulah keindahannya.

Banyak orang berontak saat menderita. Mereka tidak siap, dan tidak mau menghadapinya. Jika boleh memilih, inginnya menghindari saja yang namanya penderitaan itu. Di sisi lain, para bijaksana justru seolah mencari penderitaan. Mereka menyepi di gunung dan hutan, menjauh dari keramaian. Mereka menghindari makanan enak dan memabukkan. Mereka sanggup menahan diri dari kantuk dan letih untuk terus melantunkan doa-doa di gelap malam. Semua ini menunjukkan betapa penderitaan bisa menjadi lawan tapi bisa juga menjadi teman. Bisa dijauhi tapi bisa pula dicari. Intinya, bukan penderitaan itu yang menjadi sebab maupun akibat. Tapi bagaimana kita memainkannya. Bagaimana kita menjadikannya sebagai sebuah cerita.

Pertanyaan klise yang nyaris abadi, apakah Tuhan benar-benar ada? Dan jika Ia ada mengapakah masih juga ada penderitaan? Mengapa Tuhan mengizinkan terjadinya penyakit, peperangan, bencana alam di mana-mana yang menelan banyak korban?

Saya bukan Tuhan dan tidak dalam kapasitas menjawab pertanyaan tersebut. Saya hanya seorang pengamat yang mencoba menelisik ke balik layar, di mana sang Dalang sedang memainkan tokoh-tokoh wayang di tanganNya. Sang Dalang, penyuka cerita, dan yang mampu membuat tontonan menjadi menarik, sekalipun harus berakhir tragis dan dramatis.

Hidup kita adalah sebuah cerita. Kita-lah pemainnya. Saat-saat yang paling indah dalam sebuah cerita adalah puncak klimaksnya. Di situlah biasanya menjadi puncak pertemuan manusia dengan Tuhan. Yaitu ketika kita mempertanyakan, kita menggumulkan, kita bergelut, kita menangis dan meratap hingga akhirnya menemukan titik kesepakatan denganNya.

Kita dan Tuhan ada dalam cerita. Kita dan Tuhan menentukan jalan cerita. Kita dan Tuhan bekerjasama menyelesaikan cerita. Tugas kita adalah memainkan peran kita sebaik mungkin selama berada di panggung kehidupan ini.

Selasa, 22 Januari 2008

Yogyakarta - Desember 2007, tanah kelahiranku 40 tahun yang lalu...

Kompleks istana raja-raja Mataram tempo dulu.... Taman Sari







Lorong di bawah tanah....








Tempat pemandian pangeran dan para selir raja....







Pembatik tulis di perkampungan Taman Sari

Keheningan Rawaseneng

Biara Trappist Santa Maria di desa Rawaseneng, Temanggung, Jawa Tengah


Duapuluh tahun yang lalu di sini, untuk pertama kalinya aku merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupku ...








Ruang tamu




Ruang Ibadah Para Trappist







Kamar penginapan para tamu












Kolam ikan

Keagungan Borobudur, Desember 2007

Welcome to Borobudur,

Puncak stupa utama dari kejauhan dan dari dekat...




Potret Keluarga Cemara (Cerewet, Manja dan ceria..... ;-) )




Pemandangan di salah satu sudut museum dengan nuansa spiritualnya yang sedemikian kental.

Mudik ke Wonosobo, Desember 2007

Saya, adik, Latu dan keponakan-keponakan naik delman di depan rumah.







Wisata kuliner di kampuang.....
Mie ongklok, sate sapi dan tempe kemul.... hmmm, sluuurp....sluurp...




Waduk Wadas Lintang di Banjarnegara, asik juga buat mancing....










Siapa mau ikutan....?